
Tidak terasa kini usia kehamilan alina sudah memasuki usia tiga bulan, morning sickness yang di alami sekarang sudah tidak lagi.
Alina tetap melaksanakan kuliahnya seperti biasa, dan sekarang alina juga tengah membuka usaha butik sederhana dengan di bantu oleh beberapa karyawan, karena memang cita-cita alina ingin memiliki sebuah butik, dan akhirnya hendra menuruti keinginan alina sambil menjalani kuliahnya.
Sekarang alina juga sudah sangat pandai dalam merancang sebuah busana meski kuliahnya baru menginjak semester ke empat. Karena sebelumnya alina sudah sering mengikuti pelatihan tambahan di luar jam kuliahnya untuk mengetahui dunia butik desainner serta butik.
Kedua orang tua alina sangat mendukung sang putri termasuk aby abang kesayangan alina. Terlebih lagi jovan begitu sangat mendukung cita-cita istrinya. Jovan berfikir dia tidak akan melarang apapun yang ingin di lakukan alina selama sang istrinya tetap menjaga kehamilan serta kesehatannya.
Komunikasi dengan suaminya pun tidak pernah luput, keduanya sama-sama saling memberi kabar melalui ponsel smart mereka.
Hari ini alina akan berkunjung di butiknya karena kebetulan hari ini adalah hari liburnya, tidak ada jam kuliah.
"Bunda, alin mau ke butik hari ini." Kata alina.
"Sarapan dulu sayang." Pinta bunda rumi.
Alina mendudukkan dirinya di meja makan untuk menyantap sarapan bersama kuarganya.
"Jangan terlalu kecapean lin, ingat kehamilanmu masih rentan loh." Suara aby mengingatkan adiknya di sela menyantap sarapannya.
"Hmmm." Gumam alina menyahuti perkataan abangnya.
Tak membutuhkan waktu lama keluarga hendra telah selesai menikmati sarapannya, kebetulan hari ini adalah hari libur, hendra maupun aby tidak ke kantor.
Aby berniat akan mengajak gio untuk bertemu membahas masalah pekerjaan.
"Aby, kemarin ayah sudah sepakat dengan darman menentukan tanggal pernikahanmu dengan shanum putrinya." Ucap hendra ketika selesai sarapan.
Langkah aby terhenti ketika mendengar ucapan ayahnya.
"Kita sepakat jika minggu depan sudah akan melamarnya." Imbuh ayah hendra lagi.
Terlihat aby hanya mengepalkan tangannya, jengah dengan sikap ayahnya yang seenaknya saja menentukan tanggal pernikahan yang sama sekali tidak dia setujui.
"Aby?" Panggil bunda rumi yang bisa melihat raut wajah putranya seperti sedang marah.
Aby masih tak bergeming dari tempatnya.
"Aby baik-baik saja bunda, rerserah ayah dan bunda saja. Aby hanya mengikuti saran kalian." Sahut aby kemudian dengan rasa kesal. Lalu aby melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamarnya.
Aby sudah sangat jengah dengan sikap ayahnya yang tetap kekeh menjodohkannya.
"Ayah, apa sebaiknya bang aby tidak usah di jodohkan, biarkan dia memilih pilihannya sendiri yah." Kata alina pada ayahnya mencoba membujuk ayahnya agar abangnya tidak jadi di jodohkan.
__ADS_1
Bunda melihat ke arah alina, lalu menggeleng meminta alina untuk tidak ikut campur.
Dan alina pun paham, akhirnya dia memutuskan untuk tidak ingin ikut mengurusi masalah perjodohan abangnya. Bahkan sampai hari ini pun alina tidak pernah bertemu dengan calon kakak iparnya.
Usai melihat perdebatan ayah dan abangnya alina memutuskan untuk pergi ke butik dengan di antar oleh supir keluarganya.
Sesampainya di butik alina di sambut oleh dua orang pegawai yang alina pekerjaan.
"Pagi mbak alin." Sapa salah satu pegawai butik alin yang bernama Susi.
"Pagi.." Sahut alina tersenyum.
Kedua karyawan butik alina sangat senang bisa bekerja di butik tersebut pasalnya alina memperlakukan mereka dengan begitu baik.
"Riska dan susi sudah sarapan?" Tanya alina pada kedua karyawan itu.
"Sudah mbak, baru aja selesai." Sahut riska.
"Syukurlah."
Kemudian alina pergi ke ruangannya untuk mengerjakan sebuah pesanan gaun untuk anak-anak yang akan di pakai di acara ulang tahun.
Begitulah keseharian alina ketika sedang libur kuliah, dia selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke butiknya.
Di amerika.
Hari demi hari jovan melewati harinya dengan semangat, ingin segera mengakhiri masa kuliahnya. Dia merasa sudah sangat merindukan sang istri.
Meski setiap hari keduanya melakukan panggilan vidio namun tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa rindunya pada alina.
Keseharian jovan juga sudah mulai di sibukkan dengan berbagai macam praktek di beberapa rumah sakit yang ada di kota tempatnya tinggal saat ini.
Jovan juga sudah mulai akrab dengan gadis yang pernah menabraknya waktu itu. Hanya saja gadis itu berbeda jurusan dengan jovan, gadis itu sedang menjalani pendidikan kedokteran umum.
Jovan berfikir tidak ada salahnya jika berteman dengan sesama mahasiswa yang berasal dari negara yang sama.
"Jovan." Panggil seorang wanita itu ketika melihat jovan.
Jovan hanya mengangguk tersenyum menggapi panggilan Luna
"Kamu sudah makan malam?" Tanya gadis cantik yang bernama luna itu yang baru saja melihat jovan kuar dari ruang praktek.
Luna Alexander adalah mahasiswa dari indonesia yang mengambil dokter umum di harvard university.
__ADS_1
"Belum, nanti saja sekalian di apartemen." Sahut jovan.
"Bagaimana kalau kita makan malam bareng di luar." Ajak luna.
Jovan berfikir sejenak, lalu tak lama setelah itu jovan mengangguk mengiyakan ajakan luna.
"Boleh, tapi aku ngajak reyhan boleh ya?" Pinta jovan, karena memang dia tidak ingin jalan berdua dengan gaids itu.
Seketika raut wajah luna terlihat raut wajah kecewa sedikit tidak setuju dengan permintaan jovan barusan. Padahal dia ingin menikmati makan malamnya berdua saja dengan jovan.
Luna sama sekali tidak mengetahui jika jovan sudah memiliki istri, pasalnya luna tidak pernah mencari tau tentang jovan. Luna hanya berharap ingin dekat dengan jovan.
"Ya udah, rey di ajak aja kalau gitu, biar rame." Sahut luna kemudian, menyetujui permintaan jovan meski dengan terpaksa.
Jovan pun segera menelpon reyhan laki-laki yang sudah menjadi temannya selama berkuliah di amerika.
"Halo rey." Ucap jovan ketika panggilan telepon sudah tersambung.
"Ya jo, ada apa tumben lo nelpon gue." Sahut rey di bakik telepon.
"Makan malam di luar yuk barengan sama luna." Kata jovan.
"Sekarang?" Tanya rey.
"Iya sekarang kita tunggu di depan kampus." Ucap jovan lalu mematikan sambungan telepon setelah mendengar jawaban iya dari reyhan.
Jovan sedikit lega karena reyhan mau ikut, jika tidak entah alasan apa yang akan di kasih pada luna. Karena jovan merasa tidak enak menolak ajakan perempuan yang di hadapannya sekarang.
Tak membutuhkan waktu lama rey sudah terlihat dari jauh seraya melambaikan tangannya ke arah luna dan jovan.
"Berangkat sekarang?" Tanya rey setelah sampai di hadapan jovan dan luna.
Jovan mengangguk, begitu juga dengan luna.
Ketiganya pergi ke kafe terdekat yang menyediakan berbagai menu makanan khas indonesia untuk mengisi perut mereka yang sudah merasa lapar.
Mereka pun memesan menu makanan sesuai selera masing-masing serta minuman.
Setelah beberapa menit menunggu, terlihat dua orang pelayan mengantar makanan yang mereka pesan tadi.
"Terima kasih." Ucap luna pada pelayan tersebut.
Dua orang pelayan itu mengangguk sopan. Lalu meninggalkan meja makan mereka setelah mempersilahkan pelangganya menikmati hidangan makan malam mereka.
__ADS_1