
Awan merah sudah mulai menunjukkan kehadirannya menyambut datangnya pagi yang cerah.
Ya mungkin secerah hati sang duda tampan yang sudah membuat keputusan besar untuk masa depan hidupnya.
Seperti kebiasaannya setiap pagi setelah pulang dari sholat berjamaah di masjid, dia selalu bersemangat berolah raga. Dia adalah pria yang selalu menjaga kesehatan dan penampilan tubuhnya.
Sambil berlari pelan, wajah dengan rahang tegas dan jauh dari bulu - bulu halus yang biasanya tumbuh di bagian pipi samping kanan dan kiri, terlihat memancarkan aura kebahagiaan.
"Aku yakin kamu tidak akan bisa menolak ku," monolog Pras sambil melengkungkan sudut bibirnya ke atas.
Ketika Pras tiba di rumah, Jenny sudah kembali dengan aktifitas seperti biasa. Dia menyiapkan sarapan pagi untuk Pras dan juga Zylva yang akan berangkat ke sekolah membawa bekal.
Dengan celana training berwarna hitam dan kaos berwarna abu-abu muda lengkap dengan handuk kecil berwarna oranye yang menggantung di lehernya, Pras berdiri mematung di pintu tengah sembari tersenyum memperhatikan Jenny yang tidak menyadari kehadiran Pras dibelakangnya.
Pras kagum dengan keuletan Jenny. Dalam hati ia berkata, "Dalam kondisi seperti ini saja kamu masih bisa beraktifitas tanpa rasa lelah, tanpa mengeluh, Jen."
"Insya Allah, kali ini aku tidak akan salah membuat keputusan besar dalam hidupku," imbuhnya dalam hati.
"Mas! masih akan terus mematung disitu?" tanya Jenny membuyarkan lamunan Pras.
Pras langsung memalingkan wajahnya celingukan. Lalu melemparkan senyum yang membuat Jenny ikut tersenyum.
"Udah, buruan mandi lalu sarapan. Kalau terlalu lama nanti makanannya keburu dingin. Nggak enak," tutur Jenny menyuruh Pras segera bergegas.
__ADS_1
Pras mengangguk dan tersenyum sambil mengusap ujung telinganya kemudian perlahan melangkahkan kakinya. Setelah beberapa langkah ia kembali berbalik menoleh ke belakang lalu tersenyum kembali dan Jenny masih memperhatikan Pras.
Pras menganggukkan kepalanya lagi sambil terus melangkah tanpa melihat apa yang ada di depannya.
Tiba-tiba Pras berteriak karena terkejut. Karena saat dia berbalik melihat ke depan, ibu sudah berdiri dihadapannya. Membuat semua orang tertawa geli.
"Aaaaahhhh! Ibu! Buat Pras terkejut aja," pekik Pras dengan nafasnya yang memburu dan kanannya mengelus dadanya naik dan turun.
"Lagian kamu ngapain jalannya begitu?" tandas Ibu sambil menahan tawanya.
"Lah, lalu Ibu kenapa berdiri di sini? Kan bisa lewat Sono tuh," ucap Pras sambil menunjukkan jalan yang bisa di lalui Ibu.
Dari dapur Jenny ikut tertawa geli melihat kejadian lucu pagi ini sambil menggelengkan kepalanya ia bergumam sendiri, "Ada - ada saja kamu mas."
Setiap kegiatan yang dilakukan Pras selalu dibarengi dengan senyuman. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Dulu ia tidak pernah bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Bahkan saat dia jatuh cinta pada ibunya Zylva ataupun Nadya yang hanya berlalu begitu saja.
Bagi Pras Jenny memiliki sensasi yang berbeda.
Senyumnya terus merekah bahkan saat ini dia sedang berpakaian, wajah manis Jenny selalu bermain dalam pandangan matanya.
"Mas, sini aku rapiin dasinya. Kurang naik," ucap Jenny sembari merapikan dasi Pras.
__ADS_1
"Udah keren belum?" tanya Pras sambil memainkan kedua alisnya.
Jenny tersenyum manis sambil membulatkan ibu jari dan telunjuk, lalu ketiga jari lainnya naik ke atas. 👌
"Beneran nih, udah keren?" tanya Pras meyakinkan diri.
"Udah sayang, kan memang selalu keren," puji Jenny.
Pras tersenyum lebar, ia masih asik dengan lamunannya.
Tok..tok..tok
Suara pintu kamar Pras diketuk.
"Mas! Mas Pras," panggil Jenny beberapa kali.
"Iya sayang...," sahut Pras dari dalam kamar.
"Sayang???!" batin Jenny sambil menajamkan pendengarannya sekali lagi.
Bersambung...
Lanjut lagi ya Like komen gift rate vote 😁😁
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya my beloved readers 😘😘😍