
Lita segera ditangani oleh Dokter spesialis mata.Ia diperiksa secara menyeluruh.Setelah menjalani segala macam test,Dokter langsung membacakan hasil diagnosa penyebab kebutaan Lita Anggraini.
"Mata saudari Lita baik-baik saja,semua normal"
Pak Samsul saling berpandangan dengan sang istri.
"Kalau semua normal??kenapa putri saya bisa buta Dok?"Tanya Pak Samsul.
"Itu akibat sindrom keputus-asaan.Jiwanya tertekan dan menangis dalam waktu yang tidak biasa.Sehingga membuat kerja otak untuk penglihatannya tidak normal"
"Apakah ini permanen Dok?"Tanya Bu Fatin.
"Biasanya tidak,jika luka hatinya bisa sembuh.Maka otaknya akan bekerja seperti semula.Saat ini peranan orang terdekat sangat penting untuknya"
Pak Samsul mengalihkan perhatiannya kepada putrinya yang duduk di kursi panjang tak jauh darinya.Lita tengah memomong bayi kecilnya.Ia juga mendengar apa yang Dokter jelaskan.Tapi ia bingung harus bagaimana?
"Baiklah Dok,kami permisi dulu"Pamit Bu Fatin.
"Silahkan"
Pak Samsul bangkit lalu memapah putrinya berjalan keluar dari ruangan Dokter spesialis mata.Sedangkan Bu Fatin mengambil alih menggendong cucunya.
"Kamu sudah dengar apa yang Dokter jelaskan Nak"Ucap Pak Samsul ketika baru saja ketiganya masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Lukman.
Lita mengangguk pelan,bibirnya terlipat rapi.Bu Fatin meremas jemari putrinya.Ia berusaha menguatkan meskipun dirinya sendiri menangis sesenggukan.
"Nona kenapa Pak?"Tanya Lukman yang masih belum tahu apa yang terjadi.
"Dia terkena sindrom keputus-asaan,karena itu dia buta.Tapi Alhamdulillah ini tidak permanen.Jadi suatu hari nanti dia akan bisa melihat kembali"Pak Samsul menjelaskan dengan tatapan penuh kepedihan melihat putrinya yang menatap kosong ke depan.
Pak Lukman menoleh,membingkai wajah istri majikannya itu.
"Yang kuat Non,Tuan Muda pasti akan sangat menderita didalam kubur jika melihat Nona seperti ini.Non tahu kan?Tuan Muda sangat mencintai Nona"
Lita tersenyum ketir,hatinya teriris sakit bila mengingat sebesar apa cinta Danur kepadanya.
"Ohya,baru saja saya terima telepon dari pengacara Tuan Muda.Beliau ingin segera bertemu dengan Nona.Tapi saya sudah katakan jika Nona mengalami kebutaan,jadi kemungkinan pengacara itu sendiri yang akan datang ke rumah esok"
"Memangnya ada apa dia mau bertemu Lita Man?"Tanya Bu Fatin.
__ADS_1
"Biasanya mau membahas surat wasiat Tuan Muda"
"Aku tidak mau!!"Hardik Lita tetiba"Aku tidak perduli dengan wasiat warisan dan semacamnya.Jika boleh aku minta,tolong kembalikan dia"
Wajah yang semula terlihat tabah,berubah sendu dengan deraian air mata.Ia masuk kedalam rengkuhan Ibunya.Tubuhnya bergetar karena isakan yang tergugu.
Pak Samsul dan Pak Lukman yang duduk bersisian saling berpandangan.Pak Samsul mengangguk sebagai tanda agar Pak Lukman segera mengemudikan mobil untuk mengantar mereka pulang.Pak Lukman tak membantah,Ia menstater mobil dan melajukannya pelan meninggalkan halaman parkir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andin dengan semangatnya memulai kerja menjadi waiters di cafe milik Damian.Ia sudah bertekad untuk menjauh dari kemewahan yang biasa ia dapatkan.
Dara cantik itupun memilih ngekost di sekitar cafe.Karena ia menyimpan mobilnya di rumahnya.
"Istirahatlah"Damian menghampiri gadis yang tengah menunggu pesanan customer.Andin tersenyum manis.Sejak hari itu keduanya memilih jadian,namun sebelumnya Damian sudah menjelaskan bahwa ia masih akan belajar mencintai Andin dan berusaha move on dari perasaannya terhadap Lita.
Andin menerima hal itu,dalam dirinya sudah sangat bersyukur Laki-laki idamannya mau menerima cintanya.
___
Dilain tempat Tuan Atmajaya merasa heran melihat mobil putrinya terparkir rapi tanpa terusik sedikit pun.
"Beberapa hari ini saya tidak melihatnya Tuan?"Deni menjawab jujur.Tuan Atmajaya mengangguk kecil,lalu ia masuk berniat menemui istrinya dan menanyai keberadaan putri bungsunya dari empat bersaudara.
"Andin terakhir kali pamit sama Mama Pah,katanya mau berdikari"Jelas istri Tuan Atmajaya.
"Berdikari???"
Istrinya mengangguk.Tuan Atmajaya mengambil ponselnya lalu mendail nomor telepon putrinya.
"Hallo"Jawab dari seberang setelah sekian detik menunggu.
"Princess kamu ada dimana sekarang??"
"Papa Andin sekarang tengah bekerja"
"Kerja??Ini sudah jam 11.00 malam honey,kamu kerja apa??Jangan melakukan hal yang tidak-tidak sayang"Pikiran Tuan Atmajaya sudah traveling kemana-kemana.
"No Papa,jangan berpikiran buruk dulu.Andin bekerja jadi waiters di sebuah cafe"
__ADS_1
"What's??"Tuan Atmajaya sangat terkejut mendengar jawaban putri satu-satunya itu"Apa uang jajan yang selalu Papa kasih itu kurang sayang??"
"Nggak Papa,malah lebih dari cukup.Hanya saja Andin ingin merasakan bagaimana susahnya cari uang.Karena itu sesuatu pengalaman terbaru buat Andin Pa"
"Ok..Papa tidak mau mendengar alasan apapun,nanti Deni akan menjemput kamu.Share lock tempat kamu berada sekarang.Besok pagi kita bertemu dimeja makan honey"Tanpa menunggu jawaban dari putrinya,Tuan Atmajaya memutuskan talian sepihak.
___
Andin menghela nafas kasar,Ucapan Papanya memang tidak bisa terbantahkan.Tapi beliau sangat memanjakannya karena Andin merupakan anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara.
Dan mungkin juga karena ketiga saudara laki-lakinya sudah berkeluarga dan memiliki kehidupan yang mapan.Jadi hanya sisa dirinya yang masih dalam tanggung jawab orang tuanya.
"Siapa yang nelfon?"Suara Damian membuat Andin tersentak kaget .
"Emmm dari Papa"Jawab Andin gugup.Ia khawatir takut Damian merasa kecil hati lagi karena sikap Papanya yang sangat memanjakan dirinya.
"Kamu tidak pamit sama orang tua mu?Katanya kamu bilang sudah dapat ijin"Damian duduk di kursi yang tersekat meja bulat antara dirinya dan Andin.
"Ijin dari Mama,kalau Papa belum.Kan kami jarang ketemu.Papa terlalu sibuk dengan kerjaannya"Andin memberikan alasan.Damian manggut-manggut tanda mengerti.
"Lalu apa kata Papamu?"
"Aku diminta untuk pulang,dan menjelaskan semuanya"
Damian menatap kekasihnya itu dengan penuh arti.
"Tapi jangan khawatir aku pasti balik lagi kok"Andin merasa serba tak kena karena tatapan dari lelaki pujaannya.
"Papamu pasti tidak akan setuju dengan pilihan hatimu"
"Aku tidak perduli"Jawab Andin mantap.Damian membuang jauh pandangannya.Sebuah pemikiran membuat ia takut untuk kehilangan.Padahal dirinya sudah mulai nyaman dengan keberadaan Andin.
Dara jelita itu menggenggam jemari kekasihnya,ia tersenyum semanis mungkin.
"Aku tidak akan mudah mengakhiri sesuatu yang sudah aku mulai.Seperti perasaanku kepadamu"
"Aku hanya takut untuk kecewa kesekian kalinya"Ucap Damian lirih.
"Tidak aku tidak akan melakukan hal itu,dengan susah payah aku berusaha mendapatkan hatimu.Takkan semudah itu aku biarkan untuk mengecewakanmu.Percayalah!!!"Perkataan Andin begitu meyakinkan.Damian diam membisu.Ia tidak bisa memaksakan Andin untuk tidak mengecewakan dirinya.Jadi ia harus menyiapkan mental untuk kehilangan seseorang yang diciptakan bukan untuknya.
__ADS_1