Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Menyelamatkan


__ADS_3

Striiiith... Rem mendadak membuat Clara jatuh tak imbang. Menatap beberapa Mobil telah mengelilinginya.


"Ada apa ka?"


"Diamlah, jangan pernah turun dari mobil Cla!"


Fandi turun, sementara Clara hanya melamun akan beberapa pria besar menghampiri Fandi. Ia memukul begitu saja. Membuat Clara dalam mobil berteriak histeris karna Fandi di keroyok. Lalu menatap kaca jendela yang diketuk. Clara pun membukanya dan Huuft...!! ia dibekap dan di bius. Tanpa sadar ia di pindahkan ke suatu mobil dan berjalan dengan cepat ke arah mobil satu lagi.


Fandi yang masih melawan dua pria tergontai, hingga akhirnya ia menang dan kembali masuk kedalam mobil.


"Cla, kita pu.... ,, " membuka pintu mobil.


Fandi terdiam beberapa saat, ia memutar mata dan memukul setir mobil. "Siaaalan, Aris kau mulai bermain lagi denganku. Hidupmu kenapa tidak berhenti berulah menggangguku!" lirihnya.


Fandi sampai dirumah, ia tak menemukan Clara. Sementara Gilang dan Arumi yang sibuk mendekor terkejut panik.


"No, Aunty Cla kemana Uncle?" tanya Danzel.


Fandi menenangkan. Ia bicara jika Aunty baik baik saja. Sedang berada dalam pertemuan teman baiknya. Tak lama Danzel dibawa ke kamar oleh Arumi.


Gilang membawa Fandi ke tepi pojokan, ia menaikan kerah Fandi dan meminta pertanggungjawaban.


"Gw minta maaf, ga bisa jaga Cla. Tapi begitu gue masuk dia udah ga ada. Gue yakin dia berulah lagi!"


"Fandi, gue ga mau tau alasan apapun. sedetikpun lo harus jaga Clara. Mau lo cinta atau enggak. Gue ga perduli, tapi dia adik gue satu satunya paham lo!" teriak Gilang pada Fandi.


"Gil, gue bisa apa. Gue udah kehilangan banyak orang yang gue sayangi. Gue belum bisa janji ke elo untuk menyayangi Clara. Hati gue benar tertutup karna lo tau persis gue kan? Tapi gue bakal cari dan pastiin Clara baik baik aja!"


Fandi melepas kacing kerahnya, menarik dasi. Ia keluar dan meninggalkan seisi ruangan yang genting. Di malam itu semakin kesal bercampur runyam. Hujan membasahi ketika Fandi mengendarai mencari Clara. Ia meluapkan emosinya di tepi halte dan berteriak.


Aaaaaaaaaargh!! ia meninju tangannya ke sebuah tembok. Setelah membanting setir ketepi jalan. Ia mencoba mencari akses dimana keberadaan Clara. Hal yang tak mungkin ia pijak adalah pergi kesuatu paviliun kediaman pria paruh baya yang ia benci.


"Sucikwo Assadel." pria yang Fandi benci, karna dia sang bunda pergi menghilang tanpa jejak. Membuat ia kesal dan pergi lalu meninggalkan hingga terbuang.


Dengan baju yang basah ia tetap menjalankan mobilnya dengan kencang. Ia melaju kesebuah tempat yang ia pernah ucapkan tak akan pernah menginjaknya lagi.

__ADS_1


 


DI BERBEDA TEMPAT.


Uhuuuuk.. Uhuuuk. Suara batuk melemas. Clara menepi lamunan dan pandangannya. Suatu ruangan yang gelap dan pengap. Ia terkejut akan tangannya di ikat. Ia duduk namun kaki tangannya masih keras terikat. Ia menatap seorang pria tinggi memberikan punggung padanya. Clara ingin berteriak tapi bibirnya sangat bergetar.


"Owh.. baby. Kamu sudah sadar ya!"


"Kamu, bukankah Aa..Ris, kenapa membawaku, apa yang kamu lakukan?"


"Heuuumph.. kau belum tau siapa pria yang selalu menganggapmu adik. Hahaa Fandi si bodoh itu masih saja menyimpan identitasnya. Aku tau akan dirimu dan hubungan sesungguhnya. Tapi apa kamu masih mau di nikahi pria bodoh dan pembohong?"


"Apa maksud anda. Sebenarnya apa yang kamu mau dariku?"


Aris menyentuh pipi Clara. Ia memintanya untuk menunggu dan melihat sendiri dari kejauhan atap balkon. Dengan adanya wanita yang ada di sisi Fandi. Sudah pasti ia akan datang menghampiri paviliun yang telah lama ia sumpahi untuk tak menginjaknya.


 


***


DI RUMAH SEIYEN.


"Tenanglah sayang. Clara pasti baik baik saja. tenanglah pernikahan esok pasti akan berjalan dengan lancar. Acara tidak akan batal. percayalah!"


Arumi memeluk Gilang. Ia takut klien yang datang dan seluruh tamu kecewa. Terlebih keselamatan Clara yang sudah pukul satu malam masih tak kunjung ada kabar. Arumi berdoa agar adik dari suaminya itu baik baik saja. Terlebih ia di ceritakan sisi kelam masa lalu Fandi yang membuatnya terkejut.


 


****


Nggggggeeeuuung! Strriiith.


Fandi memberhentikan mobilnya. Ia turun dan menatap gedung yang menjulang. Lalu teringat akan insiden yang membuatnya terusir dan pergi dari kediamannya. Ia berjalan lurus tak menatap arah manapun. Ia mengepal dengan tangan yang terbungkus kain dan berdarah. Kaos yang basah dan lembab ia berteriak di depan pintu pagar.


ARIS ALBERTO. KELUAR KAU !!

__ADS_1


Aku tau kau menyembunyikan Clara! Teriaknya.


Aris membuka tirai, membiarkan Clara menatap dengan wajah kebingungan.


Tak menunggu Lama, Fandi mendorong tubuh Aris dan membawanya ke tepi tembok gelap. Ia mengancam Aris dan apa keinginannya. sehingga ia tak ingin Clara tau siapa sebenarnya. Fandi memilih menjadi pesuruh karna masa lalu menyakitkan, ia bersikeras agar Clara tak melihat pertikaian mereka.


Fandi pun melepas ikatan Clara. Ia membopong Clara dan masuk kedalam mobil ala BridesStyle.


Clara hanya memandang Fandi dengan gaya cool. Masih bertanya tanya apa yang terjadi ketika ia tak melihat Fandi selama empat puluh menit.


Ssssssrith... suuara rem dadakan. Fandi pun sampai, terhenti didepan rumah.


"Ka, apa sebenarnya yang terjadi tadi. Kenapa Aris menyandra Clara, apa yang kaka lakukan tadi aku tak melihatnya karna gelap?"


Fandi terdiam, ia menatap dan tersenyum pada Clara. Sebenarnya tak ingin pernikahan terjadi begitu saja. Rasa cinta dan kosong hatinya membebani, tapi ia tak ingin jika Clara tau pertikaian yang terjadi pada Aris apalagi masa lalu dan hubungan dengan Aris.


"Bukan apa apa, itu hanya kesalah pahaman kami. Maafkan Ka Fandi membuat kamu sulit hari ini!"


Fandi mengecek tangan Clara, ia menatap seluruh tangan dan kakinya. Ia meminta maaf karna dirinya, Clara menjadi terluka dan sedikit memar di pergelangan tangan karna ikatan tali.


"Clara, syukurlah kamu ga apa apakan?" tanya Arumi.


Selama satu jam, Arumi membawa ke kamar. sementara Gilang dan Fandi beradu mulut.


"Lo bodoh Fand, terus lo serah terima segalanya. lo nyerah gitu aja?"


"Gue gak bisa biarin Clara terluka. Gue ikhlas kehilangan apapun, selebihnya Aris bakal semena mena gue akan terima. Asal dia ga nyentuh Clara dan keluarga Seiyen. Termasuk lo Gil!"


"Tapi Fand.. elo bego. Kenapa lo kalah sama Anak angkat boka.."


"Stoop... gue ga mau denger lagi Gil. Pembicaraan ini berhenti. Gue ga mau denger lagi! Mending elo istirahat beberapa jam. Besok pagi gue bakal nepatin nikahin Clara. Gue janji bakal jaga Clara sampai si Tin.. maksud gue sampai kapanpun."


"Elo gak nyerah gitu aja kan. Gue harap elo terbuka isi hati lo, lo harus sadar Elvira bukan wanita terbaik buat lo Fand. Gue harap lo ga mainin pernikahan sama adik gue!" pinta Gilang.


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Fandi begitu terkesima, ketika menatap Wanita yang ia anggap adik. Begitu menatap baju yang membuatnya berdegub kencang. Balutan kebaya bernuansa gold. Yang memampang belahan paha dan punggung berleter bulat. Fandi tak berhenti menatap dan berkedip. Terlebih polesan natural yang membuat Clara sangat anggun dan mempesona.


Saat acara dimulai, tiba seseorang datang menghampiri. Clara terdiam ketika ingin duduk disamping Fandi bersama penghulu di samping Ka Arumi. Gilang pun terdiam dan menatap dengan serius.


__ADS_2