
Ke esokan harinya di waktu subuh, setelah aby menjalankan sholat subuhnya ia langsung bersiap untuk berangkat ke bandara dan kembali memeriksa barang-barang penting yang akan ia bawa.
Lagi-lagi aby memegang dadanya yang terasa berdegup kencang, entah kenapa aby merasa seperti ini sejak semalam, Sesekali fikirannya tertuju pada shanum.
"Ya allah ada apa ini, semoga semuanya baik-baik saja." Gumam aby pada dirinya sendiri seraya memegangi dadanya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi dua jam lagi jadwal penerbangannya, aby keluar dari kamarnya menuju meja makan di sana sudah ada gio menunggunya yang akan mengantar aby menuju bandara, tidak lupa aby menyuruh gio membeli makanan untuk sarapannya.
Keduanya pun sarapan dengan hening tidak ada yang berbicara satu sama lain, biasanya gio akan cerewet berbicara namun kali ini suasana berbeda.
Beberapa menit kemudian aby dan gio telah menyelesaikan sarapan mereka.
"Kita berangkat sekarang, waktu kita sisa satu jam lagi." Ucap gio memecah kehingan.
"Hmm." Sahut aby hanya dengan berdehem.
Gio menoleh ke arah aby sekilas mengamati raut wajah bos sekaligus sahabatnya itu yang sepertinya tidak bersemangat.
Sementara aby hanya berjalan lurus dengan wajah yang terlihat lesu.
"Kenapa kayak orang nggak rela aja mau pergi. Jangan gitu lah mukanya ingat loe mau pergi jauh." Ucap gio mengingatkan aby.
Aby hanya melirik sekilas melihat ke arah gio.
"Entah kenapa perasaan aku nggak enak aja." Sahut aby.
"positive thinking aja brow, loe sendiri kan yang menginginkan pergi jauh kayak gini ninggalin gue lagi di kantor." Sinis gio, sedikit bercanda.
Aby hanya bungkam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Kemudian keduanya memasuki mobil gio yang akan di tumpangi menuju bandara.
Mobil gio sudah melaju di jananan yang sudah mulai rame di pagi hari, karena memang adalah jam masuk kantor dan para pengendara mulai memenuhi jalan raya kota.
Namun pada saat di tengan perjalan di depan sebuah minimarket aby melihat mobil shanum terparkir di depan sana, dan seketika aby meminta gio untuk menghentikan mobilnya sebentar.
"Gio, berhenti sebentar itu mobil shanum bukan?" Ucap aby dengan nada bertanya.
"Hmm." Dengan malas gio menjawab aby.
Sebenarnya gio sedikit menyayangkan lelakuan shanum karena tidak bisa melihat ketulusan aby yang sudah berusaha untuk nerubah memperbaiki semuanya karena shanum tidak juga memaafkan aby hingga membuat aby harus mengasingkan dirinya di negara yang cukup jauh.
"Kenapa emangnya, loe mau ketemu dia?" Ujar gio malas.
"Tunggu dia keluar bentar gue mau pamit." Kata aby, yang sebenarnya ingin bertemu shanum untuk yang terakhir kalinya.
"Mobilnya jauh noh, di seberang sana mana jalanan mulai macet lagi, kamu jangan ngada-ngada deh by.. mending buruan kita jalan aja, bukannya loe udah pamitan kemarin." Sarkas gio, yang sebenarnya sangat malas membelokkan mobilnya ke seberang jalan jalur sebelah kiri.
__ADS_1
"Ya udah biar gue aja yang jalan bentar nggak apa-apa." Ucap aby dengan begitu pasrah, demi ingin sekali berpamitan dengan shanum dia relah menyebrang jalanan yang cukup ramai saat ini.
Gio hanya menarik nafas dalam, menggeleng samar melihat tingkah sahabatnya itu.
"Serah loe aja deh, jangan lama loe ya waktu udah mepet banget ini." Gio kembali mengingatkan aby.
"Iya bentar aja io." Sahut aby, dia pun menuruni mobil ketika sudah melihat shanum di pintu keluar minimarket.
Tak membutuhkan waktu lama aby telah berada di dekat mobil shanum.
Sementara shanum yang melihat keberadaan aby, langsung menghentikan langkahnya tepat di hadapan aby.
"Kak aby?" Gumam shanum.
"Shanum, maaf aku hanya ingin pamit. Tolong jaga dirimu dengan baik dan semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya shanum. Aku akan selalu berdo'a jika boleh aku ingin kembali berjodoh denganmu setelah aku sudah menjadi baik seperti yang kamu inginkan." Suara aby berpamitan yang sedikit tidak rela jika harus pergi pagi ini.
Shanum yang mendengar aby mengatakan kalimat pamit padanya membuat perasaannya kembali berkecamuk tidak menentu, ingin sekali rasanya shanum menahan laki-laki yang ada di hadapannya ini untuk tetap ada di sampingnya namun entah kenapa ego lebih besar berada dalam dirinya.
Shanum memang sudah memaafkan aby namun entah kenapa ketika mengingat perlakuan aby selama bersamanya kemarin membuatnya kembali down dan seolah tidak ingin memaafkan kesalahan aby.
Shanum hanya mengangguk menanggapi ucapan aby tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Aby merasa shanum sama sekali tidak merespon kehadirannya karena shanum hanya dia dan mengangguk saja, Mungkin shanum sudah sangat menginginkan kepergiannya.
Aby melihat shanum yang sejak tadi hanya menunduk tidak melihatnya.
"Walaikumsalam." Gumam shanum seperti berbisik, pandangannya tidak ingin melihat ke arah aby.
Mata shanum yang sejak tadi memerah menahan tangis.
Kak aby benar-benar pergi.
gumam shanum, menahan sesak yang sejak tadi ia rasakan setelah aby berucap kata pamit.
Setelah mengucapakan salam aby berbalik membelakangi shanum dan melangkahkan kakinya menyebrangi jalanan menuju mobil gio.
Barulah shanum mengangkat pandangannya ke arah aby yang sudah berjalan membelakanginya.
Kini shanum hanya melihat punggung aby yang semakin menjauh dari hadapannya.
Shanum tidak sanggup lagi melihat kepergian aby, hingga shanum memutusakan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantornya.
Dan baru saja shanum akan menghidupakan mobilnya tiba-tiba terdengar suara kendaraan yang sepertinya terjadi kecelakaan di seberang jalan.
Bruuuukkkkkhh....
__ADS_1
Terdengar keras suara mobil menabrak, pada saat langkah aby sudah berada di garis tengah jalan raya, tiba-tiba saja sebuah mobil yang berkecapatan tinggi menguasai jalanan menabrak tubuh aby hingga menyebabkan aby terpental begitu jauh.
Manik shanum menoleh seketika ke area kecelakaan tersebut dan begitu sangat jelas melihat tubuh seorang laki-laki yang sangat ia kenali terpental jauh hinggah tergeletak di aspal di penuhi lumuran darah di tubuhnya.
DEG
Jantung shanum seolah berhenti berdetak melihat kejadian saat ini.
"Ka abyyyyyy...." Shanum berteriak di dalam mobilnya.
Detik kemudian shanum keluar terburu-buru tidak lagi menghiraukan pengendara jalanan, ia berlari tanpa memperdulikan siapapun ingin segera menghampiri aby.
Sementara gio tak kalah terkejut melihat kejadian baru saja.
"Aby." Gumam gio tidak percaya jika yang di saksikan di depan matanya saat ini adalah aby sahabatnya.
Gio dengan segera keluar menghampiri sosok tubuh yang sudah terlegeletak di penuhi lumuran darah saat ini.
Sementara pengguna jalan lainnya berhenti melihat kejadian yang terjadi saat ini.
"Aby bangun aby, aby loe kuat kan aby." Panggil gio yang saat ini sudah meletakkan kepala aby di pangkuannya seraya menepuk-nepuk pipi aby pelan.
"Ka abyyyyy." Teriak shanum histeris melihat aby saat ini.
"Toloong kak gio, segera bawa dia ke rumah sakit." Suara shanum sudah tidak terkendalikan lagi dengan tangisnya.
Tidak perduli lagi shanum memegang tangan aby yang juga saat ini di penuhi cairan merah.
Seorang laki-laki paruh baya membantu gio mengangkat tubuh aby yang sudah tidak sadarkan diri saat ini. Meski gio sudah berusaha untuk membangunkannya.
Saat ini aby sudah berada di dalam mobil milik gio, gio meminta shanum untuk bersama aby di belakang yang benar-benar tidak sadarkan diri. Sementara gio mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tangis shanum sudah tidak ada hentinya. Kedua maniknya tidak hentinya menatap wajah aby yang saat ini terlihat pucat sekali dan hal itu membuat shanum semakin di penuhi rasa khawatir.
Maafin shanum kak aby, shanum mohon bertahan demi aku.
Shanum terus saja bergumam dalam hatinya meminta keselamat untuk aby, cairan bening tidak hentinya keluar dari maniknya.
Beberapa belas menit kemudian mobil gio telah terparkir rapi di depan rumah sakit terdekat dan langsung meminta pada petugas untuk segera mengani aby.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...