Pernikahan Rekayasa

Pernikahan Rekayasa
BAB 71 Ikhlas walau sakit


__ADS_3

Angelina memperhatikan dari jarak aman,ia menyeringai.Sepertinya ada jalan yang sedikit terbuka untuknya bisa mencapai keinginannya.


Setelah beberapa saat,terlihat mobil Danur meninggalkan area parkir tempat istrinya bekerja.Dengan tergesa Angelina keluar dan menghampiri Damian yang hendak melangkah masuk ke dalam.


"Hay tunggu!!"Seru Angelina menahan langkah Damian.Damian memicingkan matanya melihat dengan jelas wanita yang mendatanginya.


"Bisa kita bicara sebentar"Nafas Angelina terdengar ngos-ngosan disebabkan ia sedikit berlari menyusul Damian.


Baru Damian ingat gadis yang pernah beradu argument dengan Danur ditepi jalan dekat kost-annya Lita dulu.


Setelah mendapat persetujuan dari Damian,Angelina mengajak pria maskulin itu nongkrong di restoran tak jauh dari tempat itu.


"Ada maksud apa memintaku untuk bicara?"Tanya Damian setelah keduanya memesan minuman.Angelina tersenyum.


"Kalau aku tidak salah menebak,kamu sangat menyukai Lita bukan?"


Damian menatap lekat wanita dihadapannya,ia ingin tahu apa motif sebenar dari wanita cantik itu.


"Mengaku sajalah tidak usah sungkan,aku juga sama.Sangat menyukai suami Lita.Dan aku sangat ingin memilikinya"


"Jadi itu tujuanmu?"


"Kita harus saling mendukung untuk bisa mendapatkan apa yang kita inginkan,meskipun perahu kita berbeda,tapi tujuan kita sama"


Damian menatap ke sekeliling lalu mendekat kan wajahnya.


"Lalu apa rencanamu?"


"Boleh aku minta nomor telfonmu?Kita bisa berbincang bebas mengenai rencana kita ditelfon"


"Ok"


Damian mengambil secarik kertas dan bolpoin.Ia menulis nomornya disana,lalu memberikan kepada Angelina.


"Ok,terima kasih"Angelina menyimpan kertas itu untuk nanti.


"Kalau sudah tidak ada urusan lagi,aku pamit pergi"


"Tidak mau menunggu pesananmu datang?"


"Tidak"Jawab Damian singkat.Setelah ia membayar apa yang ia dan Angelina pesan,Damian pun kembali ke tempat latihan silat untuk melanjutkan niatnya menemui Lita.


Yang Lita khawatirkan terjadi,Damian datang menghampiri dengan senyuman yang menawan hati.Kali ini Lita harus tegas terhadap laki-laki ini tanpa menyakiti hatinya.Ia harus bisa membuat Damian paham bahwa mereka tidak boleh dekat lebih dari mantan teman kerja.


"Mau minum?"Damian menawarkan sebotol mineral kehadapan Lita.


"Terimakasih,aku baru saja minum"Lita menunjukkan botol bekas minumannya yang tersisa separuh.


"Ohhhh"Damian menarik kembali air yang ia sodorkan ke Lita.


Damian merasa aneh dengan sikap Lita sekarang ini,ia cenderung tidak memperhatikan keberadaannya.Malah fokus menyaksikan latihan para murid-muridnya.

__ADS_1


"Lit..."Damian menyeru nama Lita,namun hanya mendapat tanggapan suara dehemman saja"Kamu kenapa?"


Barulah wanita bermata lentik itu memalingkan wajahnya.


"Aku kenapa?"


"Kok berubah?"


"Berubah jadi zombie"Lita tersenyum menahan tawa oleh guyonannya sendiri.Damian jadi tersenyum meskipun hambar.


"Aku serius"Kalimat Damian mematikan senyuman dibibir Lita.Wanita itu menatap penuh keseriusan.


"Maafkan aku Dam,aku hanya ingin kita menjadi teman baik saja.Tidak lebih"


"Apakah ini keputusan finis?"


Lita menghela nafas panjang,menyandarkan punggungnya ke badan kursi.


"Diantara aku dan Danur ada Dede.Dan aku juga tidak ingin seperti Ibumu"Lita mengucapkan kalimat itu sehalus mungkin.


Damian menundukkan pandangannya,helaan nafas panjang seperti sebuah usaha untuk menenangkan dirinya.


"Baiklah"Damian bangkit lalu pergi tanpa menoleh lagi.Lita hanya bisa menatap punggung laki-laki yang pernah menggugah hatinya walau hanya sesaat.


___


Entah sudah keberapa kalinya Angelina mendail nomor yang diberikan oleh Damian.


"Bangs*t aku ditipu"Angelina meremas kuat kertas itu lalu membuangnya begitu saja.Ia tersenyum sinis.


"Kali ini hanya Papa satu-satunya orang yang bisa membantuku"Bisik hati Angelina.Dengan yakin ia mengetuk pintu.


Setelah ada sahutan dari dalam,perlahan Angelina masuk dan tersenyum ceria mendatangi Pak Hendro yang terlihat sibuk dimeja kerjanya.


"Hay pa"Angelina merangkul leher Papanya lalu mencium manja pipi yang sudah menua itu.


"Ada apa ini?tumben-tumbenan,pasti ada yang diinginkan"Ucap Pak Hendro tanpa teralihkan konsentrasinya di depan layar komputer.


"Hehehe Papa tahu aja"Angelina ikut menyimak apa yang dikerjakan oleh Orang tua tunggalnya itu.


"Pa...Angelina pengen nikah ni"Rengeknya manja.Sontak Pak Hendro menghentikan rutinitasnya dan menatap wajah cantik Putri tunggalnya.Ia mencari kesungguhan diwajah itu.


Angelina tersenyum manis,ia menyandarkan kepalanya di bahu sang Papa"Tapi dia suami orang Pa"


"Loh kok bisa?"


"Awalnya dia mau pisah Pa,tapi setelah ia mendapatkan hatiku,Istrinya malah berhasil memikatnya dengan alasan anak"


Pak Hendro terdiam,ia merasa sangat mengasihani nasib tragis putrinya itu.


"Aku sudah berusaha untuk melupakannya Pa,tapi tidak bisa.Papa tahu kan,Angel sangat sulit untuk bisa suka sama lawan jenis"

__ADS_1


"Jadi laki-laki ini termasuk hebat"Guyon Pak Hendro membuat Angelina tersenyum.


"Lalu apa yang bisa Papa lakukan untuk membantumu?"


Inilah pertanyaan yang Angelina mau,ia menarik sebuah kursi lalu duduk di sisi Papanya.


"Aku hanya ingin menikah dengannya Pa"


"Siapa dia?"


"Danur.....DANUR WENDA"


"Oh..."Pak Hendro manggut-manggut"Papa akan coba membantu sebisa Papa"


"Terimakasih Pa"Angelina mempererat pelukannya.Ia senang sekali karena Papanya sangat memanjakannya.


"Maafkan aku Danur,terpaksa Papaku yang harus turun tangan"Ucap Angelina membatin diselimuti senyuman bahagianya.


___


Malam ini,Damian lebih banyak menyendiri di sudut belakang cafe.Yang biasa digunakan stafnya untuk merokok.


Ia menghembuskan asap nikotin tinggi-tinggi.Hanya barang itu yang sedikit menenangkan pikirannya.


Sekarang ia harus belajar ikhlas untuk melupakan Lita,wanita pertama yang menduduki tahta hatinya.Meskipun itu sulit,ia harus bisa.Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak berjumpa dengan Lita lagi.Mungkin dengan begitu ia bisa move on dengan lebih mudah.


"Bos,,ada cewek nyariin"Seorang waiters laki-laki menghampirinya.


"Siapa?"


"Saya tidak mengenalnya"


Damian menyudutkan sisa rokoknya ke asbak kecil di atas meja.Lalu bergegas masuk.Waiters tadi menunjukkan meja wanita yang mencarinya.Setelah didekati,ternyata Angelina.Gadis itu tersenyum manis.Damian menghela nafas,dengan setengah hati ia duduk berhadapan dengan Angelina.


"Kamu ngasih aku nomor palsu"


Damian tersebut dingin.


"Aku pikir kamu pintar,ternyata dugaanku salah.Seharusnya kamu mikir,kalau setakat nomor telepon tak perlulah aku menulis.Tinggal ngasih kartu nama aja kan"


Angelina tersenyum sembari menyeruput jus orange yang dipesannya.


"Jadi kamu tidak berniat bekerja sama denganku?"Sambungnya kemudian.


"Lita sudah mengambil keputusan,aku harus hargai keputusannya"


"Kamu menyerah?"


"Cinta bukan paksaan,karena kalau dipaksa tidak akan berujung bahagia"


Angelina membekap mulutnya menahan tawa.

__ADS_1


"Sok puitis kamu"


Damian hanya tersenyum kecil.


__ADS_2