
Tubuh Clara meringkuk dengan kaki terpeluk oleh kedua tangan. Rasa terkejutnya belum hilang dengan sempurna karena ulah pria yang tiba tiba menyerangnya. Matanya sama sekali tidak beralih dari tubuh yang kini terbaring dengan posisi terungkup tepat di tempat dirinya tadi tidur. Untung dia bisa melompat dengan cepat menghindari tubuh tegap itu. Kalau tidak, mungkin tubuh Clara akan terkurung dan mungkin juga tulangnya langsung patah karena pria itu menjatuhkan tubuhnya dengan asal.
Masih dengan jantung berdegub kencang dan rasa takut, Clara mencoba mengamati siapa yang berani mengusik tidurnya. Tangan gemetarnya terulur ingin memeriksa wajah si pria karena saat ini yang terlihat olehnya hanya rambut gondrong berantakan.
“Mas Fandi,” lirih Clara ketika tangannya berhasil memutar kepala pria yang berhasil mengejutkannya.
“Hah ….” Clara merasa sedikit lega setelah mengetahui pria yang masuk ke dalam kamar adalah Fandi.
Punggung dan kepalanya bersandar pada sandaran ranjang yang ada di belakang tubuhnya karena saat melompat terkejut, Clara asal lompat saja. Matanya terpejam mencoba mengembalikan irama jantungnya ke irama normal.
“Cla,” racau Fandi membuat Clara membuka mata.
Clara merangkak mendekati Fandi dan mengamati wajahnya.
“Uhm ….”
Clara menjauhkan wajahnya dari wajah Fandi dan menutup hidungnya. Bau alkohol langsung menyeruak dalam hidungnya saat napas Fandi tidak sengaja terhirup olehnya. Dari aroma yang tercium dan melihat kondisinya, Clara bisa memastikan bila Fandi sedang mabuk berat. Dia terus meracau menyebut namanya.
“Ish! Sesakit inikah hatimu, Fandi? Sampai-sampai kamu merusak dirimu sendiri,” gumam Clara.
Dia tidak bisa membiarkan Fandi tidur dengan posisi asal karena tubuhnya memenuhi ranjang. Clara mencoba untuk membenahi posisi Fandi dan menariknya ke atas. Dengan susah payah Clara mengangkat tubuh Fandi untuk naik.
“Ya, ampun. Berat banget. Ini badannya yang berat atau dosanya yang berat, sih?” omel Clara merasa kesusahan saat membawa tubuh Fandi ke atas bantal.
Clara menarik kedua tangan Fandi dan menariknya dengan tubuh berdiri sedikit membungkuk.
“Clara, jangan pergi, sayang!” Kembali Fandi menyebut namanya masih terpejam, ketika membuka sedikit terlihat merah menyala.
Clara duduk di samping Fandi sekedar menghilangkan lelah. Sembari mengatur pola napasnya yang ngos-ngosan, ia memandangi wajah kusut Fandi saat ini. Dengan lembut dia memberanikan diri menyingkirkan rambut gondrong Fandi yang menutupi wajahnya. Lagi lagi racau Fandi terdengar menyedihkan.
“Apa itu sakit, Fandi?” Clara memandang intens wajah Fandi. Ia sudah lupa apa yang terjadi kemarin, dan jika Fandi saat ini berada dikontrakannya. Dari mana ia tau tempat tinggalku saat ini.
Wajar juga, perumahan yang ia tinggali sangat jauh jarak dari rumah tetangga. Dan seluruh penghuni terlihat masing masing. Clara hanya meratapi dan melihat dinding, ia bingung bagaimana Fandi dan dirinya bisa sampai di sini. Terlihat setiap sudut pintu tak ada yang rusak, semua terlihat baik baik saja.
“Maafkan aku, Fandi. Aku tidak tau kalau kamu selemah ini,” sambung Clara lagi. Ia kembali menatap wajah pria yang pernah jadi kakak terbaik, sahabat ka Gilang dan pria yang membuat ia jatuh cinta karna perjodohan Oma.
__ADS_1
Entah apa arti dari kata maaf yang Clara ucapkan untuk Fandi. Yang pasti dia merasa iba melihat wajah frustasi dan kehilangan Fandi. Dia kembali mengusap wajah Fandi menggunakan jemarinya yang lentik. Tidak ada niat apa apa, dia hanya ingin melakukannya saja.
“Clara.”
Clara terkejut dan tersentak ketika Fandi menggenggam tangannya dan menahannya. Bukan hanya itu saja, Fandi juga mengecup tangannya beberapa kali.
Clara berusaha menarik tangannya dari genggaman Fandi. Semakin dia tarik, semakin Fandi menahan dan mengenggamnya erat.
“Clara, jangan pergi, sayang! Aku sangat merindukanmu,” racau Fandi terus mengecup tangan Clara.
“Fandi, sadarlah!" ucap Clara dengan suara yang cukup tinggi.
“Ayolah, Sayang! Bukankah malam ini malam pengantin kita?” racau Fandi terus mendekap tubuh Clara.
"Pengantin, Fandi ayo sadarlah! Katakan bagaimana kita ada disini?" teriak Clara.
Clara terus meronta meminta Fandi melepaskan dirinya. Semakin dia melawan, tangan kuat Fandi semakin menariknya dalam. Kini tubuhnya telah berada di bawah tubuh tegap dan kuat Fandi. Pria itu telah mengungkuk dan menguncinya.
Fandi mengunci tubuh Clara di antara apitan pahanya, sedangkan kaki Clara diapit menggunakan kakinya. Tangan Clara pun tidak luput dari kuncian Fandi. Tangan Cla, telah terkunci di atas kepalanya oleh satu tangan kuat Fandi, sedangkan satu tangan lagi menyentuh wajah Clara dengan lembut menggoda.
“Jangan menangis, Sayang! Ini malam pertama kita. Aku janji, aku akan melakukannya dengan sangat pelan agar tidak sakit.” Fandi semakin erat mendekap wajah Clara.
Tangisan dan permohonan Clara seolah menjadi nyanyian merdu bagi Fandi untuk memulai syahdu mereka. Semakin Clara menangis dan memohon, semakin gairah Fandi memuncak. Dalam kepala mabuknya membuat Clara merasa sakit dan kecewa yang Fandi torehkan sangat melukai hatinya.
"Hentikan, kenapa harus dengan seperti ini! Kamu tidak boleh melakukan semaunya. Lepas Aaach!" isak tersedu saat ini bagi Clara. Air matanya kembali menetes saat benda milik Fandi telah tertancap dengan keras karna paksaan.
Fandi semakin buas. Di bawah pengaruh minuman setan, gerakan tubuhnya semakin lincah dan gesit. Dengan serangan buas, Fandi mencengkram pada rahang Clara. Fandi berhasil mencicipi bibir manis Clara meski harus mendapatkan penolakan yang gigih.
“Ehm, nikmat sekali, Sayang,” desah Fandi saat tautannya terlepas karena Clara terus memberontak. Batin Clara telah hilang separuh untuk mantan suaminya, rasa sakit kemarin sangat membuat ia tidak bisa melupakan. Lalu kembali dengan seperti ini, adalah hal yang membuat luka kembali basah bagi Clara.
Dalam tangisnya, Clara sangat menyesal karena telah membantu Fandi membenarkan posisi tidurnya. Seharusnya dia biarkan saja Fandi tidur semaunya. Niat baiknya ternyata berujung dengan nestapa.
Dia kembali meronta menggerakkan kepala menghindari serangan bibir Fandi yang ingin kembali melahapnya. Aroma alkohol tercium tajam menusuk hidungnya.
“Jangan menghindar, Sayang! Apa kamu tidak mencintaiku?” racau Fandi sembari terus mengejar bibir Clara.
__ADS_1
Clara terus menghindari serangan Fandi, matanya terpejam erat. Ia memberontak, tetapi Fandi justru menekannya. Meski tangan dan seluruh tubuhnya terasa sakit dan mulai melemah, Clara tetap mencoba memberontak. Napasnya kini semakin tersenggal bercampur dengan isak tangis. Detak jantungnya pun sudah tidak karuan lagi.
“Aku mohon hentikan, Fandi!” pekik Clara. Sebisanya dia terus berteriak berharap Fandi mendengarnya dan sadar bahwa dia melakukan kesalahan fatal, tubuhnya remuk kala semua tangan dan kaki terkunci. Fandi melakukan itu sangat keras dan membuat dirinya tersenggal perih.
Sekuat apapun Clara menghindar dan memberontak, tenaganya masih kalah kuat. Sekali lagi Fandi berhasil menangkap bibirnya dan kembali melahapnya dengan buas. Tidak hanya sampai di situ saja, merasa tidak ada sambutan dari bibir yang telah sepenuhnya dikuasai, Fandi memperdalam permainannya. Dalam keadaan terpaksa dan terpojok, respon tubuh Clara berbanding terbalik dengan isi kepalanya.
Saking menikmati manisnya bibir Clara, Fandi terlena. Kuncian tangannya terlepas. Kini dengan kedua tangannya, Fandi mendekap wajah Clara dan menahannya agar wajah itu tidak bergerak menghindarinya.
“Emmm.” Satu lekuhan berhasil lolos dari bibir Fandi saat ada sela di antara bibir mereka.
Merasa tangannya telah terbebas, Clara berusaha mendorong tubuh Fandi dengan sisa tenaganya. Dia juga memukuli punggung Fandi agar melepaskan tauatan bibirnya. Fandi semakin garang mendapat perlawanan Clara.
Puas ******* habis bibir Clara, Fandi mengangkat wajahnya dan menatap penuh gairah wajah Clara. Tatapannya sangat mengerikan hingga membuat rambut rambut halus Clara merinding ketakutan. Tatapan Fandi masih penuh dengan gairah yang membara, meski ada kekecewaan dan luka yang terselip dalam manik matanya.
“Kenapa kamu lakukan semua ini Mas?" tangis Clara memukul punggung.
Fandi kembali melepaskan tautannya dan kembali menatap tajam. Melihat tangis Clara sikap Fandi melembut. Dengan satu tangan Fandi mengusap dan membelai wajah basah Clara, terakhir jemarinya berlabuh pada bibir Clara yang basah karena ulahnya. Fandi mengusap lembut bibir itu. Selanjutnya belaian tangan itu menuruni ceruk leher Clara, terus merambah ke bawah membuka satu per satu kancing kemeja yang Clara kenakan.
Clara menahan tangan Fandi yang mulai nakal.
“Aku mohon jangan lakukan itu lagi, Fandi!”
Mata merah Fandi, Clara takut semua ini masih pengaruh alkohol. Namun dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menampar, tapi rasa itu tak bisa dipungkiri masih ada cinta meski sejengkal saja. Sehingga menampar Fandi saja tak mampu.
"Lepaskan aku mas Fandi!" tapi Clara telah melihat sempurna tubuh polos Fandi dalam hitungan detik. Kemejanya dan kancingnya terlepas saat ditarik. Dan hal itu membuat Clara memohon untuk tidak melakukannya lagi.
Tok! Took!
To Be Continue!!
Warning!! Mohon bersabar ini ujian di siang bolong.
JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA BARU.
~ STORY HALWA DAN ZALWA ~
__ADS_1
MAAF BARU BISA UP LAGI, 😉 HAPPY READING ALL.