
Dengan perasaan yang teramat sangat sakit Nadya pergi meninggalkan rumah kediaman Prasetyo Nugroho.
Dia tidak pernah mengira jika Pras bisa berubah secepat itu. Meskipun dia merasa bersalah telah mengkhianati cinta mereka terlebih dahulu, namun cintanya selalu tulus untuk Pras.
Setelah kejadian itu Nadya bertekad untuk tidak pernah menampakkan dirinya dihadapan Pras dan keluarganya.
Akhirnya setelah Nadya bercerai dari suaminya, ia kembali ke Kalimantan tempat ia mendirikan rumah singgah untuk anak-anak jalanan dan kota tempat Pras dan Nadya bertemu untuk pertama kalinya.
Dalam penerbangannya kali ini Nadya bertekad akan mengubur dalam-dalam kenangan indah bersama duda satu orang anak tersebut.
* * *
Di balkon samping dekat kolam renang Pras sedang menikmati suguhan segelas jus mangga dengan sepiring kecil nugget tahu olahan tangan Jenny.
Jenny menghampiri Pras dan menarik kursi di sebelah Pras.
"Mas..,"
"Hmmm," sahut Pras yang masih asik membaca surat kabar hari ini.
"Aku jadi merasa bersalah pada mbak Nadya. Aku hadir di antara kalian berdua. Maafin Aku, Mas," sesal Jenny karena merasa sebagai penyebab rusaknya hubungan Pras.
Pras langsung menutup dan meletakkan koran yang dibacanya.
Pras menatap dalam manik mata Jenny sembari berkata, "Sayang, Mas minta jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Ini bukan salah Kamu. Ini sudah keputusan Mas dan tidak ada hubungannya sama Kamu."
__ADS_1
"Tapi Mas..,"
"Sssssttt!" Pras meletakkan jari telunjuknya dibibir Jenny yang merah.
Jenny terdiam sesaat kemudian dia menurunkan tangan Pras dan bertanya, "Mas, apa kamu benar-benar ikhlas menerima keadaanku seperti ini?"
"Sayang! Kamu masih ragu dengan ketulusan Mas? Lalu apa yang harus mas lakukan agar kamu bisa yakin bahwa Mas, tulus dan ikhlas mencintai kamu juga anak yang ada dalam kandungan Kamu," pungkas Pras serius.
Jenny hanya menggelengkan kepalanya. Hatinya merasa lega mendengar ucapan Pras yang penuh keyakinan.
"Kalau begitu, mulai sekarang jangan pernah pikirkan perasaan orang lain karena kamu juga harus bahagia. Jadi pikirkanlah perasaan kamu terlebih dahulu," titah Pras kepada Jenny.
Sekali lagi Jenny hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Pras melanjutkan menikmati suguhannya.
"Enak nggak?"
"Pasti dong! Kalo begini setiap hari lama-lama Mas bisa gendut nih. Nyantai ditemenin sama istri yang baik, cantik lagi," puji Pras sambil terus menikmati hidangan. Sementara pipi Jenny sudah memerah bak tomat yang sudah matang.
Bu Tatik melihat keduanya dari kejauhan. Sambil tersenyum manis Bu Tatik berkata lirih, "Bahagianya hati Ibu bisa melihat senyum kamu yang enam tahun lalu selalu menghiasi wajahmu, Nak. Semoga selamanya akan seperti ini."
Tanpa terasa air mata bahagia mengalir membasahi pipi yang sudah tidak lagi muda. Keriput mulai menghias di sana-sini.
Kedua sejoli itu menoleh bersamaan saat melihat sekelebat bayangan pergi dari balik pintu tengah. Kemudian keduanya saling berpandangan.
__ADS_1
"Mas, apakah itu ibu?" tanya Jenny.
"Entahlah, Mas juga tidak tahu pasti. Sebentar biar Mas lihat," ucap Pras sembari beranjak dari tempat duduknya.
Lalu ia menelisik disekelilingnya. Namun tidak menemukan siapa-siapa. Hanya kucing anggora peliharaan Zylva yang sedang berlari.
Pras kembali ke tempat duduknya.
"Siapa, Mas?" tanya Jenny penasaran.
"Bukan siapa-siapa, cuma si Moza yang sedang bermain," terang Pras sambil tersenyum.
"Beneran nih, bukan Ibu?!"
"Bener. Memangnya kenapa kalau Ibu?" tanya Pras kembali
Jenny hanya menggelengkan kepalanya sambil menyeringai.
Bersambung...
Dukung terus cerita ini ya frenn 😍
Jgn lupa untuk Like, Komentar, Gift atau Vote juga 😊
Thank you so much Dear 😍😍
__ADS_1