
"Lo yakin. Tempatnya di sini?"
"Iyee.. Lo kan tau Mis. Kita kesini buat apa, tentunya untuk memperbaiki hubungan kita sama Clara kan. Lo ga peka sih, klo bukan si pirang. Kita ga akan tertekan, mending lo inget jasa kebaikan keluarga Seiy. Cla juga udah baik. Kasian dia pasti butuh kita. Huuuuuu ..."
Misel menggeleng kepala pada Kean. Menatap teman ambeye'un yang melehoy itu, meski ia kalah dari tampang. Tapi ia tak ingin kalah, karna merasa tubuh atletisnya sangat perfect meski bukan di wajah.
"Ya. Ga usah perjelas, lo udah jelasin puluhan kali Kean!"
"Ya .. Ya .. Ya .. Mending kita banyak berdoa. Cepat bertemu Clara, sesuai alamat ini. Jika berhasil, semoga wajah kita berbalik tertukar Kean!" tambah Misel, saat Kean memicik bibir.
"What .. Wajah kamu dengan wajah aku Mis. Enggak .. enggak boleh itu sih." menggeleng dua jari tangan.
Bener nih, tapi kok serem amat ya. Masa ia kita jadi kost di sini? tanya Kean pada Misel. Ketika sampai di bangunan lantai lima.
Ga usah manja! Malu sama wajah yang lo banggain. Cepet beberes gue capek nih Ke!! teriak Misel.
****
Clara yang masih bingung akan sikap Pak Ardie. Ia menyisihkan di bawah kedai seven eleven. Membeli sebuah minuman dan duduk di bangku panjang. Ia menyadari setiap perkataan pria yang baru saja mengancam beberapa saat Lalu.
"Kenapa .. Kenapa harus dia yang menolongku dari lubang kesusahan. Tapi kenapa juga harus dia yang mengancamku, kenapa dia bilang keluarga Seiy. Aku pasti salah dengar .. aku ga mengenalnya, kenapa juga aku khawatirkan omongannya?!"
Clara pun bergegas pulang. Namun ia masih saja bingung, mengapa pria berjubah itu masih mengikuti. Clara pun dengan cepat berlari kecil namun kecepatan langkah demi langkah. Ia hanya mengandalkan keajaiban dengan langkah seribu. Yang ia perlukan adalah sampai di rumah, tapi ia berhenti di sisi pedagang kaki lima.
"Masih di sini!" lirihnya, membuat Clara menengok dan berlari. Namun masih ia berjalan cepat hingga semua selesai. Tapi pria itu masih saja menahanya, tak membiarkan ia pergi dengan tenang.
"Lepaskan tangan anda Pak!"
"Akan aku tambah. Satu mangkuk, tetaplah di sini. Bekerjasamalah Clara Seinclar!
__ADS_1
Clara yang berdiri menjatuhkan tasnya. Hingga perlahan ia luluh dan berkata padanya. Clara terkejut akan pria yang bernama Ardie. Hingga ia meninggalkan lokasi tak jadi memesan satu porsi kembang tahu untuknya berehat.
Perlahan pria itu membuka bungkus penutup wajah dan topinya. Lalu ia merobek perlahan kulit dari pelipis kiri hingga ke bawah pipi, perlahan merobek elastis kulit itu hingga hampir selesai terbuka. Tapi seseorang datang memghampiri, hingga Ardie merekatkan kembali.
Clara.. Tunggu!! teriakan wanita itu, membuat Ardie menutup kembali dan pergi begitu saja. Clara yang ingin berteriak pun lantas menoleh ke arah Elvira.
"Aku yakin kamu akan tertarik. Karna aku orang yang tidak menyukai tidak balas budi bukan!" ungkap Elvira.
"El vi ra .. Bukankah semua keluarga saya telah membayar, aku ga pernah ingin berurusan dan .."
"Aku tau, tapi aku mengatakan hal sesungguhnya. Aku tau, kamu ga percaya pada makam Fandi. Tapi perlu kamu ingat satu hal .."
"Apa maksud kamu?" tanya Clara.
"Fandi masih hidup. Hanya saja, aku mencarinya dan aku pastikan dia akan menendangmu Clara.. !" senyum Elvira menepuk tangan dan pergi.
Clara terdiam, matanya berubah merah dan mengembang. Ada rasa khawatir, tak percaya akan perkataan Elvira. Namun ia menumpahkan gelisah, menghapus dan berharap air matanya kering jika ia benar bertemu hatinya.
*****
"Cla. Siang ini, kamu harus segera bertemu pak Robert dengan Bos Venzo. Gak apa- apa kan?"
"Ya. Aku sudah terbiasa, lantai tujuh belas kan. Aku segera bersiap. Kamu tenang saja ya Sin!" ucap Clara pada Sinta.
Tak lama, Elvira menubruk dada Clara. Hal itu membuat berkas berjatuhan. Clara yang tidak ingin menambah suasana buruk. Sinta pun membantunya, ia meminta Clara bersabar dan elegan dalam menghadapi sikap sang manager.
"Cla. Sebenarnya bu Vira punya masalah apa sih. Kenapa kayaknya ga suka banget, akhir -akhir ini dia kok sentimen banget. Melebihi sikap menyebalkan kaya biasanya sama karyawan?"
"Bukan apa- apa Ta. Hanya ... "
__ADS_1
Semuanya Ayo berkumpul .. !! teriak bos Venzo menepuk tangan keras. Hal itu membuat seluruh karyawan, staff , office berkumpul. Sinta menyenggol tangan Clara karna penasaran.
"Aku juga ga tau Ta. Kita akan tau setelah bos Venzo bicara! Sssst ... udah diem ya!"
Maaf sudah lima belas menit kalian pasti bingung. Mengapa saya mengumpulkan kalian. Tapi perlu di ingat, keberadaan seseorang ini tidaklah asing. Selain itu, saya meminta Manager Vira untuk memberi sambutan.
Clara berdiri sejajar dengan para Staff. Elvira tersenyum berdiri menyambut pria di samping Bos Venzo.
"Perkenalkan. Dia akan mewakili saya sementara. Selama saya berada di Amerika. Tolong Vira kamu bantu Ardie. Aaakh .. tepatnya pak Ardie!"
Clara terdiam, begitu juga Elvira yang menatap ingin memberikan satu bucket untuk sambutan. Ia menatap Ardie yang mengelupaskan pipinya dari pelipis mata kiri hingga ke bawah pipi.
"Wooow .. ganteng guys!" tutur Sinta menyenggol tangan Clara.
"Habis operasi apa dia ya?" tambah karyawan.
Clara maju tiga langkah hingga sejajar pada Elvira yang ikut terkejut. Tak menyangka di hadapannya adalah seseorang yang ia tunggu.
"Ini ga benarkan? Dia hanya mirip bukan Mas Fandi?" lirih Clara.
Ardie yang ikut menatap sambut. Terkejut menatap Clara yang tiba saja menyentuh pipinya. Tapi di sadarkan oleh tangan Elvira untuk menepisnya.
"Singkirkan tangan kotormu itu Cla!" bentak Elvira.
"Haaah .. A-aku ... Maaf !"
----bersambung---
Yuuuks. Kira kira bakal kenapa ya? Aku dah up tiga meluncur. Entah gangguan, dari kemarin masih review aja.
__ADS_1
Mohon bersabar dan happy Reading Ya !!