
Sementara di belahan bumi yang berbeda, saat ini tepatnya di singapura aby terlihat sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang tengah di bangun di negara singa tersebut.
Satu minggu yang lalu aby mendapatkan pemberitahuan dari orang kepercayaannya yang ada di singapura bahwa aby harus menghadiri acara pembukaan pembangunan cabang perusahaannya. Aby pun meninggalkan tanah air seminggu yang lalu tanpa memberitahu shanum terlebih dulu. Karena itu memang kebiasaannya tidak harus memberitahu wanita itu. pikirnya.
Sedangkan perusahaannya yang di tanah air aby mempercayakannya kepada gio. Gio dengan suka rela menuruti keinginan bos sekaligus sahabatnya itu.
Sudah satu minggu ini aby menjalankan perannya sebagai pemilik perusahaan di negara singa tersebut, tetapi dia tidak menjabat sebagai CEO, karena aby sudah memilih orang kepercayaannya yaitu sepupunya sendiri yang akan menjalani serta menjalankan perusahaannya.
Aby baru akan pulang esok hari, karena hari ini dia sudah berjanji akan mengajarkan sesuatu untuk Rio sepupunya agar tidak kebingungan dalam menjalankan perusahaannya nanti.
Ketika sedang asik menjelaskan hal penting pada rio, tiba-tiba suara teelpon milik aby berdering menggema di dalam ruang kerjanya.
"Bang ada telepon tuh, di angkat dulu." Ujar rio.
Aby mengangguk kemudian beranjak dari tempat duduknya, menjawab panggilan telepon, tertera nama gio di sana.
"Halo." Ucap aby terlebih dulu membuka suara.
"Halo by, sebaiknya loe pulang sekarang. Shanum sedang membutuhkan loe." Ucap gio dari balik telepon.
"Apaan? nyuruh gue pulang, pekerjaan gue masih banyak disini, hari ini gue harus mengajari rio sedikit tentang perusahaan yang harus ia jalani besok." Ujar aby menolak keras dengan ucapan gio yang menyuruhnya pulang.
"Aby. Shanum sedang butuh loe sekarang, apa kamu belum mendengar kabar orang tua shanum kecelakaan dan nyawanya tidak bisa di selamatkan." Ucap gio memberitahu aby.
Mendengar ucapan gio dari balik telepon membuat aby menegang, sangat terkejut bukan main.
"Kamu jangan bercanda io, Kamu ngarang biar aku cepat pulang begitu?" Elak aby, berharap apa yang di dengar dari gio adalah bohong.
"Pulang by, kasian shanum." Ucap gio sekali lagi setelah itu dia langsung memutuskan teleponnya, tanpa mau menimpali perkataan aby yang mengatainya memberi berita bohong.
"Halo gio.. Giooo." Teriak aby.
Sambungan telepon sudah terputus, kini perasaan aby tidak menentu, Dia harus pulang saat ini juga.
"Ada apa bang, apa terjadi sesuatu?" Tanya rio penasaran dengan raut wajah abang sepupunya yang seketika berubah.
"Abang mau pulang sekarang, siapkan tiket siang ini juga rio. Aku akan bersiap sekarang." Ucap aby, segera melangkah ke dalam kamar yang selama seminggu ini ia tempati, yaitu apartemen milik rio sepupunya.
Rio yang mendengar perintah abang sepupunya itu, hanya bisa menuruti tanpa banyak bertanya lagi.
Sementara aby sedang bersiap, rio segera melaksanakan perintah aby tadi.
****
__ADS_1
Saat ini aby sedang di perjalanan menuju bandara di antar oleh rio sepupunya.
"Apa ada masalah bang, sampe bang aby pulang dadakan begini." Dengan fokus menyetir rio bertanya pada aby.
Aby tidak merespon pertanyaan dari rio, entah kenapa fikiran aby saat ini terfokus pada shanum sejak tadi setelah mendapat telepon dari gio.
Tak lama setelah sampai bandara pengumuman untuk jam keberangkatan menuju indonesia telah tiba, aby bergegas beranjak dari tempat duduknya langsung menuju area pesawat.
Menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam kini aby telah sampai di tanah air, di sana sudah terlihat gio sedang menunggu untuk menjemputnya karena sebelumnya aby telah menelpon gi.
"Aku mau langsung ke rumah io." Ujar aby setelah mendudukkan dirinya tepat di samping kemudi.
Gio hanya mengangguk.
"Syukur deh loe akhirnya mau pulang." Kata gio.
Aby hanya diam, sama sekali tidak menimpali perkataan gio. Kali ini aby tidak ingin berdebad, ia sedang fokus dengan fikirannya sendiri, yaitu fikirannya tentang shanum. Entah kenapa aby sejak tadi fikirannya hanya di penuhi oleh shanum.
Tidak membutuhkan waktu lama gio mengendarai mobilnya menuju rumah aby, akhirnya telah sampai di halaman utama. Gio langsung berpamitan untuk pulang karena masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
***
Sementara shanum, setalah pemakaman kedua orang tuanya, shanum meminta ijin pada bunda rumi dan ayah hendra untuk pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu.
Bunda rumi meminta untuk menemani shanum tapi shanum menolak dengan alasan ia ingin sendiri saat ini. Bunda rumi akhirnya hanya menuruti keinginan shanum, dan kebetulan dirumah shanum dia tidak sendiri karena di kediaman orang tuanya ada beberapa asisten rumah tangga dan juga supir keluarganya.
Shanum lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya karena ia merasa benar-benar ingin sendiri saat ini.
Tak lama kemudian shanum telah sampai di kediaman almarhum orang tuanya.
Terlihat satpam dan juga beberapa asisten rumah tangga menyambut kedatangan shanum.
Shanum memasuki rumah yang sangat mewah tersebut, shanum merasa sangat kesepian meski beberapa asisten tinggal di sana.
"Non shanum, apa mau saya buatin makan malam?" Tanya bi sumi salah satu asisten rumah tangga di rumah itu.
Shanum menggeleng pasti, rasanya ia tidak memiliki nafsu makan saat ini. Ia ingin memasuki kamar dady dan maminya sekarang, ingin sekali menumpahkan rasa rindu yang bahkan mustahil untuk bisa di obati hanya dengan berdiam di kamar bekas orang tuanya.
Saat ini shanum tengan berada di kamar orang tuanya, memandangi setiap sudut kamar tersebut dan terdapat sebuah figura berukuran besar di sana, foto dady dan juga sang mami di tenga-tengah ada dirinya di sana.
Shanum kembali merasa sangat tersayat hatinya, masih tidak percaya jika orang tuanya secepatnya meninggalkannya di dunia ini sendirian.
Shanum sangat merindukan kalian mami, dady
__ADS_1
Shanum bergumam seraya memandang foto kedua orang tuanya, sesekali tangannya menugusap air mata yang masih terus mengalir di pipi mulusnya.
Setelah puas memandangi foto dan bierdiam di kamar orang tuanya, shanum beranjak dari tempat tidur yang berukuran king size itu, lalu membawa dirinya ke dalam kamar miliknya.
"Bi sumi, tolong tetap bersihin kamar dady dan mami ya." Ujar shanum memeberitahu agar kamar dady dan maminya tetap dalam keadaan bersih.
"Apa non shanumau istrirahat?" Tanya bi sumi.
Seketika shanum menangis memeluk bi sumi, wanita paruh baya yang telah merawatnya sejak shanum masih bayi.
"Shanum sangat merindukan mereka bi." Ucap shanum dengan nada lirih terdengar sesegukan.
Bi sumi mengangguk seraya menepuk lembut pundak shanum.
"Yang sabar ya non, allah lebih menyayangi mereka, tuan dan nyonya adalah orang baik. Yang mereka butuhkan saat ini adalah do'a dari kita non. Semoga orang tua non shanum mendapat tempat terbaik di sana." Ujar bi sumi berusaha menenangkan shanum wanita mudah yang sejal kecil ia jaga dan sudah seperti anak sendiri.
Shanum hanya menangguk mendengar setiap penuturan bi sumi.
Bi sumi dengan setia menemani shanum hingga tangis shanum sudah sedikit tenang.
"Sebaiknya non ke kamar istirahat ya, bibi akan masak untuk makan malam kita." Ucap bi sumi lagi, dan shanum akhirnya mengangguk pasrah.
Meski dirinya tidak makan, tapi masih ada beberapa orang di rumahnya yang ingin mengisi perutnya nanti malam. jadi shanum membiarkan bi sumi dan yang lainnya memasak.
Shanum saat ini tengah berada di kamarnya, ia kembali mengambil foto kedua orang tuanya, shanum kembali menangis mengingat semua kenangan bersama orang tuanya sejak ia kecil hingga beranjak dewasa seperti saat ini.
Sementara aby yang baru saja masuk ke dalam rumah namun tidak mendapati shanum di sana.
Aby langsung menelpon kedua orang tuanya menyakan keberadaan shanum saat ini.
"Assalamu'alaikum aby, kamu sekarang di mana aby, apa kamu tidak merasa kasihan dengan istrimu yang bahkan saat ini sedang membutuhkanmu, Bunda sangat kecewa dengan sikapmu aby" Ucap bunda rumi lebih dulu membuka suara di balik sambungan telepon yang baru saja tersambung.
"Bunda, apa shanum ada di sana?" Tanya aby to the point tampa menimpali perkataan panjang lebar bundanya, karena merasa aby tidak ingin berdebt saat ini, ia hanya ingin mengetahui keberadaan shanum.
"Shanum sedang pulang ke rumahnya, dia berkata ingin melihat keadaan rumahnya." Sahut bunda rumi sedikit berbohong pada putranya, yang sebenarnya shanum benar-benar ingin sendiri.
Bunda rumi berkata seperti itu, karena berharap aby akan menyusul menantunya di sana.
"Baiklah bunda, aby akan menemuinya." Ucap aby kemudian, setelah itu mematikan sambungan telepon.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...