
Saat ini aby sudah berada di ruang IGD, tim perawat dan dokter sedang menaganinya saat ini.
Shanum dan gio menunggu di depan ruang IGD dengan penuh rasa khawatir.
Shanum tidak henti-hentinya menangis, mengingat terkhir kali aby berpamitan padanya beberapa saat yang lalu, namun shanum seolah masa bodoh dengan kesungguhan aby.
Semetara orang tua aby sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, sebelumnya gio sudah mengabari hendra ayah dari aby.
Terkejut bukan main, itulah yang di rasakan ayah hendra dan tentu saja membuat bunda rumi menangis histeris ketika ikut mendengar suara gio di balik telepon, hingga membuatnya tidak sadarkan diri mendengar sang putra kesayangannya kecelakaan dan saat ini sedang di tangani.
Begitu juga dengan alina, tak kalah histeris mendengar kabar abang kesayangannya kecelakaan.
Masih menunggu kabar dari dokter gio terus saja berjalan resah sesekali ia duduk di kursi depan ruang IGD, ia sangat menyesal tidak menuruti permintaan gio yang memintanya untuk menyebrang jalan dan membuat aby terpaksa mengalah. Gio sangat menyesal akan semuanya, mungkin jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu gio tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Maafin gue by, gue nggak akan maafin diri gue sendiri.
Gio sejak tadi terus saja bergumam dalam hatinya, meminta keselamatan aby. tidak terasa cairan bening menetes di sudut matanya, mengingat perjuangan sahabatnya demi mendapatkan hati wanita yang pernah di sakiti.
Gio melihat ke arah shanum yang sedang duduk di kursi tunggu, sudah sejak tadi tak henti menangis.
"Jangan pura-pura menangis kamu, kalau sampai terjadi apa-apa dengan aby kamu akan menyesal shanum, aby sudah begitu berusaha malakukan semuanya demi ingin mendapatkan sebuah kesempatan tapi apa yang dia dapat.." Gio tidak melanjutkan ucapannya, gio berfikir tidak ingin ribut di keadaan seperti ini.
Shanum yang mendengar ucapan gio yang membuatnya merasa tertampar semakin membuat tangisnya menjadi saat ini.
Satu jam kemudian orang tua aby datang, juga alina dan jovan.
"Kak gio bagaimana keadaan bang aby?" Tanya alina langsung menerobos ke hadapan gio utuk menanyai kondisi abangnya saat ini.
Begitu sangat terlihat raut wajah khawatir di mimik wajah mereka yang baru saja datang.
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini gio." Tanya hendra.
Baru saja gio akan menjawab pertanyaan hendra namun terdengar ruang pintu IGD terbuka di sana sudah menampilkan seorang perawat yang keluar dengan terburu-buru.
"Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya hendra ketika melihat soerang perawat tersebut.
Detik kemudian keluarlah seorang dokter yang telah menangani aby di dalam sana.
"Bagaimana keadaan abang saya dokter?" Kali ini jovan yang bertanya.
Dengan berat hati dokter laki-laki itu seperti berat ingin mengeluarkan kata-kata. Jovan bisa membaca semua itu.
"Katakan dokter." Ucap hendra dengan sedikit membentak karena sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui keadaan putranya.
__ADS_1
"Maaf pak keadaan pasien saat ini sedang sangat keritis dan harus segera di lakukan operasi karena akibat benturan yang terjadi pada bagian kepala pasien hingga menyebabkan pendarahan di bagian otaknya saat ini masih dalam keadaan tertangani. Dan tim kami sedang mengusahakan yang terbaik" Ucap dokter tersebut.
Seperti terkena hantaman batu besar semuanya menegang mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh dokter tersebut. Terutama bunda rumi yang saat ini berada di pelukan alina, kembali tidak sadarkan diri.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk putra saya dokter." Ujar ayah hendra.
"Bundaaa." Teriak alina takut.
"Kak jo tolong bunda." Dengan penuh rasa takut alina memanggil suaminya.
"Bunda." Panik hendra melihat sang istri.
"Jo, tolong segera panggil petugas dan bawa ke ruang perawatan, ayah harus menyeselesaikan administrasi untuk aby.
Jovan dan alina membawa bunda rumi ke ruang rawat pasien karena memang sejak tadi bunda rumi selalu pingsan sejak mendengar kabar putra sulungnya kecelakaan.
Sementara ayah hendra saat ini masih terdiam mematung di tempatnya mendengar kabar bahwa putranya dalam keadaan kritis.
"Baiklah pak, tolong segera tanda tangani berkas persetujuan untuk melakukan tindakan pada pasien. Silahkan ke ruangan saya." Ujar dokter tersebut kemudian pergi ke ruangannya.
Di susul oleh ayah hendra untuk segera menyelesaikan administrasi.
Beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan administrasi, ayah hendra pun keluar dari ruang dokter tersebut kembali menemui gio yang sedang menunggu.
Gio yang sejak tadi hanya duduk seraya menunduk menumpuh keningnya dengan mengatupkan kedua tangannya sesekali mengusap kasar wajahnya, masih memikirkan keadaan sahabatnya. Gio benar-benar tidak menyangka semua ini bisa terjadi, kembali penyesalan itu datang ketika mengingat permintaan aby yang menyuruhnya untuk menghampiri mobil shanum dengan lugas gio menolaknya.
Loe pasti kuat by, jangan bikin gue nyesel seumur hidup gue.
Sejak tadi gio selalu bergumam tidak jelas dalam benaknya pikirannya kini sudah sangat di penuhi dengan aby yang dengan jelas ia mengingat kejadian beberapa saat lalu.
"Gio." Panggil ayah hendra yang belum juga mendapat jawaban dari gio.
Karena setau hendra gio lah yang mengantar aby ke bandara, lalu kenapa aby bisa mengalami hal seperti ini?
"Ini semua gara-gara shanum ayah." Tiba-tiba shanum bersuara di iringi isak tangisnya.
Hendra seketika menoleh ke arah shanum.
"Shanum? kamu disini?" Ayah hendra sedikit terkejut melihat keberadaan shanum saat ini, karena sejak tadi ia tidak mengetahui jika ada shanum di sana.
Shanum mengangguk. Tangis kembali pecah saat mengingat aby beberapa saat lalu mengalami kecelakaan.
"Kak aby menghampiri shanum meminta pamit ketika melihat shanum di seberang jalan, dan ketika akan menyebrang tidak segaja sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya..." Dengan suara isak tangisnya shanum menceritakan semuanya.
__ADS_1
Lagi-lagi membuat ayah hendra melongo mendengarnya, seluruh tubuhnya seolah tak bertenaga.
Apa sebesar itu kesungguhanmu untuk bisa memperbaiki semuanya, sampai kamu mengalami seperti ini nak?
Ayah hendra tidak bisa lagi menahan air matanya yang sejak tadi ia tahan. Karena selama ini dia selalu menyalahkan aby atas kesalahan yang pernah putranya lakukan, hendra mengaku aby salah namun biar bagaimana pun aby tetaplah putra kesayangan dan kebanggaannya.
Beberapa saat kemudian, sebuah brankar di dorong oleh beberapa perawat dari ruang UGD munuju ruang operasi dengan terburu-buru, gio, ayah hendra dan shanum sudah bisa menebak jika yang terbaring di atas sana adalah aby.
"Aby." Gumam ayah hendra.
"Kak Abyy." Sesegukan shanum memanggil nama aby ketika melihat sebuah brankar terdorong oleh beberapa perawat dan dokter.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter." Sekali lagi ayah hendra memohon pada dokter tersebut dan dengan penuh harapan dan keyakin dokter itu pun merespon ayah hendra.
Kini aby sudah berada di ruang operasi sedang berjuang melawan masa kritisnya dengan usaha sanga dokter.
Sementara di ruang perawatan lain di sana bunda rumi terbaring lemah masih belum sadar, namun detik kemudian bunda rumi kembali tersadar dan pandangannya langsung bertemu dengan alina dan jovan.
"Alin, bagaimana kondisi abangmu saat ini nak?" Lirih bunda rumi mengingat kondisi putra sulungnya.
Alina berusaha menahan kesedihannya, dan berusaha untuk menyalurkan ketegara dan kesabaran pada bundanya.
"Bunda, kita sama-sama berdo'a untuk bang aby, bang aby akan baik-baik saja." Ucap alina.
Bunda rumi mengangguk, sementara air mata kembali menetes.
****
Sudah satu jam berlalu operasi belum juga selesai, karena salah satu petugas di dalam sana belum juga ada tanda-tanda akan keluar.
Shanum terus saja berdoa dalam hati meminta semuanya akan baik-baik saja.
Semua fikiran-fikiran buruk terlintas di benaknya namun shanum segera meyakinkan diri dan menepisnya.
Satu harapan shanum saat ini, semoga saja aby baik-baik saja dan operasinya berjalan lancar. Sesekali shanum mengusap air mata yang tidak ada hentinya sejak tadi.
Shanum berjanji kak aby, akan memberikan apapun yang kamu minta, asal kak aby kembali baik-baik saja.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung....