Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 38


__ADS_3

Di kediaman shanum atau lebih tepatnya kediaman keluarga darman. Malam ini adalah malam pertama bagi kedua insan yang baru beberapa jam menyandang status halal sebagai suami istri.


Aby terlihat sudah berada di dalam kamar milik shanum yang bernuansa warna putih sudah di penuhi dengan berbagai macam hiasan bunga mawar merah khas kamar pengantin.


Tidak ada ekspresi apapun yang di tampilkan oleh aby, dia hanya menampilkan raut wajah datarnya ketika dia berhadapan dengan shanum, seolah memperlihatkan jika dirinya tidak menyetujui pernikahan mereka ini.


Namun shanum belum menyadari akan hal itu, shanum masih sibuk membantu mami dan pembantu di dapur untuk menyiapkan makan malam keluarga darman.


Usai memasak dan menyajikan makan malam terlihat mami jesi memanggil suaminya untuk makan malam.


"Shanum, panggil suamimu untuk makan malam." Ucap mami jesi.


Shanum sedikit terkejut dia melupakan status dirinya telah menikah.


"Baik mah." Sahut shanum lalu beranjak ke arah kamarnya.


Shanum melangkah dengan rasa ragu, rasanya masih sangat canggung untuk menyapa laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya tersebut.


Kini shanum sudah berada di depan pintu kamarnya, perlahan shanum memegang pegangan pintu dan perlahan mendorongnya.


Dengan berat shanum melangkah masuk seraya pandangan menunduk, shanum sempat melihat aby sedang duduk di atas tempat tidur dengan bersandar di kepala tempat tidur seraya memainkan ponselnya.


"Kak aby." Suara shanum memanggil aby suaminya.


Aby yang menyadari seseorang memanggilnya, mengalihkan fokusnya dari ponsel yang ia pegang lalu melihat ke arah suara seseorang memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya aby.


"Makan malam sudah siap kak, dady sama mami sudah menunggu di ruang makan." Kata shanum masih dengan posisi wajah menunduk.


"Hmm." Sahut aby dengan raut wajah datar.


Sementara shanum yang hanya mendapat sahutan seperti itu dari suaminya, semakin merasa canggung harus bersikap bagaimana. Apakah dia harus menunggu sumainya turun bersama atau dia harus beranjak duluan. Pasalnya aby masih tak bergeming dari tempatnya, dia melanjutkan untuk memainkan ponselnya.


Hening, tidak ada yang bersuara.


"Duluan saja, aku akan menyusul." Ucap aby kemudian, melihat shanum masih berdiri di tempatnya.


Shanum mengangguk kemudian lalu beranjak meninggalkan kamar menuju ruang makan.


Shanum menuju ruang makan.

__ADS_1


"Suami mu mana nak?" Tanya mami jesi.


"Masih di kamar mi, bentar lagi nyusul." Jawab jesi.


Tak lama kemudian aby muncul lalu duduk di meja makan bergabung bersama darman dan juga mami jesi.


"Maaf saya lama, ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan tadi." Ucap aby pada kedua mertuanya.


"Tidak apa-apa nak, ayo duduklah." Kata darman pada aby.


Darman sangat menyukai sikap aby yang terlihat sopan, apalagi mengetahui aby seseorang yang gigih dalam bekerja serta sangat handal dalam mengemban perusahaan ayahnya, itu artinya aby seorang laki-laki yang bertanggung jawab, jadi darman sudah sangat mempercayakan putri kesayangannya pada aby.


Jesi memberi kode pada putrinya agar segera menyiapkan makanan untuk suaminya di piring kosong yang ada di depan aby.


Shanum yang paham dengan maksud maminya, dengan segera ia mengisi piring kosong milik aby tidak lupa shanum memberikan lauk yang telah ia masak bersama jesi tadi.


"Terima kasih." Ucap aby pada shanum.


Shanum mengangguk dengan menampilkan senyumnya.


Merekapun makan malam dengan suasana tenang, sesekali mereka mengeluarkan obrolan ringan.


"Om. Saya ingin meminta ijin kalau saya akan mengajak shanum untuk tinggal di rumah saya." Ucap aby meminta ijin pada darman.


Darman sedikit terkejut mendengar panggil aby padanya, mungkin karena belum terbiasa jadi aby masih sangat canggung untuk memanggilnya dady seperti shanum putrinya.


Aby mengangguk seraya menampilkan senyum canggungnya.


"Baiklah dady." Kata aby kemudian berusaha untuk beradaptasi dengan keluarga barunya.


"Jadi, kapan rencana kalian akan pindah?" Tanya darman.


Sementara jesi sebagai seorang ibu merasa sedih dengan permintaan menantunya karena dia belum siap jika harus tinggal terpisah lagi dengan shanum putri kesayangannya.


Shanum yang belum mengetahui keputusan suaminya merasa sangat terkejut, bahkan shanum belum siap jika harus tinggal terpisah dengan orang tuanya. Bukannya dia baru pulang dari luar negeri dan baru beberapa bulan menikmati kebersamaan bersama keluarganya, bersama kedua orang tuanya.


"Saya akan mengajak shanum untuk pindah besok kalau dady dan mami mengijinkannya." Sahut aby.


Tentu saja shanum semakin merasa terkejut mendengarnya dia bahkan tidak ingin menuruti permintaan suaminya saat ini. Rasanya dia ingin menolak, namun bagaimanapun dia harus meningikuti kmenapun suaminya karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri.


"Baiklah, dady menyetujui keputusanmu. Jagalah putriku seperti kami menjaganya. Aku mempercayakannya padamu aby." Ucap darman pada aby.

__ADS_1


Aby mengangguk patuh, menanggapi perkataan ayah mertuanya.


"Kenapa cepat sekali nak? kenapa tidak tinggal dulu hingga beberapa hari disini?" Suara mami jesi yang ingin menolak keputusan menantunya.


Sementara shanum hanya diam, tidak sama sekali menanggapi perkataan orang-orang yang ada di meja makan tersebut.


"Tidak apa-apa mi, berikan mereka waktu untuk lebih saling mengenal dan memahami satu sama lain." Timpal darman cepat, tidak ingin ada hal perdebatan dengan jesi istrinya yang mungkin tidak setuju jika tinggal terpisah dengan putrinya.


Hinggah akhirnya jesi menyetujui keputusan menantunya. Karena bagaimana pun aby berhak atas shanum yang sudah menjadi istrinya.


Makan malam telai usai, aby dan darman terlihat mengobrol di ruang tengah mebahas sedikit masalah pekerjaan yang mereka tekuni masing-masing.


Sementara shanum sudah kembali di kamarnya, duduk termenung di sisi tempat tidur masih merasa tidak percaya jika dia harus tinggal berdua bersama suaminya.


Tidak lama terdengar suara pintu kamarnya terbuka dan terlihat aby memasuki kamar shanum.


"Apa tidak ada yang mesti kamu siapkan? besok kita akan pindah ke rumah kita." Kata aby ketika sudah berada di kamar shanum.


"Apa tidak terlalu cepat jika harus pindah besok." Ucap shanum yang merasa tidak terima dengan keputusan laki-laki yang belum genap sehari menjadi suaminya.


"Bersiap saja, tidak perlu banyak pertimbangan. Lebih cepat lebih baik." Sahut aby.


Kini posisinya sudah bebaring dia atas sofa panjang yang ada di kamar shanum.


"Apa kak aby akan tidur di sofa?" Tanya shanum heran melihat aby yang tiba-tiba sudah bebaring di sofa.


Tidak ada sahutan sama sekali, aby hanya memejamkan matanya merasa malas untuk berdebat dengan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya sekarang.


Shanum tidak lagi banyak bertanya, dia pun beranjak untuk mengambil koper yang akan di isi pakaian miliknya karena harus mengikuti sang suami untuk pindah besok.


Aku masih ingin tinggal bersama mami, kenapa harus secepat ini sih mengajak ku pindah. Dan kenapa dia bersikap dingin?


Shanum hanya berkata dalam hati. Dengan berat hati diapun memasukkan barang-barang yang di perlukan kedalam kopernya.


*


*


*


TBC...

__ADS_1


Likenya ya pleasee... 🙏😊


__ADS_2