Pernikahan Rekayasa

Pernikahan Rekayasa
BAB 80 Peperangan Diantara Dua


__ADS_3

Pagi hari,Lita baru saja lepas mandi.Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit sebatas dada.Panjangnya pun hanya separuh pahanya.


Wanita buta itu tak perlu khawatir disebabkan pintu kamarnya terkunci rapat.Jadi meskipun ia hanya telanjang bulat pun takkan ada yang melihat.


Dengan meraba-raba ia mendekati lemari.Mengambil baju yang akan dipakainya untuk hari ini.Tanpa canggung ia membuka handuknya dan memakai satu persatu pakaiannya.Ia sama sekali tak menyadari bahwa Michael sudah sejak tadi berada di dalam kamarnya.


Laki-laki itu begitu terpana melihat pemandangan yang tersaji,ia menelan Saliva tanpa berani bersuara.Bernafas pun ia gemetar.


Michael meruntuk diri sendiri yang seenaknya masuk ke kamar Danur Wenda seperti dulu.Ia memang punya kunci duplikat kamar sepupunya itu,karena dari dulu hubungannya dengan Danur bak saudara kandung.


Lita sudah selesai menutupi tubuhnya dengan celana gombrong panjang dan kaos pendek satu size lebih besar dari ukuran badannya.


Meskipun begitu,wanita itu tetap terlihat **** karena tubuhnya memang terjaga.


Tok tok tok tok


"Siapa?"Seru Lita.


"Saya Non"Suara Mbok Fatma terdengar jelas.


"Ada apa Mbok?"


"Ada Tuan yang kemarin itu loh Non"


"Damian kah??"Lita menautkan kedua alisnya"Ya udah bentar lagi aku keluar Mbok"


"Baik Non"


Suara langkah kaki Mbok Fatma terdengar menjauh.Lita duduk di kursi depan meja rias.Ia memakai skincare seadanya lalu mengikat rambutnya.


Sederhana,biasa saja,tapi cantik dan mempesona.Michael tersenyum tipis,ia benar-benar telah tergoda oleh janda sepupunya itu.


Lita merasa sudah siap,ia meraih tongkatnya lalu berjalan dengan penuh hati-hati menuju pintu.Raut wajahnya langsung berubah ketika tahu pintu kamarnya tidak terkunci.Padahal dia ingat betul kalau ia sudah menguncinya.


"Siapa disana?"Seru Lita lantang.Michael menakup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Jawab siapa disana?"


Michael jadi ketakutan sendiri.Ia melangkah mundur menyorokkan diri di sudut ruangan.Lita terus mencari dengan memutar-mutar tongkatnya.Hingga tanpa sengaja ia tersandung kaki kursi dan tersungkur ke lantai.


Michael secara refleks melompat menahan tubuh Lita agar tidak terhantuk.Nafas Michael yang hangat menerpa wajah Lita,menyadarkan wanita itu bahwa jarak diantara mereka sangatlah dekat.Lita mendorong cepat tubuh gagah itu hingga terduduk di lantai.Ia beringsut mundur menjauh.


"Sejak kapan kamu disini?"Wajah Lita bersemu.Michael bingung sendiri harus menjawab apa.


"Jawab!!!"Bentak Lita keras.


"E...e... ma-maaf,aku tidak bermaksud kurang ajar"


"Mau apa kamu masuk ke kamar ku tanpa ijin?hah??"


"A-aku sudah terbiasa keluar masuk kamar Danur,malah Danur sengaja ngasih kunci duplikat kamarnya padaku"

__ADS_1


"Kamu lupa kalau Danur sudah meninggal hah???"


"So-sory"Michael tampak menyesal.


"Lit"Tiba-tiba saja Retno muncul dari balik pintu.Ia tercengang melihat dua manusia yang sama-sama melantai tapi berjauhan.


"Ada apa ini?"Retno menghampiri sahabatnya lalu membantunya berdiri.Tak lupa Retno mengambilkan tongkat kepunyaan Lita.


Michael dan Lita sama-sama memilih tak menjawab"Kamu nggak apa-apa kan Lit?"


Lita menjawab dengan gelengan kepala.


"Damian masih ada diluar Ret?"Lita mengalihkan perhatian.


"Iya,dia ada diruang makan ditemani Om dan Tante"


"Baiklah,ayo kita keluar"Ajak Lita,Retno manut.Ia memapah Lita berjalan.Michael yang ditinggal sendiri,menghela nafas panjang.Ketegangan yang baru saja terjadi begitu memicu adrenalin.Namun ia tidak bisa melupakan bentuk tubuh tanpa sehelai benang yang tadi terpampang jelas di depannya.Ingin sekali ia merengkuh tubuh itu dengan penuh kasih.


"Pantas Danur bucin banget sama istrinya"Desah Michael.Ia tersenyum,geli sendiri.


___


Damian berbinar melihat wanita yang mendebarkan jiwanya berjalan ke arahnya.Retno membantu Lita duduk berhadapan dengan Damian yang hanya disekat meja makan berbentuk oval besar.


"Pagi Dam"Sapa Lita.


"Pagi Mama cantik"Jawab Damian,Lita tersenyum simpul.


"Cewekku??"


Lita mengiyakan.


"Maksudmu Andin?"


"Terus berapa banyak cewekmu"


"Emangnya kapan dia kesini?"


"Selepas kamu pulang kemarin"


Damian terdiam"Apa mungkin Andin mengikuti aku?"


"Dia ngapain kamu Lit?"


"Yah intinya dia nggak suka kamu masuk ke perusahaanku"


"Tapi dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?"


Lita menggeleng.


"Jangan bohong..."Tiba-tiba Michael muncul,tanpa segan ia mencium pipi Lita lalu duduk di sampingnya.Damian terpana melihat pemandangan itu.Hatinya bergemuruh cemburu.

__ADS_1


"Mic"Wajah Lita merah padam.Ia mengusap pipi bekas ciuman laki-laki itu.


"Kenalkan,namaku Michael Ridwan.Sepupu Danur Wenda dari Jerman"Michael mengulurkan tangannya.Tatapan Damian menukik tajam ke mata Michael yang menyingkapi sikap Damian dengan senyuman.Dengan setengah hati Damian menjabat tangan Michael.


"Damian Aryaguna"


"Dia yang akan memantau perkembangan perusahaan dibawah kekuasaanmu Dam"Jelas Lita.Michael menelisik wajah Lita yang selalu tersenyum kepada lawan bicaranya,dan ia tak suka itu.


"Ohh baguslah"Tanggap Damian masih dengan tatapan kurang suka dengan laki-laki yang memperhatikan Lita begitu dekat.


Michael mencengkram rahang Lita lalu diraihnya wajah yang terlihat kaget itu hingga menoleh kepadanya.


"Kenapa kamu tidak mau tersenyum padaku?"Wajah keduanya begitu dekat.Lita berusaha melepaskan diri namun cengkraman di rahangnya begitu kuat.


"Lepasin"


"Hey lepaskan dia"Damian bangkit dari duduknya dan menggebrak meja.Orang tua Lita dan Retno yang sejak mula hanya jadi penonton sangat terpana dengan adegan yang terjadi di depan mata mereka.


Michael melepaskan cengkeramannya,ia membisikkan sesuatu di telinga Lita sehingga membuat mata Lita membulat sempurna.Lita nampak pias,ia sangat canggung sekali.Michael tersenyum licik ke arah Damian.


"Lit kamu kenapa?Apa yang dia katakan kepada kamu?"Damian gusar melihat wanita pujaan hatinya begitu tertekan.


"Ee emm kamu berangkatlah bersama Retno.Dia akan banyak membantumu tentang perusahaan yang akan kamu tangani.Maaf aku tidak bisa mengantarmu Dam"


Retno menyudahi sarapannya,ia memberi kode kepada Damian untuk segera berangkat.


"Tapi Lit"Damian yakin ada yang tidak beres.Ia tidak bisa meninggalkan Lita dalam keadaan begini.


"Ayoooo"Retno menarik lengan Damian untuk segera berangkat.Dengan terpaksa Damian menurut.Michael melambaikan tangannya ke arah Damian seperti sebuah olokan.


"Ret... tunggu"Damian menyentak lengannya.


"Ada apa lagi Dam?Kita harus segera berangkat.Karena rapat dewan direksi akan dilaksanakan jam delapan pagi"


"Tapi Aku tidak bisa meninggalkan Lita dengan laki-laki itu,dia terlihat licik sekali"


"Dia tidak akan berbuat macam-macam kepada Lita,kamu tahu sendiri kan Lita gimana?"


"Kalau Lita tidak buta aku tidak akan sekhawatir ini Ret"


"Dia tidak akan mengapa-ngapakan Lita,Dia begitu karena peperangan kalian berdua"


"Maksudmu?"


"Dam..aku tahu kamu dari dulu suka sama Lita.Dan Michael pun terlihat sama.Masak begitu saja kamu nggak ngerti?"


Damian terdiam,matanya menatap sayu ke dalam rumah Lita.


"Ayok Dam..."Retno bergegas masuk ke dalam mobil.


Akhirnya dengan berat hati,Damian berangkat ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2