
Setelah berbagai fakta yang begitu mengejutkan Rudy, kini hatinya sudah mulai kembali mereda dari kemarahan dan emosi.
Adinda yang mengijinkannya dirinya mendekati Queen, berusaha mengenal lebih dekat dan ingin sekali memberikan kasih sayang layaknya Papa pada anaknya.
Queen masih belum bisa menerima Rudy, masih sedikit interaksi di antara keduanya. Sepatah dua kata Queen mau bicara pada Rudy menjawab setiap pertanyaan yang dia mau jawab.
Walapun seperti itu hati Rudy sudah sangat bahagia, Viky mendekati Rudy menepuk bahunya. ''Queen anak yang tidak bisa di paksakan terkecuali, dia yang membujuknya,'' ucap Viky menunjuk Adinda.
Rudy tidak banyak menanggapi perkataan Viky hanya kata, ''Trimakasih banyak.''
''Sudah lebih baik kau pulang selesaikan semuanya, bukan demi aku atau Adinda, tetapi demi anakmu sendiri Queen.''
Rudy menganggu faham, yang di katakan Viky ada benarnya. Tidak mungkin masalah sebesar ini harus terus-terusan menutup matanya. Jika bukam dirinya sendiri yang menyelesaikan lalu siapa lagi. Sedangkan satu nyawa yang sangat berharga sudah jadi korban kejahatan mereka.
Rudy menghampiri Queen dan Adinda di ikuti oleh Viky yang berjalan lebih dulu kesamping kursi roda Adinda.
''Bunda, kenapa duduk di situ?'' Queen bertanya karena melihat Adinda duduk di kursi roda.
''Tidak apa-apa, Bunda hanya cape saja,'' jawab Adinda.
Di tanggapi anggukan kepala oleh Queen, tersenyum dengan wajah pucatnya. Bola mata kecilnya mengarah pada sosok yang baru saja belum lama dia lihat. Menatap bingunh dan bermain bulu matanya yang lentik.
''Bunda, Dady ngantuk,'' ucap Queen yang memang tubuhnya masih lemah.
''Queen tidur aja tapi, setelah memberi salam buat Papa Rudy,'' ucap Viky sedikit merendahkan tubuh dan mengecup pipi mulus Queen.
''Cepet sembuh yah,'' ucap Rudy yang masih kikuk, mengusap pucuk kepala gadis kecil mungil itu, lalu mencium pucuk kepalanya.
''Aku pulang dulu, sebelumnya maaf dan sangat bertrimakasih atas segala hal.'' Rudy sedikit terseyum yang di paksakan dan pergi meninggalkan mereka.
Milla yang memang sudah memutuskan pulang terlebih dulu, untuk beristirahat semenjak Viky dan Adinda datang.
Rudy yang masih terus memikirkan bagaimana cara agar bisa membuat kedua wanitanya saat ini jera dan tidak melakukan hal yang membahayakan orang lain.
__ADS_1
''Sial kenapa semua harus seperti ini, orang yang ku anggap tulus, justru mereka yang dengan sengaja menyakiti hatiku. Tetapi orang yang bener tulus, malah ku buang atas kebodohanku sendiri.''
Rudy memukul dinding pembatas ruangan dan merapatkan kepalanya di dinding. ''Apa yang harus ku lakukan sekarang?''
''Aku harus bisa menyelesaikan semuanya, mereka harus merasa jera atas perbuatannya,'' ucap Rudy kemali.
Rudy berjalan menuju sofa ruang tengah menanti kedatangan dua wanita yang telah tega menyakiti anaknya. Menunggu dengan menonton televisi menggeser geser chanel berulang kali.
Tak terasa malam semakin larut, hawa dingin sudah mulai begitu terasa menusuk ke tulang. Melihat jam dinding, arah jarum jam menunjukan pukul 10.00 malam.
Rudy mulai gelisah karna keduanya belum juga sampai rumah. Padahal Rudy sangat mengetahui lokasi mereka saat ini, namun dia berpura pura tidak tahu dan menganggap merekadi rumahnya.
''Apa lagi rencana dari kalian, aku tetap harus waspada dan pura-pura belum mengetahui.''
Tak lama kemudian suara pintu terbuka dengan gelak tawa seseorang yang sangat Rudy ketahui. ''Gimana mah hebatkan, apa lagi nanti pasti akan lebih hebat lagi. Biar tahu rasa dia mah,''
Ha ha ha ha
Deg
Rahanyanya mengeras, tanganya mengepal dan mengeratkan kedua giginya, lalu bangun dan menatap tajam kedua wanita yang baru memasuki rumah.
Mereka asyik berbincang dan tertawa tanpa menyadari jika Rudy memperhatikan dan mendengar semua apa yang mereka bicarakan.
''Bisakah kalian jelaskan apa maksud perkataan tadi!'' Sorot mata tajam seakan ingin memangsa kedua wanita di hadapanya.
Ini kali pertama Sarah melihat kemarahan Rudy padanya yang begitu menakutkan. ''Mas dengarkan sarah, yang mas dengar itu tidak seperti itu maksudnya,'' ucap Sarah megelak.
''Tidak perlu kalian mengelak seperti itu, bahkan aku sudah punya banyak bukti akurat bukan hanya dari ucapanmu tadi,'' jawab Rudy tak kalah membungkam keduanya.
''Rudy apa maksudmu,'' tanya Mia kawatir.
''Mama tidak perlu berpura-pura tidak tahu, aku sudah mengetahui semua dari sebelum Rudy bercerai dengan Adinda.''
__ADS_1
''Mamah begitu tega berbuat seperti itu pada ku dan kamu Sarah apa kurangnya aku sehingga kau mampu bermain main dengan lelaki lain.''
Deg
Detak jantung sarah seakan berhenti, mendengar kalimat yang tak pernah terlintas di pikirannya. Sarah sama sekali tidak mengantisipasi akan hal ini, yang dia pikir hanyalah Rudy mudah di bodohi.
''Lihat Mah, sarah di situ kau akan menemukan semua kejahatan kalian.'' Rudy melempas flashdisk ke meja di depannya.
''Satu lagi Mah, Adinda tidak melaporkan kalian bukan berarti kalian akan bebas. Maaf tapi ini harus ku lakukan karena kalian sudah terlaluan.'' Rudy berkata sembari berjalan meninggalkan mereka berdua.
Rudy yang memang sudah menghubungi pihak polisi dan memberitahu jika pelaku sudah kembali kerumahnya. Sekitar sepuluh menit kemudian pihak kepolisian datang, langsung membekuk keduanya.
''Rudy!'' Mia membentak anaknya.
''Tega sekali kau nak pada Mama,'' ucap Mia yang memberontak.
''Maaf mah Rudy melakukan ini bukan buat Adinda, tetapi karena cucu Mama.'' Rudy berkata tanpa memandang wajah Mamahnya.
''Dia masih kecil bagaimana jika dia kehilangan nyawanya, ini semata mata agar Mama sadar atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan.''
''Mas tolong jangan seperti ini, kita bicarakan baik-baik yah?Sarah janji akan memperbaiki semuanya,'' ucap Sarah memohon pada Rudy.
Rudy tetap bersikeras memasukam mereka dalam penjara, agar merasa jera. Apa yang sudah di lakukannya selama ini hampir 2 tahun tak juga berubah padahal Adinda sudah bukan istrinya. Keputusan yang di buat baginya sudah sangat tepat ketimbang apa yang Adinda Alami selama ini.
''Rud, tolong maafkan Mamah,'' ucapnya lagi memohon.
''Mama janji akan berubah dan menerima mereka, tapi tolong jangan penjatakan Mama. Apa kamu tidak kasian, harus tidur di lantai.''
Rudy membalikan tubuhnya mendekati sang Mia, mata yang sayu dengan sedikit genangan air. Perkataan Mia membuatnya sedikit ingin mengingatkan Mamahnya, jika perempuan pilihanya itu bukan yang terbaik untuk saat ini.
''Menerima mereka, apa aku tidak salah mendengar. Bahkan semua sudah terlambat mah, kini yang ada dia istriku, dialah pilihanmu.'' Rudy menunjuk ke arah Sarah.
''Apa Mama tahu, jika dia memiliki lelaki lain di belakangku? Apa Mama tahu jika dia sudah memiliki anak dengan lelaki itu.''
__ADS_1