Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Bangunan Tua


__ADS_3

Ala style rambut pria yang basah. Membuat Clara menatap sisi lain. Tapi sayangnya hanya mereka berdua di halte itu dan saling menatap.


"Kenapa. Kok diam?" tanya Fandi.


"Pak. Saya itu, anu. Saya terima- kasih atas ini. Sudah di ambilkan!" menggoyang ponsel senyum sok polos.


Fandi senyum memicik miring. Ia mengambil sapu tangan untuk mengeringkan kening dan rambut yang basah. Dari saku celana belakangnya.


"Tidak usah. Pakai saja jaket itu. Sudah semalam ini, jam bus tidak ada. Ayo aku antar!"


"Ta-tapi pak.. !"


Clara menggekor masuk kedalam mobil. Masih menatap ragu dan tak percaya. Kesedihan yang membuat ia tak bisa tersenyum adalah kehilangan sosok Fandi. Tapi ketika ia tau sang suami masih hidup, meski tak mengingatnya. Itu sudah cukup, ia berharap Fandi tak pernah tau akan Ka Gilang dan Arumi.


Jika mereka tau, pasti mereka akan memisahkan dan salah paham bukan? benak Clara.


"Aaakh. Aku lupa bensin sangat kritis. Rumah mu berapa kilo Clara?"


"Haaah .. Saya pak. Dua puluh mungkin." senyum terpaksa.


"Mmmmh .. begini saja. Tidak akan cukup, kalau gitu kerumah ku dulu mengganti mobil bagaimana?"


"Apa. Haaah .. tapi pak."


"Itu rumah Venzo dulu. Dia baru saja terbang ke Amerika. Tempat itu kami selalu singgah dan curah setiap malam, lagi pula hanya menukar bukan?"


Clara mengangguk. Hanya berjarak delapan kilo. Sudah sampai di rumah bangunan tua model perancis. Clara masuk gerbang yang di hiasi kebun dan tanaman tinggi. Meski sederhana tapi terawat, tapi jika ia tinggal sedikit seram untuk ia menginap.


Aaakh .. sial. Kenapa jadi fantasi menginap sih?! pikir Clara.


"Panggil nama aja kalau bukan di kantor. Tunggu di sini dan ini handuk. Keringkan baju rambut kamu!"


Fandi mandi air hangat. Setelah kilat ia cepat mengganti kaos putih dan celana joger tebal. Hingga ia menatap jendela hujan semakin deras saja. Lalu menatap ponsel panggilan dari Elvira yang memampang jelas di layar ponselnya.


Aku sibuk. Kita bertemu besok Ra!! pesan Fandi.


Clara yang duduk di sofa. Sedikit bersin bersin, lalu menatap dinding piala bertuliskan nama lengkap Vanzo Barathon. Nama bos yang elegan, tapi sayangnya terlalu tua dan tak mirip pria gagah ketika bicara. Seperti pria yang takut istri di film series yang ia lihat di acara Tv.


"Senyum - senyum sendiri. Kenapa liat piala membuat kamu lucu?"


Suara tandas nan jelas itu. Adalah suara Fandi pria yang telah ada di belakang tubuhnya. Clara menoleh namun Fandi mengambil sebuah buku di rak atas piala. Sementara bungkukan Clara yang menoleh terkesiap akan jiplakan tutup botol milik Fandi yang dibatasi kaos putih itu.


Mmmmmmh .. Euuuuuh .. Kenapa pas banget mata sama tutup botol sih?! senyum meringis Clara. Lalu menjauh mundur hingga menubruk kaca hias.

__ADS_1


"Eiiits. Hati - hati, nanti kacanya retak lagi!" goda Fandi.


Lalu mengambil cangkir dan menuangkan teh hangat yang telah ia masak. Ia meminta Clara minum agar dirinya tidak terkena Flu.


"Pak. Saya harus pulang."


"Dengan deras ini. Besok saja, lihat kamar tamu. Ada baju yang pas untuk postur tubuhmu. Meski kepanjangan, bisa di gulungkan. Bisa cuci kering bajumu di belakang. Kan bisa di pakai untuk besok!" senyum menyilang duduk.


Clara memutar malas. Ia telah bodoh karna masuk perangkap ide pria, yang sengaja membuatnya menginap di tempat pria.


"Pak. Saya harus pulang, ada payung kan. Saya pesan taxsi saja!"


Tluuuth ... Tluuuth .. Dering ponsel Lowbatt. Clara pun merutug kebodohonnya.


Fandi melangkah, berbisik pada telinga Clara yang membelakanginya. Hingga Clara menoleh dan wajah mereka saling beradu dekat dan menempel hidung indah mereka.


****


Uuuups .. Mas, andai kamu ingat aku. Hal apa yang akan kita lakukan saat ini, ini tidak benar!!


Wanita ini, rasanya janggal jika aku menumpahkan masalah itu, aku yakin wanita polos manja seperti Clara. Bukan dia yang membuat masalah itu !! Siiiet .. sakit, kenapa juga harus memaksa memikirkan sih?!


"Pak .. anda tidak apa - apa?" tanya Clara.


"Obat bapak dimana?"


Clara mencari botol obat saat Fandi menunjukan lemari khusus di kamar. Fandi berada di sofa hanya berbaring memijit kening. Sementara Clara masih menatap obat tiga botol itu. Ia mencoba membaca dan mengingat jenis pil yang Fandi konsumsi.


Aaaaakh .. ayo minum sekarang! Clara memberikan gelas. Lalu Fandi memegang tanga Clara yang ingin meletakkan gelas.


"Apa semua benar. Kamu benalu dalam hidupku dan Elvira?" tanya Fandi.


Pertanyaan itu membuat hati Clara sakit tak berujung. Mata mengembang seolah dia yang menjadi penyebab kehancuran dalam kehidupan yang ia cintai. Ingin ia berteriak jika ia adalah korbannya.


"A-apa bu Vira mengatakan itu? Lalu apa bapak percaya?" tanya Clara gagap.


"Entahlah. Aku ragu, tapiii ... saya akan mencoba mengingatnya. Bantu aku bisa!"


"Apaaa .. bantu bapak. Maksud bapak?"


"Tetaplah menurut dan asing jika berada di kantor. Abaikan perkataan Vira .. saya perlu kebenaran. Bisa bersabar dan sedikit sakit?" tanya Fandi.


Kenapa ketika kita kembali bertemu. Menjadi kaku seperti ini Mas. Andai waktu di putar, aku rindu perdebatan kita. Keharmonisan dan kepedulian kakak yang telah menjadi bagian hidupku. Mengapa kaka meminta untuk aku sedikit sakit ... rasanya sakit sekali ketika kamu dekat dengan Elvira mas?!

__ADS_1


"Kok diam. Cla, gimana?"


"Haaah .. ia akan saya coba." senyum balas Clara.


.


.


.


Fandi mencium aroma masakan khas yang ia sukai. Ia menyibak selimut dan menatap dirinya masih berada dalam sofa ruang tamu. Entah baru sadar, setelah meminum obat ia tak mengingat apa lagi semalam. Pagi yang telah membusungkan terik masuk kedalam celah jendela. Membuat ia menghampiri Aroma makanan.


"Rupanya berasal dari sini .. ?"


"Ya mas. Upppps .. maksud saya Pak." ucap Clara kaku.


"Tak apa. Selain di kantor kamu bebas, boleh aku cicipi?"


Clara mengangguk. Lalu meletakkan sayur tumis dan kentang goreng yang ia buat setengah jam lalu. Memberikan pada Fandi yang masih menatapnya.


"Silahkan di cicipi selagi hangat!"


"Baiklah. Ayo ambil satu lagi, kita sarapan bersama!" titah Fandi. Clara pun menuruti setelah menaruh celemek dan bercuci tangan.


Beberapa saat ketika mereka selesai sarapan. Clara yang ingin mencuci piring, Fandi pun mengekor karna ia juga telah selesai. Entah mengapa bel bunyi berkali kali, membuat ia tak sadar menginjak sandal Clara dari belakang.


"Oooowwwooh ... " teriak Clara.


Fandi menjatuhkan piringya, lalu menangkap tubuh Clara agar tidak jatuh karna ulahnya. Dengan sigap, Clara yang menutup mata seolah terkejut karna piring pecah. Dan tubuhnya mengambang setengah bungkuk kebawah. Tapi ditahan oleh pria di belakang tubuhnya.


Elvira yang masuk begitu saja. Menatap geram pemandangan Fandi yang memeluk erat Clara dari belakang seolah menampilkan gaya Doggy.


"Whaat .. Say, apa yang kalian lakukan ... ???" teriaknya jelas dan tegas. Mata itu melotot ke arah wajah Clara dengan nafas tersenggal.


FANDI MELEPAS ERATAN ITU. SEHINGGA CLARA TERDIAM DAN HAMPIR JATUH MEMBERNARKAN POSISI IA BERDIRI.


.


.


Clara .. kamu beraninya masuk kerumah ini. Sepertinya aku harus benar - benar menyingkirkan kamu. Atau kamu lupa, jika aku bisa membuat dirimu lebih sengsara!! batin Elvira menggeram kepal tangan kesal.


--- bersambung ---

__ADS_1


Ada yang tau, Elvira bakal lakuin apa ya*?!


__ADS_2