
Tidak terasa sudah tiga bulan berlalu, hari-hari yang jovan dan alina lalui dengan rasa bahagia, sekarang alina sudah sepenuhnya sembuh.
Kini jovan sudah kembali bekerja di Rumah Sakit tempat papanya bekerja, untuk melanjutkan kuliah mengambil jurusan bedah. Jovan belum memikirkannya lagi dan alina juga sudah memulai melakukan aktifitas kuliah seperti biasa serta mengurus butiknya.
Pagi ini alina sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, karena sekarang rumah mereka sudah tidak ada asisten rumah tangga lagi, karena ATR yang kemarin sudah tidak bisa bekerja lagi dengan alasan ingin fokus mengurus keluarganya.
Jovan ingin mencari pembantu baru namun alina masih menolak dengan alasan alina sanggup mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Dan akhirnya jo menuruti istrinya asalkan alina bisa menjaga kesehatannya.
"Masak apa sayang?" Suara jovan tepat di samping telingan alina yang sudah memeluknya dari belakang.
"Kak joo..!!!" Pekik alina yang merasa terkejut karena jovan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Jovan yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Kak jo kenapa belum siap-siap sih, alin sudah siapin bajunya di atas tempat tidur loh tadi." Kata alina. Tangannya masih saja sibuk mengaduk nasi goreng yang ia buat untuk sarapan dirinya dan suami tercinta.
"Sebentar lagi, masih pengen meluk istri." Sahut jovan dengan santai.
Alina tersenyum dengan tingkah suaminya pagi ini.
"Kak jo lepasin, Alina mau siapin sarapan dulu. Habis ini alina juga mau siap-siap mau berangkat kuliah."
Lama jovan memeluk alina hingga beberapa menit masih mendekap tubuh mungil istrinya itu.
"Ya udah, kalau gitu kita mandi bareng ya. Pleaseee." Rengek jovan mulai mengeluarkan jurus memelasnya.
Tak jarang jovan selalu meminta alina untuk mandi bersama, bahkan hampir setiap hari jovan melakukan ritual mandi bersama dengan istri tercintanya.
Alina menarik nafas panjang, karena meski alina menolak tetap saja jovan menyeretnya dengan paksa menuju kamar mandi.
Moment mandi bersama sang istri adalah moment yang paling jovan sukai. Entah kenapa jovan belakangan ini selalu mengajak alina menghabiskan waktu berdua melewati kenikmatan surga dunia, ia sangat berharap alina kembali hamil lagi dan mereka bisa memiliki anak, jovan sudah tidak sabar ingin mendengar kabar alina mengandung kembali.
"Kak jo."
"Iya sayang. Ada apa?"
Alian sudah selesai dengan kegiatan menyiapkan sarapan. Kini posisinya menghadap ke arah jovan memandang wajah tampan suaminya untuk beberapa detik lamanya. Alina mengakui jika laki-laki yang di hadapannya saat ini yang sudah menjadi suaminya begitu sangat tampan, alina bersyukur bisa memiliki suami seperti jovan.
"Heiii, kenapa liatin aku kayak gitu, Hmm? apa ada yang aneh dengan wajahku?" Tanya jovan yang heran melihat alina tiba-tiba saja memandangnya cukup lama.
Alina hanya tersenyum cantik.
"Nggak kenapa-kenapa, emang salah ya alina liatin suami alin sendiri." Sahut alina masih dengan raut wajah tersenyum.
"Nggak salah, cuma tumben aja. Ya udah kalau gitu cepetan kita mandi bareng ntar telat loh kuliahnya." Kata jovan kemudian menarik tangan alina menuju kamar mereka, berniat untuk segera mandi.
Alina yang tidak bisa menolak permintaan suaminya hanya bisa pasrah dengan tindakan jovan.
Tidak membutuhkan waktu lama keduanya telah selesai dengan ritual mandi bersama, benar-benar hanya menghabiskan waktu untuk mandi tanpa melakukan ritual lainnya. Karena jovan tidak mau membuat istrinya terlambat kuliah, dia pun juga tidak ingin terlambat untuk bekerja pagi ini.
__ADS_1
Usai bersiap keduanya pun menuju ruang makan untuk menikmati sarapan yang telah di buat oleh alina tadi.
Alina langsung mengisi piring suaminya dengan nasi goreng buatannya.
"Segini cukup kak?" Tanya alina.
Jovan mengangguk tersenyum. Kemudian keduanya menikmati sarapan bersma dengan suasana tenang.
Usai menikmati sarapan jovan dan alina bergegas menuju mobil yang akan mereka kendarai. Sebelum menuju rumah sakit tempatnya bekerja jovan terlebih dulu mengantar alina ke kampus.
Kurang lebih satu jam membelah jalanan yang setiap hari terlihat macet pada pagi hari, kini mobil yang di kemudi jovan telah sampai di depan kampus alina.
"Kak nggak usah jemput alina ya, alina langsung ke butik aja nanti sepulang kuliah." Kata alina sebelum turun dari mobil.
"Baiklah, hati-hati sayang." Tutur jovan.
Alina mengangguk kemudian alina meraih tangan jovan lalu mencium punggung tangan suaminya seperti biasa.
"Alina masuk dulu ya kak." Pamit alina dan di angguki oleh jovan.
Setelah memastikan alina masuk ke halaman kampus, kembali jovan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
****
Sementara di tempat lain tepatnya di kediaman aby dan shanum, hari ini adalah hari kepulangan aby dari luar kota karena urusan pekerjaan, pagi ini terlihat aby baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
Dan aby bergegas masuk ke dalam rumah, tepat ketika shanum membuka pintu hingga mereka bertemu tatap. Shanum sama sekali tidak mengetahui jika suaminya akan pulang hari ini karena tidak pernah mendapat kabar sekalipun dari suaminya selama berada di luar kota.
Dia pun tidak menyiapkan sarapan karena tidak mengetahui kabar suaminya yang akan pulang pagi ini.
Aby tidak merespon shanum dia langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah tanpa menimpali ucapan shanum yang bertanya barusan.
"Biar shanum bawain tas kerjanya kak." Sapa shanum lagi, seketika menghentikan langkah aby yang akan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Aku bisa sendiri." Sahut aby kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
Sahanum kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti sang suami, mungkin saja suaminya membutuhkan bantuannya jadi shanum mengurungkan niatnya untuk berangkat mengajar ke kampus.
"Apa mau di buatkan kopi kak?" Tanya shanum lagi setelah melihat aby duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya.
"Kamu pergilah, bukannya kamu akan berangkat bekerja. Kenapa harus banyak bertanya. Aku tidak butuh bantuan apapun dari kamu." Sarkas aby yang terlihat muak dengan kehadiran wanita yang sudah beberapa bulan menjadi istrinya itu.
Ada rasa sesak yang shanum rasakan mendengar ucapan sarkas aby terhadapnya. Ingin rasanya shanum menangis karena laki-laki yang sudah menjadi suaminya saat ini tidak pernah bersikap baik padanya meskipun tidak melakukan kekerasan fisik namun shanum selalu merasa batinnya tersiksa karena sikap dingin suaminya selama ia menjalani pernikahan ini.
Rasanya shanum ingin berkata menyerah namun dia kembali memikirkan respon keluarganya jika saja menceritakan masalah rumah tangganya, dia tidak ingin orang tuanya turut sedih. Hingga dia tetap kekeh bertahan dengan penikahan yang sama sekali tidak di dasari rasa cinta di dalamnya.
Shanum berusaha kuat untuk menghadapi sikap dingin suaminya, berharap sang suami akan berubah suatu saat nanti. Shanum sangat berharap seperti itu, selalu menanam keyakinan pada dirinya bahwa laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu akan bersikap baik suatu saat nanti. Shanum selalu menyematkan do'a di setiap sujudnya.
"Baiklah kak, shanum pamit dulu. Maaf shanum nggak nyiapin sarapan karena shanum nggak tau kalau kak aby akan pulang pagi ini." Ucap shanum dengan lembut.
__ADS_1
Kemudian di raih tangan suaminya untuk menyalami punggung tangan seperti biasa dia melakukannya setiap hari meski aby tidak ada timbal balik untuk sikap lembut dan berbakti yang di lakukan shanum selama ini.
Meski aby selalu bersikap dingin padanya namun shanum sebisa mungkin membalasnya dengan sikap lembut.
"Hmm." Sahut aby seadanya. Kemudian beranjak masuk menuju kamar mandi tanpa melihat kepergian istrinya.
Shanum pergi menggunakan taksi yang sudah di pesan sebelumnya.
Dua puluh menit shanum telah sampai di kampus tempatnya mengajar, tidak sengaja maniknya menangkap sosok adik iparnya yaitu alina sedang berjalan menuju kelasnya.
"Alina." Panggil shanum.
Alina mendengar ada yang memanghilnya langsung menoleh ke arah suara yang sudah tidak asing lagi di pendengarannya.
"Eh kak shanum." Sambut alina dengan wajah cerianya.
Sangat berbeda dengan raut wajah shanum yang terlihat tidak bersemangat.
"Kak shanum ada apa? kok wajahnya di kayak nggak semangat gitu." Tanya alina yang sedikit curiga dengan perubahan raut wajah kakak iparnya.
Shanum menggeleng menampilkan senyum simpulnya, berusaha menyembunyikan setiap masalahnya. Karena memang shanum tidak pernah menceritakan apapun pada orang lain atas masalah rumah tangganya selama ini.
"Nggak kenapa-kenapa dek." Sahut shanum.
"Oh iya kak, apa bang aby sudah pulang?"
Shanum mengangguk.
"Sudah, pagi ini kak aby sampai rumah dan sekarang lagi istirahat di rumah." Kata shanum ada rasa kecewa yang alina tangkap di nada suara kakak iparnya itu.
Alina mengira jika shanum dan abangnya mungkin sedang bertengkar hingga shanum menjalani pagi tidak bersemangat.
"Apa kak shanum dan bang aby ada masalah?" Tanya alina memberanikan diri.
Shanum terkejut dengan pertanyaan adik iparnya yang tiba-tiba. Dengan segera shanum menggeleng.
"Nggak ada apa-apa. Hanya saja kakak tidak sempat menyiapkan sarapan untuk kak aby tadi karena ketika kak aby pulang, bertepatan dengan kakak menunggu taksi." Ucap shanum sedikit memberitahu masalahnya pagi ini.
"Ya ampun kak, hanya masalah itu nggak usah di fikirin. Bang aby nggak akan marah kok cuma gara-gara itu, biasanya juga bang aby nggak sarapan sebelum berangkat kerja. Jadi kakak nggak usah hawatir abangku itu pasti memakluminya." Titah alina yang mengira abang dan kakak iparnya itu baik-baik saja.
Shanum hanya mengangguk tersenyum. Tidak ingin menimpali lebih lanjut perkataan adik iparnya itu.
"Ya udah kalau gitu, masuk gih bentar lagi udah mulai jam kuliahnya. Kakak mau ke ruangan dulu ya." Ucap shanum kemudian, lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya.
*
*
*
__ADS_1
TBC...
Jangan lupa like ya teman-teman 🙏🙏