Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
MENGHADIRI AKAD


__ADS_3

Sudah satu bulan, kini Clara kembali bekerja. Akhirnya ia mendapati rekan kerja yang sangat baik yakni teman masa lalunya. Beruntungnya ia kembali mencoba untuk membuka toko kue tak jauh dari kediamannya tapi ia juga bekerja menjadi pengurus expedisi.


Fani teman kuliah dahulu. Sejauh ini Clara membuka kembali teman yang pernah meninggalkannya. Baginya ia mencoba untuk tidak terlalu larut dalam dendam. Hal yang tak bisa Clara bayangkan adalah kembali mengisi hati tentang cinta.


"Cla, sekian lama. Kita bisa ketemu juga. Gue udah siapin semua paket buat diambil mamang kurir, nanti kamu yang handel ya!"


"Ok Fan, lagian gue emang jadwal siang. Seneng juga bisa ketemu Lo di penang."


"Ya, kebetulan sekali. Kapanpun yang jelas jauh dari ancaman si mbak pirang itu loh! Terus jangan lupa besok gue nikah. Lo harus datang, awas kalau enggak datang. Dan sepekan ini, sory ngerepotin lo." senyum Fani.


Sehingga Clara senyum membalas, lalu ia kembali merapihkan tas karna sudah jam pulang kerja.


"Mbak Clara! ada paket." ucap Santoso.


"Paket, karyawan paket dapat paket juga. Jadi iri gue." goda Fani, lalu pamit lebih dulu kala Clara menimpuk dengan kapal kertas.


"Thanks ya."


Clara menatap sama seperti yang sudah biasa. Sebuah pesan dan bunga indah berwarna berbeda di jam pagi, siang dan sore. Hal itu membuat Clara kembali meletakkan di tong sampah.


"Eeh! mbk dari pada dibuang, buat saya aja," senyum Santoso. Sehingga Clara memberikannya cuma cuma.


Meski saat ini Clara tidak tinggal bersama Gilang, tapi ada teman yang selalu datang, yakni Fani teman satu kuliah yang ikut terseret trauma akan dirinya yang pernah berhadapan dengan Elvira. Lagi pula kontrakan Clara tak jauh dari tempat kerjanya saat ini. Dibanding ia harus tinggal bersama Arumi yang hanya satu tingkat untuk tiga orang dan menitipkan usaha toko kuenya pada kaka ipar.


KE ESOKAN HARINYA.


Clara telah cantik dibalut kebaya, ia menjadi dayang Fani yang menjadi pengantin.


Kebahagiaan yang hakiki tidaklah mudah untuk didapat, perlu keikhlasan dan kesabaran untuk mencapainya.


Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan untuk Fani kini berubah menjadi hari terburuk, beruntung janur kuning yang terpasang di beranda rumahnya tidak berubah menjadi bendera kuning.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu, Fani bertemu dengan teman masa kecilnya Samsudin.


"Akhirnya kau menikah juga!"


Samsudin, lelaki dengan pahatan sempurna yang diciptakan Tuhan, tanpa ada kekurangan apa pun, memandang gadis yang kini sedang menggunakan kebaya berwarna putih dengan dandanan khas adat Sunda.


"Tentu saja, aku bukan orang yang tak laku!" elak Fani. Sementara Clara hanya menatap aksi perdebatan Fani yang bingung ada masalah apa.


"Fan, ada apa?"


"Gue gak ada masalah kok Cla." balas Fani.


Fani, gadis yang sebentar lagi akan menyandang status istri, membalas ucapan Samsudin dengan nada mengejek. Namun, sikapnya tak sedikit pun mengurangi kecantikan yang sejak lahir melekat padanya. Apalagi sekarang dengan make up sedikit tebal namun masih terlihat natural, membuat mata yang memandang akan terhipnotis.


"Meskipun kau laku, tetap saja pantatmu yang besar sebelah tidak akan berubah," ejek Samsudin.


"Tidak masalah jika tak berubah, dibandingkan pisang kecilmu itu, tak ada yang menghangatkan!" Fani membalas ucapan Samsudin.


"Fani, kalian jangan berdebat. Sebentar lagi tamu datang lo." ungkap Clara, sudah pasti ia tau jika pria ini masa lalu Fani yang tak pernah Clara lihat.


Samsudin dan Fani sejak kecil sudah berteman, keburukan keburukan antara dua manusia berlawanan jenis itu sudah dihafal di luar kepala mereka. Beruntung mereka tidak menikah, jika hal itu terjadi, rumah akan menjadi tempat konser mereka karena sering beradu mulut. Selain itu mereka memang tidak tertarik satu sama lain.


"Sam, kau tak ingin menikah?" tanya Fani.


"Aku belum ada rencana ke sana, jadi jangan harap jika calon suamimu nanti pergi lalu aku akan menggantikannya." Sam, menjawab pertanyaan Fani diikuti dengan tawa khas pemuda itu.


"Ck, siapa juga yang mau, kau menggantikan calonku. Lagi pula kita sudah berteman sejak orok, bahkan celana dalamanmu aku tahu!" Fani menjawab dengan nada ketus.


"Kalian saling mengenal?" tanya Clara karna pusing melihat mereka berdebat. Mirip seperti teman baiknya Kremi.


"Samsudin, kenalin ini temen gue juga waktu kuliah di ibu kota. Namanya Clara!"

__ADS_1


"Samsudin. Dia temen kecil bokap gue Cla." jelas Fani. Sehingga Fani mengajak Clara masuk ketempat rias dan menceritakan semuanya.


Fani terlahir dari keluarga sederhana dari pasangan Tomy dan Tita, sedangkan Sam terlahir dari keluarga yang sudah kaya tujuh turunan dari pasangan Faiz dan Fana. Hubungan keluarga itu terjalin karena Faiz dan Tita dulu satu panti asuhan.


Dahulu Sam hidup bersama dengan keluarga Fani, karena saat kecil keluarga Sam harus bolak balik Indonesia. Jerman untuk mengurus bisnis, dari sanalah Fani dan Samsudin bersahabat.


"Heiy kamu apa kabar? Sudah 4 tahun kita tak bertemu lagi." teriak Fana yang hadir tiba saja, membuat Clara senyum ikut memeluk. Dan Fani menarik Clara karna mereka bisa kembali bertemu setelah skandal fitnah yang membuat mereka terlibat.


"Seperti yang kau lihat, aku lebih baik tanpa ada dirimu, dan tentunya aku makin cantik," jawab Clara. Hal itu membuat Fana meminta maaf dengan atas semuanya yang terjadi.


"Udahlah, itu udah masa lalu kan?" pinta Fana. Dan Clara hanya menggoda.


Persahabatan mereka sedikit renggang, karena yang sudah lelah untuk dikatakan, saat itu mbak pirang Mblokade perusahan kedua orangtuanya.


Sehingga mereka harus menuruti untuk menjauhi Clara. Diam diam mereka mencari Clara, dan tidak tau jika Clara berada di rumah sakit jiwa.


"Memangnya hanya kau yang baik baik saja, aku justru lebih baik lagi tanpa dirimu. Aku cantik kan?" Fani bertanya sambil berkaca.


"Ck, kau sama sekali tidak berubah dan tak mau kalah." ungkap Fana menjeda ucapannya.


"Cantik." bisik Samsudin yang lewat pada tiga wanita yang sedang berbincang ria.


Di kamar pengantin itu, dua orang berlawanan jenis terus berbincang untuk saling melepaskan candaan. Samsudin yang sejak tadi masih berdiri di ambang pintu yang awalnya hanya ingin menggoda Fani kini ia masuk ke dalam kamar.


Di luar kamar itu, tepatnya di beranda rumah Fani, janur kuning terpasang dengan sangat indah, tertulis dalam kertas nama Fani dan juga sang suami, Rain.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi di mana akad nikah akan segera dilakukan. Rombongan keluarga Rain baru saja tiba, lelaki berdarah jawa sunda itu dituntun ibu dan sang ayah untuk memasuki rumah Fani.


"Tarik napasmu, Fani. Jangan grogi," ucap sang ibu yang melihat ketegangan nampak jelas di mata sang anak.


"Fani, gue suport lo!" bisik Fana dan Clara. Mereka mengiringi tepat di samping tamu menatap aksi pernikahan itu. Namun saat itu Clara mampir ketoilet, tiba saja seseorang menariknya.

__ADS_1


Haah!!! teriak kecil kala mulutnya ditutup.


To Be Continue!!


__ADS_2