
"Anda bertemu dengan anak saya?"Suara Danur bergetar, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.Krisna mengangguk ragu,ia merasa aneh, laki-laki didepannya mengaku sebagai suami anak didiknya.Tapi ia seperti tidak tahu tentang anak Lita.
"Dia perempuan atau laki-laki"Mata Danur berbinar dengan genangan tertahan.
"Perempuan,namanya Diana.Lita memanggilnya De"Krisna menjelaskan dengan detail.
Kini netranya membanjir,dadanya bergemuruh sesak.Nafasnya tak beraturan,seperti ada sesuatu yang siap meledak.
"De?"Danur mendesah lirih menyebut nama anaknya.
"Anda tidak apa-apa?"Krisna merasa khawatir melihat Danur menangis.
"Saya oke,,,,,saya baik-baik saja.Terima kasih"Danur beranjak namun kembali terduduk karena kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi.Rasa bahagia bergemuruh hingga sesak dirasa.Ia berjalan sempoyongan keluar dari ruangan tersebut.
Krisna menatap punggung pria yang mengaku suami Lita dengan banyak tanda tanya,Namun ia tak ingin terlalu ikut campur.Karena jika benar dia suaminya,pasti keduanya lebih tahu apa yang terbaik bagi mereka.
Pak Lukman segera menghampiri majikannya disaat melihat Danur keluar dengan langkah yang terseok-seok."Tuan tidak apa-apa?"
Danur tidak langsung menjawab,netranya terangkat menatap penuh pilu wajah supirnya.Ia menangis tergugu,seperti anak kecil yang bingung kehilangan ibunya.
"Tuan kenapa?"Pak Lukman sangat cemas sekali,karena tak pernah sekalipun ia melihat majikannya menangis.Disaat Ibunya tiada pun dia tidak menangis.Hanya diam dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Danur tidak memberikan sembarangan jawaban atas dua kali pertanyaan supirnya.Ia malah semakin menangis terisak.Karena merasa tak menemukan jawaban,Pak Lukman segera merangkul majikannya dan dibawanya masuk kedalam mobil.
"Man"Suara lirih Danur membuat Pak Lukman menoleh sesaat lalu fokus kembali ke jalanan.
"Iya Tuan"
"Aku punya anak Man,namanya Dede,cantik sekali Man.Tapi dimana dia sekarang?Man,,,tolong cari Dede ku Man.Tolong cari Dede ku,huhuhuhu"Danur kembali menangis.
Pak Lukman tidak bisa menanggapi apapun,ia membawa Danur pulang dengan segera.Agar majikannya bisa istirahat.Nanti dia akan meminta Mbok Fatma memberikannya obat tidur.
__Baru saja sampai,Angelina muncul dan langsung merangkul tubuh Danur yang dibopong oleh Pak Lukman.
Pak Lukman patuh,ia hanya mampu menatap majikannya yang terseok-seok dibantu berjalan oleh Angelina.
"Tuan Muda"Desis Mbok Fatma panik,ia tergopoh-gopoh keluar dari dapur.Namun Angelina malah menyuruhnya pergi dengan gerakan kepalanya.Mbok Fatma mematung melihat keadaan majikan mudanya.
Tapi ia tidak kehilangan akal,segera ia menemui Pak Lukman untuk bertanya.
"Tuan kenapa Man?"
"Tak tahulah Mbok,tadi pas masuk ke tempat latihan silat dia baik-baik saja.Dan keluar jadi begitu"Pak Lukman menjelaskan.
__ADS_1
"Apa Tuan Muda kenak pukul Man?"
"Kayaknya nggak dech Mbok,tadi Tuan nangis sambil ngigau katanya dia punya anak cantik"
"Anak??Apa Non Lita punya anak?"Mbok Fatma seperti tidak percaya.
"Sepertinya begitu?Terus tadi Tuan dapat surat dari pengadilan agama.Aku lihat bacaan pengirimnya di sampul.Nggak tahu apa isinya?Yang jelas aku lihat Tuan jadi emosi Mbok"
"Surat??Dari pengadilan agama?Astaga,apa Non Lita minta cerai ya?"Mbok Fatma jadi khawatir.
"Kok minta cerai sih Mbok?"Dengan polosnya Lukman bertanya.
"Mangkanya jangan membujang terus,kalau dapat surat dari pengadilan agama itu berarti surat panggilan sidang perceraian"
"Jadi apa maksudnya?"Pak Lukman tidak mengerti,ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Artinya Tuan Muda dituntut cerai sama Non Lita"
"Hah???yang bener Mbok??"Pak Lukman menutup mulutnya sendiri.
Angelina tersenyum tipis dibalik pintu,menguping pembicaraan dua pembantu Danur Wenda.
__ADS_1