
Empat hari lagi menjelang pernikahan abyaz dan shanum, semua keluarga telah sibuk menyiapkan acara pernikahan mereka tertama dari pihak laki-laki semua kerabat dan keluarga dari jauh telah berkumpul di kediaman keluarga hendra. Begitu juga dengan kediaman keluarga darman sudah terlihat sangat ramai.
Alina sudah menghubungi jovan dua minggu yang lalu setelah pulang dari acara lamaran aby, alina langsung memberitahu suaminya perihal pernikahan abangnya yang akan digelar dalam waktu dekat. Tidak terasa empat hari lagi acara pernikahan aby akan di gelar.
Jovan memutuskan akan pulang untuk menghadiri acara pernikahan abang iparnya. Tentu saja membuat alina begitu sangat bahagia dengan keputusan jovan yang akan pulang ke tanah air meskipun hanya satu minggu namun keduanya bisa saling melepas rasa rindu.
Alina terus saja mengingat kata-kata jovan melalui telepon waktu itu, kata-kata yang membuatnya semakin bersemangat menjalani hari-harinya.
Sayang tunggu aku pulang ya, sehari sebelum pernikahan bang aby aku akan tiba di sana.
Kata-kata itu yang membuat alina menjadi semangat, alina terus saja mengulas senyum, hinggah bundanya sesekali menegur alina yang menampilkan senyum bahagianya.
"Si bumil mudah senyum-senyum terus nih dari tadi." Tegur salah satu sepupu alina yang sejak kemarin tiba dari luar kota.
Semakin tersenyum saja alina di buatnya.
"Mungkin dia bahagia karena suaminya akan tiba besok." Imbuh bunda rumi membenarkan apa yang ada di fikirannya.
"Bunda ih, kok tau sih. Alina rindu banget tau sama kak jo." Sahut alina dengan senyum lebarnya menampilkan deretan gigi putihnya.
Bunda rumi menggeleng melihat tingkah malu-malu alina.
Hari ini alina akan berangkat kuliah seperti biasa karena hari ini ada kelas penting yang harus di ikuti. Alina tidak mau menyia-nyiakannya.
"Bunda, alin berangkat kuliah dulu ya. Mungkin alin pulangnya sorean ya bun." Ijin alina pada bundanya.
"Biar aby yang antar alin bun." Sahut aby yang tiba-tiba muncul di ruang dapur.
"Kamu yakin mau ngantarin adikmu? Tantemu bilang kamu harus di pingit sudah tidak bisa keluar rumah nak." Kata bunda rumi memperingati putranya.
"Ya allah bunda, nggak perlu pake adat yang seperti itu, aby hidup sesuai sunah rasul saja tidak perlu mendirikan adat yang seperti itu. Lagian aby juga akan pusing di rumah terus terusan, masih banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan bunda." Ucap aby panjang lebar, tidak ingin membenarkan adat yang di usulkan oleh tantenya.
"Abyyy... Kamu membantah aturan adat istiadat keluarga?" Teriak tante ratna dari ruang belakang dapur.
"Jangan membantah aby." Ucap tante ratna lagi yang tidak ingin di bantah.
Alina hanya bisa menahan tawa, melihat tantenya yang terlalu protektif jika mengenai masalah adat istiadat.
"Dengerin tuh bang. Udah deh alin nggak apa-apa kok bang, biar pak tomi saja yang ngantarin alin le kampus." Ucap alin kemudian.
Aby hanya memutar bola matanya kesal dengan semua larangan sebelum acarah pernikahan.
Dasar adat konyol, bahkan pernikahan yang sama sekali nggak gue inginkan malah pake adat adatan segala lagi.
Aby bergumam kesal pada dirinya sendiri.
"Ya sudah kamu minta pak tomi aja sana. Hati-hati aja di jalan, jangan terlalu kecapean." Imbuh aby memperingati adiknya.
"Siap bang aby sayang." Sahut alina bahagia seraya mencium pipi abangnya tidak lupa menyalami punggung tangan abang dan bundanya.
__ADS_1
"Bunda, bang aby, alina berangkat ya." Pamit alina.
"Hati-hati nak." Kata bunda rumi.
Kemudian alina berangkat dengan di antar oleh supir keluarga.
****
Tidak terasa waktu sore telah tiba alina baru saja menyelesaikan mata kuliah sore hari ini. Alina berniat untuk langsung pulang saja, sebelumnya alina ingin membeli sesuatu yang snagat ia inginkan yaitu martabak manis coklat keju.
"Lin kamu di jemput atau naik taksi?" Tanya indah sahabat alin.
"Di jemput supir ndah, kayaknya sebentar lagi datang deh." Sahut alin.
"Oh gitu, ya udah lin aku duluan kalau gitu." Kata indah.
"Okeh, hati-hati ndah."
Lima menit alina menunggu di depan kampus akhirnya jemputan alina sudah tiba. Alina segera menaiki mobilnya tidak sabar ingin membeli martabak coklat keju manis.
"Pak tomi, mampir sebentar ke tempat penjual martabak ya pak." Pinta alin.
"Siap non."
Lama pak tomi mengendarai mobil membelah jalanan hinggah akhirnya sampai di tempat yang di minta oleh alin tadi. Namun tempat penjual martabaknya terlihat sangat ramai jadi alina harus sabar menunggu.
"Non alin sebaiknya non tunggu di mobil saja, biar saya aja yang pergi beli. Nggak baik jika non alin berada di kerumunan seperti itu." Kata supir itu menawarkan diri dan menyarannkan alina untuk menunggu di mobil saja.
Supir itu mengangguk menanggapi ucapan majikannya.
Hampir tiga puluh menit pak tomi menunggu antrian membeli martabak manis itu, akhirnya ia mendapati apa yang di inginkan oleh alina.
"Makasih ya pak, satu kotaknya buat bapak." Ucap alin setelah pak tomi kembali dari antrian panjangnya, dan memberikan pada supirnya satu kotak karena memang alin membeli tiga kotak, pantas saja menunggunya hampir setengah jam.
Selang beberapa menit alina telah sampai di rumah setelah melewati drama kemacetan sore hari menjelang magrib.
"Alina baru sampai nak?" Tanya bunda rumi.
"Iya nih bunda, tadi alina sempat mampir dulu beli martabak manis. Alina tiba-tiba pengen makan martabak." Sahut alina.
Lalu alina langsung duduk di meja makan untuk menikmati martabak yang ia beli tadi.
Baru saja alin mau memasukkan martabak ke dalam mulutnya, tiba-tiba aby merampas potongan martabak milik alina dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Bundaaaaa." Aduh alina tidak terima dengan kelakuan aby yang seenaknya mengambil miliknya.
"Abyy?" Tegur bunda rumi.
Kebiasaan aby yang selalu menjahili adiknya itu.
__ADS_1
"Cuma nyicip doang, pelit amat dek." Kilah aby.
"Kenapa mesti ngambil yang ada di tangan alin sih baang." Keluh alina dengan nada jengkel.
Tidak menggubris perkataan alina aby tetap melanjutakan kunyahannya dan mengambil potongan selanjutnya yang masih ada di dalam kotak.
Dengan segera alina menyisihkan untuk dirinya ke dalam piring lalu beranjak meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Bang aby resee." Sarkas alina seraya melangkah menaiki anak tangga.
Aby hanya tersenyum smirk dengan santai mengunya martabak.
Sesampainya di kamar alina sejenak duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya untuk menikmati beberapa potong martabak sebelum membersihkan diri dan melaksanakan sholat magrib.
Tidak menunggu lama setelah menghabiskan martabaknya alina beranjak untuk membersihkan diri karena adzan magrib sudah berkumandang.
Sepuluh menit alina menghabiskan waktu untuk membersihkan diri. Kini dirinya segera menggunakan baju santai serta mengambil peralatan sholatnya. Kemudian setelah itu melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Tiba-tiba suara notifikasi handpone alina berbunyi menandakan ada chat masuk. Dengan sigap alina beranjak mengambil ponselnya, karena menduga pasti chat itu dari suaminya.
Dan benar saja terdapat notifikasi sebuah pesan Whatsapp dari jovan suaminya.
My huby β€οΈ
Sayang, maaf sepertinya aku nggak jadi pulang dan menghadiri acara pernikahan bag aby karena ada halangan, aku harus mengikuti jadwal peraktek mulai besok sampai satu minggu ke depan. Jadi aku memutuskan untuk tidak bisa pulang.. Maaf ya sayang.. π’
Itulah isi chat dari jovan yang di kirim pada alina. Langsung membuat alina kecewa serta ingin sekali menangis. Padahal seharian ini alina sangat bahagia menanti kedatangan suaminya esok lusa.
Alina hanya membaca chat dari suaminya tanpa niat membalasnya.
"Sayang?" Sebuah chat masuk lagi. Khawatir jovan sudah membuat alina marah dan kecewa.
Lagi-lagi alina hanya me read chat masuk yang di kirim jovan.
"Sayang, aku harap kamu nggak marah dan bisa mengerti." Isi pesan jovan selanjutnya.
"I love you sayangππ." Lagi jovan mengirimi alina chat.
"Nggak apa-apa, alin bisa mengerti. Aku akan menunggu kak jo pulang sampai kapan pun itu." Balas alina kemudian, berusaha untuk mengerti posisi suaminya saat ini.
*
*
*
TBC...
Jangan lupa likenya ya kakak cantik semua ππ
__ADS_1
Salam hangat dari author ega ππ