
Ke esokan harinya jovan tidak pergi bekerja ia mendatangi rumah alina meski kondisinya tidak memungkinkan karena kini wajah jovan sangat terlihat babak belur akibat pukulan bertubi-tubi dari sang ayah kemarin.
Hendra yang melihat kedatangan jovan di rumahnya seketika raut wajahnya berubah emosi.
"Jika kedatanganmu kemari ingin bertemu alina, sebaiknya kamu pulang saja. Alina tidak ingin di temui." Sarkas hendra tidak ingin melihat keberadaan jovan di rumahnya.
"Ayah ijinkan saya bertemu dengan alina." Ucap jovan memohon.
"Setelah kamu berbuat tidak pantas di belakang putriku, berani kamu ingin menemuinya? tidak akan ku biarkan, karena aku tidak ingin melihat putriku menderita, sebaiknya kamu ceraikan saja alina." Kata ayah hendra masih di penuhi rasa emosi.
"Saya tidak akan menceraikan alina, tidak akan. Sampai kapanpun." Ucap jovan dengan yakin.
"Berengseeekkk, tidak pantas kamu bertahan di sisi putriku." Hendra dengan rasa emosinya ingin melayangkan pukulan di wajah jovan, namun kedatangan bunda rumi segera menahan gerakan sang suami.
"Tahan amarah mu ayah." Lirih bunda rumi mencoba menenangkan hendra suaminya yang sudah di kuasai emosi.
"Sebaiknya kamu pulang saja jo." Ucap bunda rumi tidak ingin melihat keributan di rumahnya.
Jovan menggeleng dengan cepat.
"Ijinkan saya menemui alina bunda, saya ingin menjelaskan semua kebenarannya. Tolong ijinkan saya bertemu dengan alina." Ucap jovan, kini memohon pada ibu mertuanya.
Hendra yang sudah sangat muak melihat wajah jovan, dengan segera menyeret jovan dari teras rumahnya.
"Alinaaaa." Teriak jovan berharap alina mendengarnya.
Hendra semakin kesal dengan kelakuan jovan yang tidak ingin pergi dari hadapannya.
"Alinaaaa tolong keluarlah sebentar, aku ingin bicara tentang kebenarannya." Ucap jovan dengan suara keras.
Sementara alina yang berada di kamarnya sejak tadi sudah mendengar suara jovan namun masih sangat berat untuk menemuinya, kembali mengingat jovan yang sedang bersama wanita lain.
Jovan dengan sekuat tenaganya tetap kekeh ingin bertemu dengan alina, langsung menerobos masuk ke dalam rumah mertuanya setelah berusaha menghindari ayah hendra.
"Maafkan saya ayah." Ucap jovan, berlari memasuki rumah kediaman sang mertua menaiki anak tangga menuju kamar alina.
Ayah hendra ingin mengejar namun segera di tahan oleh bunda rumi.
"Biarkan jovan berbicara dengan alina." Ucap bunda rumi berusaha menenangkan sang suami.
Ayah hendra yang niatnya ingin pergi bekerja, kini di urungkan melihat kedatangan jovan ke rumahnya yang mungkin saja akan menimbulkan keributan di rumahnya.
Alina yang tengah duduk di atas tempat tidurnya sejak kemarin tidak keluar kamar dan terus saja menangis, meski sang bunda terus membujuknya namun tetap saja alina semakin terpuruk, karena di sisi lain alina masih sangat mencintai jovan, namun ketika kembali mengingat kelakuan jovan yang telah menghianatinya membuat alina berfikir ingin pergi dari kehidupan jovan.
"Alina." Suara jovan kini sudah berada di pintu kamar alina.
Karena alina tidak mengunci pintu kamarnya sehingga membuat jovan berhasil membuka pintu kamar alina, jovan dapat melihat alina yang tengah duduk sambil memeluk kedua lututnya sedang menangis, alina menoleh mendengar suara jovan berada di dalam kamarnya.
Ada rasa iba melihat raut wajah jovan seperti saat ini, wajah jovan di penuhi bekas pukulan.
"Untuk apa kamu kemari jovan, bukannya sudah jelas abangku mengatakan akan mengurus perceraian kita secepatnya. Ayah dan bundaku juga mendukungku. Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, semuanya sudah jelas." Lirih alina dengan isak tangisnya yang sebenarnya sangat berat mengucapkan perpisahan pada laki-laki yang sudah sangat ia cintai itu.
Jovan menggeleng tidak terima dengan keputusan alina.
__ADS_1
"Alina. Jangan sekali-sekali meminta hal yang tidak mungkin bisa ku kabulkan alina, aku tidak ingin ada perpisahan di antara kita. Ku mohon dengarkan penjelasanku terlebih dulu." Ucap jovan mendekat ke arah alina.
Alina diam berusaha mengabaikan setiap ucapan jovan, alina mengira semua yang di katakan jovan itu adalah bohong.
"Sedikit saja, apa sudah tidak ada rasa percayamu terhadap suamimu ini alina? kamu bahkan dengan mudahnya meminta bercerai tanpa ingin mendengar penjelasanku." Tanya jovan.
"Sudah ku bilang, tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Semua yang telah ku lihat sudah cukup jelas." Suara alina serak karena isak tangis yang semakin piluh.
"Apa kamu tidak ingin mendengar penjelasanku alina? apa sudah tidak ada lagi rasa percayamu sedikitpun? belum tentu semua yang kamu lihat itu adalah kebenaran." Kembali jovan berucap meyakinkan alina.
Ada rasa kecewa ketika alina tidak lagi mempercayai dirinya saat ini.
Lag-lagi alina hanya diam tidak merespon setiap perkataan jovan.
Jovan kini sudah berada di samping alina yang sedang duduk di tempat tidur. Jovan berusaha meraih tangan alina.
"Jangan sentuh akuu jovan." Sarkas alina menepis tangan jovan yang berusaha ingin memenganya.
"Aku masih suamimu, dan masih berhak untuk menyentuhmu." Ucap jovan tidak ingin kalah.
"Kita akan bercerai." Pekik alina.
"Tidak akan, sampai kapanpun kita tidak akan bercerai." Ucap jovan berusaha melawan rasa emosinya.
Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan aby di kamar alina.
"Berani-beraninya kamu memasuki kamar adiku. Hah!!!!" Aby dengar refeleks ingin kembali memukul jovan, namun alina dengan cepat menghentikan sang kakak.
"Bang aby jangan, jangan lagi memukulinya." Ucap alina sedikit berteriak menahan pergerakan aby.
"Bang berikan saya waktu sebentar. Tolong." Mohon jovan pada aby yang baru saja datang.
"Keluaaaarrrrr, kamu tidak pantas berada di kehidupan alina lagi." Suara aby menggema memenuhi ruang kamar alina.
Kali ini jovan pasrah melihat kemarahan aby dan menyeretnya keluar dari kamar alina dengan begitu kasar. Ingin melawan tetapi ia fikir percuma karena alina tetap tidak mempercayainya lagi. Jadi jovan berfikir percuma jika harus bertahan ingin menjelaskan pada alina mengenai masalahnya kali ini.
Alina menunduk tidak ingin melihat jovan yang tetap kekeh ingin menjelaskan sesuatu.
"Tidak perlu seperti ini bang, aku bisa pergi sendiri." Tukas jovan tidak terima dengan perlakuan kasar aby.
Jovan sekilas melirik ke arah alina, jovan tidak menyangka rasa percaya alina tidak ada sedikitpun.
"Baiklah alina, jika ini mau mu aku akan pergi." Ucap jovan pada alina lalu meninggalkan kamar milik alina dan pergi meninggalkan kediaman keluarga hendra.
Alina semakin kalut melihat kepergian jovan.
Bunda rumi yang sudah melihat kepergian jovan langsung menghampiri alina di kamarnya.
"Bunda." Lirih alina, bunda rumi langsung menghampiri putrinya dan langsung memberi pelukannya.
"Apa yang harus alina lakukan bunda."
"Tidak ada yang mesti kamu lakukan alina, jalan satu-satunya lepaskan dia." Tukas aby masih emosi.
__ADS_1
"Aby, jangan seperti itu nak. Tidak baik menghadapi masalah dengan emosi seperti itu, kenapa kamu langsung mengusirnya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dulu." Ucap bunda rumi berusaha menasehati aby yang sedang emosi.
"Karna bunda tidak menyaksikannya, sehingga bunda dengan mudahnya berkata dan ingin mendengar penjelasan omong kosongnya itu, aku yang telah menyaksikannya langsung dengan mata kepalaku sendiri. Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi." Ucap aby.
Bunda rumi hanya diam, ia pun tidak tau lagi apa yang harus di lakukan, tidak mungkin aby marah besar jika tidak menyaksikan kesalahan fatal laki-laki yang masih menjadi adik iparnya itu.
"Alina, siapkan saja berkas perceraianmu. Jangan mau menghabiskan hidupmu dengan laki-laki brengsek seperti dirinya. Besok aku datang mengambilnya."
"Bang aby, alin...."
"Sudah alina. Jangan coba-coba kamu iba padanya dan ingin mempercayainya." Ujar aby memotong perkataan alina.
"Aku mau kembali ke kantor." Ucap aby kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
****
Sementara jovan dengan langkah gontai meninggalkan kediaman orang tua alina, dia kembali mengendarai mobilnya, kali ini jovan tidak ingin pulang ke rumahnya yang pernah di tempati dengan alina, kali ini jovan sedang membutuhkan sosok ibunya yang selalu mempercayainya.
Jovan memutuskan untuk mendatangi kediaman orang tuanya dan ingin menemui sang ibu.
Tidak membutuhkan waktu lama jovan telah sampai di kediaman orang tuanya.
"Jo kamu datang nak? baru saja mama akan ke rumah mu." Ucap mama intan yang melihat jovan memasuki rumahnya sementara mama intan baru saja bersiap untuk mendatangi jovan ke rumahnya.
Mama intan seketika terkejut melihat kondisi putranya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ya allah jo, wajahmu sampai seperti ini nak. Apa papa mu memukul mu?" Mama intan menangis melihat kondisi jovan saat ini.
Jovan tidak berbicara menanggapi pertanyaan sang mama.
"Aku butuh mama yang selalu mempercayaiku." Lirih jovan, kini air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi, jovan memeluk intan kali ini.
Jovan memang lemah jika sudah berada di hadapan ibunya.
Mama intan mengangguk seketika membalas pelukan putranya.
"Jelaskan nak, mama akan percaya. Putra mama tidak mungkin melakukan hal yang membuat keluarga dan orang tuanya malu. Mama percaya itu." Ucap mama intan berusaha mempercayai putra kesayangannya karna dia percaya jovan tidak mungkin melakukan hal hina yang seperti suaminya ceritakan kemarin.
Baru saja jovan akan menceritakan semuanya tiba-tiba mama intan mendapat telepon dari panji suaminya dan panji mengatakan akan keluar kota untuk memenuhi undangan mengisi acara seminar beberapa hari kedepan, dan panji meminta sang istri untuk ikut bersamanya.
"Bagaimana dengan masalah jovan pa?" Ucap mama intan yang ingin menolak untuk ikut karena memikirkan masalah jovan.
"Biarkan itu menjadi urusannya, papa tidak mau lagi mengurus putra yang sudah mempermalukan kekuarga kita. Bersiaplah sebentar lagi aku menjemputmu." Kata panji di balik telepon tidak ingin di bantah akhirnya intan memutuskan untuk ikut saja.
Setelah mengiyakan permintaan suaminya intan memutuskan sambungan telepon setelah mengucapkan salam.
"Jo, maafkan mama ya nak, mama harus bersiap sekarang, papamu meminta mama untuk ikut ke luar kota mengisi seminar." Kata mama intan merasa bersalah pada putranya yang sedang membutuhkannya saat ini.
"Tidak apa-apa mah, mama bisa pergi ikut papa, hati-hati. Jo mau ke kamar saja istirahat, jo akan menginap di rumah ini saja." Ucap jovan datar sebenarnya sedikit kecewa, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar miliknya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...