
"Ryan, kita bukan lagi sepasang insan remaja. Do you love me. Do you miss me? Tapi kamu baru katakan dia adalah milikmu. Hah?" ungkap Clara dengan wajah merah.
"Because your love is half, Clara." ungkap Ryan dengan mata ketulusan.
Ryan tau, dan mengatakan jika isi hati Clara memang untuk Fandi. Meski kebencian itu terlalu berat, tapi jauh dia hanya sayang padanya seperti sahabat. Tidak ada lagi ruang cinta yang utuh dari lubuk hati Clara untuk seseorang.
"Haah, aku bagai orang bodoh. Semua selalu anggap aku wanita manja. Gadis manja yang hanya menopang dengan kekayaan keluarga. Lalu kalian masih sama saja anggap aku, wanita yang tidak bisa menopang sendiri. Sungguh lucu." cibir Clara.
"Cla! Maaf aku katakan seperti ini, karna aku memang sangat mencintaimu. Tapi cinta tidak perlu untuk memiliki. Setidaknya kamu pernah menjadi status bagiku, dan malam itu adalah pertama untuk terakhir. Kamu bisa kembali dengan pria yang kamu cintai!
At least I'll be your backup! Kapanpun, aku siap jadi sandaran kesedihanmu. Aku tidak pernah menyentuhmu, meski malam itu ingin. Tapi aku cukup melihatmu bahagia.
"Maaf atas perkataan ibuku yang menyakiti, dan Anjani adalah mantan istriku. Dia tidak jauh beda dengan Fandi, tapi setidaknya ia ingin memperbaikinya. Dan saat bertemu kamu, aku jatuh cinta. Tapi aku tidak tau, is this love or just admiration."
Hooh! Clara tersenyum sempit, bagi Ryan untuk mengatakan dirinya mencintainya atau sebatas kagum saja, dia tidak tau. Lalu aku harus balas apa?
"Ryan. Apa semua pria akan mudah melukai hati perempuan?"
"No, bukan begitu. Tidak seperti itu. Aku yakin tidak semua. Maafkan aku Clara!" bersimpuh Ryan.
"Haah, kenapa takdir mempermainkan aku. Aku butuh sendiri. Go!"
Tak lama Ryan mendekat kearah Clara yang membelakanginya, duduk di meja dan memberikan surat lembar hijau. Haah! Clara hanya berdesis kesal tak percaya.
"Jika sudah siap! tanda tangani, semua ini aku minta maaf Clara!"
Ryan pun pergi dan berlalu. Hingga dimana, ia berusaha untuk menutup rapat pintu. Sementara dua pria di taman rumahnya masih terlihat Fandi dan pria yang tak ia kenal.
Ryan pun melangkah bersejajar kala Fandi berdiri dengan tampang datar. Sehingga Ryan berdengus nafas tak beraturan dan berkata dengan tangan yang menyelingkup ke saku celana.
__ADS_1
"Kalian pulanglah! Aku sudah menalak Clara. Hanya butuh tanda tangannya. Pengacaraku akan membereskan. Tidak mudah bagi Clara untuk kembali dengan pria yang menyakitinya."
Fandi hanya tersenyum sempit, dengan sadar ia berusaha untuk pergi meski masih menatap arah jendela kamar Clara. Ia pun meminta seseorang untuk mengirimkan sesuatu pada Clara setiap hari. Sehingga Franstino segera tak ingin kalah melihat pria di sampingnya itu.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Clara berhenti dengan sebuah mobil, di pemakamamn Chemistery! Oma Seiyen di makamkan tak jauh dari pelataran keluarga ka Arumi. Ia pun telah menyiapkan segala hal untuk pergi dari ibu kota. Setelah perceraianmya dengan Ryan selesai. Meski lelah dan banyak waktu, Clara sudah cukup lelah dengan kehidupannya saat ini.
Meski kala itu, Clara menghubungi ka Arumi dan Ka Gilang. Ia meminta makam Oma untuk di pindahkan, tetap saja sangat rumit bagi Arumi dan keluarga yang tinggal bersama di penang.
"Oma. Maafkan Clara! Aku sudah jadi gadis pembangkang, manja dan selalu tidak nurut untuk zss furniture yang telah Oma Rintis puluhan tahun. Belum lagi, Clara melewati banyak hal. Saat ini, Clara akan pergi. Apa Oma tidak marah, jika Oma ikut ke penang juga. Dekat dengan kedua orangtua Clara yang telah tiada dari kecil. Oma disini pasti kesepian." mengusap batu nisan.
Tanpa lelah, Clara tak melihat jika seseorang sedang menatapnya dari bilik pohon besar. Seperti menjaga Clara dari jauh, tanpa Clara sadar.
Clara menyiramkan bunga mawar dan bunga rose putih. Mawar putih dan lily kesukaan Oma sewaktu ada. Clara merasa rindu, rindu menjadi dirinya dahulu. Andai waktu dapat di putar, ingin sekali ia kembali bersama dan sudah pasti tidak akan membangkang. Clara yang telah berjam jam, ia segera berangkat dan pergi kesuatu cafe tak jauh karna sangat lapar.
Setelah memarkir, ia membasuh tangannya. Lalu duduk melihat menu makanan di buku menu. Tak lama, beberapa orang band cafe segera duduk tak jauh dari depan Clara. Seolah menemani para tamu makan. Melihat aksi meja makan yang penuh, Clara sedikit terdiam karna semua tamu sepasang insan hanya dirinya saja.
"Maaf Nona! Bangku kami penuh. Apa nona berkenan, bergabung dengan tamu kami. Hanya satu orang?"
Heuupmph! Clara menelan saliva, hanya makan bersama dengan mejanya yang memang ia duduk untuk satu keluarga. Clara pun tak mempermasalahkan.
"Satu orang ya? Baiklah tidak masalah. Saya akan segera beres juga." senyum terpaksa.
"Terimakasih Nona."
Hingga dimana, Clara menatap sebuah lagu, yang dinyanyikan band wanita dengan satu acara vocal yang cukup merdu.
reff : Andaikan waktu, bisa ku putar kembali.
__ADS_1
Kuingin, dirimu tetap ada disini.
"Melewati kisah, cinta yang kita jalani! Ku tak mampu jika dirimu pergi." lirih Fandi ikut bernyanyi dan duduk tepat di meja Clara yang cukup mengejutkan baginya.
Clara terdiam, ia lalu melambai tangan pada pelayan. Jika siapa tamu yang akan duduk, tapi perdebatan itu tak berhasil. Karna Clara dari awal tidak mempermasalahkan. Sehingga pelayan kembali ketempatnya.
"Ka. Untuk apa membuntuti aku?" kesal Clara.
"Tidak ada, hanya saja kebetulan bukan. Lagi pula bersinggah dan ingin makan. Jadi untuk apa mencari sesuatu tempat yang tak bisa duduk. Kebetulan sekali kita bertemu?" senyum alibi Fandi.
Clara menyudahi makan, ia minum lalu meminta pelayan untuk memberikan tagihan. Tapi nahas, pelayan bicara jika semua tagihan telah di bayar oleh pria di hadapan Clara.
"Mohon maaf Nona! Semua tagihan sudah dibayar oleh bapak ini. Permisi!" ucap pelayan.
Clara menggigit jari, hingga dimana ia mengangkat telepon dari bu Ratna.
"Hallo bu. Ya bu, Clara sedang di perjalanan dari makam Oma. Ada apa ya?"
"Kamu ini, kamu itu wanita enggak berterimakasih ya! munafik sekali, bicara kemakam. Tapi proses cerai saja masih berlangsung. Sudah jalan dan makan bersama dengan mantan suami kamu kan. Kamu lupa, barang barang kamu menyempitkan seisi rumah ibu. Paham gak sih kamu ini?" ungkap melalui telepon.
Clara hanya menatap ka Fandi, lalu berusaha keluar dengan tasnya untuk mengalihkan tatapan Fandi. Lalu berbicara selama beberapa menit.
"Dasar wanita murahan! kamu anggap pernikahan kamu dengan Ryan apa. Bisa bisanya kamu meminta cerai. Menggunakan Ryan anak ibu agar kamu bisa kembali ya?" ketus marah emosi bu Ratna di sambungan telepon.
Clara hanya terdiam melayangkan ponselnya. Masih tergantung di tangan dalam mode tersambung. Seolah ia lelah dengan fitnah dan tuduhan lain.
"Mas, kita sudah resmi berpisah hari ini. Kamu yang membuat semua ini. Kenapa aku masih juga di salahkan oleh ibumu. Apa salah aku mas Ryan." batin Clara.
Lalu seseorang menepuk bahu Clara. Agar ia bisa bersandar dan menangis sekencangnya jika ia mau.
__ADS_1
"Stop menangis Cla!"
To Be Continue!!