Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 11


__ADS_3

Shanum baru saja membaca chat dari gio, dan tentu saja membuat shanum khawatir karena bagaimanapun aby masih suaminya dia masih berhak hawatir dan peduli.


Shanum segera mengambil tas beserta ponsel miliknya setelah selesai berfikir lama ia memutuskan akan melihat kondisi aby langsung.


Chat yang baru saja ia baca membuat fikirnnya di penuhi rasa hawatir hingga ia memutuskan untuk menemui laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.


Shanum segera mengendarai mobilnya menuju rumah yang pernah ia tinggali bersama aby. Dan tidak membutuhkan waktu lama shanum telah sampai di rumah aby.


Baru saja shanum akan mengetuk pintu rumah itu terlihat seorang dokter keluar dari rumah tersebut di ikuti oleh gio di belakangnya.


"Shanum?" Gumam gio ketika maniknya bertemu dengan sosok shanum di depannya.


Shanum hanya mengangguk tersenyum simpul kemudian meminta untuk melihat keadaan aby.


"Aku mau melihat keadaan kak aby, apa boleh?" Tanya shanum, gio bisa menangkap raut wajah khawatir di sana.


"Malah lebih baik kamu menemuinya shanum." Sahut gio.


"Dokter bilang aby kecapean dan dia hanya butuh istirahat." Ucap gio lagi.


Gio menuntun shanum masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh aby sekarang.


Ketika shanum masuk di dalam kamar yang di tempati oleh aby, laki-laki itu terlihat masih berbaring lemah di sana dan matanya terpejam.


Shanum perlahan mendekat agar lebih memastikan aby tidak separah yang ia pikirkan sejak tadi.


Ingin rasanya shanum menyentuh kening laki-laki itu tapi tidak ada keberanian dalam dirinya. Shanum hanya mampu memandang aby yang masih setia berbaring.


"Aku akan membuatkannya bubur." Kata shanum memecah keheningan.


Dia memutuskan untuk membuatkan aby bubur sembari menunggu aby bangun dan meminum obatnya.


Gio mengangguk menanggapi perkataan shanum.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan." Ucap gio berniat untuk segera pamit.


Shanum hanya mengangguk samar. sebenarnya ia tidak ingin di tinggal berdua dengan aby di rumah itu. Ia takut aby tidak akan menerima kehadirannya dan akan mengabaikan makanan yang telah ia masak.


Setelah kepergian gio, shanum pun melanjutkan niatnya untuk memasak bubur ayam untuk aby, berharap aby akan memakan masakannya kali ini.


Kemudian shanum melangkahkan kakinya menuju dapur, ada rasa canggung yang ia rasakan ketika kembali menginjakkan kakinya ke arah dapur itu, meski ia pernah menghabiskan waktu yang hanya sia sia menurutnya, karena aby tidak pernah menganggapnya ada.


Shanum kembali meneliti setiap sisi dapur itu, tidak ada yang berubah bahkan piring yang pernah ia tata sebelumnya masih seperti sebelum ia tinggalkan.

__ADS_1


Apa kak aby tidak pernah ke dapur selama rumah ini ku tinggalkan? bahkan piringnya saja masih tertata seperti semula.


Gumam shanum dalam hati, raut wajahnya tampak heran.


Shanum kemudian mulai untuk memasak bubur.


Sementara aby yang sejak tadi terbaring lemah di atas tempat tidur mewahnya, perlahan ia mengerjapkan matanya ada rasa pusing yang ia rasakan. Tangan aby berusaha mencapai kepalanya dan memijit kening yang merasa pening.


Aby meringis ketika merasa sedikit pusing.


tak lama setelah itu terlihat shanum muncul dari balik pintu kamarnya, aby menoleh ketika samar-samar mendengar suara langkah sesorang memasuki kamarnya.


"Shanum?" Gumamnya dengan raut wajah terkejut melihat kehadiran shanum di kamarnya.


"Sebaiknya kak aby makan dulu sebelum minum obat." Ujar shanum lalu memberikan piring mangkuk yang berisi bubur ayam buatannya.


Aby perlahan mendudukkan dirinya meski kepalanya masih terasa pusing. Meskipun aby tidak memiliki selera makan hari ini namun dia tetap mengambil alih mangkuk yang di pegang oleh shanum kemudian memakannya.


"Terima kasih." Ucap aby lemah.


Aby mengangguk seraya tangannya sibuk menyiapkan obat yang akan di minum oleh aby.


Setelah memastikan aby selesai makan, shanum menyodorkan obat yang telah ia siapkan tadi.


"Kak aby minum obat dulu, setelah itu istirahatlah. Aku juga akan pulang karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap shanum dengan lugas, tidak ada ekspresi apapun yang terlihat di wajahnya, dia berusaha untuk tidak memeprlihatkan sisi lemahnya pada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


"Semoga kak aby segera membaik, agar segera mengurus perceraian kita." Ujar shanum.


Lagi-lagi membuat aby merasa tercabik hatinya, karena bukan ini yang ingin aby dengar melainkan ia menginginkan shanum bisa bertahan di sisinya dan ingin memperbaiki semuanya dari awal.


Aby ingin menjalankan pernikahan yang sesungguhnya bersama shanum, ia ingin memperbaiki semua kesalahannya.


"Apa aku harus menghubungi ibu? agar kak aby ada yang menemani di rumah ini." Tanya shanum.


Aby merasa shanum seperti tidak menganggapnya lagi sebagai seorang suami, emosi aby sesaat ingin meluap namun segera ia tahan mendengar ucapan shanum yang baru saja ia dengar.


"Bukankan kamu masih seorang istri shanum? kenapa harus memberitahu ibu perihal sakitku jika masih ada seorang istri yang bisa merawat dan menjaganya." Ujar aby.


Shanum tersenyum sinis, entah kenapa hati shanum merasa muak mendengar pengakuan aby yang menganggapnya sebagai istrinya kali ini, bukankah aby tidak pernah menganggap keberadaannya selama ini? bukankah seorang aby tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang istri, lalu kenapa di saat hati shanum ingin segera terbebas dari ikatan pernikahan konyol ini malah aby ingin sekali mempertahankannya? Sunggu shanum tidak ingin melanjutkannya lagi dan ingin segera terbebas dari laki-laki ini.


Shanum tidak ingin lagi terlihat bodoh.


Shanum berusaha menahan air mata yang hampir saja lolos dari maniknya, sebisa mungkin ia tahan, ada rasa iba melihat kondisi aby saat ini.

__ADS_1


"Baiklah shanum akan merawatmu hari ini." Kata shanum kemudian, setelah diam beberapa saat.


****


Malam hari telah tiba, shanum benar-benar menghabiskan waktunya di rumah aby dengan telaten ia merawat suaminya. Mengurusi semua keperluan aby.


Kondisi aby pun juga sudah perlahan sudah membaik.


Malam ini shanum telah memasak makan malam untuk aby sebelum ia meninggalkan rumah ini. Setelah ia rasa makanan sudah siap dimeja makan shanum memanggil aby untuk segera makan.


"Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu, ku harap kak aby memakannya." Ucap shanum menghampiri aby di kamarnya.


Aby yang terlihat duduk di atas tempat tidurnya dan pandangannya fokus pada ponsel di tangannya sekilas melirik ke arah shanum yang menyuruhnya makan malam.


"Aku akan memakannya. Temani aku makan." Sahut aby, kemudian beranjak dari tempat tidurnya.


Shanum yang berniat ingin pamit pulang, akhirnya mengurungkan niatnya karena permintaan aby barusan.


Lagi-lagi shanum harus mengalah.


Shanum pun menuju ruang makan di ikuti oleh aby di belakangnya.


Ada perasaan bahagia yang aby rasakan melihat shanum hari ini menuruti keinginannya, semoga ini awal yang bisa membuatnya tetap memepertahankan rumah tangganya.


Keduanya menikmati makan malam dengan suasana hening tanpa ada yang berusara. Aby yang baru pertama kali memakan masakan buatan shanum merasa kagum karena ia rasa masakan shanum yang selama ini ia abaikan benar-benar enak.


Lima belas menit keduanya telah menikmati makan malam yang di masak oleh shanum.


"Kalau begitu shanum pulang dulu." Ucap shanum setelah membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bekas mereka makan.


Baru saja aby ingin mengatakan sesuatu, dengan segera shanum kembali berucap.


"Tolong jangan tahan shanum, aku benar-benar sedang banyak pekerjaan." Kata shanum tegas.


Aby pun mengangguk perlahan tidak lagi menahan shanum sesuai keinginannya.


Setelah memastikan tidak ada lagi yang harus ia lakukan, shanum segera mengambil tas beserta kunci mobil miliknya dan kembali pulang menuju kediaman utama peninggalan orang tuanya.


Sementara aby hanya terdiam melongo melihat kepergian shanum, ada rasa kecewa yang ia rasakan.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2