Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 64


__ADS_3

Waktu terus berlalu tidak terasa usia kehamilan alina kini sudah memasuki ke sembilan bulan dan sudah memasuki minggu persalinannya, dan alina sudah tidak lagi berani untuk keluar rumah termasuk jovan yang terus diam di rumah karena khawatir istrinya akan melahirnya dalam waktu dekat, jadi jovan meminta cuti selama dua minggu tidak masuk bekerja itu juga atas permintaan panji memperingati jovan untuk tidak meninggalkan alina kemanapun.


"Sayang, kamu tidak perlu masak ya. kita delivey makanan aja, aku tidak mau kamu kelelahan." Ucap jovan memperingati istrinya


"Iih.. Kak jo kenapa jadi lebay gini, masak kan tidak bikin alin kecapean." Cicit alina tidak terima dengan setiap larangan jovan apalagi ketika memasak di dapur.


Jovan menggeleng cepat.


"Jangan di bantah sayang, ini demi kebaikanmu." Ujar jovan.


Jovan kemudian mengambil ponselnya dan membuka sebuah aplikasi memesan makanan untuk makan siang.


Tidak lama sehabis alina dan jovan sholat dzuhur, makan yang dipesan sudah tiba dan mereka berdua bergegas untuk makan siang.


***


Malam sudah tiba dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, jovan sejak tadi sedang sibuk mengotak atik leptopnya karena memantau bisnis tokoh obatnya yang sedang berkembang yang di tangani oleh sahabatnya di luar kota.


Sekilas jovan melihat ke arah alina yang gelisah sejak tadi tidak bisa tidur.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya jovan.


"Aku tidak bisa tidur, kenapa kak jo sejak tadi hanya fokus dengan leptop itu. Bahkan aku tidak bisa tidur kamu masih saja sibuk." Keluh alina kesal dengan wajah cemberutnya karena suaminya sedikit mengabaikannya malam ini.


Entah kenapa alina begitu sangat gelisa malam ini, apa lagi melihat suaminya yang tidak menghiraukannya dan malah sibuk semakin membuatnya merasa kesal.


Karena biasanya ketika alina akan tidur jovan selalu memeluknya dan mengelus perutnya yang sudah sangat buncit itu.


Jovan terkekeh gemas mendengar keluhan istrinya saat ini, pasalnya dia juga sudah ingin tidur tapi apa boleh buat dia harus segera memantau sedikit pekerjaan yang di kirimkan oleh ryan melalui emailnya.


Mau tidak mau dia juga harus ikut andil dalam bisnis ini, karena merasa tidak enak dengan sahabatnya yang selalu memasukkan hasil penjualan setiap bulan tanpa bekerja.


"Kak jooo..!!!" Panggil alina dengan nada sedikit meninggi karena jovan belum juga menghiraukannya.


Jovan menarik nafas dalam, dia tau istrinya itu sedang kesal. Terpaksa jovan meninggalkan pekerjaannya dan menenangkan kembali istrinya.


"Sayang, pelan kan suaramu. Kenapa jadi marah begini? ini sudah malam sayang." Ucap jovan dengan lembut.


Iya, waktu memang sudah menunjukkan pukul 23.35 sudah sangat larut. Biasanya jovan dan alina sudah tidur cepat.


Alina mengeluarkan air mata, melirik ke arah jovan yang sejak tadi dia panggil tidak juga menghiraukannya.

__ADS_1


"Apa leptop itu lebih penting dari pada aku?" Isak tangis alina sudah pecah tidak bisa di bendung lagi.


Seketika jovan terkejut melihat istrinya menangis tiba-tiba seperti itu padahal jovan sudah biasa melakukan hal seperti ini. Bahkan jovan sering bekerja di samping alina yang sudah tertidur, dia tetap bekerja hinggah larut malam. Tapi malam ini jovan melihat alina berbeda dari biasanya.


"Hei, sayang kamu kenapa, kenapa menangis seperti ini?" Tanya jovan mencoba menenangkan alina dengan mungusap lembut air mata yang sudah mengalir deras di pipi mulus sang istri.


"Perut alina sakiitt." Lirih alina sudah dengan isak tangisnya.


Iya, alina sejak tadi memang menahan rasa sakit yang tiba-tiba ia rasakan di bagian perutnya hingga dia gelisah dan takut memberitahu jovan karena tidak mau membuat sang suami khawatir. Alina berfikir jika sakitnya akan redah sebentar lagi tapi ternyata sakit yang di rasakan alina semakin menjadi hingga dia mengalihkan konsentrasi jovan dan meminta di perhatikan.


Jovan yang mendengar keluhan alina sontak membulatkan mata, sedikit terpaku dengan apa yang di ucapkan alina. Meskipun dia seorang dokter tapi ini adalah pertama kalinya yang menghadapi rasa sakit istrinya. Jovan berfikir jika ini sudah waktunya alina melahirkan.


"S..sayang, kamu sakit? di mananya yang sakit sayang, ayo kita ke dokter sekarang." Jovan tidak tau harus berbuat apa, dia semakin gugup menghadapi istrinya sendiri.


"Perut aku sakit kak jo, perut alin kenceng banget kalau sakit." Ucap alina meringis menahan sakit seraya terus memengang perutnya yang terasa sangat sakit serta keras.


Barulah jovan segera tersadar setelah mendengar jelas keluhan alina yang kedua kali, keluhan yang alina ucapkan adalah tanda-tanda bahwa alina akan melahirkan.


"Kamu akan akan melahirkan sayang, ayo aku gendong ke mobil ya. Bertahan ya sayang anak kita akan segera lahir." Ucap jovan berusaha melawan ke khawatirannya.


Jovan segera menggendong alina menuju mobilnya.


"MAMAAA." Teriak jovan dengan.


Memang mama intan dan panji menginap di rumah jovan atas permintaan jovan yang ingin di temani ia takut menghadapi istrinya sendiri yang akan melahirkan.


"Ada pa jo kenapa berteriak malam-malam begini?" Tanya mama intan dengan wajah mengantuk menghampiri kamar jovan.


"Mama, alina kesakitan dan kemungkinan sudah waktunya melahirkan." Ucap jovan dengan langkah panjangnya menggendong tubuh alina meuju mobil.


Mama intan menganggu, perasaannya bercampur aduk rasa khawatir dan senang akan menyambut cucu pertama mereka dia langsung berlari menuju kamar dan mengambil tasnya.


"Ayo jo kita ke rumah sakit sekarang." Ajak panji yang ikut panik dengan kondisi menantunya.


Padahal panji dan jovan menangani pasien sudah biasa namun entah kenapa ketika menghadapi orang tercintanya tiba-tiba menjadi panik seperti ini.


"Mama tolong bawa perlengkapan bayi yang sudah alin siapkan di tas dalam kamar ma." Ucap alina di sela kesakitannya.


Mama intan mengangguk menuruti permintaan menantunya. Beruntung karena alina sudah mempersiapkan semuanya, karena bunda rumi sudah memperingati alina jauh-jauh hari untuk memepersiapkan semuanya seminggu sebelum waktunya melahirkan.


****

__ADS_1


Kini semuanya sudah berada di rumah sakit, tentu saja di Rumah Sakit tempat jovan dan panji bekerja.


Dokter vina memberitahu bahwa proses persalinan alina sudah pembukaan empat itu artinya perut alina akan merasa semakin kesakitan karena sudah memasuki fase aktif.


Sekarang alina yang semakin meringis menahan sakit sesekali menangis seraya tangannya mencengkram lengan jovan yang sejak tadi mendampinginya.


"Kak jo tolong alin, ini sakit sekaliii." Ucap alina meringis.


"Iya sayang, yang kuat lin demi anak kita sayang." Jovan terus menyemangati alina dengan berbagai kata yang di ucapkan seraya tangannya dengan setia memberi elusan lembut di kepala sang istri dan terus memberi kecupan di seluruh wajah istrinya.


Semua anggota keluarga sudah menunggu di depan ruangan bersalin menunggu kehadiran anggota baru yang akan lahir sebentar lagi, semua berharap cemas.


Hanya jovan yang di ijinkan untuk mendampingi sang istri.


Beberapa jam kemudian dokter vina kembali masuk ke ruang bersalin dan kembali melakukan pemeriksaan pada alina yang sejak tadi meringis merasakan sakit.


"Pembukaannya sudah lengkap, sekarang mbak alina harus mengikuti istruksi saya ya..." Dokter vina terus memberi arahan pada alina hingga bayi jovan dan alina lahir dengan selamat.


Ooeek.. oeekk..oeek


Suara tangisan bayi berjenis kelamin perempuan memenuhi ruangan tersebut.


Seketika air mata jovan luruh melihat bayi mungil yang berhasil di lahirkan oleh wanita yang sangat ia cintai.


"Terima kasih sayang.. Terima kasih banyak telah melahirkan putri kita." Ucap jovan penuh haru.


Jovan menciumi seluruh wajah istrinya yang penuh dengan keringat. Sementara alina hanya mengangguk lemah berusaha membalas ucapan suaminya. Rasa sakit yang ia rasakan sejak tadi seketika hilang ketika mendengar tangisan bayinya.


Semua anggota keluarga kedua orang tua jovan dan alina, termasuk juga aby dan shanum terlihat datang menunggu calon keponakan mereka, semua yang ada di luar mengucap syukur alhamdulillah ketika mendengar suara tangisan bayi yang begitu menggema.


"Alhamdulillah." Ucap semua anggota keluarga yang sedang menunggu di luar.


Tak menunggu lama bayi alina dan jovan sudah di bersihkan dan siap untuk di adzankan oleh jovan sendiri.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Beberapa episode lagi akan tamat, kita lanjut ke ceritanya aby dan shanum ya gaes. 😊


__ADS_2