Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Goyah Iman.


__ADS_3

"Fana, Vani dan Eros. Heiiy .. kalian akhirnya datang juga?" bubuh Clara.


"Njir, taunya beneran pangling gue liat lo Cla. Sumpah tapi beneran lo jadi ma si Mas Kc?" umpat Fani.


"Berisik lo, gue harap lo ga bikin rusuh deh."


"Mas KC, itu apa Clara?" tanya Gilang yang tiba saja berada di belakang Clara.


"Owh, itu mmmmh.. Mas Kece. ya kan Fana, Fani?" Tapi Eros yang ingin berkata selebor kalau KC itu singkatan Kacung langsung di bekap oleh Fana.


Sssst! diam lo cowok gemoy. Ini banyak orang, jangan malu maluin. Inget kedatangan kita untuk apa kesini selain makan gratis! ancam Fana.


"Iyee, sial dua wanita durjana calon durhaka. bisa nya ngancem mulu." lirih Eros.


 


Saya terima nikahnya Clara Seiyclar binti Syahzanet dengan seperangkat alat shalat dan perhiasan dua puluh lima gram emas dua puluh empat karat di bayar tunai.


Acara ijab kabul itu bernuansa tenang, Clara dan Fandi sangat bersyukur karna acara begitu lancar tanpa hambatan. Terlebih insiden kemarin malam begitu saja sebelum pernikahan terjadi. Sudah banyak Kerabat, Klien, dan tetangga mengucapkan rasa selamat di hari pernikahan.


Clara yang meneteskan air mata mengalir begitu saja. Ia memeluk Ka Arumi dan Ka Gilang. Terlebih Fandi yang terasa begitu takjub akan pernikahan tanpa sosok bunda yang hadir. ia di wakili oleh paman jauh bernama Abas Assadel yang kini hadir. Selain datang mengucapkan selamat dan mendampingi, ia juga memberikan informasi setelah kerumunan ijab kabul telah selesai.


"Cla. akhirnya ya. lo jadi nikah juga, gue heran si Frans gimana nasibnya kalau tau, elo nikah ama Si Mas KC?"


"Gue .. eeekh udahlah ya Fan. Jangan bahas itu, mending kalian pada makan gih!" potong Clara.


"Iya nih, sayang dianggurin makanan mehong yee kan?" tambah Eros. Tapi Fani meloyor karna ia juga kesal pada Eros yang sibuk makanan terus. Tanpa sadar Fani menyelinap ke sebuah ruangan dan mencari sesuatu.


Fandi yang menyapa Tamu. Ia berbicara pada paman Abas. Ia memintanya untuk mengurus Aris. Tapi sang paman berkata untuk mencari keberadaan sang Ayah agar segalanya selesai.


"Jika Fandi harus bertemu Ayah. Lebih baik Fandi kehilangan segalanya. Biarlah urusan Aris akan Fandi tangani sendiri." bubuhnya.


Sang paman hanya menggeleng kepala akan keras kepala keponakannya itu.


"Selamat untuk pernikahan kalian ya. Semoga bahagia selalu!" tutur Paman.


Clara dan Fandi masih menerima tamu hingga pukul delapan malam. Acara pun berakhir selesai, terlebih Arumi lelah membawa Danzel dan Gilang untuk beristirahat. Sementara Clara yang tak menemukan Fandi ia menatap arah jendela.


Clara menatap seorang pria paruh baya berdiri. Namun saat ia ingin menghampiri pria itu masuk kedalam mobil dengan beberapa orang. Lalu pergi begitu saja.


"Clara. Masuk anginnya ga bagus! Kenapa kamu di luar?"


"Ka Gilang. Uuuh ngagetin aja deh, tadi aku liat, eeeeek ko ga ada. Mmmh bukan apa apa. Kalau gitu Clara masuk dulu Ya!"


Gilang menutup rapat pintu, setelah menatap Clara naik ke arah tangga. Ia terkejut akan kamarnya yang terkunci dan digembok. Clara turun dan bertanya pada Gilang.


"Ka, kok kamar aku. Kenapa di pagar gembok gitu?"


"Kamu amnesia ya. Kamu mulai malam ini pindahlah ke kamar Fandi. Kaka ga mau denger banyak alasan. Kalian ga ada yang namanya pernikahan bohongan!"


Clara mau tidak mau dibuat kesal, ia mengetuk pintu kamar Fandi. Namun tak mendapati ia malah masuk dan menatap seisi ruangan yang dominan berwarna Doop. Tak lama menutup pintu dan terlihat Fandi selesai mandi hanya menggunakan handuk dan menampakan dada yang terlihat begitu saja.


"Aauuuw sial!! Ka Fandi. Cepat pakai bajunya. malu tau!" menutup mata.


"Kamu kenapa di kamar kaka. Bukankah kita sama sama sepakat untuk.."


Toook.. Took.


Clara membuka pintu, ia menatap Ka Arumi dan Gilang menghampiri. Mereka tersenyum lebar dan mengingatkan pada pengantin untuk saling berdamai satu kamar.


"Gil, maksud semua ini apa?" tanya Fandi.


"Gue cuma membantu memuluskan, Ga ada yang namanya pernikahan bohongan. Perjanjian itu ga ada bagi gue. Selama gue masih di sini. Gue ga mau liat kalian misah kamar, inget janji lo Fand!"


Clara menutup kembali pintu, ia mengambil kotak berisi pakaian tidur dan piyama dari Arumi. Ia menatap Fandi dan saling kaku tak berkutik.


Clara melangkah ke kiri, Fandi pun ke kiri. Fandi melangkah ke kanan, Clara pun ikut ke kanan.


"Ka, aku akan mandi. Bisa tolong bukain seleting punggung aku. Aku ga sampai!"


Fandi hanya menelan salivanya. Ia lalu dengan gemetar menyalahkan lampu tengah kamar agar tak terlihat remang. Lalu menatap sempurna punggung Clara yang mulus begitu sempurna. Perlahan membuka resleting bahan transparan itu hingga menyentuh kulit punggung Clara yang seputih susu dan halus seperti bayi.


"Kaka, akan mengambil sandwich. Kamu mandi dulu lah!" menelan saliva.

__ADS_1


Fandi segera bergegas. Ia keluar dan menuju arah dapur. Ia meneguk air putih sampai dua gelas. Rasa tak percaya dalam dirinya membuat ia bertanya.


"Ada apa, kenapa di saat berubah status menikah perasaan jadi berbeda gini. Padahal gue selalu anggap Clara adik seperti biasa, tapi setelah ijab kabul kenapa jadi kaku dan aneh." Fandi merasa bingung.


Siaaal gue teransang. Ga boleh dibiarin Clara udah gw anggep adik, semua ide Gilang bikin frustasi. Batin Fandi.


Fandi pun ke ruangan fitness. Ia berolahraga lari demi menahan hasrat yang tertunda hingga menjelang subuh. Sakin lelahnya ia duduk di tepi alat olahraga dan tidur di alas kursi panjang dengan alakadarnya.


Dan Di Pagi hari.


Clara yang telah bangun tak mendapati sosok Fandi. Ia pun segera mandi dan bergegas kebawah membuat sarapan. Terlihat Arumi yang telah menyiapkan sarapan dibantu bibi.


"Pengantin udah turun. Gimana semalam lancar?"


"Lancar apanya ka. Orang kita biasa aja, emang ada yang berbeda. Ka Fandi dimana ya?"


Gilang tak percaya ketika ia ingin olahraga menemukan Fandi diruangan itu. Ia membangunkan dan berbicara pada Fandi.


"Bentar, gue ga ngudeng. Masih dalam mimpi otak gue dibangunin, lo tau gue baru tidur setengah jam lalu."


"Kenapa lo kaya gitu?"


Fandi menelan sesuatu amat kering. Ia mengambil botol minum dan meneguknya. Dasar sahabat ga peka, lo pikir ini maunya gue. Saat semalam liat setengah tubuh Clara bikin gue on. Ga tau apa tersiksa batin gue, sampai kapan gue sekamar ama Clara. Bisa bisa kehormatan gue kerenggut.


"Wooy. Elo bengong aja kaya ayam tetelo lo!"


"Dasar teman gila. Udah lah gue lelah mau lanjut tidur dikamar!" Gilang merasa aneh akan tingkah Fandi.


Fandi naik keatas, ia ke kamar tak mendapati Clara. Sehingga ia masuk kedalam ranjang dan menutupi dirinya dibawah selimut. Tak berselang lama ia mengintip dan menatap Clara yang keluar dari kamar mandi mengenakan kemben putih yang mencolok. Dengan rambut digerai balut oleh handuk kecil.


"Aduuh. Kenapa sih, pake nyangkut segala ini." Clara membenarkan kaitan.


Clara membuka pakain tanpa tali itu, ia tak sadar jika seseorang sedang mengintip dibalik selimut hitam.


"Dasar anak manja. Enggak kakak enggak adeknya rusuh. Ini si Clara pagi pagi udah bikin gue on ga berdaya. Kalau terus menatap pemandangan kaya gini bisa goyah iman gue." lirih Fandi dibalik selimut yang menggerakan kedua kaki di sofa ranjang.


Ia mencoba menutup mata, tapi pandangannya menatap sempurna. Ada sesuatu yang mengeces dan berdiri di bawah sana. Ia tak tahan dan membuka selimutnya.


"Cla.. ganti baju di kamar mandi!!!" teriaknya.


"Cla, ini kamar siapa. Jangan selebor mengganti pakaian begitu aja."


"Ya ka. Maaf lagian cuma kaka, pasti ga akan tergoda kan. Kalau gitu sekalian deh tolongin aku, kaitan ke tangan aku ga sampai. Tali kaitan BH aku kesangkut, aku ga mau narik takut robek." menunjuk punggung.


Fandi lagi lagi hanya menelan Saliva. Wanita di hadapannya ini bener manja, dan ga peka selain ga dewasa. Apa dia bodoh main kasih punggung dengan dada terbuka menjiplak setengah. Membuat ia yang menolong Clara dengan tangan gemetar. Tak bisa dipungkiri sesuatu menyempit membuatnya gerah.


"Udah, kalau sudah kamu keluar. Ka Fandi mau berendam mandi! Cepat keluaar!!" teriaknya.


"Ya.Ya. Ya. Baiklah ka Fandi yang handsome dan aneh makasih ya. Owh ya aku ada kegiatan di kampus, menjelang kelulusan. Ka Fandi ga apa apakan aku tinggal?"


Fandi terdiam, ia menghela nafas dengan berat.


"Ya tunggulah satu jam. Ka Fandi akan mengantar kamu!"


Lama amat satu Jam. bubuh Clara.


Bruuuuugh. pintu kaamar mandi ditutup dengan rapat. Clara memanyunkan bibir dan berganti pakaian ala gaya anak muda. Jeans robek dengan menunjukan kaki indahnya. Dan paha yang terlihat serta ia memakai kemeja dan mengikatnya di atas perut. Sehingga dadanya meliuk dan terlihat sempurna kala itu karna kancing dibuka.


 


Beberapa jam kemudian. Di dalam mobil, mereka akan pergi dan kembali sampai di sebuah tujuan.


Clara sampai di depan kampus. Fandi meminta Clara diam untuk tidak turun. Lalu dengan terkejut Clara menepis tangan Fandi yang menyentuh kemeja kancingnya.


"Eeeekh.. kaka mau apa?"


"Diamlah. Kamu benar benar membuat kesabaran ka Fandi habis Cla!"


Fandi melepas ikatan yang menampilkan dada padat terlihat. Ia mengancingkan seluruh kemeja Clara hingga ke ujung kancing atas.


"Uuuh. Ka ini terlalu sesak, ka Fandi ga tau gaya model kekinian ya!"


"Bukan ke kinian, itu buat pria sesak melihatnya. Jangan seperti itu, jika kamu ubah. Kamu akan tau akibatnya kelak dirumah!"

__ADS_1


Heuuump! Clara memutar mata. Apa maksudnya, hukuman apa yang akan ka Fandi lakukan padaku. Terdiam bingung dalam batin.


Dengan polosnya Fandi menekan stir mobil sehingga membuat bunyi. Orang di sekitar yang lewat pun terkaget.


"Cla. Cepat turun, kamu buat ka Fandi lemas akan sikapmu setiap hari!"


"Eeikh- iya. Iya kak. Aneh deh, setelah berubah status kenapa ka Fandi Aneh sih. Marah marah terus." gerutu Clara.


Fandi menggelengkan kepala, ia baru sadar dan semakin sempit sesuatu dibalik bawah sana. Melihat tingkah kepolosan dan tak peka anak manja membuatnya semakin panas. Ia pun menatap Clara dari kejauhan yang telah bergabung dengan tiga kurcaci cacing kremi dan dua teman Clara yang bernama Fana dan Fani.


"Clara. Kenapa kamu berteman sama ketiga cacing kremi itu. Apa ga ada teman pria yang normal di kampus besar ini?" lirih Fandi menatap dalam mobil.


****


 


Kekkekek... gue ga yakin elo bakal tahan Cla. Dan gw denger si Frans bakal balik bulan depan. Lo tau gak, dia gue liat habis dapet mobil sport terbaru loh. Heeeeum genges kesel pasti Yeeey kalau tau doi balik lagi. bubuh Eros.


Hahaahaa.. Hiiiii... Huuuuu.


ketiga pria siluman teman baik Clara tertawa renyah dan riang kala itu.


"Udaah iikh, lo pade seneng amat ketawanya. Lo ga tau, dia kan udah jadi bini orang. Ayo ke kantin yuuks!" ucap Fana. Clara tak menanggapi ocehan temannya itu.


Beberapa Jam kemudian.


Clara yang akan mendapat gelar sarjana dan topi toga. Ia segera mengambil dokumen penting dari Dosen. Ia di minta untuk mengumpulkan skripsi yang tertunda dan memintanya di perbaiki. Clara pun berniat membujuk halus pada ka Fandi agar mau menolongnya.


"Gengs. Gw duluan ya. Mau beli sesuatu dan udah di jemput nih!"


"Oke. Bye Clara sampai jumpa lagi Ya!"


Clara masuk setelah Fandi menjemput. Ia meminta ke sebuah mall dan berniat membelikan sesuatu untuk Fandi.


Dua jam kemudian, Fandi tertegun ketika Clara memberikannya sebuah ikat pinggang terbaik dan ternama. Fandi melirik dan menatap Clara kala itu.


"Jelasin. Pasti kamu ada maunya Ya!"


"Enggak kok. Aku tau karna ka Fandi suka ikat pinggang. Jadi aku beliin deh. Owh ya kak, skripsi aku ada yang harus diperbaiki gimana ya kalau misal..."


STRIITH... REM MENDADAK.


"Eeekh ka Fandi pelan dong nyetirnya!"


"Kamu mau makan apa, bisa ga otak kamu jangan menyogok kaka kalau ada maunya!"


"Eeeiiyelah, ga gitu sih. Tapi sedikit heeehe. Ya sih Ka. Maaf Ya!"


Fandi berhenti di sebuah cepat saji, saat itu sebuah mobil dari belakang menabraknya dengan kencang. Membuat getaran mobil dan menyongsongkan mereka berdua maju. Fandi yang menunggu pesanan di Drive True langsung cekatan menatap Clara.


Sementara Clara yang tiba saja tubuhnya terdorong kedepan memegang tubuh Fandi. Dengan cekat Fandi menarik tubuh Clara. Sehingga wajahnya menatap Fandi, Clara berada di dada pria yang status suaminya.


Fandi pun menatap Clara dengan dekat. Tak menghiraukan ketukan dibalik kaca mobil. Seseorang berteriak untuk meminta membukanya.


Fandi menatap wajah Clara dan terpesona akan cengkraman tangan ketakutan Clara. Fandi menatap bibir tipis itu membuat wajahnya sangat dekat dan seperti sengatan listrik yang mengalir begitu saja membuat imannya goyah.


"Ka, di sana ada yang mengetuk." menunjuk sebelah kaca.


"Heuuump. seseorang siapa Cla?" lirih Fandi. berlaga bego masih menatap bibir Clara.


.


.


.


Readers : Nah kan, Mulai deh Goyah iman.


Fandi : Siapa sih yang bikin gw di situasi kaya gini ?


Clara : Pake Nanya salahin Author.


Author : Kabuuuur 😂😂

__ADS_1


 


Yuuuks. Jempolnya lanjut ga Nih !!


__ADS_2