
''Cepat sembuh agar bisa menghadiri pernikahan mereka.'' ucap Adinda tertawa, ''biar nanti tinggal giliranmu yang menikah, lalu bagimana rasanya berciuman dengan ka Devan?'' tanya Adinda menjahili Tia.
Tia yang mendengar itu wajahnya memerah malu dan membulatkan mata. Ternyata Adinda melihatnya kejadian tadi.
''Adinda!'' ucap Tia sedikit kesal, membuat semua heran dan menherutkan kedua alisnya.
''Ha ha ha ha ... ,'' tawa Adinda dan Viky pecah berhasil menggoda Tia.
''Ya sudah aku kekamar Queen dulu.'' ucap Adinda.
''Tunggu! Bolehkan aku menenuinya?'' tanya Rudy lirih dengan menghapus air matanya.
Viky menoleh, dengan sedikit menyungging senyum. ''Tentu saja boleh dia anakmu, asal kau masih memiliki batasanmu. Apa yang kau miliki dulu tidak semua itu milikmu saat ini, terutama Istriku. Jadi fokus saja pada masa depan keluargamu, kapanpun kau ingin menemui Queen pintu rumahku selalu terbuka lebar tetapi jika tidak ada aku di rumah maka tidak ku perbolebkan.'' jawab Viky.
Rudy terdiam mendengar jawaban Viky, Alex faham apa yang di katakan oleh sahabatnya. Nindy pun mengerti jika sahabatnya dan bosnya itu saat ini tidak ingin kembali kehilangan.
Nindy menepuk pundah Rudy, ''dia hanya ingin melindungi keluarga serta Istrinya. Jangan berfikir negatif, justru yang di kataka ada benarnya. Kamu saat ini memiliki keluarga sendiri begitu juga Adinda, aku hanya mengingatkanmu sebagai sahabat baik Adinda.''
Rudy menghela nafas sebelum menjawab perkataan Nindy. ''Aku faham apa yang kau maksud, aku yang begitu bodoh dan tidak mensyukuri apa yang tlah ku dapatkan. Kini aku juga akan berusaha melindungi anaku, hanya itu yang bisa aku lakukan.''
''Sebenarnya bukan hanya itu, masih ada hal yang lebih penting.' ucap Devan yang masih setia duduk di samping ranjang Tia.
Rudy berbalik menghadap dan menatap Devan penuh tanya. Tatapan Rudy yang masih sayu dan sedikit genangan air, masih terlihat jelas oleh Devan.
''Istri dan mamamu, urus mereka jika tidak aku yang akan bertindak.'' ucap Devn datar tanpa senyum.
''Aku faham itu tenang saja, aku akan menyelesaikannya sampai tuntas.'' jawab Rudy kemudia berjalan keluar dari ruangan Tia.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dimas yang baru mendengar jika Tia kecelakaan bergegas menuju rumah sakit. Karena sebelum pergi sudah bertanya pada Viky letak ruangan rawatnya, langsung berlari mencarinya.
Nafas yang masih tak beraturan, menundukan tubuhnya sedikit untuk menetralka nafasnya agar bisa stabil kembali.
Sekita lima menit diam dan menurutnta sudah biasa, Dimas bangun dan membuka pintu kamar. Melihat di sekeliling saat ini hanya ada Devan dan Tia.
Ceklek
''Maaf aku tak mengetuk pintu dulu.'' ucap Diman yang masih memegang handle pintu.
__ADS_1
''Eh ka Dimas, ada apa?'' tanya Tia heran yang dengan kedatangan Dimas tiba-tiba.
''Tidak apa-apa bari tahu kamu kecelakaan, aku langsung kemari. Bagaimana keadaanmu saat ini?'' Dimas bertanya sambil berjalan masuk mendekati mereka berdua.
''Sudah lebih baik ka?'' jawab Tia yang sedang di suapi oleh Devan.
''Lebih baik apa? Lihat makan saja belum bisa.'' ketus Devan dengan menyuapi Tia.
Tia yang mendengar terseyum serta memamerkan deretan giginya yang putih.
Dimas terseyum getir melihat keakraban mereka berdua, padahal mereka belum lama kenal. ''Kamu sudah lama di sini Dev?'' tanya Dimas yang mengambil kursi lalu duduk di samping ranjang Tia.
''Sudah, keluarganya lagi tidal bisa dateng, Nindy Alex sedang mempersiapkan pernikahannya. Sedangkan Adinda Viky sedang berada di ruangan Queen, terpaksa aku yang harus menjaga gadis tengil ini.
''Ih ... aku enggak tengil.'' Tia kesel dengan ucapan Devan, lalu mau meraih piring yang sedang di pegangnya tapi tanganya kembali merasakan sakit karena memang belum boleh banyak bergerak.
''Auw ... '' Tia berteriak kecil karena merasa sakit pada bagian tanganya.
''Devan dan Dimas reflek menggang tangan Tia, dengan bersamaan bertanya. ''Kamu engga apa-apa?''
''Kompak banget tanyanya?'' ucap Tia datar dengan menarik tanganya kesal.
Tia masih merasa sedikit kesal dengan Devan, penuturannya tadi mengatai Tia gadis tengil.
Tia masih diam tidak menjawab, kemudian Devan berinisiatif meninggalkan ruangan itu. ''Ya sudah aku keluar saja, sudah ada Dimas kan di sini.'' ucap Devan dengan beranjak bangun dari duduknya.
Dalam hati Tia, Tidak ingin di tinggal sendiri dengan Dimas. Tia masih belum memaafkannya, apa lagi karena dialah keluarganya kehilangan Keysa.
Tia meraih tangan Devan, ''jangan pergi?'' ucap Tia memohon.
Devan terkejut dengan tindakan Tia, apa lagi dia menahan Devan agar tidak pergi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat lain Mama Rudy dan Sarah masih merasa bahagia atas apa yang terjadi pada Adinda. Mereka belum mengetahui jika kasus itu memang Adinda tarik dan tidak ingin memperpanjangan.
Mereka merasa bahwa tindakannya tidak di ketahui, kini mereka menyusun kembali rencana berikutnya. Target kali ini Adinda sendiri, Sarah masih ingat sekali dengan ucapan Rudy di malam itu. Bermain dengan tubuhnya tetapi selalu menebut nama Adinda, perih sakit yang di rasakan Sarah.
''Adinda kau sudah di buang oleh Rudy masih saja ingin menggodanya, tidak akan pernah bisa lagi kau lakukan.'' Sarah yang sedang berdiri di balik jendela kamar memandang keluar.
__ADS_1
''Mama bagaimana selanjutnya? Apa rencana kita, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya merasakan sakit seperti apa yang ku alami.'' ucap Sarah datar.
''Tenang lah, mama sudah mendapatkan rencana yang sangat baik, ada orang yang bersedia tidak menerima imbalan apapun membantu rencana kita.'' jawab Mama Rudy.
Tring
Tring
Tring
Bunyi telepon genggam Mama Rudy berbunyi yang berada di atas meja, kemudian mengambilnya melihat nama yang tertara di layar itu.
''Rudy,'' ucapnya
''Ada apa Rudy menelpon, tumben biasanya tidak pernag bahkan sudah lama sekali dia tidak meneleponku.'' ucapnya kembali.Tak lama kemudian Mia menggeres tombol hijau.
''Hallo, ada apa nak? Tumben sekali kamu menelpon mama. "
"Apa harus hari ini mama datang?"
"Baiklah mama akan datang kerumahmu."
''Ada apa mah?'' tanya Sarah.
''Rudy minta mamah dateng kerumahnya, kamu juga harus pulang. Sekalian kita menjalankan rencana berikutnya, kita libatkan Rudy.'' ucap Mia.
''Maksud mama?''
''Kita libatkan Rudy tapi jangan sampai dia tahu, mintalah agar kamu bisa bertemu dengan Adinda. Masalah alasannya kamu mau bilang apa terserag saja, yang penting kita bisa bertemu dulu. setelah itu nanti baru kita lanjutkan semua yang sudah kita rencanakan, bagaimana?" tanya Mia.
🍁🍁🍁🍁🍁
Rudy masih diam memperhatikan setiap interaksi anak, Bunda dan Dadynya. Terlihat begitu bahagian mereka, ada rasa sakit yang tak bisa terucap ketika melihat mereka tertawa bercanda bersama.
Rudy mengandai andai jika bisa mengulang waktu, terseyum getir untuk dirinya sendiri. Menyesali segala perbuatanya dan kesalahan yang telah di lalukannya selama ini pada Adinda.
Sedangkan Viky begitu memanjakan Queen sama halnya anak kandungnya sendiri. Sakit, malu, iri, serta penyesalan itu yang saat ini dia rasakan.
Bahkan Adinda mengenalkan dirinya sebagai papanya juga, menagis hatinya dengan balasan apa yang Adinda berikan. Tidak ada kata cacian hinaan bahkan lontaran kata-kata kasar dari mulutnya.
__ADS_1
Semua dia berikan dengan lembut dan secara halus tetapi sangat menusuk hatinya, sampai begitu terasa dan mengingatkannya atas segala perbuatanyan.
''Maaf, aku sadar memang aku tidak layak untukmu.'' Dalam hati Rudy, hanya maaf yang bisa terucap.