Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Kembali Hadir


__ADS_3

Saat Clara turun, acara kantor itu membuat dirinya terpisah dengan Sinta. Pasalnya, ia telah turun rate menjadi petugas kebersihan.


Hal itu Clara tak mempermasalahkan, karna dirinya tak ada pilihan untuk bertahan hidup. Hingga di mana, Clara mendapat sepucuk kertas dari seorang anak yang lari dan memberikan secara kilat.


"Aduuh," Clara terbentur, lalu mengambil kertas yang di lempar ke arahnya.


"Buka kak!" teriak anak itu kembali berlari.


Clara melaju langkah dengan pelan, ia berhenti di ranting pohon besar. Hingga di mana ia menatap pesan itu dengan sangat panik, membuat dirinya semakin panas dingin.


"Mas Fandi, apa benar ini tulisannya?" benak Clara.


Clara terhenti melangkah, ia takut ini adalah jebakan Elvira. Hingga di mana, ia meminta bantuan pada seorang warga yang sedang memetik buah.


"Pak, maaf saya mau tanya. Tau alamat ini gak?" tanya Clara.


"Ya neng, saya lihat dulu ya! Owh, ini toh. Villa ga jauh, neng lurus terus, kira kira sepuluh kilometer belok kiri, lurus dikit belok kanan. Ada tulisan villa epic. Udah sampe deh!" senyum pak kebun yang sedang memetik buah.


Ada perasaan takut, kala ini adalah sebuah jebakan Elvira. Tapi ia meyakini akan tulisan mas Fandi yang mengirimkannya pada anak tadi. Alea diam beberapa saat, karna ia telah jauh jaraknya dari team kantor yang sedang menuju suatu lokasi.


"Apa aku lanjutkan atau kembali saja ya?" benak Alea terdiam, berdiri lemas di dekat sebuah pohon.


BERBEDA HAL DENGAN SINTA.


Ia mencari keberadaan Clara, sungguh saat ini merasa panik. Takut terjadi sesuatu pada Clara yang kini selalu di kucilkan, andai saja ia tak butuh pekerjaan. Ia sudah melawan bu Vira yang teramat songong.

__ADS_1


"Eeh, put. Lo liat Clara gak?" tanya Sinta.


"Enggak tuh." balas dengan cuek, merapihkan poni.


"Bie, elo liat Clara gak?" tanya kembali Sinta pada Bibie yang menggantikan posisi Clara.


"Gue, sorry ya. Ga level, kalau berurusan sama karyawan penuh masalah." Bibie pergi meninggalkan Sinta yang bertanya dengan bertolak pinggang.


"Yeeh, dasar bibi tua gelo, di tanya malah ga enak jawabnya. Belum aja lo kena tulah, gue sumpahin cepet di phk ga hormat." kesal Sinta.


Sinta pun melanjutkan perjalanannya mencari Clara. Hingga di mana, ia menatap bu Vira yang seperti kesal pada seorang atasannya itu.


"Wuuih, big boss. Ada apa tuh sama bu Vira yang baru naik jabatan. Ga di rekam, sayang banget nih." ungkap Sinta mengeluarkam ponselnya.


PERTENGKARAN HEBAT.


"Ra, bukan ga percaya. Aku cuma minta kamu jelasin. Kenapa kamu membenci Clara, terus obat apa ini. Kamu selalu campurin ini kedalam minuman aku. Kenapa aku selalu pusing tiap habis minum. Aku ga marah, kenapa kamu sekeras ini sih?" Fandi menatap memegang bahu Elvira.


Elvira yang takut, terbawa emosi. Ia meredakan agar tidak terlihat panik. Ia menghela nafas dan berkata jika ia amat cemburu dan takut.


"Honey, kamu tau. Kita sudah menjadi sepasang kekasih secara resmi. Dia itu keluarga tamak. Musuh bunda, kamu tau kan betapa sulitnya bunda mengingat semua itu, kamu ga percaya sama aku?" tangis Elvira.


"Ra, sorry. Bukan maksud aku kaya gitu. Oke maafin aku ya!"


Fandi memeluk Elvira, tak ada gunanya ia berdebat. Apalagi vira sedang mengandung, bahkan ia tak tau harus bersikap bagaimana. Rasanya tak adil, jika ia melihat karyawan teraniaya karna amarah istrinya itu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa dengan semua ini, semoga saja anak kecil suruhan itu. Membuat Clara bersembunyi di villa epic sementara waktu." batin Fandi.


Sementara Sinta, ia amat terkejut dan bukan main. Justru ini adalah video yang meyakinkan untuk Clara percaya. Jika suaminya memang benar bosnya saat ini, hanya saja dalang di balik masalah Clara. Sinta tak tau pasti, ia hanya kasihan pada hidup Clara. Dan berusaha care membantu Clara karna sebuah balas budinya saat itu.


"Cla, gue janji bakal jadi sohib lo terbest. Setia dalam apapun, karna gue yakin. Penderitaan lo harus segera berakhir. Lo berhak dapatin semuanya kembali." benak Sinta lalu pergi mencari Clara kembali.


****


Di dalam villa.


Clara masuk, di bantu satu penjaga yang memintanya untuk menunggu. Clara sedikit takut, karna dalam bangunan itu amat luas. Sehingga ia terpaksa duduk untuk menunggu seseorang.


"Pak. Nona Clara sudah di tempat ruang yang bapak tentukan, saya sudah mengantarnya."


Perkataan lewat ponsel, membuat Clara menatap satu pelayan pria yang mengantarnya. Hingga ia berdiri tak ingin di tinggal karna takut.


"Pak, jelaskan pada saya. Apa yang menemui saya seorang wanita atau benar pria?" tanya Clara.


"Nona, tunggulah. Seseorang tidak berhak memberitau saya, saya merahasiakan nona di tempat ini. Tuan sedang dalam perjalanan!"


Clara terdiam duduk, rasa lapar kini sudah mulai membuat dirinya lelah akan perutnya yang belum sempat di isi dari siang. Sehingga sudah puluhan menit Clara menunggu dan lemas.


Clara sedikit pusing, ia meletakkan kepalanya di atas meja hias yang cukup besar. Tak lama, samar samar ia menatap pintu dari ujung pandangannya. Pintu itu terbuka lebar membuat Clara membuka mata dengan sempurna.


BRUUUUUGH!!

__ADS_1


"Apa, kenapa dia yang datang?" lirih Clara.


__ADS_2