
Tuan Fandi!!
Sang sekretaris menyapa Fandi dengan sopan seraya menundukan kepalanya, kala Fandi baru saja keluar dari lift.
“Apa laporan yang aku minta siapkan sudah kau kerjakan?” Suara Fandi dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi. Belum lagi, ia mendapati dirinya yang begitu saja bertemu Aris setelah sekian lama. Vira benar benar membuat dirinya terjebak kebodohan. Tanpa satu kata, saat membuka pintu. Pemandangan yang cukup bagus, kala dirinya harus memutuskan jika dirinya tak ada lagi hubungan apapun.
'Intrik wanita cinta pertamaku, benar benar membuat aku muntah. Bahkan aku harus melukai perasaan Clara dan janji Seiyen. Gilang, gue pasti bakal membalik kehidupan lo yang sulit!! benak Fandi.
Tak lama, dari jauh Clara datang dan berbicara dengan raut wajah kebingungan menatap Fandi.
"Pak Laporan yang Anda minta sudah saya kerjakan semuanya. Saya juga sudah meletakan laporan itu ke atas meja kerja Anda, Pak," ujar Clara memberitahu. Sebenarnya suasana asing seperti ini, Clara tak menyukai. Namun profesionalnya membuat ia bertahan sedikit lagi.
“Hm … Tuan, di ruang kerja Anda ada Nona Vira sudah menunggu Anda sejak satu jam yang lalu. Sebelumnya saya meminta Nona Vira untuk pulang tapi beliau tidak mau, Tuan. Nona Vira ingin menunggu hingga Anda datang.” Sang sekretaris tiba saja datang, sejak Clara tiba.
Fandi mengembuskan napas kasar. Dia tak menyangka kalau Vira tunangannya itu benar benar membohonginya. Padahal sebelumnya ia sudah meminta untuk menunggu dan menjaga sikap, terlebih kedatangan Aris.
Kini Clara melangkah meninggalkan ruang kerja Fandi. Tampak wanita itu begitu bahagia. Namun, tepat dikala Vira sudah keluar dari ruang kerja Fandi.
"Cla, akhiri rasa cemburumu. Bukankah ka Fandi bicara untuk dirinya bersabar sedikit lagi." batin Clara bergumam.
“Fandi,” Prok .. Prok. Sapa Aris dengan sopan, dan menepuk tangan.
“Ada apa, sekian lama kau kembali. Ingin mengambil yang telah hancur dan mulai meningkat kembali Haah,?”
"Hahaa, Fandi. ****, hanya sebuah perusahaan jelek, untuk apa. Gue kesini, cuma mau bawa Vira dia milik gue. Kunci emas peninggalan semua udah lo serahin ke gue, buat apa gue capek capek rebut kantor lo yang terlihat miskin ini haaah?" sinis Aris.
__ADS_1
Setelah itu, Aris pergi menubruk bahu Fandi. Terlihat Vira di belakang dengan wajah pucat pasi. Ia tak bisa mengelak, ketika semuanya telah terbongkar. Aris datang, bukan dengan pria gila berat. Tapi dengan seperti biasanya, ia datang dan membawa bukti banyak kebohongannya. Vira kembali masuk ruangan kerjanya. Memutar mata, entah apa yang harus ia lakukan saat ini.
Fandi duduk di kursi kebesarannya. Kemudian, dia mengambil wine yang ada di hadapannya dan disesapnya perlahan.
“Ada yang ingin saya beritahu pada Anda, Tuan,” jawab Vian sekertaris dengan nada yang serius.
Fandi menatap Vian dengan tatapan begitu lekat.
“Katakan apa yang ingin kau beritahu padaku?”
“Saya baru saja mendapatkan kabar dari salah satu karyawan yang mengurus sewa jasa design interior untuk salah satu cabang perusahaan Anda yang baru, Tuan. Gilang Design Interior ternyata milik Nona Arumi, yang kita tau, sisa peninggalan Seiyen yang tak banyak Clara tau . Kita juga sudah mengurus pembayaran sekitar lima puluh persen, Tuan.” Vian berujar memberitahu dan berusaha melirik Aris yang sedikit ingin tau menatap mereka.
"Gilang, jadi mereka sudah berkembang. Baguslah, terus kerja sama tanpa memperlihatkan siapa nama asli ku, jika semua aset Clara telah kembali. Maka kita harus putuskan kontrak dan merubah kepemilikan menjadi namanya bukan lagi Elvira. Lalu tetap taruh pekerjaan Clara di saham, jangan taruh ia di bidang interior, dia tak menyukainya!" senyum Fandi pada Vian, karna ia memikirkan Clara.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN, DI SAAT PERSETERUAN ARIS DAN FANDI SELESAI.
Fandi mengajak Clara dengan sebuah mobil hitam pekat, bersembunyi dari pandangan Vira dengan mobil jemputan berbeda mobil.
Sebuah restoran Teratai London menjadi tempat di mana Fandi dan Clara bertemu. Namun ia harus menemui Aris di suatu tempat lain. Sudah sekitar lima menit ia duduk di restoran itu.
Pria itu datang lebih dulu dari Clara karna berbeda mobil. Namun, tentu Fandi hanya memberikan batas tidak lebih dari sepuluh menit untuk memesan meja cantik dengan taburan indah untuknya. Namun karna desakan dan ancaman, maka ia harus bertemu Aris lebih dulu.
Jika dalam lima menit ke depan Aris membuatnya terhalang bertemu diam diam dengan Clara. Bahkan ia sampai gagal tidak datang maka Fandi akan membatalkan pertemuannya dan membuat perhitungan pada Aris.
Fandi yang berusaha keras memakai jasa design interior anak milik Aris itu. Fandi termasuk masih memberikan toleransi orang yang datang terlambat kala menemuinya. Namun toleransi Fandi tidak lebih dari sepuluh menit. Karena baginya toleransi sepuluh menit sangatlah banyak. Di luar sana banyak orang yang sama sekali tidak memberikan tolensi.
__ADS_1
“Tuan ini kopi Anda.” Sang pelayan mengantarkan kopi yang tadi dipesan oleh Fandi.
Fandi mengangguk singkat. Lalu pelayan itu segera pamit undur diri. Detik selanjutnya, Aris mengambil cangkir yang berisikan kopi itu dan disesapnya perlahan. Lalu senyum dengan banyak keacuhan dan gengsi. Sudah lama, ingin membuat Fandi merasakan menjadi pria gila. Maka dari itu, kedatangannya membuatnya perlahan untuk hancur dan bersaing sehat.
"Kau, jika hanya membuang waktu. Sebaiknya kau bicara pada sekertarisku, Vian!" tegas Fandi dan pergi dari meja seorang yang menatapnya tengil merendahkan. Aris hanya tertawa dengan tenang menyesapi anggur merah menatap Fandi berlalu.
HINGGA BERPULUH MENIT, IA MENYUSURI RESTORAN DIMANA CLARA MENUNGGU.
“Maaf aku terlambat.” Fandi duduk di hadapan Clara, lalu dia menyodorkan mawar merah yang telah disiapkan.
“Ka, seharusnya kita tak perlu seperti ini. Bukankah aku bisa sabar menunggu lagi?"
"Mas, atau sayang. Panggilah dengan sebutan manis manjamu Cla!" senyum Fandi, ia memeluk erat Clara. Ia sangat bersalah, sudah selama ini ia mendengar penderitaan Clara yang hampir menjadi wanita gila.
Sebelah alis Clara terangkat kala Fandi langsung menyodorkan bunga mawar dan memeluk erat padanya.
“Apa begini cara pemilik perusahaan Design Interior bertemu dengan client nya. Aku rasa kau pasti belajar bagaimana beretika Kan," lirih Clara.
Fandi tersenyum miring, seolah Clara benar benar semakin dewasa. Tau tempat, di mana ia selalu profesional tanpa membawa hati dan perasaan.
"Kemana air mata ini?" menyentuh pelipis Clara.
"Sudah mengering, tak ingin lagi banyak menangis." ungkapnya. Hingga seseorang melewati mereka yang sedang saling pandang.
PRAAAANG!!
__ADS_1