Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 22


__ADS_3

Usai dengan kegiatan sarapan, aby memanggil shanum untuk menghabiskan waktu di ruang tv mengajak shanum menonton sambil mengobrol ringan, inilah yang di impikan oleh shanum selama ini yang ingin menghabiskan waktu berdua bersama orang yang di cintainya.


Saat ini shanum sedang fokus menonton begitu jg dengan aby yang sesekali menoleh ke arah shanum menatap wajah cantik wanita yang selama ini ia abaikan keberadaannya.


Shanum merasa di perhatikan oleh aby, iapun menoleh ke arah laki-laki di sampingnya saat ini.


"Tv nya di sana kak, bukan di sini." Ucap shanum membuat aby gemas melihat ekspresi wajah polos shanum.


Mendengar ucapan polos istrinya, aby terkekeh gemas.


"Tapi aku lebih menyukai melihat wajah cantik istriku ini." Sahut aby dengan lugas sambil mencubit gemas pipi mulus shanum yang saat ini sedang merona karena malu.


Shanum hanya pasrah dengan kelakuan suaminya hari ini, begitu sangat berubah dan berbeda dari sebelumnya, aby yang dulunya sangat bersikap dingin padanya kini telah menjadi laki-laki penyayang serta laki-laki yang bersikap lembut terhadapnya.


"I love you sayang." Bisik aby tepat di telinga shanum.


Berhasil membuat shanum kembali tersipu malu. Terharu tentu saja, shanum bersyukur do'anya selana ini telah di kabulkan. Shanum begitu sangat bersyukur dengan semua perubahan pada diri suaminya ini.


"Terima kasih, shanum juga mencintai kak aby. Tolong jangan buat shanum merasakan sakit lagi, sakit ketika di abaikan keberadaannya, aku janji akan menjadi istri yang baik untuk kak aby." Suara shanum bergetar menahan tangis haru merasa bahagia.


"Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi, tolong maafkan laki-laki bodoh ini sayang." Gumam aby yang saat ini sudah mendekap tubuh mungil sang istri.


Shanum mengangguk dan membalas pelukan suaminya.


"Shanum, apa aku boleh meminta sesuatu?" Kata aby.


Shanum mendongakkan wajahnya melihat wajah aby, detik kemudian mengangguk patuh.


"Shanum janji akan memenuhi permintaan suamiku." Jawab shanum yakin.


Keduanya saling bertemu tatap, tv yang sejak tadi mereka hidupkan menyala saja dengan percuma tanpa mereka tonton.


"Aku menginginkan putra dan putri sholeh dan sholehah lahir dari rahim mu jika Allah menghendakinya." Pinta aby pada sang istri.


Shanum tersenyum melihat ke arah aby dan kedua tangannya kini menangkup pipi suaminya.


"Shanum akan memenuhi permintaan kak aby, karna sudah kodratnya seorang istri melahirkan keturunan untuk keluarga dan suaminya, sekaligus bisa merawatnya kelak." Jawab shanum dengan yakin.


"Kalau begitu apa aku boleh memintanya sekarang?" Bisik aby di telinga shanum.


Lalu aby memberi kecupan di pipi sang istri, dan itu berhasil membuat shanum kembali tersipu malu.

__ADS_1


"Tapi ini kan masih pagi kak aby." Elak shanum karena memang dirinya belum terlalu siap jika aby akan meminta haknya sekarang apalagi ini masih terbilang pagi hari. Takutnya akan kedatangan mertuanya secara tiba-tiba di rumah mereka karena memang orang tua aby sering mendatangi rumah aby hanya untuk melihat kondisi aby yang sekarang semakin hari semakin membaik.


Tanpa ingin mendengar penolakan shanum aby beranjak dari duduknya dan meraih tangan shanum mengajaknya kembali ke kamar mereka.


Baru saja aby berjalan akan menaiki tangga dan di ikuti oleh shanum di belakangnya tiba-tiba suara bi muna memanggil keduanya, memberitahukan bahwa ayah hendra dan juga bunda rumi sedang di ruang tamu.


Seketika wajah aby terlihat geram, karena rencananya tidak pernah berhasil untuk mengajak shanum bercocok tanam 😁🤭


"Aby, bagaimana keadaanmu nak apa sekarang sudah membaik?" Tanya bunda rumi ketika melihat keberadaan aby.


"Alhamdulillah kak aby sekarang sudah lebih baik bunda, dan kak aby bilang sudah ingin memulai masuk kantor minggu senin besok." Ucap shanum menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


Karena shanum melihat perubahan wajah aby yang mungkin sedang merasa kesal saat ini, karena keinginannya tidak bisa terpenuhi.


Maafkan shanum kak aby. Batin shanum ketika memperhatikan wajah kecewa suaminya.


"Apa kamu yakin sudah bisa untuk memulai melakukan aktifitasmu di kantor aby?" Tanya sang ayah.


"Aby yakin ayah, keadaanku sudah baik-baik saja sekarang." Sahut aby.


Ayah hendra hanya mengangguk di menanggapi semangat putranya yang sudah mulai membaik dan ingin kembali bekerja di perusahaannya.


"Tapi bun..." Ucapan shanum terhenti karena aby lebih dulu memotongnya.


"Dengan senang hati aby akan lakukan saran bunda asal ayah mau menggantikanku untuk sementara waktu di perusahaan." Sahut aby cepat, bagaim mendapat angin segar mendengar saran berlian sang bunda.


"Ide bagus, ayah akan menggantikanmu sementara waktu, asalkan ketika kalian pulang bisa membawakan hadiah untuk kami nantinya." Ucap ayah hendra tidak kalah antusias.


"Hadiah?" Pertanyaan polos shanum mengulang kata hadiah ayah mertuanya.


Aby tersenyum kekeh melihat raut wajah bingung serta polos sang istri, rasanya ingin sekali mendekap shanum jika saja bukan sedang tidak berada di hadapan orang tuanya sekarang.


"Makasud ayah, kita harus secepat mungkin memberikan mereka cucu dari kita sayang." Kata aby menjelaskan perkataan ayahnya pada istri tercintanya.


Tentu saja langsung membuat shanum tersipu sangat malu, kemudian tersenyum kikuk di hadapan semuanya.


"Ayah yang akan memberikan kalian tiket, bagaimana?" Semakin bahagia saja aby mendengarnya, ini memang kali pertamanya sang ayah membebaskan dirinya untuk berlibur semenjak memegang perusahaan.


"Terima kasih ayah." Ucap aby dengan wajah berbinar.


Shanum hanya tersenyum mendengar ucapan sang ayah mertua, di sisi lain shanum juga memikirkan perusahaannya yang akan terbangkalai jika dirinya meninggalkannya dalam waktu yang lama.

__ADS_1


Aby menoleh ke arah shanum dan ia bisa melihat perubahan raut wajah sang istri yang mungkin sedang memikirkan sesuatu. Aby berniat akan meminta penjelasan nantinya ketika ayah dan ibu sudah pulang.


Saat ini aby harus mengetahui apapun yang menjadi keluh kesah istrinya, dia tidak mau membuat sang istri menanggung beban apapun ataupun merasa tidak nyaman di rumah ini.


Kedatangan orang tua aby seperti biasa hanya sekedar untuk melihat keadaan putranya dan sudah hampir tiga jam mereka menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol sesekali aby dan ayahnya membicarakan tentang perusahaannya, seraya menikmati cemilan yang telah di buat oleh bi muna.


"Kalau begitu bunda sama ayah pulang dulu ya nak, karena alin sedang di rumah bersama bayinya." Kata bunda yang sudah ingin pulang karena memang menghawatirkan alina sedang di rumah bersama putrinya yang sejak kemarin menginap di rumah utama karena jovan pergi ke luar negeri untuk melakukan seminar.


Karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang akhirnya orang tua aby berpamitan untuk segera pulang sebelum waktu dzuhur tiba.


"Ayah sama bunda pamit dulu, ingat nanti malam bersiaplah kalian nerdua ayah akan menyuruh gio untuk menyiapkan tiket keberangkatanmu besok pagi." Ucap ayah seraya beranjak dari tempat duduknya di ikuti juga oleh bunda rumi.


"Hmm." Sahut aby


"Terima kasih ayah, bunda." Ucap shanum, sedikit merasa tidak enak dengan hadiah yang di berikan oleh kedua mertuanya ini.


Menit kemudian rumah aby kembali sepi dengan kepulangan ayah dan bundanya, kini aby dan shanum berdua sementara bi muna mengerjakan pekerjaannya di belakang.


"Kamu kenapa sayang, dari tadi ku perhatikan wajahmu seperti tidak ingin menerima hadiah dari ayah, apa kamu keberatan? atau ada hal yang menganggu fikiranmu?" Tanya aby yang kini posisinya menghadap ke arah shanum.


Shanum menggeleng cepat tidak membenarkan perkataan aby.


"Buka. Bukan begitu kak aby, shanum senang bisa mendapatkan hadiah liburan dari ayah, aku hanya memikirkan perusahaan yang nantinya bisa berantakan jika aku tidak ada." Jawab shanum menjelaskan hal yang memang sejak tadi menjadi ke khawatirannya.


"Jangan khawatir bukannya ada faris? dia akan menangani semuanya sayang, jadi kita bisa jalan dengan tenang tanpa memikirkan pekerjaan, kamu tidak perlu hawatir. Oke?" Ucap aby sedikit meyakinkan shanum bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Apa perlu aku menghubungi kakak sepupumu itu? untuk menangani perusahaan selama liburan kita?"


"Biar shanum saja yang menemuinya."


Aby mengangguk mengiyakan shanum.


Keduanya kembali mengobrol santai, sepertinya aby melupakan rencananya untuk meminta haknya pagi ini pada shanum.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2