Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 27


__ADS_3

Sebulan sudah alina melewati hari-harinya tanpa suaminya, setiap hari dia mendapatkan telepon dari jovan ketika jovan sudah menyelesaikan kegiatan di sana, jovan selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi istrinya.


Alina juga tidak pernah meninggalkan ponselnya barang sebentar dia selalu menanti jovan menghubunginya. Jovan meminta jika tidak perlu alina yang menelponnya duluan, biar jovan yang akan menelpon ketika jam kuliahnya senggang.


Alinapun menuruti keinginan suaminya itu, meski terkadang alina merasa sangat bosan dan selalu ingin menghubungi suaminya lebih dulu jika sudah sangat merindukannya.


Indah sebagai sahabat alina selalu memberi suport untuk alin menjalani hari-harinya, begitupun dengan keluarga alina serta mertuanya. Sesekali alina juga menginap di kediaman mertuanya tentu saja atas permintaan mama intan dan panji. Mertuanya sangat baik terhadap alina memperlakukan alina seperti anaknya sendiri.


Alina sebagai mahasiswa semester tiga sedang aktif-akitifnya mendapatkan tugas kuliah dari beberapa dosen mata kuliahnya.


Kini alina sedang berada di rumah bundanya, sepulang kuliah alina ingin membaringkan dirinya di atas tempat tidur miliknya, Dia sedang sendiri dan ketika suasana merasa sangat sepi lagi-lagi alin selalu memikirkan tentang suaminya, sedang apa jovan di sana? apa dia sudah makan? atau sedang sibuk dengan kuliahnya?. Alina selalu menerka-nerka setiap kegiatan suaminya.


Ingin rasanya alina memeluk sosok suaminya yang sangat ia rindukan tapi apalah daya kekita jarak sedang mengujinya dan menumbuhkan rasa rindu yang teramat dalam.


Terdengar suara ponsel alina berdering, alina segera merogoh benda pipih yang selalu jadi penyemangatnya setelah hidup berjauhan dengan suaminya.


Di lihatnya nama kontak penelpon yaitu My haby sontak alina menampilkan raut wajah bahagia, jovan menelponnya, tak menunggu lama alina segera menjawab panggilan telepon dari suaminya.


"Assalamu'alaikum." Ucap alina dengan raut wajah bahagiahnya.


Sangat terlihat oleh jovan melalui panggilan vidio call.


"Walaikumsalam sayang, apa kabar hari ini?" Tanya jovan tidak kalah bahagia.


"Alhamdulillah aku sangat baik, ka jo sendiri bagaimana di sana? kenapa ka jo belum tidur? pasti di sana sudah larut malam." Kata alina menanyakan keadaan jovan.


Berhubung peebedaan waktu antara indonesia dan amerika berbeda 12 jam, jadi sekarang waktu amerika menunjukan pukul satu malam hari, sementara waktu di indonesia kota tempat alina pukul satu siang.


"Kak jo aku merindukanmu." Suara alina sangat terdengar lirih menahan tangisnya.

__ADS_1


Entah kenapa belakangan ini alina selalu ingin menangis ketika rasa rindu pada suaminya begitu mendominan, solah alina ingin menemui jovan saat itu juga dan memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat.


"Sayang. Heii jangan menangis, Aku bahkan begitu sangat merindukanmu, rasanya aku ingin pulang saat ini juga." Ucap jovan.


Sekuat tenaga alina menahan tangisnya agar tidak pecah namun tetap saja tidak bisa ia bendung, mendengar ucapan suaminya barusan, hati alina semakin terasa sendu.


"Aku ingin menyusul kak jo di sana, aku sangat merindukanmu." Suara alina dengan isak tangisnya.


Jovan setiap hari menelpon alina dan tidak pernah menangis seperti ini, namun kali ini jovan di buat heran dengan alina yang tiba-tiba saja menangis tersedu, jovan pun sangat tidak tega melihat istrinya mengeluarkan air mata.


"Alina bedo'alah agar aku segera mempercepat masa kuliahku disini supaya aku bisa segera kembali ke tanah air, aku bahkan tidak bisa jika tidak menelponmu sehari saja, aku begitu sangat merindukanmu. Sayang.. Ku harap kita bisa saling mengerti, kamu tau alina? cinta kita sedang di uji saat ini sayang. Jadi kita harus bisa melewatinya bersama. Oke?" Jovan mencoba memberi keyakinan pada istri tercintanya itu. Jovan sangat berharap alina bisa mengerti keadaanya saat ini.


Alina hanya mengangguk masih dengan sesegukan mendengar setiap kata yang di ucapkan jovan padanya.


"Aku akan menunggu kak jo sampai kapan pun itu." Tutur alina sangat yakin jika dirinya bisa mengunggu suaminya pulang ke indonesia.


Panggilan vidio keduanya berlangsung entah sampai jam berapa sampai jovan ketiduran dan alinapun juga tertidur di tempat tidurnya, keduanya setiap hari melakukan hal itu. Menelpon hingga salah satunya sudah tertidur tanpa mereka memutuskan panggilan vidio mereka.


Di pagi hari di negara yang berbeda yaitu tepatnya di cambridge salah satu kota metropolitan atau bisa saja di sebut sebagai kota pelajar di amerika serikat.


Usai jovan melaksanakan sholat subuh, jovan beranjak untuk memasak sarapannya sendiri di sebuah apartement tidak terlalu mewah untuk ukuran mahasiswa, jovan hanya menyewa sebuah apartement sederhana cukup untuk dirinya saja.


Setelah memasak sarapan untuk dirinya sendiri jovan kembali ke kamarnya berniat untuk membersihkan dirinya, ingin bersiap untuk ke kampus karena ada jam kuliahnya pagi ini.


Selesai dengan kegiatan mandinya jovan pun segera mengenakan baju rapi khas mahasiswa, aura jovan begitu sangat terpancar siapapun yang melihat laki-laki 24 tahun itu pasti akan mengira jika jovan belum menikah.


Sampai sejauh ini jovan sangat terlihat acuh dengan lawan jenisnya, karena jovan ingin menjaga komitmen bersama alina untuk tetap menjaga pandangan serta hatinya.


Setelah menyantap sarapan yang ia masak tadi, jovanpun pergi menuju kampusnya dengan mengendarai sebuah mobil yang memang di belikan oleh panji selama berkuliah di negara asing saat ini.

__ADS_1


Kini jovan telah sampai kampus setelah mengendarai mobilnya beberapa menit yang lalu, memang jarak apartemen dan kampusnya tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai. Jovan bersyukur bisa mendapatkan apartemen yang tidak telalu jauh dari kampusnya jadi dia tidak perlu harus menguras tenaga dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh setiap harinya jika menuju kampusnya.


"Hai jo." Tegur seorang mahasiswa laki-laki yang mungkin seumuran dengan dirinya.


"Eh rey." Sahut jovan melambaikan tangannya dengan senyumnya.


Jovan dan seorang laki-laki bernama rey itu sudah satu bulan ini berteman baik dengan jovan, selama mereka berada di negara amerika, karena memang keduanya sama-sama pendatang dari indonesia dan menempuh ilmu di amerika. Dan kebetulan mereka juga satu fakultas jadi mereka terlihat begitu akrab.


"Sudah dari tadi rey?" Tanya jovan yang memang sudah melihat rey dari jauh sedang duduk membaca sebuah buku di halaman kampusnya.


Rey mengangguk menanggapi jovan.


Rey memang terbilang mahasiswa cerdas, terbukti dia berkuliah di negara asing itu dengan bantuan beasiswa, sangat luar biasa bukan? Berbeda halnya dengan jovan yang membutuhkan biaya banyak untuk menempuh pendidikan dokter spesialis bedahnya, namun jovan bukan berarti mahasiswa yang masa bodoh ataupun terlihat lalai, diapun sangat menjalani kuliahnya dengan begitu baik serta dia juga akan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin.


Tidak bisa di pungkiri meskipun jovan menjalani kuliahnya dengan begitu serius, namun tetap saja pikirannya sesekali beralih pada istri tercintanya yang sedang berbeda negara dengannya.


"Kenapa jo? muka kamu sedikit murung hari ini." Imbuh rey yang memang melihat raut wajah jovan sedikit tidak bersemangat.


"Gue rindu istri brow, waktu begitu sangat lama berputar. Gue ingin empat tahun cepat berlalu." Sahut jovan, masih dengan wajah yang tidak bersemangat.


Rey memahami apa yang di rasakan oleh jovan, dia juga sangat merindukan tunangannya yang sedang berada di indonesia sekarang.


"Gue paham apa yang lu rasain, sabar aja. Yang penting komunikasi tetap jalan." Kata rey.


Jovan hanya mengangguk tersenyum.


Rey dan jovan berjalan meninggalkan area taman kampus untuk menuju kelas mereka.


Jovan mencoba menepis rasa rindunya, dia harus kembali fokus dulu dengan kuliahnya sekarang.

__ADS_1


Ya ampun kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan alina, rasanya ingin pulang saat ini juga.


Jovan bergumam dalam hatinya, entah kenapa hari ini jovan sangat merindukan alina, mungkin gara-gara semalam dia kembali melihat alina yang sedang menangis melalui panggilan vidio, hingga jovan selalu memikirkannya pagi ini.


__ADS_2