Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
kelulusan


__ADS_3

Clara, Fana dan Fani serta tiga Kremi telah hadir. Mereka berada satu atap di gedung yang sama. Aula besar megah untuk menampung seluruh mahasiswa dan mahasiswi kala itu. Dengan setelan kebaya salem dan abu abu kebesaranya. Clara di balut baju kebesaran dengan topi toga. Arumi dan Gilang terlihat hadir sebelum pergi ke penang.


"Ada apa dengan adik kaka yang satu ini. Kamu cari siapa Cla?" tanya Gilang.


"Eheeeum. Honey, ssssttt!" ucap Arumi. Berusaha agar sang suami tak menggoda sang adik.


"Kaka jangan goda deh. Beneran ka Fandi bakal datang kan. Ga lagi urus meeting yang kaka suruh lagi kan?" tanya Clara meyakinkan.


"Mmm .. ada apa. Kamu rindu ya Cla. Habis dari ini mau langsung honeymoon kemana?"


"Apaan sih. Ka Gilang gajelas deh, udah Cla ga jadi minta bantuan lagi!"


"Kok ngambek sih adik kaka nih." senyum Gilang merangkul sang istri.


Sudah hampir satu jam Acara di mulai. Clara menatap ponsel dan menghubungi Fandi. Tapi belum ada jawaban hingga membuatnya cemas. Padahal pesan singkat sudah berlalu namun tak bisa menghubungi kembali.


"Yeeeuh. Gw bilang apa Cla. Laki lo tuh pasti nemuin si pirang, Elo sih main putusin si franstino gitu aja. Nyeseel kan lo?" tanya Fana.


"Gw ga yakin. Lagian laki gw ga kaya gitu deh."


Fana hanya memicik sebal. Ia tak percaya dan masih menggoda Clara kala itu agar terbakar cemburu. Lalu tak lama nama Clara di panggil ke atas panggung. Tak berselang lama di ikuti oleh Fana dan Fani.


"Seinclar Veronika. Silahkan memberi pesan motivasi. Dan satu lagi selamat atas kelulusanmu!"


"Terimakasih atas bimbingannya pak." balas Clara.


Setelah semua teman Clara ikut menerima. Salah satu dosen mengambil ahli mic dan memberikan penghargaan pada seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang telah lulus. Juga ia menyambut dengan berbicara salah satu dosen lama dan donatur terbaik setiap tahun di kampus.


"Kita sambut. Ir Ah Fandi Assadel. Dia adalah salah satu mahasiswa terbaik dan berprestasi yang mengharumkan kampus kita, sekaligus keluarga ternama salah satu donatur terbesar di kampus kita setelah lima tahun kampus ini di dirikan. Saya persilahkan untuk menyambut dan memeriahkan acara!" ucap pak Ir broto sosoto.


"Hah. Serius tuh, gw ga salah dengerkan pak soto bin sotoy manggil nama itu. Itu beneran nama suami Clara?" bisik Kean.


"Diem lo. Gw juga syok nih, ternyata orang yang kita bully adalah eeeng.. iiiing... eeeungg ..." Misel memutar kepala dan meliuk mata sehingga Rein memukulnya.

__ADS_1


"Diem napa. Pala lu ngehalangin gua!"


Dan perdebatan Tiga Kremi yang gajelas itu membuat mahasiswi lain menatap untuk diam.


"Sssst ... heeeh kalian berisik!" seseorang menunjuk jari. Kremi pun terdiam menunduk.


Para orangtua melirik ketika seorang pria berpakaian batik dan berjalan dengan gaya cool, gagah dengan satu tangan membawa bucket di satu tangannya. Fana dan Fani hanya mengatur nafas berat, pasalnya ia tak percaya sosok suami Clara tanpa kacamata yang handsome itu, adalah seorang pria hebat yang membuat jantungnya hampir berhenti.


"Gw ga sangka. Si Mas KC orang berpengaruh di kampus kita Fana?" tanya Fani. Ia pun langsung mengangguk diam dan menutup mata seolah tak percaya dan iri ketika temannya beruntung.


Clara tak percaya, pilihan oma adalah pria terbaik. Sosoknya yang selalu ia anggap kakak dan selalu berdebat hal kecil membuatnya jatuh hati.


"Say. Apa lagi identitas yang kamu sembunyikan dariku. Aku harap ka Fandi terbuka setelah ini padaku?" benak Clara. Ada rasa tak percaya dan marah pada Fandi.


Franstino terlihat kesal. Ia menatap dengan wajah serius untuk membuat siasat.


Fandi pun menyambut seluruh dosen. Memberikan wejangan kepada semua yang hadir dan terakhir memberikan bucket selamat pada Clara. Mengecup kening Clara dan memperkenalkannya. Seluruh tamu menepuk tangan dan memberikan selamat, terutama seluruh dosen dan staff. Tak hayal bagi mahasiswi merasa kesal dan iri.


Hingga acara berakhir pun. Moment indah diabadikan oleh Arumi. Setelah selesai Clara pamit pada Fandi untuk ke toilet, sementara Gilang bersama Fandi membicarakan hal penting. Arumi tak jauh duduk di sofa menatap kamera hasil rekaman yang luar biasa.


"Gw mau ke penang. Selain perusahaan baru, Arumi masih selalu therapy. Gw titip adik gw jangan bikin dia nangis. Meski manja setengah matinya ngeselin, lo harus sabar Fand!" tutur Gilang.


"Ya bro. Meski dia manja, gw bakal jaga dia dan ga mau kehilangan dia. Thanks usaha lo, entah kapan gw jatuh hati sama dia. Gw pasti bakal jaga dan bahagiain Clara. lo tenang aja Gil!" Fandi menepuk pundak Gilang. Adu jotos tanda persahabatan eratnya.


 


"Eekh. Lo dan elo tau gak, Mas Harrypotter ga pake kacamata selera wajah gw banget. Asal lo tau ya. Dulu pas nyokap gw mo lahiran gw tag tuh biar muka dan gaya kekar body okenya kaya itu. Tapi ..." tutur Rein. Ia membuat wajah sedih.


"Nahas wajah lo mirip uwa di ragunan kan?"balas Kean.


"Gitu amat sih. Gini gini juga gw di cetak asli bukan pake adonan tepung.Heuuukh kesel deh eeeiy!" lirih Rein.


"Elo udah tag. Sayangya pas lo lahir ketiban adonan semen, kagak pakem. Salah tempat nyokap lo lahirin lo Rein." ketus Misel.

__ADS_1


Perdebatan enggak banget membuat mereka bertiga tak saling mengalah. Tiba saja seseorang menepuk jentik jari menyadarkan kewajah ke tiga pria jadi jadian itu.


"Kremi. Kalian liat Clara gak?" tanya Fandi.


Terlihat Fandi menatap ponsel. Ia menerima pesan dan terlihat penting dari raut wajahnya.


"Emang tadi Clara pergi kemana?" tanya Misel.


"Toilet."


"Lah. Ke toilet napa nyarinya ke kita, emang kita ****** apa?" bisik Rein. Terdengar oleh Fandi.


"Gw dah coba cari. Tapi kata orang disana ga ada, Gw kira Clara sama lo pade. Mending kalian cari bini gw. Klo ga ketemu berkas kalian gw tolak!"


Fandi pun meninggalkan dan menghubungi seseorang. Tak lama Kremi menatap sebal dan saling melirik pasrah.


"Eeiy. Mas KC yang naik level beneran. Teganya ngancem kita deh." lirih Kean.


Mereka pun langsung berpencar mencari keberadaan Clara. Namun seorang wanita berlari melangkah memeluk punggung Fandi yang sedang sibuk menerima tlf.


Fandi terkesiap dan diam memegang erat tangan itu, tapi ia tertegun ketika tangan mungil putih itu seperti bukan Clara.


"Lovely. Kamu disini, akhirnya aku menemukan mu lovely!" memegang erat peluk tubuh Fandi dari belakang.


---bersambung ---


Author Curcol :


-----


👉 👇


--- Mohon maaf baru Update. Akhir ini tor sibuk dan ga stabil. Tapi terus ikutin ya, berhubung catatan kamus lanjutan cerita dibawa terus. Otor akan berusaha ngetik di manapun kesibukan otor.

__ADS_1


Thanks Ya. Atas readers yang menyemangati karya receh ini.


Jejak kalian jadi semangat otor untuk semangat menulis.


__ADS_2