Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Hamil


__ADS_3

Elvira memicingkan senyuman. Ketika Clara pamit pergi, hal itu membuat ia semakin bersedih. Clara mencuci wajahnya di wastafel. Menatap cermin, dan berkali kali ia memudarkan pemikirannya.


"Ga .. ini pasti salah, aku hanya halusinasi dan terlalu rindu padamu Mas. Pak Ardie tidak mirip denganmu.. " lirihnya.


Sinta mengetuk pintu toilet. Ia masuk mendekati Clara dan berkata dengan khawatir.


"Kamu kenapa sih Cla? Ada apa, kamu tadi lari. Memang kamu kenal pak Ardie?" tanya Sinta.


"Ak-Aku .. Aku minta maaf Ta. Tapi dia mirip dengan .." memberi foto dalam ponsel.


Sinta menatap ponsel Clara. Ia melihat dengan jelas, bukan hanya terkejut. Tapi ia menggetarkan bibir yang sulit berkata kata.


"Jadi ini mendiang suami lo Cla? kenapa begitu mirip. Tapi pak Ardie dari dulu sebelum kebakaran terjadi di gedung sebelah, memang seperti itu wajahnya. Sayangnya sekarang lebih ganteng, tapi tangan kanannya sedikit hitam berbekas kan?"


"Apa.. seperti itu. Kamu bisa jelaskan Ta?"


Sinta mengangguk. Ia juga bingung mengapa sangat mirip. Tapi ia jelas tak habis pikir, mengapa atau memang dasarnya kembar.


Kamu yakin mendiang suami kamu ga kembar Cla? soalnya dulu di gedung sebelah, sebelum bos Venzo. Gedung ini di beli setelah kebakaran, dan pak Ardie itu jadi karyawan kebersihan paling ganteng. Selalu aja pake masker dan topi udah kebiasaannya. Cuma waktu itu aku denger dari sepupu aku yang kerja bareng doi. Dia kejebak di pantry, pas naruh barang. Soalnya tiba tiba tombol merah sirena bunyi di kantor. Semua panik, tanpa tau klo pa Ardie ada di sana.


"Jadi seperti itu ceritanya. Aku minta bantuan kamu, tentang semua informasi apa aja yang kamu tau ya Ta!"


"Soal pak Ardie? Eiikh .. lo suka ya Cla?" goda Sinta.


Tapi menatap wajah Sinta yang berubah menjadi takut. Ia mengacungkan dua jari pertanda oke pada Clara.


****


"Masih ga percaya kamu? inget ya. Aku kekasih kamu, aku udah lama tau kalau kamu itu suami aku Fandi. Kamu bukan Ardie, hingga aku harus bertunangan sama Aries karna kamu ilang gitu aja. Aku ga nyangka, kalau kamu masih hidup Mas... Aku mohon kita kembali. Aku akan putusin Aris, terlebih malam itu. Aku takut kalau dalam sini tumbuh ... " Elvira memegang perutnya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu Ra?"


"Kita sering melakukannya. Clara yang kamu masukin kerja itu bukan siapa- siapa kamu. Dia itu benalu dalam hubungan kita. Kamu tau betapa laranya aku menangis saat kamu kejar Clara, tinggalin aku dirumah sendirian. Aku dan kita akan menikah setelah malam itu .. Tapi kamu hilang, tiba aja berita kalau kamu ikut terbakar. Aku menyesal udah ngira kamu ga hidup Mas... Jadi .. "


"Cukup Elvira. Aku memang ingat kamu, tapi aku ga ngerasa kita menikah dan melakukannya. Aku masih penasaran dengan bayangan punggung wanita kebaya putih.. jelas itu bukan kamu Ra. Dan Seiy.. siapa keluarga Seiy?"


Elvira tercengak. Ia berusaha mengatakan agar Fandi yakin. Jika dia adalah wanita satu satunya.


"Cukup Die. Aku ga peduli kamu mau pake identitas kamu Ardie atau apalah .. Yang jelas kamu adalah Fandi Assadel suami aku, kita kekasih termanis. Clara Seinclar adalah cucu dari Seiyen yang udah bikin semua milik kamu hancur. Juga kebakaran itu terjadi karna keluarga mereka.. Jangan terkecoh sayang. Please aku mohon!" Huuuuhuu ...Huuuuhuu ...


Elvira masih menangis tersedu sedu. Dalam ruangan atas gedung berbicara pada sosok yang ia sayangi.


Fandi menatap langit, tak bisa ia ingat segalanya, ia ingin mencari kebenaran sebelum ia memberi perhitungan. Tapi entah mengapa ia memejamkan mata, ia teringat sebuah pintu terbuka, bayangan punggung wanita yang ia bantu untuk membuka resleting dengan samar.


"Aaaaakh ... Sakit sekali." pekik Fandi memegang kepala.


"Sayang. Aku mohon, percaya padaku. Jangan memaksa untuk mengingatnya. Aku akan selalu bantu usaha ini semakin maju, aku tau Pak Venzo ke Amerika karna ini semua, sebenarnya usaha kamu kan? Seperti inikah kamu membohongi dan membuat aku sedih lagi mas .. ?"


"Maaf. Aku minta maaf, bantu aku urus dan bantu aku ke dokter. Aku perlu ingatan itu kembali!" pinta Fandi.


"Ya. Sayang, terimakasih sudah mau percaya sama aku!" senyum Elvira memeluk dan menyumbingkan senyuman kemenangan.


Clara yang membereskan beberapa tumpukan map. Ia meletakkan dan mengantar ke ruangan Bos Venzo.


Saat Clara mengetuk, ia membuka pintu dan terkejut menatap plang nama yang berubah di meja kerja bos Venzo. Sehingga Clara ragu ragu untuk masuk ketika menatapnya.


"Kenapa tidak masuk. Kemarilah Clara, apa kamu ga sanggup melihat kami duduk sedekat ini?" tanya Elvira yang bangun setelah duduk di pangkuan Fandi.


Fandi masih mengetik dan matanya menuju tatapan laptop. Tak menghiraukan tatapan dua wanita di depan pintu yang sedang beradu bicara.

__ADS_1


"Ak- aku hanya ingin mengantar ini saja Elvira."


"Lancaaaang.. kamu sebut aku nama Haaah ...? Panggil aku Manager Vira. Dan kamu ingat, dia itu Fandi pemilik Can'Fa!" teriakya.


"Maksud kamu. Bukan bos Venzo, bukankah dia paman pemiliknya .. ?" menatap Pak Ardie.


Sayaaang... Cepat bantu aku !!


Haaeeehaeee .. senyum Elvira pada Clara. Ia merebut map dari tangan Clara. Tak terasa ia melihat air mata mengembang dari wajah Clara. Clara pun diam berdiri terpaku ketika pria yang menatap laptopnya memanggil Sayang pada Elvira. Dan plang nama di meja bos Venzo jelas terbaca nama Ir. Fandi Assadel.


"Dia benar - benar bos? dia benar - benar masih hidup.. ?" batin.


"Kenapa. Terkejut ya kamu Clara, kamu akan mendapat karma telah merebut dia dahulu dariku!" bisiknya.


"Kenapa dia pergi. Apa ada masalah?" menghampiri Elvira.


"Tidak sayang. Hanya laporan map saja, lihatlah!"


Fandi pun senyum dan mengambil map dari laporan tangan Elvira. Lalu kembali serius dengan layar laptopnya, perlahan membuka tiap lembar berkas berwarna abu- abu itu.


"Lo kenapa Cla?" tanya Sinta. Menatap Clara yang menyapu air mata. Jelas mengembang merah di wajahnya.


.


.


.


Lo nangis lagi? Sebenernya ada apa sih sama lo Clara??

__ADS_1


---bersambung*---


__ADS_2