Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 19


__ADS_3

Hari ini aby sudah di perbolehkan untuk pulang, karena kondisi sudah sangat membaik. Shanum masih setia menjaga aby hingga menjelang kepulangannya ke rumah, namun selama shanum menjaganya aby sama sekali tidak pernah bertanya ataupun berbicara satu sama lain. Hanya shanum yang sesekali mengajaknya berbicara ketika akan menyuruh aby makan.


"Biar aby sendiri bunda, aby masih bisa kok." Ujar aby ketika akan beranjak dari tempat tidur bunda rumi dan shanum berniat akan membantuyna.


"Tapi nak, kondisi kamu..." Belum juga bunda rini menyelesaikan ucapannya aby tiba-tiba saja merasa begitu pusing.


Seketika aby memegangi kepalanya.


"Kak aby kenapa." Tanya shanum khawatir dan menghampiri aby.


Aby menggeleng samar tidak ingin membuat siapapun khawatir dengan kondisinya.


"Aku tidak apa-apa." Jawab aby yakin.


"Apa sebaiknya kamu jangan dulu pulang hari ini nak?" Kata bunda.


"Aby sudah ingin pulang, sudah bunda ini hanya pusing biasa tidak perlu ada yang di khawatirkan lagi. Aku baik-baik saja. Kata aby yakin tidak ingin membuat bundanya semakin khawatir.


Bunda hanya mengangguk pasrah menuruti kata aby.


"Kak aby jangan membantah kata bunda, sebaiknya kak aby masih harus di rawat di sini." Ujar shanum sedikit kekeh, karena dia pun merasa khawatir dengan keadaan aby yang baru saja.


"Jika aku lebih lama di rawat disini apa kamu masih mau merawatku? aku tidak mau membuat wanita sibuk sepertimu repot. Aku tetap saja merasa tidak enak." Kata aby melihat ke arah shanum.


"Selama kak aby membutuhkan bantuanku maka shanum akan tetap ada." Sahut shanum.


"Kalau begitu aku mau kita kembali rujuk dan menjadi suami istri lagi, karena tidak ada pembenaran bagi laki-laki dan wanita muslim bisa selalu dekat jika tidak ada ikatan bukan?" Aby berucap dengan mantap di hadapan shanum di saksikan oleh bunda rumi.


Seketika shanum mengarahkan pandangannya kepada aby, rasa terkejut tentu saja shanum rasakan. Benarkah aby memintanya kembali menjadi istrinya? Apa aby mau menerimanya menjadi istri sesungguhnya dan bukan istri yang selalu di abaikan seperti sebelumnya.


Kembali timbul fikiran-fikiran yang mulai menggoyahkan pendirian shanum.


"Jika kamu mau memberiku kesempatan sekali lagi shanum, aku berjanji di depan bunda hari ini dan detik ini aku ingin kamu menjadi istriku kembali. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan-kesalahanku yang lalu." Kembali aby bersuara dengan yakin.


Ada rasa bahagia di benak shanum mendengar semua ucapan aby, meski shanum belim yakin jika aby bersungguh sungguh namun entah kenapa ada sedikit rasa senang yang ia rasakan saat ini.


Shanum melihat ke arah bunda rumi seolah meminta di yakinkan hatinya melalui naluri seorang ibu. Dan bunda rumi mengangguk tersenyum terlihat jelas ada pancaran bahagia di wajah wanita paruh baya itu mendengar ucapan putranya yang sepertinya bersungguh sungguh.

__ADS_1


Lepas dari menatap wanita paruh bayah yang saat ini sedang duduk di sofa, shanum kembali manatap ke arah aby sebentar detik kemudian ia kembali menunduk. Di sisi lain shanum ingin sekali kembali menjadi sorang istri dari aby tapi kembali lagi pada kejadian-kejadian menyakitkan yang ia rasakan selama bersama aby membuat shanum seolah ragu untuk menerima aby kembali.


"Baiklah, aku sudah mengetahui jawabannya shanum. Aku tidak mau lagi membuang-buang waktuku di sini lebih lama lagi. Aku sudah berjanji pada ayah jika aku sudah pulih sepenuhnya, niat awalku ingin pergi ke turki tetap aku jalani dan mungkin akan menetap di sana memulai hidup baru." Kata aby dengan keputusan terakhirnya yang ingin melanjutkan niatnya sebelum terjadi kecelakan padanya.


"Bunda sebaiknya kita pulang sekarang." Aby melihat ke arah bundanya, yang memang aby tidak ingin lagi membuat shanum yang mungkin benar-benar menginginkan kepergiannya.


Bunda rumi mulai mengangkat barang-barang yang bisa ia bawa berniat ingin membawanya ke mobil.


"Apa kak aby benar-benar akan meninggalkan gadis yang sekarang sudah menjadi yatim piatu ini? dan apa kak aby tega membiarkannya menjadi seorang janda di masa depan. Meskipun aku berpisah dengan kak aby, itu tidak menjamin shanum akan hidup bahagia yang bisa dengan mudahnya menemukan pengganti lain di luar sana. Tidak semudah itu kak aby, hati wanita bodoh ini sudah terlanjur memilih kak aby." Dengan suara bergetar lirih shaum menangis mengucapkan semuanya pada aby, Dengan spontan shanum memegang menahan ujung kemeja yang di kenakan oleh aby dengan sebelah tangannya. Seolah tidak ingin aby pergi dari kehidupannya.


Menghentikan langkah aby yang akan meninggalkan ruangan perawatannya selama hampir satu bulan kemarin.


Seketika air mata aby mengalir begitu saja mendengar penuturan shanum, aby benar-benar telah mengabaikan permata berharga dalam hidupnya selama ini, Sampai kesalahan yang mungkin orang lain tidak akan mudah memaafkannya, Ternyata shanum mampu melakukan semua itu.


Aby berbalik menghadap shanum, menatap wajah cantik yang kini terlihat sangat sendu itu.


"Shanum..." Gumam aby dengan suara bergetar menjeda kalimat yang ingin ia ucapkan.


"Apa itu artinya kamu akan memaafkan laki-laki bodoh yang sudah menyia-nyiakanmu shanum?" Ucap aby dengan tetap menatap wajah wanita yang ada di hadapannya sekarang.


"Terima kasih." Ucap aby penuh haru campur bahagia.


Bunda rumi yang manyaksikan itu, hanya tersenyum bahagia menggumamkan rasa syukur yang teramat dalam hati.


Terimakasih ya allah kau telah menyadarkan putraku.


Gumam bunda rumi melihat kesungguhan aby selama ini.


Aby tersadar jika ia sudah memeluk shanum.


"Maaf." Ujar aby ketika ia tersadar sudah melakukan kesalahan yang mungkin akan membymuat shanum risih.


"Bunda aku akan meminta pada pengacara ayah untuk membatalkan perceraian kami di pengadialan besok." Kata aby pada bundanya.


"Iya nak, lakukan selama itu yang terbaik bunda selalu mendukungmu nak." Sahut bunda rumi tak kalah bahagia.


Aby kembali melihat ke arah shanum, ia berfikir akan mengucapkan kata rujuk pada gadis yang pernah di berikan ucapan kata talak bulan lalu.

__ADS_1


"Shanum Farisha, saya Abyaz Zarendra Gunawan memutuskan untuk kembali rujuk menjadi suamimu." Ucap aby lantang di saksikan oleh bundanya.


Shanum mengangguk, air mata haru kembali menetes di sudut matanya.


Aby kembali memeluk shanum, besyukur masalah telah mendapat kesempatan untuk bisa menjadi suami shanum.


"Terima kasih shanum, terima kasih sudah memaafkanku." Ujar aby masih dengan memeluk tubuh mungil shanum.


"Ada apa ini?" Suara ayah hendra tiba-tiba mengaget mereka.


"Ayah?" Bunda rumi melihat ke arah suara yang baru saja masuk ke ruang perawatan itu.


"Apa kamu menyakitinya lagi aby?" Ayah hendra sudah melihat ke arah aby dengan tatapan kemarahan.


Aby melepas pelukannya dari shanum dan melihat ke arah ayahnya.


"Ayah tolong minta pengacara ayah untuk membatalkan perceraian kami, aku sudah kembali rujuk dengan shanum." Kata aby ada pancaran bahagian di raut wajahnya.


"Apa kamu yakin? seminggu lagi adalah sidang ketiga perceraian kalian dan sudah akan di keluarkan hasil keputusan hakim, apa kamu serius dengan keputusanmu, apa ayah bisa menjamin jika kamu tidak akan mengulangi kesalahanmu lagi?" Kata ayah menatap ke arah aby.


"Aby berjanji tidak akan mengulangi kesalahan." Sahut aby singkat namun dapat meyakinkan ayahnya.


"Kalau begitu ayah akan memenuhi permintaanmu." Ada rasa bahagia mendapatkan putranya kembali sehat dan mendengar kabar jika shanum dan aby akan kembali.


"Aby akan membawa shanum pulang ayah." Ucap aby membuat ayahnya memelotokan mata padanya.


"Baiklah, untuk sementara kalian pulang ke rumah utama. Selama pemulihan aby di rumah." Ujar ayah hendra.


Aby dan shanum mengangguk.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2