Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 37


__ADS_3

Kali ini alina dan jovan sudah berada di kediaman mereka berdua setelah melewati beberapa drama di rumah orang tua alin. Alhasil mereka baru bisa pulang sore hari ketika para keluarga inti sudah pada bubar dari kediaman orang tua alin.


Ketika sampai rumah mereka, jovan langsung meminta pada alina ingin di buatkan makan malam berhubung bi mariam tidak ada karena ijin tidak masuk untuk bekerja selama jovan dan alina tidak tinggal di rumah mereka.


Alina dengan senang hati membuatkan suaminya makanan yang bisa ia masak, alina mengerti mungkin suamimya sudah sangat merindukan masakannya.


"Aku bantu ya." Ucap jovan yang tiba-tiba muncul dan lagi-lagi sudah melingkarkan kedua tangannya dan memeluk istrinya dari belakang.


"Ini sih bukan bantuin namanya, malah keganggu acara masaknya." Keluh alina.


Jovan hanya tersenyum, sama sekali tidak melepaskan pekukannya.


"Ka jo, jangan begini." Suara alina seraya mengaduk-aduk sop ayam yang telah di buatnya.


Alina yang berusaha mengindar dari pelukan suaminya tetap saja gagal karena jovan tidak menghiraukan keluhan alina meski berkata susah bergerak.


"Sini ku bantuin." Kata jovan kemudian melepaskan pelukannya dari alina.


"Sudah selesai kak." Tutur alina seraya menampilkan senyum cantik pada suaminya.


Usai memasak alina bergegas menuju kamar berniat untuk membersihkan diri karena sudah merasa sangat lengket, begitu juga dengan jovan dia selalu mengikuti kemana alina beranjak.


"Aku mau mandi dulu, habis magrib kita baru makan malam ya kak." Ucap alina berjalan menuju kamar mereka.


"Hmm, kita mandi bersama boleh?" Ucap jovan yang mencoba meminta pada istrinya untuk mandi bersama.


"Hahh?" Alina di buat melongoh dengan permintaan suaminya. Pasalnya ini pertama kalinya jovan memintanya mandi bersama.


"Pleasee." Kembali jovan meminta, kali ini dengan wajah memelas, sangat berharap alina menurutinya.


Tidak ada sahutan dari alina yang terus berjalan hingga kamar mereka. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar, alina segera mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.


"Alinaa." Panggil jovan yang melihat alina sama sekali tidak menghiraukannya. Langkah alina terhenti lalu berbalik ke arah suaminya.


"Kak jo, alin malu." Gumam alina dengan menundukkan kepalanya.


Jovan memajukan langkahnya mendekati alina dan kedua tangannya memegang pundak alina.


"Sayang kenapa harus malu, aku kan suami kamu." Kata jovan lembut.


Kali ini alina pasrah mendengar perkataan jovan, memang benar jovan berhak atas dirinya jadi alina berfikir jika dia harus menuruti permintaan suaminya kali ini, apa lagi jovan tidak lama di sini hanya seminggu saja.


Kemudian alina mengangguk menuruti permintaan jovan untuk mandi bersama sore ini.

__ADS_1


"Yess." Dengan refleks jovan menggendong alina ke arah kamar mandi.


"Kak joooo.!!! apa-apaan sih, alina makin berat tau." Teriak alina dengan reflek tangannya sudah melingkar di leher jovan.


Ketika keduanya sudah di kamar mandi alina begitu enggan untuk membuka bajunya. Sedangkan jovan sudah bertelanjang dada di hadapan alina siap untuk masuk ke dalam bethup.


"Kenapa?" Tanya jovan yang melihat alina terus saja menundukkan pandangannya.


Alina menggeleng masih dengan posisi wajah menunduk.


Kemudian jovan berjongkok untuk menggapai wajah istrinya yang begitu sangat malu. Jovan paham jika alina masih merasa sangat malu dengan suasana ini, apalagi mereka belum pernah menghabiskan waktu hanya untuk mandi bersama.


"Sayang." Gumam jovan, kedua tangannya menangkup pipi mulus istrinya.


Dengan perlahan jovan memeluk istrinya, sebisa mungkin jovan membuat alina merasa nyaman dan tidak akan malu lagi jika dalam suasana intim seperti ini.


"Kak jo." Ucap alina dengan wajah yang sudah sangat memerah. Kini sudah dalam pelukan suaminya.


Setelah lama melewati penolakan dari alina akhirnya mereka berhasil mandi bersama, keduanya sedang berada di dalam bethup menikmati air yang membasahi tubuh polos mereka.


"Kak jo gelii." Keluh alina pada jovan yang sejak tadi selalu mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.


Keduanya masih saling memeluk dengan posisi jovan berada di belakang alina seraya memainkan busa yang memenuhi bethup tersebut. Sementara tangan jovan sejak tadi terus saja mengelus perut sang istri.


Usai keduanya mandi bersama, merekapun melaksanakan sholat magrib bersama dengan jovan yang menjadi imam sholat alina.


Beberapa menit kemudian setelah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, keduanya beranjak setelah membereskan perlengkapan sholat menuju ruang makan untuk segera menikmati makan malam bersama.


Keduanya menikmati makan malam dengan suasana hati yang begitu sangat bahagia, sesekali jovan bercerita tentang pengalamannya selama beberapa bulan tinggal di luar negeri.


Hinggah larut malam, usai mengerjakan sholat isya bersama keduanya memutuskan untuk beristirahat di tempat tidur, dan hampir jam sepuluh malam alin dan jovan masih saja menghabiskan waktu untuk mereka berbagi cerita seolah jovan tidak membiarkan istrinya tertidur, ia terus saja mengajak alina bercerita perihal apa yang dia lakukan selama di luar negeri, menceritakan jika dia memiliki sahabat baru dan juga tidak memiliki teman wanita.


Sementara alina mendengar dengan seksama seraya tubuhnya bersandar di dada bidang suaminya sambil memain-mainkan kancing baju jovan.


"Kalau kamau bagaimana? Apa yang telah kamu rasakan selama aku tidak bersama mu?" Tanya jovan balik pada alina, ingin mengetahui keadaan alina selama mereka tidak bersama.


Alina pun mulai menceritakan berbagai hal tentang dirinya selama jovan sudah di luar negeri. Termasuk dirinya yang sudah membuka sebuah butik sederhana.


"Aku berusaha tetap semangat untuk menjalani hari-hari walaupun aku sangat merindukan suamiku." Ucap alina lirih.


Sesekali mendongak untuk melihat wajah suaminya.


"Lalu kenapa kamu mengabaikan teleponku waktu itu? kamu tau alin? aku sudah seperti orang gila jika tidak mendengar suaramu sehari saja. Untungnya aku langsung berfikir jika aku harus menelpon bang aby untuk menanyakan kabarmu dan bertanya kenapa alina tidak mengangkat teleponku?" Keluh jovan pada saat alina pernah mengabaikan teleponnya.

__ADS_1


Bukannya menjawab, alina hanya menampilkan senyumnya dan memeluk tubuh jovan semakin menyusupkan kepalanya di dada suaminya.


"Aku lupa memegang ponselku waktu itu, karena memang di sibukkan dengan tugas kuliahku." Sahut alina memberi jawaban yang jujur agar suaminya bisa mengerti.


"Benarkah? aku kira kamu sengaja mengabaikan teleponku." Tebak jovan ingin melihat reaksi alina.


"Kak jo, bukan seperti itu. Aku bahkan selalu menunggu chat ataupun telepon darimu. Mana mungkin aku sengaja." Ketus alina tidak terima dengan pernyataan suaminya barusan.


Hening, lama keduanya saling berdiam yang terdengar hanya dentuman jam yang berputar serta suara hembusan nafas keduanya.


"Alina." Panggil jovan kemudian memastikan bahwa alina belum mengantuk.


"Hmm." Alina hanya bergumam menyahuti jovan.


"Apa kamu belum mengantuk?" Tanya jovan.


Jovan bisa merasakan alina menggeleng di pelukannya.


"Aku masih merindukan kak jo." Sahut alina kemudian.


Jovan tersenyum mendengar pengakuan alina. Lalu dia mengelus sebelah pipi istrinya seraya menyelipkan anak rambut alina yang sedikit menutupi wajahnya, kembali jovan mendaratkan kecupan pada kening istrinya.


"Alina. Apa aku boleh melakukannya?" Kini posisi jovan sudah duduk berhadapan dengan alina.


Alina yang mengerti maksud pertnyaan suaminya langsung menunduk karena merasa wajahnya panas dan pasti pipi sudah sangat memerah sekarang. Dia kembali mengingat waktu pertama kalinya jovan meminta haknya.


Mengingatnya saja sudah membuat pipi alina semakin memerah saja.


"Alina?" Panggil jovan sekali lagi. Kedua tangannya menangkup pipi mulus istrinya.


Dan akhirnya alina mengangguk menuruti permintaan jovan. Tentu saja membuat jovan sangat bahagia dan kembali mendaratkan sebuah kecupan bertubi-tubi diseluruh wajah cantik istrinya. Hingga terjadilah sebuah ciuman panas membuat keduanya merasakan gelanyar aneh yang membuat mereka mencapai kenikmatan surga dunia.


Keduanya saling melepas rindu yang selama beberapa bulan kemarin sedang memenuhi relung hati alina dan jovan.


*


*


*


TBC...


Jangan lupa untuk tetap tinggalkan like ya cantik 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2