Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 62


__ADS_3

Hari hari yang mereka lewati dengan rasa penuh kebahagiaan tidak terasa tiga bulan telah berlalu semenjak alina dan jovan kembali berbaikan dan menjalani rumah tangga dengan sangat rukun.


"Pagi ini aku yang nganter kamu ya sayang." Ucap jovan di sela menikmati sarapan mereka.


Alina mengangguk setuju, kerena memang jovan tidak setiap hari mengantar alina ke kampusnya. Dan pagi ini jovan sangat ingin mengantar alina ke kampusnya.


Setelah menikmati sarapan alina kembali mengambil tas dan beberapa buku untuk di bawanya pergi ke kampus, namun tiba-tiba perut alina merasa tidak enak dan seperti ingin memuntahkan isinya.


Jovan yang baru saja tiba di depan pintu kamar melihat alina tiba-tiba berlari menuju kamar mandi seraya menutup mulutnya segera ia mengikuti alina ke kamar mandi.


"Sayang kamu sakit?" Tanya jovan dengan raut wajah khawatirnya.


Alina tidak menggubris hanya menggeleng dan masih saja terus memuntahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi, Air mata sudah keluar akibat muntahnya yang tiba-tiba ia alami pagi ini.


Jovan segera memijit tengkuk alina agar muntahnya sedikit redah.


"Wajahmu pucat sekali, apa ada yang sakit? sejak pagi tadi kamu masih baik-baik saja loh." Ucap jovan masih dengan penuh ke khawatiran di raut wajahnya.


"Mungkin hanya masuk angin kak, tiba-tiba perut alina tidak enak." Sahut alina setelah sedikit tenang.


Ia berjongkok lemas di lantai kamar mandi.


"Ayo biar ku gendong." Kata jovan seraya mengangkat tubuh alina menuju tempat tidur.


Kemudian jovan sedikit melakukan pemeriksaan pada istri kesayangannya itu.


Jovan menyatakan jika sang istri benar- benar hanya sekedar masuk angin biasa, dan ia membuatkan minuman pereda mual di dapur.


"Ini minumlah, aku membuatkannya untukmu agar rasa mual mu bisa redah." Kata jovan ia menunda berangkat bekerja karena menghawatirkan alina.


"Terima kasih." Sahut alina menerima cangkir berisi lemon jahe.


"Sebaiknya kamu ijin tidak perlu ke kampus dulu hari ini. Kamu harus istirahat di rumah." Ujar jovan tangannya mengusap lembut kening alina yang berkeringat.


Alina mengangguk menurut. Karena alina juga merasa tubuhnya sangat lemas.


"Kak jo sebaiknya pergi bekerja nanti terlambat, alin baik-baik saja kok hanya masuk angin biasa, palingan sebentar lagi sembuh." Kata alina meyakinkan jovan.


"Aku ingin memastikan dulu sampai kamu baik-baik saja." Ucap jovan kini duduk di tepi ranjang.


Alina tidak menggubris lagi ia hanya menuruti perkataan suaminya.


Jadilah hari ini jovan menjaga alina seharian di rumah sama sekali tidak ingin membiarkan alina kenapa-kenapa. Dan tidak ingin membiarkan alina berada di rumah sendirian.


****


Ke esokan paginya lagi alina kembali memuntahkan isi perutnya, hari ini alina benar-benar sangat lemas tidak bertenaga, jovan semakin khawatir melihat keadaan alina.


"Sayang ayo kita ke rumah sakit, aku tidak bisa melihatmu seperti ini sejak kemarin." Suara jovan yang sudah sangat khawatir.


"Aku tidak mau ke rumah sakit, ini hanya masuk angin biasa kok." Kekeh alina yang tidak ingin di bawah ke rumah sakit.


Telepon jovan berbunyi ada penelpon dari rumah sakit, siapa lagi kalau bukan papanya yaitu panji. karena jovan sudah dua hari tidak masuk kerja.

__ADS_1


"Jo, ke rumah sakit sekarang. Ada kecelakaan beruntun di jalan raya blok A dan mengakibatkan banyak korban, kita sangat membutuhkan mu. Cepatlah kemari." Ucap panji buruh-buruh di balik telepon.


"Baik pa."


Telepon pun terputus, jovan segera pamit pada alina untuk segera pergi ke rumah sakit.


"Sayang, papa telepon aku harus segera ke rumah sakit, mereka sedang membutuhkan ku. Maaf ya, jaga diri baik-baik. Jika terjadi sesuatu segera telepon aku." Ucap jovan sebelum benar-benar meninggalkan alina. Sebenarnya jovan masih sangat berat meninggalkan istrinya.


Alina mengangguk mengiyakan jovan.


"Hati-hati kak jo."


Jovan segera pergi tidak lupa mencium kening alina, kemudian ia mengendarai mobilnya dengan buru-buru.


Sesampainya di rumah sakit jovan langsung memasuki ruang UGD yang cukup ramai terisi pasien kecelakaan dan segera ia mengambil tindakan untuk menangani pasien-pasien tersebut bersama tim dokter lainnya.


Sementara alina sedang di rumah sendirian, ia sangat merasa pusing rasanya ingin sekali minum air putih namun tiba-tiba kepalanya begitu sangat pusing.


Alina mencoba untuk berdiri namun ternyata ia jatuh pingsan tidak ada yang melihatnya, Wajahnya sudah begitu sangat pucat.


Terdengar suara ketukan pintu dari ruang tamu namun tidak ada sahutan, dan kebetulan pintu ruang tamu rumah jovan tidak terkunci mama intan langsung masuk ke dalam rumah jovan.


Karena sebelumnya jovan telah menelpon mama intan meminta tolong agar datang ke rumahnya menjaga alina selama ia bekerja, karena alina sedang tidak baik baik saja.


Dan akhirnya mama intan menuruti permitnaan jovan, karena intan juga khawatir dengan kondisi menantunya.


Betapa terkejutnya intan melihat alina tergelatak di lantai kamar sudah tidak sadarkan diri.


"Pak udiinnnn tolooong menantu saya tidak sadarkan diri." Teriak mama intan panik.


Mendengar intan berteriak seketika mang udin berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati majikannya telah memangku sang menantu dalam keadaan pingsang.


"Pak udin tolong, bantu saya mebawa alina ke mobil." Teriak mama intan tidak terkendali saking khawatirnya.


Mama intan dan alina kini sudah berada di dalam mobil dengan bantuan pak udin supir keluarga panji.


"Alina sayang, bangun nak jangan buat mama khawatir begini." Mama intan terus menepuk lembut pipi sang menantu berharap segera sadar dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Namun tetap saja tidak ada respon dari alina.


Tidak membutuhkan waktu lama mobil yang membawa mereka menuju rumah sakit telah sampai, segera alina di masukkan ke ruang UGD untuk mendapati penanganan awal.


"Dokter jovan, bukan kah itu ibu anda membawa istri anda dalam keadaan tidak sadarkan diri." Ujar salah satu teman dokter yang sedang melihat pasien yang baru masuk barusan.


Mendengar perkataan dokter tersebut jovan terburu-buruh melepas peralatan medis yang ia pengang dan segera berlari untuk melihat keadaan orang yang di maksud oleh dokter tadi.


Dan benar saja, jovan melihat alina dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Alina." Ucap jovan sudah panik.


"Kenapa dengan istriku?" Jovan dengan paniknya.


Jovan berusaha menepuk pipi alina agar segera sadar dan membiarkan dokter memeriksa keadaan alina.

__ADS_1


"Sebaiknya anda tenang dulu dokter jo, biar kami bisa menangani istri anda dengan baik." Kata dokter lainnya mencoba menenangkan jovan.


"Hei, apa maksud kalian istriku sedang tidak sadarkan diri kalian seenaknya saja menyuruhku untuk tenang." Ucap jovan emosi.


"Ada apa ini jo." Tiba-tiba panji masuk ke ruang UGD ketika mendengar keributan.


Panji juga seketika khawatir melihat sang menantu tidak sadarkan diri.


"Kenapa dengan alina?" Tanya panji panik.


"Saya menemui alina di rumah jovan dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri pa." Sahut intan dengan isak tangisnya karena khawatir dengan menantunya.


Sementara jovan masih terlihat marah dengan wajah paniknya dokter yang menangani istrinya menyuruh untuk jangan berlama-lama menangani istrinya.


"Jo bisakah kamu tenang? bukan kah kamu juga seorang dokter setidaknya kamu paham dengan penanganan yang rekan doktermu berikan, jika kamu panik seperti itu tidak akan menyelesaikan pekerjaan. Lebih baik kamu keluarlah biar dokter rahma yang menanganinya." Ujar panji berusaha menenangkan ke khawatiran jovan.


Dengan berat hati jovan keluar dari ruang UGD tersebut. Yang di katakan dengan ayahnya benar, dengan panik dirinya bisa mengganggu pekerjaan rekan dokternya.


Masih dengan perasaan khawatir jovan terlihat mondar mandir di depan ruang UGD tersebut, sesekali duduk di kursi tunggu menunggu kabar dokter yang sudah menangani sang istri.


Tak lama setelah itu dokter rahma terlihat keluar dari ruangan, jovan langsung beranjak untuk menghampirinya.


"Bagaimana dengan istri saya dokter?" Tanya jovan dengan penasaran.


"Sepertinya dokter jo harus berkolaborasi dengan dokter vina selaku dokter kandungan, karena prediksi saya istri anda sedang hamil, kami sudah menghubungi dokter vina. Sementara menunggu alina belum siuman. Anda tidak perlu hawatir dokter jo semuanya masih baik-baik saja." Ucap dokter rahma menjelaskan pada jovan.


Mendengar penjelasan rekan dokternya tersebut raut wajah jovan seketika bahagia mendengar kemungkinan alina sedang hamil.


Kenapa jovan tidak berfikir kesana jika alina sedang mengalami tanda-tanda kehamilan. Saking khawatirnya jovan sudah tidak berfikir ke arah sana.


Kali ini jovan sangat bahagia mendengarnya, terutama mama intan yang sudah sangat menantikan kehadiran seorang cucu. Apalagi papa panji begitu sangat bahagia.


"Panggilkan segera dokter vina, perikasa menantuku sekarang juga " Perintah dokter panji pada suster yang berjaga.


Tidak membutuhkan waktu lama dokter yang bernama vina tersebut mendatangi ruang rawat alina setelah di pindahkan ke ruang perawatan. Dotker kandungan tersebut segera memeriksa alina dan tidak lupa untuk melakukan USG agar memastikan bahwa alina benar benar hamil.


"Istri dokter jovan memang benar sedang hamil, sekarang usia kandungannya berjalan 6 minggu." Ujar dokter vina setelah melakukan USG dan memperlihatkan layar monitor yang menampilkan sebuah gambar dalam rahim yang masih seperti biji kacang. Masih sangat kecil.


Mama intan, papa panji dan juga jovan begitu sangat bahagia mendengar penjelasan dokter vina.


"Mama, jo akan menjadi ayah." Ucap jovan dengan penuh kebahagiaan.


"Dan mama akan menjadi nenek." Mama intan tak kalah bahagia.


Jovan segera menghubungi keluarga alina jika alina sedang berada di rumah sakit tidak lupa jovan memeberi kabar bahagia kepada ayah dan bunda alina, agar tidak merasa khawatir.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2