
"Gw heran, lo pade kenape sih teriak- teriak, bisik -bisik? Malu tau!"
"Jiah, dedemit bahasa nenek moyangnya keluar. Udeh deh Clara mending kita cabut. Udah mau malem nih!" bubuh Misel. Pasalnya Misel takut akan ondel ondel karna sebuah tragedi. Hal itu membuat Clara natural berbicara Melayu kembali.
"Eeeikh, gw ke toilet sebentar Ya. kalian tunggu di sini dulu. Kalau gak juga gpp, naik angkot sana pulang!" titah Fani.
Si Kremi alias, Kean, Rein, dan Misel hanya memutar sebal dan mengepal tangan. Mereka memang numpang akan mobil Fani kala itu. Clara pun hanya manut, karna ia memang tak di ijinkan membawa mobil oleh ka Gilang. Dan hal itu membuat Clara rindu akan sosok Fandi yang tak pernah absen mengantar dan selalu saja mendampinginya kemanapun.
"Ka Fandi, udah jam segini kok belum ngabarin Clara. Emang dia kemana sih?" batin. Clara menatap dan menepuk jam ditangannya.
"Eeeiikh. Liat deh, Penganten belom di bobol merenung, udah kaya sapi ompong kehilangan giginya diem aja dia." lirih Kean.
"Bego lu, ga tau aturan. Cewe kaya Clara lo samain sama spesies Cacing kaya lu." balas Misel.
"Lah, napa jadi ngambek elu idung penyok, gw kan becanda habis liat aja tuh kan dia ... "
Kean terdiam melongo, ia mengikuti Clara yang berdiri tiba tiba. Alhasil Cowok ga jadi menurut Fani pun ikutan melirik dan bertanya.
"Clara, liat apa. Bikin penasaran eikeee aja deh." tanya Rein.
Enggak apa apa, cuma liat pesan status aja. Fani kok bisa motret seseorang mirip ka Fandi. Dia ngirim juga gak ke kalian? Clara menatap Kremi.
Kean, Rein dan Misel pun gercep berdiri. Lalu mengintip ponsel Clara. Tapi Rein malah merebutnya karna tubuh yang ideal kurang tinggi membuatnya merebut dan menatap Jelas.
"Eeeiiikh, Yeiy beneran ga amnesia kan Clara. Kok mas KC berubah seperti ini. Coba yeeeiy hubungi dan suruh dia jemput, kali aja punya kembaran dan Nasib yang tertukar tuh!"
Clara pun menghubungi Fandi. Lalu masih belum di jawab, ia mengirim pesan dan melanjutkan chat Fani ke Fandi. Clara bertanya mengapa ka Fandi gaya berbeda dan membuat pikirannya bercabang saat ini.
"Gak, di angkat. Gimana dong?"
"Weeih, laki elu itu mah. Napa jadi tanya gw." ketus Misel. Menaikan ransel dan ketidak sukaan. Lalu menaikan celana gak kedodoran yang menunjukan gesper baru dibeli beberapa jam Lalu.
"Aaakh, si Pea body kekar ga jadi. Mulai deh songong. Mulai deh mamer gesper sepuluh ribuan aja sok nampakin. Ga bakal ada yang ngiler kali." bubuh Kean.
"Syirik aja lo Cacing kalung. Orang celana gw beneran kedodoran." balas misel.
"Gw ga yakin, itu mah badan elo aja yang overdosis diatas, kebawah kecil. Kalau kulit lo ijo, kuping lo lancip campur bantet dan leher lo ga keliatan. Elo lebih mirip Shrek di film Animasi."
"Lah, kalau Misel Shrek. Gw apa nya?" lemot Rein.
"Eeekh. Napa jadi debat sih kalian bertiga. Kalau Misel Shrek, otomatis elo jadi Donkey atau kembaran little pigs. Noh si Fani kembaran pinokio beda nasib sama jenis kelamin dateng. Udah yuuks cabut!"
__ADS_1
"Aiiikh, jehong amat. Gigi kita melebar dong klo Dongkey sama kembaran little pigs. Trus si Clara jadi Apa?" tanya Rein.
"Gw. Putri Viona. Puas Lo, masih mau matung disini. Kalian gak mau pulang?" sambar Clara.
Misel dan Kean tak bisa marah, ia hanya tercengong saat menatap expresi Clara yang kesal dan khawatir untuk pertama kalinya yang menatap layar ponsel. Alhasil Misel dan Kean saling berbisik.
"Gw yakin, si Clara udah jatuh hetong sama si mas KC. Gimana nasib si Franstino ya. Begitu kembali, pujaan hatinya udah melompong seperti kecambah. Hatinya udah ga lope lope lagi ma dia." bubuh Kean.
"Hoouuooh." balas Misel. Dengan balasan singkat padat jelas dan panjang bagai kereta barang bantet yang terputus.
Mereka pun berjalan arah pulang, Fani pun berbisik pada Clara. Tapi menghiraukan Si Kremi di belakangnya yang masih Ghibah.
Tak berselang lama seseorang mengklason, dan membuka pintu menghampiri Clara.
Tiin .. Tiin .. Tiin.
"Wuuuih, mas Harrypotter lo dateng Cla. Kok ga mirip ama yang tadi di potretin si Cendol?" tanya Misel.
"Diem lo, Fani Alvatries. Bilang cendol lagi gue bogem loh!"
"Lah, sok arties nama loh. Udah pantes cendol, sesuai dengan postur lo rata. Malah gw nafsu ma cendol asli dari pada kaya lo Fani." ketus Misel. Tapi Fani hanya melirik tajam, dan ia memberi dua jari pada tatapannya ke arah kedua mata Misel. Bagai upin dan ipin yang berbeda kelamin. Hahhaaaa.
"Yes. okeh Mas KC. Upps Mas Harry potter. gpp, ayoook Kremi bin cunguks. Kita cabut, kita ke parkiran. Mo nebeng apa jalan kaki lo pada?!"
"Eeikh, si Cendol mulai songong. Tar gw beli pabrik mobil warna cerah model terong nginyem lo." Misel.
"Emang lo mau beli pabrik mobil Mis,?" tanya Rein.
"Iyees. Tahun monyet gw beli. Puas Lo." ketus Misel.
Fandi hanya menggeleng tingkah teman ajaib Clara kala itu. Tapi Clara menatap Fandi tak berkedip seolah penuh banyak pertanyaan yang akan ia dapati di dalam mobil.
"Clara. Duluuuan Ya. Byeee. Byeee!" Kremi pamit bersamaan dan Fani pamit dengan senyuman agar Fandi menatapnya. Tapi Fandi telah menarik tangan Clara agar masuk kedalam mobil dan melambai pamit pada seluruh teman Clara yang aneh dan ngeri itu.
....
DI RUMAH.
Sesampai di rumah, Fandi menatap koper berjejer dan Gilang menyambut Arumi.
"Lo mau kemana, Gil. Jadi terbang ke penang?"
__ADS_1
"Lo, ngusir gw. Parah lo mah, mentang mentang penganten. Lo ke usik ya?" goda Gilang.
"Apaan sih lo gajelas, gw serius malah bikin gw ngepeeur duluan."
Lalu Gilang melirik Sang istri dan sang anak. Clara menanyakan hal apa mereka membawa koper. Lalu merasa sebal karna ia ingin ikut.
"Kok, kaka mau ke Pantai bali? Ga ajak Clara sih sebel deh."
"Minta aja sama Suami kamu Dek, please deh Cla kamu udah gede. Udah berkeluarga!"
"Males aakh, ka Fandi boongin terus. Bilangnya liburan taunya ke Furniture. Nyuruh meeting dan ngadepin hal kantor kaya gitu. Pusiing tau, dah sana kalian pergi Clara capek!" masuk kedalam rumah.
Gilang, Arumi dan Fandi menggeleng. Tak lama babysister dan Danzel sudah masuk kedalam mobil. Di ikuti oleh Arumi dan Gilang yang pamit.
"Gw, titip adek gw yang manja ya. Trus lo sabar akan godaan kelak!" goda Gilang.
"Udeh sana, ga usah banyak ngomong. Awas aja lo macem macem bikin gw kalang kabut. Lo lagi ga rencanain sesuatu kan Gil?"
"I don't know, I don't promise." masuk kedalam mobil dengan senyum lebar menggoda, dan melebarkan tangan bagai sayap burung.
Seperginya Gilang, yang mengatakan gak tau dan ga janji membuat Fandi penuh tanya. Lalu ia masuk kedalam membuat seisi rumah menohok dengan tatapan terkejut Fandi kala itu.
"What, ini ga serius kan?"
"Kaka bingung Ya. Apalagi aku, kok ka Gilang pergi ternyata mau buat surprise Ya?" tanya Clara. Sedikit lola dan harus tersambung agak lama.
Fandi hanya terjatuh duduk di kursi sofa, ia tak membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.
Ingin rasanya ia keluar pergi meninggalkan rumah dan menginap di hotel. Tapi statusnya dan amanahnya pada Oma ia harus menjaga serta menepati janjinya.
.....
Kremi : Ada apa sih, lo tau ga Readers?
Author : Diem lo pada, intipin kepoo gw gebok bulak balik loh. Jangan nenamu tar malem Yaks!
Kremi : Ide bagus tuh. Jawab Kremi bersamaan.
Fandi : TOR JANGAN BIKIN GW ANEH ANEH LAGI YAK. PLEASE MALEM INI GW MAU TENANG TIDUR !!
Author : *🤔*Kepedean lo Fandi. Klo ga suka lo numpang aja di kost Kremi. Haaahhaha
__ADS_1