Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Penasaran


__ADS_3

Baca bab sebelumnya ya.. 😊


"Iya sayang," sahut Pras dari dalam kamar.


Jenny membelalakkan matanya, sambil menajamkan pendengarannya sekali lagi.


"Sayang?! Apa aku tidak salah dengar!" racau Jenny dalam hati.


"Mas! Ayo sarapan, Nanti Zylva terlambat lho," tutur Jenny kembali.


"Astaghfirullah! ternyata tadi cuma khayalanku saja." Pras menghela nafas berat.


"I.. iya, Jen. Sebentar lagi saya keluar," sahut Pras sambil menyambar tasnya kemudian keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Pras, ada apa sih! Tumben kamu seperti ini. Tidak biasa - biasanya," omel Ibu karena waktunya sudah hampir siang.


"Iya, Bu. Pras minta maaf. Tadi perut Pras lagi nggak enak. Sepertinya masuk angin," kilah Pras membela diri.


Padahal yang sebenarnya dia asik dengan lamunan dan khayalannya.


"Ya sudah, makanannya dimasukin aja buat bekal. Nanti biar saya sarapannya di kantor," pinta Pras karena takut Zylva terlambat.


"Baik mas," sahut Jenny.


Ibu tersenyum bahagia mendengar Jenny sudah membiasakan diri memanggil Pras 'Mas'.

__ADS_1


"Baguslah ada kemajuan," batin Ibu.


"Ya sudah ayo kita berangkat sayang, jangan lupa salim nenek dan juga Tante Jenny," ujar Pras kepada Zylva.


Zylva pun mengikuti arahan ayahnya. Pras dan Zylva mencium punggung tangan Bu Tatik.


"Assalamualaikum," pamit Zylva dan Pras kepada Bu Tatik dan juga Jenny.


"Waalaikumsalam," sahut Ibu dan Jenny bersamaan.


"Hati-hati sayang," tambah Jenny sembari melambaikan tangannya kepada Zylva.


Khayalan tingkat tinggi Pras kembali menghampiri saat mendengar kata sayang dari mulut Jenny.


"Iya, mas akan selalu berhati-hati. Jaga diri di rumah," pamit Pras sambil mencium kening Jenny.


Dengan tergesa-gesa dia segera masuk dan langsung melajukan mobilnya sembari tersenyum penuh makna.


"Kelakuan kamu aneh akhir-akhir ini Pras," gumam Bu Tatik lirih. Jenny hanya tersenyum dan tertunduk malu.


Kedua perempuan itu kembali masuk ke dalam rumah. Jenny kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang belum tersentuh.


Sementara Bu Tatik membantu menyirami tanaman yang sudah lebih dari satu minggu tidak tersentuh.


Setelah beberapa jam kemudian, keduanya terlihat letih lalu memutuskan untuk beristirahat.

__ADS_1


Sambil meluruskan kakinya Jenny duduk di atas karpet berwarna merah terang sembari mengibaskan tangan kanannya mengipasi tubuhnya yang sedang kepanasan.


Bu Tatik datang menghampiri Jenny dengan segelas air putih ditangan kanannya lalu menyodorkannya.


"Ini minum dulu, ibu hamil tidak boleh sampai kekurangan cairan," ungkap Bu Tatik.


Jenny menerima gelas berisi air putih itu dan berkata, "Terima kasih, Bu."


Kini Bu Tatik sudah duduk di atas sofa sebelah Jenny. Mereka pun asik bercerita tentang banyak hal. Keakraban mereka berdua sudah seperti ibu dan anak kandung.


Dalam percakapan mereka, Bu Tatik mencoba bertanya kepada Jenny bagaimana perasaan dia kepada Pras.


"Mm, Jen. Ibu boleh bertanya sesuatu kepada kamu? Ya mungkin sedikit sensitif," lontar Bu Tatik.


"Ya boleh dong, Bu. Memang apa yang ingin ibu tanyakan pada Jenny?" sahut Jenny lembut.


Dengan ragu Bu Tatik mencoba bertanya, "Setelah melahirkan nanti, apakah kamu ingin menikah?"


Jenny terdiam sejenak.


"Bu..bukan maksud Ibu ingin mengusir kamu. TIDAK! Jadi Ibu harap kamu tidak salah mengerti atas pertanyaan Ibu barusan," papar Bu Tatik.


Dengan lembut dan tenang Jenny menjawab, "Jenny mengerti maksud Ibu. Jenny juga tidak berfikiran seperti itu,".. Jenny tersenyum manis, "Insya Allah, Bu. Jika Allah memberikan jodoh kepada Jenny, bagaimana mungkin Jenny menolaknya. Bukankah rezeki, jodoh, maut sudah di tentukan Allah kepada setiap hambaNya dan kita tidak bisa menolak ataupun menghindarinya, kan Bu?"


"Lalu, kalau seandainya jodoh yang datang kepada kamu adalah Pras, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Bu Tatik kembali.

__ADS_1


Jenny langsung melebarkan kelopak matanya. Bibirnya keluh untuk menjawab.


Bersambung lagi ya... 😍😍


__ADS_2