Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 63


__ADS_3

Sudah dua jam alina berada di rumah sakit dan baru saja siuman, alina yang heran mendapati dirinya berada di rumah sakit.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Tanya jovan melihat alina sudah membuka matanya.


Alina paham dirinya bisa berada di rumah sakit karena terakhir ketika beranjak dari tempat tidur dirinya begitu sangat pusing dan tiba-tiba saja penglihatannya sudah sangat gelap.


Jovan yang sejak tadi menggenggam tangan sang istri, sesekali menciumnya.


Alina mengedarkan pandangannya sekitaran ruang rawat inap dan ternyata bukan hanya jovan yang menemaninya melainkan semua ada menjaganya, orang tuanya dan juga ibu mertuanya.


"Bunda?" Panggil alina ketika pandangannya tertuju pada sang bunda.


Bunda rumi mengangguk lalu mendekati putrinya.


"Bunda bawain kamu bubur ayam kesukaan kamu sayang, di makan ya." Kata bunda rumi menyiapkan bubur yang baru saja di masak sebelum menuju rumah sakit.


"Alina belum lapar bunda." Tolak alina.


"Sayang, perutmu belum terisi sejak pagi tadi loh. Di makan ya buburnya." Ujar jovan mengambil alih bubur yang telah di siapkan oleh bunda rumi.


"Nanti saja kak jo, alin belum lapar." Lagi-lagi alina menolak karena ia takut akan mual lagi.


"Demi anak kita sayang, kamu tau? ada anak kita di dalam sini." Ucap jovan seraya mengelus lembut perut istrinya yang masih rata.


Mendengar ucapan sang suami, alina di buat berkejut mengetahui dirinya sedang hamil.


"A.. apa alina hamil?" Alina tidak menyangka jika dirinya akhirnya bisa hamil lagi.


Jovan mengangguk tersenyum dan memberi kecupan pada kening istrinya tercinta.


"Tuhan memberikan kita kepercayaan lagi sayang. Dan aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik." Ujar jovan dengan raut wajah bahagianya.


Seketika alina mengeluarkan air mata begitu terharu mengetahui dirinya hamil.


Semua yang melihatnya ikut terharu, dua keluarga besar itu di lingkupi rasa bahagia yang sangat di nanti-nanti kan selama ini adalah menantikan kehadiran seorang cucu di keluarga mereka, terutama mama intan.


"Sini jo buburnya, biar mama aja yang suapi menantu kesayangan mama." Ucap mama intan mendekat ke arah alina.


Alina tersenyum melihat mama mertuanya menampakkan raut wajah bahagianya.


"Di makan ya sayang, jangan sampai cucu mama di dalam sini kenapa-kenapa, oke?" Suara mama intan membuat alina semakin menampilkan senyum lebarnya.


Alina pun menuruti bujukan ibu mertuanya, dan memakan bubur yang di bawa oleh bundanya dengan begitu lahap.


***


Hari sudah menjelang malam, dan kini hanya tinggal jovan yang menemani istrinya. Karena yang lain sudah pamit pulang terlebih dulu.


Sebenarnya bunda rumi masih ingin menemani alina di rumah sakit, namun alina tidak ingin melihat bundanya kelelahan hingga dia meminta sang bunda untuk pulang beristirahat di rumah.


"Kak jo kapan alina pulang?"


"Besok sayang, biar aku yang memintanya pada dokter vina agar kamu di bolehkan pulang dan aku yang aka merawatmu di rumah." Sahut jovan.


"Janji ya kak, alina nggak betah lama-lama di rumah sakit." Keluh alina.


Jovan mengangguk mengiyakan keinginan istrinya. Jovan berjanji pada dirinya akan menjaga alina dengan baik dan tidak akan membuat kesalah seperti dulu lagi.


"Apa kamu tidak menginginkan sesuatu untuk di makan? biasanya ibu hamil akan meminta sesuatu pada suaminya." Ujar jovan. Karena setaunya jika seorang istri hamil pasti akan mengidam dan banyak meminta sesuatu pada pasangannya.


Alina menggeleng.


"Alina mau kak jo tidur di samping alin sambil peluk." Ucap alina membuat jovan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Sayang, biarpun kamu tidak mengatakannya aku tetap akan melakukannya."


Jovan menaiki tempat tidur alina lalu tidur di samping alina seraya memeluk tubuh mungil sang istri.


"Sayang, terima kasih telah mengandung buah cinta kita." Suara jovan berbisik di telinga alina, membuat alina merasa geli.


Alina mengangguk dan memiringkan tubuhnya menghadap jovan.


"Kak jo jangan seperti ini, geli." Ucap alina terkekeh dengan kelakuan suaminya yang terus menganggunya, sesekali jovan mencium seluruh wajah cantik alina.


"Aku kangen." Jovan kembali bebisik di telinga alina yang tertutup hijab.


"Hah? kok kangen sih kita kan setiap hari tinggalnya bersama nggak pernah jauhan lagi kayak dulu." Ucap alina polos.


Jovan terkekeh gemas mendengar kepolosan istrinya, kembali memberi beberapa ciuman di wajah cantik alina seraya memeluk erat tubuh mungil sang istri.


"Alin ngantuk banget, kita tidur ya." Alina memejamkan matanya membiarkan jovan menciuminya, dan alina juga membalas pelukan suaminya.


Hingga akhirnya kedua pasangan yang sedang merasakan bahagia itu larut dalam mimpi indah bersama. Dan tertidur saling berpelukan.


***


Satu minggu kemudian alina setiap pagi masih sesekali merasakan mual, namun jovan sudah meminta resep vitamin terbaik untuk sang istri pada dokter vina selaku dokter kandungan terbaik di rumah sakit tempatnya bekerja. Dan alina tidak terlalu merasakan mual lagi.


"Sayang, aku mau berangkat kerja dulu. Ingat ya kamu istirahat kuliah dulu dan harus istirahat di rumah saja biar aku yang akan meminta surat cutimu besok. Oke?" Kata jovan tidak mau alina kelelah ia ingin alina istirahat full di rumah tanpa melakukan alktifitas di luar rumah.


Alina hanya mengangguk menuruti keinginan suami tercinta.


"Apa aku boleh mengajak indah ke rumah kita?" Tanya alin pada suaminya.


"Tentu saja sayang." Sahut jovan.


Setelah memberi jawaban dan mengecup kening alina, jovan kemudian berlalu menaiki mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


Alina kembali di dera rasa bosan akhirnya dia menghubungi sahabatnya itu untuk memintanya datang ke rumah.


"Assalamu'alaikum ndah."


"Walaikumsalam... ada apa lin?"


"Aku sendirian di rumah, datanglah ke rumah, dan mulai besok aku akan meminta cuti ke kampus." Ucap alina membuat indah sahabatnya terkejut mendengarnya.


Karena memang indah akhir-akhir ini tidak mengetahui kabar alina. Indah begitu sibuk dengan dunianya.


"Apa yang terjadi lin? kenapa sampai harus meminta cuti? apa terjadi sesuatu padamu?" Indah langsung memberondong beberapa pertanyaan pada sahabatnya itu.


"Datanglah aku akan menceritakannya padamu." Ucap alin.


Keduanya pun menutup sambungan telepon setelah mengobrol. Indah akan main ke rumah alina setelah menyelesaikan mata kuliahnya pagi ini.


****


Kini indah sudah berada di rumah alina, setelah menyelesaikan kelasnya indah langsung mengendarai mobilnya menuju kediaman alina.


"Ceritakanlah aku sudah berada di rumahmu." Kata indah yang tidak sabar ingin mendengar cerita alina.


"Sabar dulu, aku akan membuatkanmu minum dulu dan mengambil cemilan." Alina berlalu menuju dapur.


Tak membutuhkan waktu lama alina kembali membawa nampan yang sudah ada gelas berisi minuman serta piring berisi cemilan berupa brownis yang telah di buatnya kemarin.


"Waoow ada brownis lumer kesukaan aku banget nih, udah lama banget nggak makan brownis buatan kamu." Mata indah berbinar melihat cemilan kesukaannya yang selalu di buatnya dulu bersama alina ketika memiliki waktu luang.


"Ayo ceritain lin, kamu kenapa kok bisa bisanya meminta cuti. Kamu sakit? atau terjadi sesuatu?" Indah kembali bertanya pada sahabatnya seraya mulutnya mengunyah brownis yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Kamu akan menjadi aunty, makanya aku meminta cuti dulu dari kampus." Ujar alina.


"Maksud kamu apaan lin, aku akan jadi aunty? itu artinya kamu hamil?" Pekik indah kegirangan mendengar ucapan alina.


Alina mengangguk tersenyum.


"Aaaaahhhhhhhh.. Selamat ya alina. Akhirnyaaaa." Teriak indah memenuhi ruang tamu kediaman alina, langsung memberikan pelukan pada alina.


"Aduuuh, indah aku nggak bisa nafas ni." Keluh alina, karena indah begitu erat memeluknya.


Kedunyapun saling berbagi cerita sesekali bercanda menghabiskan waktu bersama, alina mengajak indah untuk memasak di dapurnya dia ingin makan siang bersama sahabatnya itu, karena sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini. Memasak dan mengobrol bersama.


Tidak terasa waktu sore sudah tiba tidak lama setelah kepulangan indah dari kediaman jovan dan alina, jovan pun pulang, memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah, pertama kali yang ia cari adalah istrinya.


"Sayang." Panggil jovan.


Jovan mencium bau masakan dari arah dapur, ia sudah menduga pasti istrinya sedang memaska untuk makan malam.


Alina asik dengan dunianya sendiri hingga tidak menyadari kepulangan suaminya, tiba-tiba jovan sudah berada dibelakangnya memeluk dirinya.


"Sayang." Jovan sudah menempelkan pipinya dengan pipi alina sambil memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang.


Betapa terkejutnya alina tiba-tiba jovan sudah memeluknya, tanpa mendengar suara salamnya.


"Kak jo nggak salam ya tadi?" Tuduh alina.


Jovan hanya menampilkan senyumnya, merasa bersalah, dia memasuki rumahnya tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.


"Maaf sayang, habisnya aku kangen banget sama kamu seharian di kantor nggak sempat telepon kamu tadi." Ucap jovan masih dengan posisi yang sama, sesekali jovan mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang istri.


"Lain kali jangan gitu lagi, alin nggak suka loh." Ucap alina tegas.


Mendengar alina memperingatinya membuat jovan semakin gemas saja, dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aduh, kak jo minggir gi, alina mau beresin ini dulu. Habis sholat maghrib kita makan ya, aku udah masakin buat kak jo ni coba di cicipin." Ucap alina antusias pada jovan seraya meraih sendok di sampingnya dan menyendokkan sedikit sayur sop bening serta cumi goreng tepung, lalu menyuapinya ke mulut jovan.


Jovan menerima perlakuan istrinya itu.


"Emmm, apapun yang di masak oleh istriku pasti selalu enak, aku menyukainya sayang." Ucap jovan seketika membuat alina tersanjung.


Jovan kembali memeluk alina, kali ini tangannya mengelus perut rata alina.


"Apa dia baik-baik saja di dalam sini?" Ujar jovan seraya mengelus lembut perut sang istri.


Alina mengangguk tersenyum.


"Aku menjaganya dengan baik." Kata alina tersenyum manis pada suaminya.


"Terima kasih." Kembali jovan mencium pipi mulus alina.


"Ayo kak jo, sebaiknya bersih-bersih dulu setelah itu bersiap untuk sholat maghrib ya."


Jovan mengangguk, kemudian melepaskan pelukannya dari alina. Karena alina sudah selesai dengan kegiatan dapurnya dia mengikuti jovan menuju kamar.


"Aku siapin bajunya ya kak, sementara kak jo mandi dulu." Jovan lagi-lagi mengangguk menuruti perkataan sang istri.


Berulang kali jovan mengucap syukur pada sang pencipta betapa bahagianya dirinya memiliki alina, wanita cantiknya ini. Ia selalu berdoa setiap sujudnya berharap rumah tangganya akan selalu merasakan kebahagiaan seperti ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2