Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 51


__ADS_3

Tidak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga kini pernikahan jovan dan alina sudah hampir dua tahun berlalu, tiada hari yang mereka lewati tanpa rasa bahagia di antara keduanya. Jovan dan alina begitu kompak menjalani rumah tangga mereka, saling mendukung serta saling percaya satu sama lain.


Keduanya kini tengah di sibukkan dengan kegiatan masing-masing seperti halnya alina masih menjalani kuliah sambil merintis sebuah butik yang saat ini semakin berkembang, alina berniat setelah menyelesaikan kuliahnya nanti alina akan kembali membuka butik cabang di kota lain.


Sementara jovan kini tengah di sibukkan dengan kegiatan bekerja di rumah sakit kota sambil meneruskan kuliah jurusan bedah yang sempat tertunda kemarin.


Di pagi subuh terdengar suara adzan berkumandang dan berhasil membangunkan sepasang manusia yang sudah berstatus halal selama hampir dua tahun ini, keduanya belum juga beranjak dan masih meringkuk saling berpelukan dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka setelah melewati percintaan semalam.


"Sayang." Gumam jovan dengan suara berbisik tepat di sisi telinga alina.


Jovan yang sudah sejak tadi bangun namun belum ingin beranjak sama sekali, ia masih ingin menikmati pemandangan indah yang tengah berada di sampingnya kini, wanita yang selalu mengambil alih seluruh dunianya, wanita yang selalu membuatnya semakin merasakan cinta yang melimpah, wanita yang akan selalu membersamainya hingga maut memisahkan mereka bahkan berharap hingga di kehidupan akhirat kelak. Jovan selalu berdo'a akan hal itu.


Alina merasakan ada yang berbisik di telinganya dengan perlahan ia membuka mata dan mengambil alih kembali kesadarannya.


"Hmm, Kak jo udah bangun?" Ucap alina dengan suara serak khas bangun tidur.


Posisi keduanya masih saling berpelukan, seolah tidak ingin saling melepas walau barang sedetikpun.


Jovan semakin mengeratkan pelukannya seraya menciumi pucuk kepala sang istri.


"Ayo sayang kita bangun, sudah waktunya sholat subuh." Ucap jovan tangannya kini tengah bermain di wajah mulus alina, seraya mencubiti hidung mancung sang istri.


"Kok jo ih, alin nggak bisa nafas nih." Elak alina yang tengah mendapati kejahilan suaminya.


Entah kenapa alina merasa sangat malas untuk bangun ia masih ingin sekali tertidur. Namun ia tidak ingin meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat, hingga akhirnya alina beranjak dari tempat tidur berniat membersihkan diri terlebih dulu.


"Ayo sayang, kita mandi bersama." Kata jo yang ikut beranjak dari tempat tidur mereka.


Alina tidak menimpali perkataan jovan seperti biasa dia akan menuruti suami tercintanya itu.


Keduanya kini tengah berada di dalam kamar mandi membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat subuh.


Setelah keduanya menyelesaikan kegiatan mandi, dengan segera melaksanakan sholat subuh. Usai melaksanakan ibadah alina beranjak dari kamar setelah membereskan peralatan sholat untuk memasak di dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga jovan.


"Alin ke bawah dulu ya kak. Mau masak sarapan." Kata alina yang tengah memasang hijab instan untuk menutupi kepalanya.


Alina memang selalu memakai hijab meski hanya tinggal berdua dengan suami tercinta namun di rumahnya sering kedatangan tamu secara tiba-tiba yang biasanya teman jovan. Hingga jovan mengharuskan alina untuk tetap menggunakan hijab ketika keluar kamar.


"Hmm." Gumam jovan, kini ia fokus dengan leptop di depannnya untuk memantau perkembangan tokoh obatnyanya yang sudah berhasil membuka beberapa cabang.


"Sayang, boleh request nggak sarapan hari ini?" Suara jovan menghentikan langkah alina yang hampir membuka pintu kamarnya.


"Dengan senang hati my hubby, mau di buatkan sarapan apa?" Kata alina dengan semangat serta senyum cantiknya.


"Nasi goreng spesial buatan kamu." Kata jovan.


Alina sangat senang ketika jovan memintanya untuk di buatkan makanan kesukaannya, dengan senang hati alina selalu memasak untuk suaminya.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama alina berkutat di dapur selama dua puluh menit memasak sarapan untuknya dan juga suaminya telah selesai. Kini alina segera beranjak meninggalkan dapur berniat menyiapkan keperluan suaminya untuk berangkat bekerja.


Sesampainya di kamar alina segera menyiapkan baju jovan yang akan di pakainya untuk bekerja hari ini.


"Kak jo, bajunya udah alin siapin." Kata alina yang melihat suaminya masih saja sibuk dengan leptop di depannya.


"Iya sayang, terima kasih ya." Sahut jovan pandangannya sekilas beralih untuk melihat sang istri.


Alina pun ikut bersiap mengganti bajunya yang berniat ingin berangkat kuliah, sebelumnya ia hanya mencuci muka saja karena subuh tadi sudah mandi bersama suami tercintanya.


Jovan pun sudah selesai dengan pekerjaannya, kini berniat beranjak dari tempat duduknya dan melihat alina sudah duduk di depan cermin yang tengah memoles wajahnya dengan make up tipis.


"Sayang, kamu ada jadwal kuliah pagi ini?" Tanya jovan.


"Iya, tapi cuma sampai siang aja habis itu alin mau ke butik lagi." Sahut alina.


"Kirain nggak ke butik, aku mau minta kamu antarin aku makan siang di kantor sekaalian temenin makan siang." Kata jovan, entah kenapa tiba-tiba ia ingin alina mengantarkannya makan siang di kantornya hari ini.


"Beneran kak? kalau gitu nanti siang alin anterin makan deh.Tapi alina beli makannya diluar aja ya di tenpat biasa soalnya alin nggak sempat masak nanti." Kata alina bersemangat.


"Iya sayang nggak apa-apa yang penting di temani makan siang sama istri tercinta." Imbuh jovan tak kalah senang mendengar alina mau mengantar sekaligus menemaninya untuk makan siang di kantor.


Alina begitu sangat bahagia mendengar perkataan suaminya yang selalu membuatnya tersipu malu, yang selalu menghargai keputusan alina.


Usai bersiap alina meninggalkan kamar menuju dapur lalu segera menyiapkan nasi goreng yang telah ia masak tadi.


Keduanya menikmati sarapan seperti biasa. Usai menikmati sarapan jovan dan alina berangkat ke tempat tujuan masing-masing.


Seperti biasa jovan selalu mengantar alina ke kampusnya, setelah itu ia pun menuju rumah sakit kota tempatnya bekerja.


Tak terasa waktu sudah menjelang siang, kini jam kuliah alina sudah selesai. Dia pun berniat untuk segera menuju ke sebuah rumah makan yang menurutnya enak dan akan memesan makanan untuk makan siangnya bersama suami tercinta.


"Alina pulang bareng yuk." Ajak indah sahabat alina.


"Kayaknya nggak bisa deh ndah, aku sudah pesan taksi sebelumnya. Mungkin bentar lagi bakalan datang kok." Sahut alina.


"Oh gitu, ya udah aku duluan ya lin." Kata indah kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan halaman kampus.


Menit kemudian taksi yang telah di pesan sebelumnya sudah tiba di depan kampus dan alina segera memberitahu supir untuk mampir ke rumah makan sebelum menuju rumah sakit kota.


"Pak, ke rumah makan samping taman bunga bentar ya pak, habis itu ke rumah sakit kota." Ucap alina memberitahukan pada supir taksi tersebut.


Supir taksi itupun mengangguk mengerti.


Hampir setengah jam melewati jalanan macet dan kini alina telah sampai di rumah makan pilihannya yang menurutnya sangat enak dan jovan suami tercintanya sangat menyukainya.


"Buk, saya pesen nasinya dua ya lauknya seperti biasa." Ucap alina.

__ADS_1


"Baik mbak alin, di tunggu ya." Sahut pemilik rumah makan tersebut yang sudah mengenal alina karena selalu langganan di rumah makan tersebut.


Alina menunggu nasi pesanannya dikemas, tidak sampai sepuluh menit kemudian akhirnya selesai dan alina pun segera pamit kembali menaiki taksi yang di tumpangi tadi menuju rumah sakit tempat jovan bekerja.


Dua puluh menit kemudian alina pun sampai di rumah sakit kota tersebut, dan langsung menuju ruangan tempat jovan.


"Eh mbak alin." Tegur salah satu perawat yang selalu menjadi asisten jovan.


Alina mengangguk tersenyum menyambut sapaan salah satu pegawai rumah sakit itu.


"Kak jovan ada di ruangannya kan?" Tanya alina pada perawat perempuan tersebut.


"Ada mbak, mungkin sedang di ruangannya. Setahu saya tadi ada yang mencarinya, tapi mungkin sudah selesai kok karena sudah sejak tadi." Sahut perawat itu, yang memang melihat jovan sedang mengobrol dengan seseorang di depan ruangannya tadi.


"Baiklah, kalau begitu saya langsung ke ruangannya saja." Kata alina kemudian berlalu pergi menuju ruangan milik jovan.


Ketika langkah alina sampai tepat di depan pintu ruangan jovan, tidak sengaja alina menangkap pembicaraan yang setahu alina itu adalah suara jovan suaminya namun berasama seorang wanita, membuat alina menghentikan gerakannya yang berniat ingin membuka pintu ruangan jovan.


"Aku hamil, aku harus bagaimana kak jo." terdengar suara seorang perempuan menangis dan memberitahu jovan bahwa dia tengah hamil.


"Erika, kamu tenanglah jangan seperti ini. Akun juga nggak tau harus bagaimana." Terdengar suara jovan yang seolah berusaha menenangkan isak tangis perempuan yang bernama erika itu.


Alina begitu sangat terkejut bukan main mendengar pembicaraan jovan bersama seorang wanita yang mengatakan bahwa kini tengah hamil.


"Oke kamu nggak usah nangis lagi kayak gini, akan ku bantu mencarikan rumah baru untuk kamu tinggali sementara waktu." Suara jovan lagi.


Sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di hatinya, alina begitu sangat terpukul mendengar pembicaraan suaminya barusan, dengan segera tanpa ingin tahu kebenarannya alina langsung meninggalkan rumah sakit tersebut dan berniat ingin segera pulang ke rumahnya saat ini juga.


Berharap yang telah di dengar barusan tidak benar, suaminya tidak mungkin menghianatinya selama ini. Jovan tidak pernah memperlihatkan sikap yang membuat alina curiga.


Alina berlari melewati lorong rumah sakit seraya mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.


Kak jovan tidak mungkin melakukan kesalahan. Apalagi menghianatiku.


Alina terus menggumam dalam hati berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang sudah menguasai dirinya.


Dengan segera alina menaiki taksi yang kebetulan lewat di depan rumah sakit, dan langsung menuju kediamannya yang di tempati selama ini bersama jovan suaminya.


*


*


*


TBC...


Jangan lupa like ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2