
Di waktu subuh, ketika adzan subuh sudah menggema alina terbangun dari tidur nyenyaknya perlahan ia membuka mata, namun dia merasakan ada sesuatu yang menimpah perutnya.
"Ammmmppphh..." Hampir saja alina berteriak subuh-subuh jika dia tidak menyadari bahwa dia sudah menikah dan langsung menutup mulutnya sendiri.
Di liriknya ke arah samping terlihat laki-laki di sampingnya masih tetidur pulas dengan nafas teraturnya. Alina ingin sekali membangunkan jovan untuk sholat subuh. Namun lagi-lagi dia tidak punya keberanian untuk itu.
Dengan perlahan alina menyingkirkan tangan jovan dari atas perutnya. Jovan yang merasakan ada gerakan diapun ikut terbangun, perlahan dia membuka matanya. Dilihatnya alina sedang ingin beranjak menuruni tempat tudur.
Dengan cepat gerakan tangan jovan menarik tangan alina, hingga membuat alina terjatuh di atas tubuh jovan.
Alina membelalakkan matanya, pandangan mereka pun berserobok.
"Jovan. Ja..jangan seperti ini, aku mau mengambil wudhu." Kata alina dengan nada gugupnya.
"Kenapa lo ninggalin gue tidur semalam? lo lupa ya kalau gue bakalan minta hak gue sebagai suami lo dan sekarang lah waktunya." Tukas jovan sedikit membuat alina terkejut.
Alina semakin melototkan matanya, dia tidak tau harus berkata apa. Alina semakin tergagap ingin rasanya memaki-maki laki-laki yang ada di depannya sekarang.
Dengan gerakan cepat alina menarik dirinya dari tubuh jovan, dan langsung turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Alina memegang dadanya yang berdetak sangat kencang, lagi-lagi pagi ini jovan melakukan hal di luar pikirannya.
Dasarrr laki-laki mesum, ini kan masih subuh bagaimana dia bisa melakukan hal konyol seperti tadi. batin alina memaki jovan dalam hati.
Di lepasnya hijab yang masih menempel di kepalanya sejak semalam, memang alina belum berani membuka hijabnya di depan jovan meski dirinya sudah menjadi istri sah, namun dia masih merasa malu dan canggung.
Alina mengambil wudhu, usai mengambil wudhu alina pun keluar dari kamar mandi dan segera mengambil perlengkapan sholat yang biasa digunakan.
Sementara jovan mamandangi alina yang tidak pernah membuka penutup kepalanya ketika di hadapannya padahal dia sudah menjadi suaminya.
Jovan pun beranjak menuju kamar mandi karena dia juga harus melaksanakan sholat, yang awalnya sholatnya masih bolong-bolong tapi ketika melihat alina setiap waktu melaksanakan sholat ia pun juga ingin berusaha agar kewajibanny tidak lalai.
Usai melaksanakan sholat alina pun kembali duduk di tepi tempat tidur miliknya. Dia melihat jovan yang baru saja keluar dari kamar mandi, serta sudah memakai baju koko dan sarung serta kopiah, membuat aura jovan keluar. Alina terkesima melihat penampilan suaminya saat ini.
Ya allah dia tampan sekali sih kalau pakai baju koko seperti itu. Ucap alina dalam hati memuji penampilan jovan yang baru di lihatnya.
Dengan khusu' jovan melaksanakan sholat subuh dua raka'at. Usai melaksanakan sholat dia melihat ke arah tempat tidur, pandangannya tertuju pada alina yang sedang duduk disana.
Jovan kembali melepas baju koko serta sarung yang di pakai sholat hanya tersisa baju kaos serta celana boxer di tubuh sispeknya.
"Lin gue mau ngomong." Kata jovan menghampiri alina dan duduk tepat di samping alina.
Alina menoleh ke samping dan melihat jovan sudah duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku mau ke bawah bantuin bunda masak sarapan di dapur." Sahut alina cepat, takut jovan akan kembali memebahas dan meminta haknya, alina beranjak dari duduknya.
"Nggak, dengerin gue dulu bentar aja." Sahut jovan dengan cepat dia menahan tangan alina.
"Kita tinggal di rumah gue ya?" Seru jovan kemudian.
Membuat raut wajah alina sedikit terkejut. Alina tidak mau meninggalkan rumahnya, dan tidak mau jauh dari bundanya, dia belum siap jika harus tinggal terpisah dengan orang tuanya.
"Aku nggak bisa, aku mau tinggal di sini, aku nggak bisa ninggalin bunda di rumah, aku belum siap." Sahut alina.
Jovan sedikit kecewa mendengar jawaban alina, pasalnya ayahnya sudah menyuruhnya untuk masuk kerja dalam satu minggu ke depan, dan jarak rumah sakit tempatnya bekerja sangat jauh dari rumah alina. Maka dari itu dia memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri yang telah di belikan oleh ayahnya waktu itu, karena jaraknya lumayan dekat dari rumah sakit umum kota.
"Baiklah biar aku yang coba ngomong sama bunda dan ayahmu." Kata jovan lagi.
Jovan melepaskan tangan alina, membiarkan alina keluar dari kamar. Alina dengan cepat dia meninggalkan kamar miliknya.
Sementara jovan hanya memandang punggung alina yang menghilang dari balik pintu. Setelah itu jovan kembali merebahkan dirinya di tempat tidur.
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya dan siap menyinari bumi, waktu sudah menunjukan pukul 07.30 pagi. Alina serta bunda rumi sedang menyiapkan sarapan pagi tidak lupa di bantu oleh bi muna.
"Bun semuanya sudah siap." kata alina setelah selesai menata semua menu sarapan di meja makan.
"Bunda mau panggil ayah dan abagmu dulu ya, alina panggilin suaminya ya nak." Ucap bunda rumi.
Alina hanya mengangguk mengiyakan ucapan bundanya.
Alina sedikit menggoyangkan bahu jovan sambil memanggil jovan.
"Jovan ayo bangun, waktunya sarapan." Kata alina seraya menyentuh bahu jovan.
Jovan merasa ada yang membangunkannya, perlahan ia membuka matanya. Di lihatnya alina sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Di panggil sama bunda buat sarapan." Kata alina setelah melihat jovan membuka matanya.
"Hmmm." Jovan hanya bergumam, lalu duduk sebentar.
"Gue mau mandi dulu. Setelah itu gue turun." Ucap jovan beranjak menuju kamar mandi.
Alina tidak menjawab ucapan jovan, dia langsung turun ke bawah menuju dapur.
"Loh suami mu mana sayang?" Tanya bunda rumi yang sedang mengisi piring kosong suaminya serta aby putranya.
"Lagi mandi bund, sebentar lagi nyusul." Sahut alina.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu nungguin suamimu sarapan." Ucap aby.
Alina yang sudah duduk di kursi meja makan dan hampir mengisi piringnya seketika terhenti mendengar ucapa abangnya, alina melihat ke arah bundanya.
Bunda rumi hanya mengangguk tersenyum.
"Iya sayang, tunggulah suamimu jangan sampai dia sarapan sendiri. Nggak baik." Ucap bunda rumi kemudian.
Dengan raut wajah cemberut alina kembali meletakkan sendok nasi. Hanya duduk menunggu suaminya.
Tak lama setelah itu jovan datang dan duduk tepat di samping alina.
"Maaf jovan lama. bunda, ayah." Kata jovan sudah tidak merasa canggung dengan suasana rumah yang tinggalinya saat ini.
Jovan memang memiliki sifat ker, dan benar saja dengan tidak malu-malunya langsung memanggil orang tua alina dengan sebutan ayah dan bunda seperti alina memanggil.
"Nggak apa-apa nak. lin siapkan sarapan suami mu." Ucap bunda mengingatkan alina jika harus melayani suaminya dengan baik.
Alina dengan cekatan dia mengisi piring kosong jovan. Setelah itu dia juga mengisi piringnya sendiri.
Semuanya menikmati sarapan dengan suasana tenang.
Di selah sarapan jovan ingin megutarakan niatnya pada orang tua alina bahwa dia ingin mengajak alina tinggal bersamanya.
"Ayah." Panggil jovan.
"Ada apa nak?" Sahut ayah hendra dengan ramah.
"Begini ayah, bunda, dan juga bang aby. Saya berniat untuk membawa alina tinggal bersama saya di rumah." Ucap jovan dengan yakin berharap keluarga alina mengijinkannya.
Tentu saja membuat bunda rumi sedikit terkejut, rasanya tidak ingin putrinya jauh darinya. Tapi dia berfikir jika alina sudah menikah dan suaminya lebih berhak, mau tidak mau dia harus mengijinkannya. Begitupun dengan ayah hendra dia mengijinkan alina untuk ikut bersama suaminya.
Alina menunduk, ingin rasanya menangis ketika jovan memutuskan untuk mengajaknya tinggal bersama.
"Baiklah. Kami mengijinkannya nak." Ucap ayah hendra.
"Ayah." Lirih alina menatap ke arah ayahnya, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Sayang, kamu kan sudah punya suami jadi harus mengikuti suami kemana pun. Ikuti perintah suami ya nak." Kata bunda rumi cepat, karena sudah melihat raut wajah sendu putrinya.
Akhirnya alina pun mengangguk patuh.
"Kapan rencana kalian akan pindah?" Tanya ayah hendra.
__ADS_1
"Rencananya besok pagi yah." Sahut jovan.
Semuanya mengangguk kecuali alina yang masih sangat berat ingin meninggalkan rumahnya.