
Sebelumnya...
"Seandainya ada seorang pria yang akan memintamu untuk menjadi istrinya, apakah kamu bersedia?" tanya Pras serius.
Seerrrr!
Darah Jenny seakan mengalir sangat kencang ke seluruh tubuh. Wajahnya memerah dan lidahnya keluh.
Wajah polosnya hanya bisa diam sambil memandangi wajah Pras.
"Jen, kamu dengarkan pertanyaan saya?" tanya Pras sekali lagi.
Jenny mengangguk.
"Lalu?" lanjut Pras.
"Juka Allah sudah menentukan takdir saya seperti itu, maka saya tidak akan bisa menolaknya, Mas. Mau saya sembunyi ke dalam goa juga tetap nggak bisa. Karena saya yakin Allah punya rencana yang indah untuk saya," paparnya.
"Dan jika jodoh itu adalah saya, apakah kamu masih akan menerimanya?" selidik Pras sambil terus memandangi wajah cantik Jenny.
Lagi - lagi Jenny dibuat terkesima oleh Pras. Tapi dia balik bertanya sebelum memberikan jawaban.
"Memangnya Mas mau menerima saya, wanita yang hamil di luar nikah. Bahkan siapa ayah dari anak yang dikandungnya pun tak tahu. Tidak memiliki siapapun, keluarga bahkan sahabat sekalipun saya sudah punya. Apa Mas nggak malu?" tandas Jenny.
__ADS_1
Pras terdiam sejenak, lalu ia menyunggingkan senyumnya. Sambil menggenggam tangan Jenny Pras berkata, "Saya akan menerima kamu apa adanya. Saya ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kamu."
"Apa kamu yakin, Mas? Nggak takut menyesal?"
"Sangat yakin, bahkan saya yang akan menyesal jika saya tidak bisa menjadikan kamu bagian dari hidup saya," rayu Pras. Membuat Jenny tersipu malu.
"Sebaiknya Mas pikirkan kembali niat Mas itu, saya nggak mau Mas melakukan ini hanya karena rasa kasihan," saran Jenny.
"Saya tidak akan berpikir lagi karena saya sudah meyakinkan hati saya, bahwa kamulah sebenarnya wanita yang saya butuhkan untuk mendampingi saya melalui hari-hari saya," tutur Pras dengan penuh kasih.
Jenny tidak dapat berkata-kata lagi, bahkan kelopak matanya sudah digenangi air yang siap meluap tanpa henti.
suasana hening, hanya debaran detak jantung yang sesekali terdengar samar. Keduanya saling pandang, seperti sedang mengungkapkan sebuah isyarat.
"Jen, hari ini, sekali lagi saya ingin menyatakan perasaan saya kepada kamu. Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidup ku selamanya?" ucap Pras sambil menatap manik mata Jenny yang bening.
Jenny tidak dapat bersuara, bahkan air matanya yang menggenang sudah melimpah ruah mengaliri kedua pipinya. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan seulas senyum bahagia.
"Jen, beneran? Kamu..," ucap Pras terpotong.
Ia melongo, matanya masih menatap wajah cantik Jenny.
Sekali lagi Jenny mengangguk sambil berkata, "Iya, Mas. Aku bersedia."
__ADS_1
Sontak membuat Pras berteriak kegirangan, "Iyessss!! Alhamdulillah, terima kasih Jen."
Jenny akhirnya tertawa melihat tingkah Pras yang kegirangan.
Kemudian Pras menegaskan kembali, "Mulai sekarang, tidak ada lagi kata 'saya'. Yang ada 'Aku dan kamu'."
Jenny mengangguk sembari tersenyum.
"Kalau begitu, kamu harus siap-siap. Nanti setelah aku kembali dari kantor, aku akan menjemputmu," ajak Pras.
"Memangnya kita mau kemana, Mas?" tanya Jenny.
"Sudah jangan banyak tanya, aku akan kembali ke kantor. Nanti aku akan kasih kabar ke kamu jika aku sudah selesai," terang Pras sambil beranjak dari tempat duduknya.
Jenny mengekor dari belakang Pras. Mengantarnya sampai ke pintu.
"Aku pergi dulu ya, hati-hati di rumah. Dan ingat jangan terlalu capek," pesan Pras lalu naik ke dalam mobilnya.
"Baik, tuan..," seloroh Jenny.
Bersambung...
ikuti terus kisah Pras dan Jenny ya..
__ADS_1