
Ke esokan harinya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 jam kini jovan telah sampai di tanah air dengan selamat. Tujuan utamanya saat ini adalah langsung mendatangi rumah sakit kota tempat alina saat ini mempertaruhkan hidupnya, kabar terakhir yang ia dapat setelah sampai bandara adalah alina masih dalam kondisi kritis dan belum sadarkan diri.
Meski ada perasaan yang begitu hawatir namun jovan tetap berusaha untuk menetralkan pikirannya yang seolah ingin langsung berada di samping istrinya itu. Sebelumnya mama intan memperingati jovan bahwa harus selalu berhati-hati selama di perjalanan.
Tanpa memperdulikan penampilannya yang sudah kusut dan sedikit berantakan karena perjalanan seharian, jovan tidak menghiraukan lagi kondisi penampilannya.
Tidak sampai setengah jam jovan akhirnya sampai di rumah sakit kota tempat alina saat ini. Setelah membayar dan menuruni taksi yang ia kendarai jovan langsung melangkah dengan terburu-buru tanpa menghiraukan setiap sapaan di sekitarnya. Tujuannya saat ini adalah ruang ICU tempat sang istri berbaring lemah.
Sesampainya di depan ruang ICU pandangan jovan langsung menangkap sosok mama intan serta kedua mertuanya dan juga aby dan istrinya.
"Bagaimana kondisi istriku? apa yang sudah terjadi padanya?" Suara nafas jovan terdengar memburu menunggu jawaban dari orang-orang yang ada di hadapannya, sangat terlihat raut wajah hawatir serta kesedihan di wajah laki-laki mudah yang baru menginjak usia dua puluh empat tahun itu.
"Alina.. Dia masih kritis dan masih belum sadarkan diri sudah dua hari ini setelah melakukan operasi." Sahut ayah hendra selaku ayah mertua jovan.
"Operasi?" Ucap jovan yang masih bingung serta bertambah rasa hawatirnya.
Bagaimana bisa alina melakukan operasi sementara saat ini alina dalam kondisi hamil. Pikir jovan yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada istrinya hingga bisa sampai pada meja operasi.
"Calon bayi yang ada di kandungan alina tidak bisa di...." Penjelasan aby terpotong ketika jovan menghentikan aby untuk meneruskan ucapannya.
"Tidaakk, bayi kami akan selamat begitu juga dengan alina, Mereka pasti kuat." Tukas jovan cepat memotong perkataan aby yang mungkin saja akan berkata buruk tentang kondisi bayi dan juga alina.
Pandangan jovan menyusuri ruang tunggu tersebut dan mencoba mencari sosok yang bisa ia mintai penjelasan. Papa panji, ayahnya yang selalu bisa menyelamatkan orang-orang, kini jovan mencari sosok ayah yang selalu berhasil membawa kehidupan baru pada pasien-pasien yang sedang membutuhkan bantuannya.
"Papa, papa dimana mah? jovan mau ketemu papa. Pasti papa berhasil melakukan..."
"Jovan, tenangkan dirimu dulu nak. alina sedang membutuhkanmu." Kata mama intan yang kembali menangis melihat ke hawatiran putranya saat ini.
__ADS_1
"Bayimu tidak bisa di selamatkan, akibat alina terjatuh dari tangga hingga mengakibatkan benturan yang terlalu keras pada bagian perutnya sehinggah kondisi janin yang ada di kandungan alina melemah dan tidak bisa di selamatkan lagi." Jelas papa panji yang tiba-tiba muncul ketika mendengar suara putranya sudah tiba.
Mendengar penjelasan sang papa, jovan merasa dunianya runtuh. Tubuh yang sejak tadi berusaha untuk terlihat kuat serta berusaha untuk tegar seketika tidak lagi bisa menopang tubuhnya dengan kedua kakinya. Jovan terduduk di lantai dengan tumpuhan kedua lututnya dengan kedua netranya yang sudah mengeluarkan isak tangis piluh, menangisi takdir yang tidak berpihak padanya, kenapa harus alina yang mengalami ini? kenapa bukan dia saja.
Air mata jovan tidak bisa ia bendung lagi, jovan menyesal tidak bisa menjaga istrinya dalam kondisi sedang hamil. Jovan menyesal telah menuruti sang ayah untuk menjalani kuliah di negara yang sangat jauh dan membuatnya mengabaikan kondisi istrinya.
Kak jo, apa keberangkatannya nggak bisa di tunda? aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kak jo.
Jovan teringat permintaan terakhir alina saat itu untuk menunda hari keberangkatannya karena masih ingin menghabiskan waktu bersamanya.
"Temuilah istrimu jo, bisikkan dia semangat nak. Maafkan papa tidak bisa menyelamatkan bayi kalian." Ucap papa panji dengan rasa yang penuh penyesalan, mencoba memberi saran kekuatan pada putranya, ia sangat tidak tega melihat putranya saat ini. Lagi-lagi rasa sesal kembali ia rasakan telah membuat putra dan menantunya terpisah.
Dia berjanji tidak akan lagi menuntut jovan untuk melakukan hal sesuai kemauannya. Dia akan membebaskan jovan untuk memilih hidupnya sendiri agar hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.
****
Jovan tidak lagi mempermasalahkan masalah bayinya, mungkin sang pencipta belum mengijinkannya untuk merawat anugrah berupa seorang anak untuk keluarga kecilnya. Yang jovan utamakan saat ini adalah hanya keselamatan istirnya.
"Sayang, ini aku jovan. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa bisa seperti ini?" Ucap jovan dengan suara seraknya karena tidak bisa lagi menahan isak tangisnya melihat tubuh sang istri yang di penuhi peralatan medis.
Jovan mengusap lembut kepala alina mencium kening istrinya dengan begitu lama. Berharap alina merasakan kehadirannya dan bisa mendengarnya.
"Sayang, aku pulang. Aku berjanji tidak akan lagi meninggalkanmu sekalipun aku menentang papa. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan kita akan selalu bersama." Gumam jovan kini posisi wajahnya mendekat pada telinga alina terus membisikkan kata-kata semangat serta curahan hati penuh cinta, berharap alina bisa mendengarnya.
Hingga malam menjelang jovan terus saja menemani alina di ruang ICU tersebut, tidak beranjak sedikitpun kecuali membersihkan dirinya di kamar mandi serta melaksanakan sholatnya. Jovan pun tidak perduli lagi dengan kondisi tubuhnya yang belum sama sekali terisi oleh makanan, karena ia merasa tidak lapar.
Sementara anggota keluarga yang lainnya sudah pulang termasuk ayah hendra dan juga bunda rumi serta aby dan istrinya shanum. Mama intan yang berat untuk pulang namun jovan memintanya pulang karena ingin sendiri menjaga alina.
__ADS_1
Jovan masih saja setia menunggui istrinya yang belum juga sadarkan diri, jovan memandang wajah pucat istrinya dengan lekat, sesekali jovan menciumi wajah alina yang terus saja membuatnya rindu ketika jarak memisahkan mereka.
"Sayang, kamu yang kuat demi aku." Kembali jovan berucap dengan nada lirih seraya menggenggam dan terus saja mencium tangan istrinya.
Suara telepon jovan berdering menandakan ada panggilan masuk, di liriknya ponsel yang terletak di atas nakas di sampingnya tersebut. Kemudian di raihnya benda pipih miliknya itu.
"Iya mah." Ucap jovan dengan suara yang tidak bersemangat.
"Jangan lupa makan nak, mama harap kamu tidak mengabaikan kondisimu, sejak pagi tadi kamu belum sama sekali mengisi perutmu jo. Jika kamu sakit lalu siapa yang menjaga istrimu dan memberinya semangat?" Jelas mama intan mencoba membujuk jovan untuk tetap memperhatikan kondisinya.
Jovan tidak menyahuti prkataan mama intan hingga akhirnya mama intan menutup sambungan teleponnya.
Kedua netranya melirik makanan yang sejak tadi belum ia sentuh sama sekali. Jovan berfikir perkataan mama ada benarnya, dia harus tetap menjaga kondisinya dan harus tetap terlihat baik-baik saja demi istrinya yang sedang membutuhkannya saat ini.
Kemudian jovan meraih kotak makan yang sudah di beli oleh mama intan tadi sebelum pulang. Lalu menyuapinya di mulutnya meski tidak ada selera makan sama sekali.
*
*
*
TBC...
Maaf teman-teman kalau ceritanya masih berasa garing gak dapat geregetnya sama sekali ya. Mungkin ini karena masih tahap konflik awal belum masuk pada konflik sebenarnya.. Hehee
Di tunggu kelanjutannya ya, jangan lupa untuk tetap beri likenya buat author semangat upnya.. hanya minta likenya aja kok teman-teman setiap habis baca partnya 🙏🙏😊
__ADS_1