Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Gangguan Alam


__ADS_3

"Kaka mau kemana?" tanya Clara.


"Membobol kamar kamu yang di gembok oleh beruang!" Fandi menunjuk arah kamar Clara dan menaiki tangga dengan sebal.


Silahkan, semua sudah kami siapkan Nona. Rileks lah, semua sudah di pesankan oleh Pak Gilang dan Ibu Arumi !! ucap beberapa karyawan salon khusus.


Fandi yang berusaha membobol kamar Clara, ia berusaha untuk memecahkan rantai, namun tenaganya tak bisa membuka meski dengan linggis. Ia pun pasrah dan melewati kamar lain ke kamarnya, Tapi satu matanya tertuju akan Clara yang memakai piyama handuk. Dengan setengah dada yang menonjol meski dalam balutan, kulit yang seputih susu dan cerah. Ia berdiri di balkon dengan menatap dalam diam.


Beberapa jam kemudian.


"Sudah selesai, akhirnya. Aaakh pasti ka Gilang persiapkan ini supaya Clara ga ngambek lagi, Iya kan ka?" Clara melirik Fandi yang berdiri di anak tangga.


"Astaga dasar bocah ini, dia ga tau apa. Kalau tadi perawatan khusus untuk pengantin. Gilang apa yang kamu rencanakan, apa dia berusaha untuk membuat gw terjerat nafsu. Supaya gw ga lepasin Clara sampai si Tino hadir." batin.


"Kak, Eeeikh. Ampun deh, bengong aja."


Clara yang kesal, ia berlari ke arah tangga. Fandi yang tersadar menatap Clara dan memanggilnya. Namun saat Clara melangkah, sebuah belahan paha itu terpampang membuat Fandi menelan saliva dan tertegun, tak lama Tali piyama handuk Clara terlepas karna tersangkut lengkungan sisi tangga atas.


Bagus saja seluruh orang salon sudah pamit pulang.


Huuuaaakh ... Teriak Clara.


Fandi yang berjalan santai mengekor Clara, berusaha mengejar. Membuat matanya menatap tak berkedip, ia membuang wajah ke'arah samping, ketika Clara sadar dan menengok ke belakang.


"Ka Fandi, jangan nengok. Tadi Clara kecelakaan, bukan maksud menggoda!"


"Heuuuumph!" balas serak Fandi.


Clara sangat terobsesi akan suara indah Fandi yang berkata simple itu. Mendengarnya saja membuat sexsi dan menatap Fandi dan mendekati wajahnya sambil mengikat tali piyama.


Clara tepat di wajah Fandi. Sementara mereka berdua berada di ujung tangga. Lalu Fandi berusaha melirik dengan penuh tanya.


"Kenapa, kok mendekat gitu. Kamar di depan?" menunjuk.


"Coba jawab lagi, balasan yang tadi!"


"Heuuumph. Yang mana Cla?"


"Barusan, ga pake yang mana Cla."


Fandi terdiam, apa maksudnya. Lalu menepuk kening Clara dan bertanya.


"Kamu sakit Cla?"


Clara masih menatap bola mata Fandi, tak terasa tubuhnya panas membuat ia kegerahan. Lalu tiba saja mencengkram bidak tubuh Fandi yang tercetak kaos ketat.


"Cla, kamu mau apa?"

__ADS_1


Treeegkh ... Fandi berusaha mundur, mundur dan tepat dibagian ujung mentog. Clara terpeleset dan membuat cekatan tangan Fandi yang siaga menopangnya.


"Huuaaah." teriak Clara.


"Cla hati hati!"


Pandangan mereka sangat dekat, tubuh Clara yang ditopang bagai menari balet ketika seorang wanita sedang meliuk setengah tubuhnya. Membuat Fandi terpesona dan menatap jelas gundukan Clara yang semakin menawan.


"Astaga, gw ga boleh kaya gini. Bisa jadi gw nanti malam track mil di kecepatan sedang dan semakin tinggi. Ide gilang yang bikin gw frustasi." batin Fandi.


"Kamu mau apa Cla, jangan buka handuknya di sini!"


"Ka, badan aku panas banget, Tolongin aku!"


Masih berdiri dalam jarak lima centi. Mata mereka saling berpandangan dan menautkan wajah.


Triiing. Getar notif pesan masuk.


"Fandi, gw cuma mau bilang. Gw lupa air yang di teko emas. Jangan sampai di minum, deket sofa bunga. Tolong lo buang ya. Soalnya itu obat tetes perangsang. Tadinya gw mau kerjain elo, tapi gw lupa. Kalau hati lo belum ada Clara adik gw. Jadi gw putusin kasih tau!"


Fandi terdiam, ia pun bertanya pada Clara.


"Kamu haus Cla, biar ka Fandi ambilin?"


"Gaa, udah banyak minum. Bisa bisa Clara beser. Owh ya tadi jus di teko emas enak, pasti buatan ka Arumi. Nih Clara mau bilang terimakasih."


Clara yang terkejut ia masih mengipas aura panas ditubuhnya. Tapi Fandi berusaha mencari cara agar Clara bisa normal kembali. Karna saat itu Clara sudah membuka piyama handuk dengan duduk tanpa dosa di kamar memakai cd dan bra.


"Kak, pakai selimut aja. Gpp kan, Clara tidur kaya gini. Apa Clara buka aja semua Ya. tutupin selendang tipis. Gerah panas banget."


Gleeeuk .. Fandi berusaha menutup mata, menggigit bibir bawahnya seolah gemas dan kesal. Tapi sayangnya Clara masih terlalu kekanak kanakan. Ia masih tak berfikir jika aku pria normal.


Fandi membawa selimut, ia bermaksud untuk menutupi tubuh Clara. Namun sebuah lantai licin atau sandalnya ia langsung terjatuh dan berusaha menahan hingga berada di atas tubuh Clara. Pasalnya Clara pun dengan cekatan berusaha terkejut menopang tangan Fandi.


Malam itu hanya berdua, di kamar dan suasana lampu yang tiba saja mati membuat mereka terdiam seribu basa. Clara memeluk Fandi dan berkata.


"Jangan pergi ka, tunggu aja. Clara takut!"


"Cla, tapi ka Fandi harus melihat sakelar. Siapa tau konslet."


Clara tetap menarik kerah baju Fandi, dan terjadi saling menahan, Tapi kala itu wajah mereka beradu dan ranum bibir mereka saling menempel.


Diam beberapa saat membuat mereka hanyut, Clara yang berbisik.


"Ka, rasanya ciuman itu seperti Apa?" bisiknya.


"Heuuumph." berfikir masih menempel. Fandi menutup mata menahan sesuatu agar tidak kehilangan kendali.

__ADS_1


Clara pun merasa ingin mencoba menggerakan bibirnya dan Fandi terdiam. Tak berselang lama, ia ingin menyudahi. Tapi Clara menahan dan membuat tubuh Fandi berada dibawahnya. Hingga Fandi membalas dan membuat gerakan agar Clara tau apa rasanya First kiss. Hingga lampu tiba menyala mereka masih saja tak berhenti, memejamkan mata dan membuat mata mereka menatap satu sama lain.


"Clara, sudah Ya!"


Tapi kancing Bra Clara lepas kala itu, membuat Fandi terdiam kaku dan membalut dengan selimut tebal, sehingga Clara yang usil mengerakan tubuh Fandi dan menggulung bagai kue yang digulung.


"Ka, apa wanita pirang itu masih melekat di hati kaka?"


"Cla. Kamu harus sadar!" menepuk pipi Clara.


Perasaan Fandi kala itu berdebar, entah sudah berapa lama. Mereka saling diam dan kembali menyatukan ranum yang seksi, namun tiba saja Clara bicara lelah, pusing.


Setelah membesarkan pendingin ruangan, ia berahli ke kamar mandi untuk berendam.


Tak lama Clara menyudahi dan membenturkan tubuh Fandi, hingga membuatnya terkejut. Dengan tanpa dosa ia berkata ingin tidur setelah berendam dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal akan rasa yang tak karuan di seluruh tubuhnya.


"Sudah seperti ini, bisa bisanya dia menyudahi. Clara kamu .." lirih Fandi mengepal. Ia kembali keluar kamar dan berusaha menuju ruangan fitness.


Ke esokan harinya.


Bel berbunyi, Fandi membuka dan terlihat seseorang pria yang tak asing bertamu.


"Pagi Om. Clara ada? Perkenalkan saya Franstino, Anda pasti ka Gilang kan?"


Fandi menaikan alis, mengingat semalam Clara belum normal akan minuman yang dicampur sesuatu, ia tak rela jika Clara dekat dengan kekasihnya itu. Fandi merasa aneh, karna sudah masuk dua bulan lebih pernikahannya. Ia berjanji akan melepas Clara ketika sang kekasih kembali, tapi mengingat semalam ia merasa tak rela. Tidak, ini pasti karna khawatir bukan perasaan berlebih. benak Fandi.


"Silahkan, tunggu sebentar!"


Fandi membangunkan Clara, tapi saat itu ia masih menutupi selimut tebal. Lalu tubuhnya terasa panas, Fandi berahli langsung menempelkan tangannya ke kening Clara.


"Cla, kamu demam?"


"Eeuuuhm. Ya, ka. Clara pusing, muntah muntah aja dari semalam. Kayaknya semalam Cla salah makan deh!"


Fandi segera membawa Clara ke rumah sakit. Sedangkan Franstino yang menatap Clara di gendong, ikut terkejut dan bucket bunga pun yang berada di tangannya ikut terjatuh.


.


.


.


Fandi : Si Tin Tin mulai datang, kenapa di datengin si tor.


Franstino : Kenapa wajah kakaknya Clara berubah?


Readers : Sok di koment kira kira apa yang bakal terjadi ya!

__ADS_1


__ADS_2