Pernikahan Rekayasa

Pernikahan Rekayasa
BAB 66 Pengobat Rindu


__ADS_3

Hari ini Damian merasa tidak semangat untuk kerja.Ia meliburkan pekerja-nya melalui aplikasi pesan.Sejak ia pulang dari tempat kostnya Lita,Damian jadi malas mau berbuat apa.Ia seperti kurang bergairah.


"Tumben dirumah jam segini,Nggak kerja Bang?"Arka menghampiri Abangnya yang duduk selonjoran sambil nonton TV yang selalu diganti-ganti channel-nya.


"Cuti"Jawab Damian pendek tanpa menoleh.Arka duduk di samping Abangnya sambil membuka sepatunya.Ia baru saja pulang kerja.


"Kayaknya belum dua Minggu deh sudah cuti lagi,Abang kenapa?Ada masalah?"Arka menepuk pundak Damian.


"Zola dan Sila jam berapa pulang les?"Damian mengalihkan pembicaraan.Arka melihat jam tangannya.


"Nanti jam 6,kalau Sila bentar lagi dia udah pulang dari sekolah silatnya"Jawab Arka.Ia sama sekali tidak baper Abangnya mengabaikan pertanyaannya tadi.


SEKOLAH SILAT???


Mata Damian membulat sempurna,spontan ia beranjak seperti seorang yang baru saja terkena setrum.


"Biar aku yang jemput Sila"Damian langsung meraih kunci mobil dan bergegas pergi.Arka mengerjapkan matanya beberapa kali karena takjub kepada saudara tertuanya,yang semula tadi terlihat kurang semangat seperti kekurangan gizi,kok tiba-tiba kayak Popeye yang habis makan bayam.


Arka geleng-geleng kepala melihat punggung Abangnya yang lenyap dibalik pintu.Ia pun bangkit menuju kamarnya untuk mandi.


___


Ternyata Damian terlambat,Sila sudah menunggu diluar kelas sejak lima belas menit yang lalu.Dengan muka ditekuk,Sila masuk kedalam mobil Abang tertuanya yang baru saja sampai.


"Kok lambat sih"Sila mendengus kesal.


"Maaf, jalannya macet sayang"Jawab Damian sambil melajukan kembali mobilnya.Sila masih terlihat manyun meskipun sudah diberikan alasan.


"Gimana kelas silatnya tadi?Apa ada pengalaman yang baru?"Damian memancing cerita dari si bungsu yang bawel.Maklum perempuan satu-satunya.


"Nggak ada"Jawab Sila ketus.


"Emmmm Bu Lita ada datang nggak hari ini?"


Sila menggeleng"Sejak hari itu sudah tidak datang lagi"


Damian menelan kecewa,yang semula semangat empat lima,langsung down setelah mendapat jawaban dari Sila.


"Abang kok bisa jemput Sila,emangnya Abang nggak kerja?"


"Cuti"


"Ooohhh"Bibir Sila membulat seperti huruf O.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah tiga hari Damian menutup Cafenya,Ia benar-benar down sekali.Aktifitasnya hanya mengantar dan menjemput adik-adiknya sekolah.Selain dari itu yah rebahan.


"Bang..."Sila menghampiri Damian yang tengah nonton movie.


"Hem"Damian menoleh sekejap lalu kembali fokus ke layar televisi.


"Besok Abang bisa nganter Sila sekolah silat nggak?"


Damian menatap si bungsu dalam beberapa waktu yang lama,Ada rasa takut kecewa kesekian kali jika ia berharap banyak untuk bisa bertemu dengan Lita.

__ADS_1


"Bisa nggak?"Sila menggoyang-goyangkan lengan Damian.


"Emmm akan Abang usahakan"Jawab Damian disertai anggukan.Sila tersenyum lebar.


"Terimakasih Bang"Dengan lembutnya Sila mencium pipi Abangnya tanpa sungkan.


"Sama-sama"


Esok harinya,seperti yang sudah direncanakan.Damian mengantar Sila sekolah silat.Jantung Damian terasa berpacu lebih cepat dan berat,sehingga menimbulkan sesak.Sampai Damian harus menarik nafas dalam-dalam beberapa kali.


Damian ditarik masuk ke dalam kelas oleh Sila,seperti biasanya.Damian akan menunggu di kursi penonton.


Pandangannya menyapu seluruh ruangan,hingga sesosok tubuh yang ia rindukan terlihat samar-samar dikejauhan.Punggung Damian menegak,ia mengucek-ngucek matanya beberapa kali berharap itu bukanlah sebuah imajinasi saja.


Benar!!Itu adalah Lita,wanita yang sangat ia rindukan.Ia sungguh tidak percaya bahwa ia benar-benar bertemu dengan Lita disini.


Damian menghampiri Lita yang terlihat duduk melepas penat.Ia tersenyum bahagia karena wanita yang dirindukannya kini berada di depan matanya.


Damian berbatuk-batuk kecil membuat Lita menoleh seketika.


"Hay..."Sapa Lita sembari menegakkan punggungnya.


"Hay"Balas Damian mengambil posisi duduk yang sejajar dengan Lita.


"Lama tidak bertemu yah"


"Baru beberapa hari"Sanggah Lita.


"Untuk orang yang sedang merindu itu adalah waktu yang sangat lama"


"Kamu datang kesini setiap hari apa sih?"Itulah yang ingin Damian ketahui.


"Sekarang aku kerja disini,jadi setiap hari aku ada disini"Jawab Lita jujur.


"Sejak kapan kerja disini?"


"Dalam dua hari ini"


"Ohhh"


Pantas waktu itu dia tidak ada


"Kamu kesini sama siapa?"Tanya Damian lagi.


"Sendiri"


"Dede?"


"Dijaga Mama sama Ayah"


"Ooohhh"Untuk kesekian kalinya bibir Damian membulat.


"Mas nggak buka Cafe?"Kini Lita yang bertanya.


"Tidak,Udah empat hari libur"

__ADS_1


"Loh Kok?"Pertanyaan Lita menggantung.


"Malas,karena yang bikin aku semangat udah risegn"


Lita memalingkan wajahnya menutup senyuman yang tersungging.


"Kamu nggak jadi cerai?"Damian menuntun pertanyaan ke arah yang lebih sensitif.Lita menggeleng pelan"Kenapa?"


"Aku rasa lebih aman jika bersama keluarga yang sepatutnya.Tidak akan menjadi fitnah dimana-mana"Jawab Lita dengan pandangan kosong ke depan.


"Maafkan sikap Andin yang keterlaluan"Damian merasa tak enak hati dengan wanitanya.


"Aku rasa dia begitu karena terlalu cintanya kepada kamu Mas"Lita menatap wajah laki-laki maskulin itu.


"Aku tahu,tapi aku dan dia bagai bumi dan langit"


Lita menautkan kedua alisnya, ia kurang paham atas kiasan yang disebutkan oleh Damian.


"Andin orang kaya dengan kehidupan yang sosialitanya.Aku tidak akan mampu mencukupi kebutuhan hidupnya Lit.Mungkin harga jual cafe ku hanya seharga sepatunya saja"Damian tersenyum yang tertahan.Lita pun demikian.


Sila menghampiri Keduanya,setelah meneguk air mineral yang disuguhkan Abangnya,ia mulai mengatur nafasnya yang memburu.


"Abang ada klik sama Bu Lita ya"Sila memainkan kedua jarinya sambil tersenyum menggoda.Lita menautkan kedua alisnya dengan senyum tertahan.


"Tau aja anak kecil "Damian menepis tangan adiknya.


"Yeeeee ngaku aja deeeeh"


"Bu guru sudah bersuami Sila"Lita menjelaskan statusnya karena tidak enak rasanya jika anak ini terus menyangka yang bukan-bukan.


"Aah yang bener Bu?"Tersirat garis kekecewaan di wajah gadis itu.Lita mengangguk tanpa membuang senyumnya.


"Aaah Abang sih kelamaan yang mau ketemu sama Bu Lita.Jadinya kecolongan deh"Ketus Sila begitu polos.


"Ya salah kamu juga lambat yang mau ambil ekstrakulikuler sekolah silat"Balas Damian.


"Iya ya...Hemmmmm"Sila jadi manyun sendiri.


"Aku lanjut dulu ya Mas"Lita merasa cukup sudah ia mengambil waktu untuk istirahat.


"Nanti pulang ada yang jemput nggak?"Damian memang sudah tak sungkan lagi.


"Ciyeeeee mau nganterin nih ceritanya"Goda Sila.


"Kan kasihan Bu guru kalau nggak ada yang jemput Sil"Kilah Damian.


"Iya kasihan,sambil menyelam minum air gitu kalo tidak salah sebutannya"


Damian mentoyor kepala Adiknya, yang disambut gelak tawa oleh Lita.


"Gimana?Ada yang jemput nggak?"Damian masih memaksa ingin tahu.


"Ada,supir pribadi suamiku.Dia lagi diluar tuh"Jawab Lita masih dengan sisa-sisa tawanya.


Untuk kesekian kalinya Damian menelan kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2