
Lita terus saja memuntahkan makanan yang baru saja ia makan,sampai lendir putih keluar dengan rasa yang masam.
"Sayang kamu kenapa?aku panggilkan Dokter ya??"Danur nampak cemas.Lita menggeleng sambil menelan air liurnya.
"Aku nggak apa-apa, mungkin masuk angin sayang "
"Bawa saja dia ke kamar menantu.Biarkan Lita istirahat dulu "Bu Fatin menyahut dari arah ruang makan.
"Ayo sayang aku antar ke kamar,kamu istirahat saja dulu ya"Danur mengikuti kemauan mertuanya.Lita mengangguk lemah.Ia dirangkul oleh suaminya berjalan menuju ke arah Kamar.
"Mas"Bu Fatin duduk mendekati suaminya"Kok anak kita kayak orang hamil ?"
"Aku juga berpikiran begitu, masak iya dia hamil.Katanya Danur mandul "Pak Samsul meladeni topik pembicaraan istrinya.
"Apakah ???"Bu Fatin menggantung kalimatnya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh Ma.Kita tahu betul Lita seperti apa?"Pak Samsul membuang pikiran terburuknya.
"Kita kan nggak tahu Mas,apa yang terjadi disaat dia hilang?"
"Maksudmu?"
"Kan ceritanya Lita di rawat sama Raka pas dia hilang.Semua yang kenal Raka sudah pasti tahu kalau Raka sangat mencintai putri kita"
"Maksud Mama Raka ambil kesempatan terhadap putri kita gitu"Pak Samsul menaikkan tone suaranya.
"Sttttt"Bu Fatin membekap mulut suaminya"Jangan keras-keras,ini hanya mungkin saja"
__ADS_1
Pak Samsul terdiam, keningnya berkerut, seperti memikirkan sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Ma,,,"Kehadiran Danur membuat Bu Fatin gelagapan.Ia takut menantunya mendengar pembicaraannya barusan."Aku titip Lita ya sebentar ya Ma,ada telfon dari rekan bisnis mau bertemu "
"Oh Ok ok,,"Bu Fatin cepat-cepat menyanggupi
Danur tersenyum lalu melangkah keluar rumah.Bu Fatin memperhatikan kepergian sang menantu sampai ia lenyap dibalik pintu.
"Ayo Mas"Bu Fatin menarik tangan suaminya,Pak Samsul pasrah saja.Keduanya memasuki kamar Lita.
"Lita..."Bu Fatin duduk di bibir kasur dekat dengan hulu tilam."Gimana keadaan kamu nak?"
"Udah mendingan Ma"Jawab Lita, wajahnya begitu pucat.Bu Fatin beradu pandang dengan suaminya.
"Lita,,kamu bener nggak apa-apa Nak?"Pak Samsul meletakkan punggung tangannya dikening putrinya."Badan kamu panas"
"Kita ke Dokter yuk"Ajak Bu Fatin.
"Ah Mama cuma sakit begini aja udah mau ke Dokter, entar juga sembuh kok"
Lagi-lagi Bu Fatin beradu pandang dengan suaminya.Bu Fatin mengangguk memberi kode,Pak Samsul menatap lekat wajah putrinya.
"Ada apa sih Ma?pakek berkode-kode dengan Ayah"Lita menyadari sikap orang tuanya yang menurutnya sangat aneh.
"Lita,kamu nggak hamil kan?"Bu Fatin sudah tidak tahan lagi.
"Hamil??"Lita tertawa kecil "Mama ini terlalu parno ah,Mama kan tahu kalau suamiku gimana?Udah ah jangan bahas masalah hamil, nanti Danur tersinggung "
__ADS_1
"Itu masalahnya,kalau benar kamu hamil, hamil dengan siapa?"Ungkap Bu Fatin.Lita tercengang,ia baru paham apa maksud Mamanya.Matanya mengerjap, pikirannya tegang.
"Nggak nggak nggak nggak mungkin aku hamil Ma,aku cuma masuk angin aja"Lita menghapus pikiran terburuknya.
"Iya Ma, nggak mungkin anak kita melakukan hal yang tidak baik"Pak Samsul mendukung putrinya.
"Aku percaya anak kita nggak mungkin begitu Mas,tapi aku nggak percaya dengan Raka.Aku hanya khawatir laki-laki itu mengambil kesempatan disaat Lita tidur atau sengaja membuat dia tidak sadar "Bu Fatin tetap kekeuh dengan monolognya.
"Ma Raka nggak begitu orangnya,aku kunci pintu kok kalau mau tidur "
"Itu Rumahnya, pasti dia punya kunci duplikat "Bantah Bu Fatin.
"Nggak mungkin Ma,aku kunci pakai engsel pintu "Lita tidak mau mengalah.Karena dia yakin Raka bukan cowok seperti yang Mamanya kira.
"Ya sudah kalau begitu kita periksa ke dokter,kalau benar kamu hamil kita gugurkan"Tegas Bu Fatin.
"Ma!!"Pak Samsul membeliakkan matanya,Ia tidak menyangka kalau istrinya akan mempunyai ide yang sangat jahat.
"Terus kita akan membiarkan begitu saja anak kita hamil bukan dari suaminya Mas?"
"Aku tidak yakin dengan pendapat Mama"Bentak Pak Samsul.
"Mas"Bu Fatin sangat geram sekali.
"Sudahlah,Kita tunggu Danur.Jika benar aku hamil dan ini bukan anaknya dia.Aku akan tetap merawat anak ini.Meskipun aku harus kehilangan suamiku"Lita begitu sakit dengan keputusan yang ia ucapkan.Ia sungguh tak percaya dengan semua ini.
Bu Fatin dan Pak Samsul saling bertatapan.Mereka juga merasa sakit hati jika hal yang mereka takutkan terjadi.
__ADS_1