
Rasa sesal menggerogoti hati,Damian lama membisu.Sesekali ia melirik Andin yang pulas di kursi penumpang disebelahnya.Entah apa yang direncanakan oleh gadis ini?Yang jelas pasti bukan hal baik untuk Damian.
Pria itu menelungkupkan wajahnya diatas steering mobil,wajah Lita menggoda hati sehingga menciptakan gurat penyesalan.Jika benar apa yang ia pikirkan telah direncanakan oleh Andin,maka pupuslah sudah semua angannya untuk memiliki Wanita pujaan hatinya itu.
Helaan nafas panjang berkali-kali Damian hembuskan,ia melihat arloji di tangannya.Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.Damian menghidupkan mobilnya,ia memutuskan untuk mengantarkan Andin ke rumahnya.Perkara yang belum tentu terjadi tak mau Damian pikirkan.Besok pagi ia harus bangun lebih awal untuk menyambangi kediaman Lita.
Tak butuh waktu lama,Damian sudah sampai di depan rumah besar milik keluarga Atmajaya.Damian sedikit mengguncang bahu gadis disampingnya.
"And...And..Bangun"
Andin menggeliat, ia membuka matanya yang masih terasa mengantuk.
"Ada apa sayang hem?"
"Kita udah sampai di depan rumah kamu,cepet turun"
"Hah??"Andin terhenyak,ia menatap sekitar dengan bola mata tak percaya.
"Cepet turun"Pinta Damian setengah memaksa.Andin merengngut kecewa,hatinya sakit sekali.
"And... cepet turun udah malem banget nih"
"Ok ok ok...Jahat kamu Dam"
"Aku jahat apa sama kamu?"
"Apa kamu sudah lupa yang baru saja terjadi diantara kita?Tak berartikah semua itu bagimu Dam?"
"Kau yang memaksaku And"
"Tapi kamu juga mau"Bantah Andin.
"Sudahlah cepat keluar"
Dengan kasar Andin menutup pintu mobil.Damian yang pergi menjauh menaiki mobil ditatapnya sampai lenyap tak terlihat.Dadanya terasa sesak,dengan langkah berat Andin masuk kedalam rumahnya.Rasa perih dibawah pusarnya masih ngilu,tapi tak seperih hatinya yang begitu tak berharga dimata laki-laki yang ia cintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa,Michael akan mengecup pipi Lita sebelum duduk untuk sarapan.Membuat Damian yang menyaksikannya sangat amat muak,apalagi melihat ekspresi Lita yang santai dengan senyuman manis tersungging.
"Lit,nanti sebelum berangkat aku mau membicarakan hal yang penting denganmu"Ungkap Damian mencoba menutupi kecemburuannya.
"Hal penting apa?"Tanya Lita.
"Maaf Pak Damian,mulai sekarang jika ingin membicarakan sesuatu harus melewati saya atau harus ada saya"Timpal Michael.
"Ini urusan saya dengan Lita Pak Michael"
__ADS_1
"Apapun itu"Michael tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Lit..."Nada suara Damian seperti sebuah permohonan.Lita menggenggam tangan Michael.
"Boleh ya"Pujuk Lita.Michael menatap ragu Damian dan Lita secara bergantian.Namun jika merasakan sentuhan tangan Lita yang seperti sebuah kepercayaan,akhirnya Michael mengijinkan.
Damian merasakan ada hal yang tidak ia sukai diantara Lita dan Michael.Ia berharap itu hanya perasaan semu dari sebuah kecemburuan.
___
"Ada apa Dam?"Tanya Lita setelah keduanya duduk berhadapan.Hanya tersekat sebuah meja bundar berukuran sedang.
"Aku ingin membicarakan hal tentang semalam"
"Bukankah aku sudah menjawabnya"
"Aku ingin lebih kamu yakin terhadap perasaanku Lit,aku serius,aku tidak main-main.Tolong pertimbangkan lagi"Bujuk Damian dengan penuh harap.Lita meraba-raba meraih tangan Damian.Ia menggenggam erat tangan itu dengan sebuah kepercayaan penuh.
"Dam,,aku tahu kamu sungguh sungguh padaku.Tapi,hatiku masih belum bisa menerima orang lain selain suamiku"
"Sungguh??bukankah sepertinya kamu dengan Michael ada suatu hubungan khusus?"Tanggapan Damian seperti sebuah interogasi.Reflek Lita melepas genggaman tangannya.
"Jadi dugaanku benar"Damian begitu mengintimidasi mental Lita.Kekecewaan membuak-buak dalam sanubarinya.
"Apa kurangnya aku Lit?sampai kamu tidak memberi aku sebuah peluang.Padahal apapun aku lakukan hanya untuk kamu"
Michael yang sejak tadi menguping,langsung keluar memberikan benteng perlindungan untuk wanitanya.Ia mengajak Lita untuk masuk ke dalam.
"Apakah masih kurang jelas Pak Damian?saya sudah mendengar semuanya,rasanya Lita sudah cukup menjelaskan kepada anda.Jadi kurang apalagi?"
"Lit,,,tolong jangan pergi dulu"Bujuk Damian melihat Lita seperti menuruti kemauan Michael.
"Dia harus istirahat Pak Damian,karena nanti siang adalah jadwal dia untuk cek up ke Dokter mata"Kilah Michael memberikan alasan.
Damian terdiam menatap kepergian Lita yang dirangkul mesra oleh Michael dengan hati yang kecewa teramat sangat.Ia pun pergi tanpa pamit untuk melakukan rutinitas seperti biasanya.
___
Di dalam ruangannya tidak banyak yang bisa Damian kerjakan,ia hanya duduk dengan kursi yang tak dibuat diam.Bolpoin kecil ia gigit dengan pikiran menerawang kemana-mana.
Disatu sisi ia takut Andin akan melakukan sesuatu seperti yang ia pikirkan.Dilain sisi ia tidak mau kehilangan Lita untuk kesekian kalinya.Tapi ia buntu harus bagaimana?Lita sudah menjelaskan tentang perasaannya,bahwa ia hanya menganggap sosok Damian sebagai sahabat.Tidak lebih!
Tapi hati pria ini seperti menolak keras anggapan Lita terhadapnya.Ia tidak mau Lita begitu,ia mau Lita mencoba untuk mencintainya.Sekali saja ia ingin Lita mencoba dan merasakan bagaimana kuatnya perasaannya kepada wanita itu.Tapi?????
AKKKKKHHHHH!!!
Damian meremas rambutnya dengan menggunakan kedua tangannya.Ia bingung,sangat bingung.
__ADS_1
___
Michael baru saja membuat kue bolu isi coklat.Ia meletakkannya di atas pinggan berukuran sedang.
"Hemmmm wanginya,sepertinya enak"Puji Mbok Fatma.Michael tersenyum,ia mencubit pipi keriput itu.
"Maaf ya Mbok,kali ini Mbok dilarang mencicipinya"
"Kenapa Tuan?"
"Karena ini spesial aku buat untuk Lita seorang"
"Ahhh masak sedikit aja nggak boleh"
"Nggak boleh"
"Pelit ah"Mbok Fatma cemberut berlagak ngambek.Michael hanya senyam-senyum.
"Tadi Michael habis memeriksa keadaan Lita,Dokter menyarankan agar Michael bisa membuat semangat hidupnya Lita tumbuh lagi.Salah satunya,membuat ia bisa jatuh cinta lagi.Karena apa yang dialami Lita lebih ke masalah psikis"
"Jadi Tuan sebenarnya hanya ingin Nona semangat lagi gitu?"
"Ya nggak juga Mbok,aku juga suka sama dia"
"Emmmm apa tidak masalah bagi Nyonya Besar Tuan?"
"Michael udah cerita kok sama Mama"
"Ya bukan apa Tuan,karena Mbok tahu betul karakter Nyonya Besar.Berbeda sama Mamanya Tuan Danur"
"Tapi aslinya Mama kan baik Mbok"
"Iya sih"
"Ya udah,aku ke dalam dulu ya Mbok"
"Beneran nih Mbok nggak boleh nyicipin"
Michael hanya mengerlingkan matanya sambil lalu berjalan menuju kamar Lita.
Aroma khas bolu coklat menyerang indra penciuman Lita yang sangat sensitif.Ia mengendus-endus,salivanya seketika mencair.
Michael tersenyum tipis,ia duduk di bibir kasur tepat berdekatan dengan wanita itu.
"Enak kan??dari baunya aja udah kerasa"Ucap Michael memuji diri sendiri.
"Kau buat sendiri?"
__ADS_1
"Iya dong"
Senyum yang tersungging perlahan memudar,kenangan lalu terimbas kembali.Disaat Danur yang sangat pintar memasak selalu menyajikan masakan enak buat dirinya.Michael merasakan perubahan air muka kekasihnya.Ia membelai lembut pipi mulus itu.