
Seminggu sudah jovan berada di tanah air, hari ini adalah hari terakhir jovan berada di indonesia. Jovan dan alina benar-benar menghabiskan waktunya berdua selama seminggu ini.
Mereka juga meluangkan waktu untuk berkunjung kerumah orang tua alina dan juga orang tua jovan. Alina kembali bersedih karna hari ini adalah hari terakhir kebersamaannya bersama suaminya.
Begitupun juga dengan jovan dia merasa tidak ingin meninggalkan alina dalam kondisi hamil seperti ini, rasanya ingin menjaga alina hingga persalinan alina tiba.
Tapi mau tidak mau jovan harus kembali ke amerika karena jadwal peraktik untuk dokter bedah sudah mulai padat. Sudah cukup seminggu jovan meminta ijin untuk tidak masuk perkuliahan, itupun jovan banyak ketinggalan materi dan beberapa jadwal praktik.
"Alina, hari ini tidak perlu masa kita makan di luar saja ya." Ajak jovan.
"Beneran alin nggak perlu masak?" Tanya alina memastikan jovan yang meminta dirinya untuk tidak memasak.
Seminggu ini jovan selalu meminta alina untuk memasak masakan rumahan. Karena jovan pasti akan sangat merindukan masakan istrinya ketika di sana nanti.
"Iya, bersiaplah kita akan jalan-jalan lagi, hari terakhirku disini Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu." Kata jovan antusias.
"Bukannya kemarin kita sudah seharian jalan-jalan? Kak jo alin capek." Keluh alina yang memang benar-benar kelelahan. Belum lagi jovan selalu meminta haknya pada alina ketika akan tidur malam.
Jovan benar-benar menghabiskan waktu berdua dengan istrinya, tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Alina juga menikmati setiap perlakuan yang di berikan oleh suaminya dan juga menikmati kebersamaannya bersama jovan.
"Ya sudah kalau begitu kita istirahat di rumah ya hari ini."
Alina mengangguk setuju karena merasa benar-benar lelah jika harus jalan-jalan berkeliling tempat wisata dan mengunjungi pusat kuliner ter enak di kota tempat mereka tinggal.
"Sayang, berat badanmu naik ya. Pipi kamu agak caby begini." Kata jovan memang melihat pipi alina semakin hari semakin membulat. Tangannya mulai mengelus pipi mulus istri cantiknya itu.
Mungkin karena efek kehamilannya yang sudah memasuki usia empat bulan jadi berat badan alina semakin bertambah.
"Alina nggak gendut kok, ini kan karena alin sedang hamil anakmu jadinya berat badan alina naik, itu juga bagus kata dokter vina. Jadi kak jo jangan mengejek aku ya kalau badanku agak gemukan." Ucap alina. Badannya kini sudah bersandar di dada bidang suaminya.
"Iya sayang. Aku mengerti kalau berat badanmu naik malah bagus itu karena anak kita tumbuh dengan baik di dalam sini dan nutrisinya terpenuhi karena ibunya selalu menjaganya dengan mengkonsumsi makanan bergizi." Kata jovan seraya mengelus perut alina yang sudah terlihat buncit.
__ADS_1
"Ingat ya selama aku tidak mendampingi mu jangan lalai untuk menjaga kesehatanmu. Bulan menjelang persalinan nanti aku akan pulang mendampingimu bersalin." Kata jovan lagi meyakinkan istrinya jika dia akan pulang ketika sudah mendekati persalinan alina.
Alina mengangguk tersenyum karena senang mendengar ucapan suaminya yang ingin pulang untuk mendampinginya bersalin.
"Kak jo beneran ya akan pulang di bulan persalinan alin." Ucap alin.
"Iya sayang."
Alina kembali memeluk jovan seolah tidak ingin melepaskan kepregian suaminya hari esok, entah kenapa alina merasa jovan akan meninggalkannya dalam waktu lebih lama, seolah jovan tidak kembali lagi padanya.
"Kak jo, jangan sampai tergoda dengan wanita lain di sana, dengan wanita yang lebih cantik dari alin." Tiba-tiba alina mengucapkan kata yang mustahil untuk jovan lakukan. Tentu saja membuat jovan terkejut atas apa yang di katakan alina padanya.
Bagaima bisa alina berkata seperti itu padanya sementa jovan sudah sangat mencintai istrinya meski pernikahan mereka karna keterpaksaan akibat kesalah pahaman tapi jovan sudah benar-benar mencintai istrinya saat ini dan tidak mungkin dia tergoda dengan wanita lain di luar sana seperti yang di katakan oleh alina barusan.
"Sayang kamu bicara apa, aku nggak mungkin lah tergoda dengan wanita lain sementara aku sudah menikah dan memiliki istri cantik dan sholeh seperti dirimu." Ucap jovan.
"Kamu tau alin? aku sangat mencintaimu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun." Imbuhnya lagi dengan suara lirih benar-benar dari lubuk hatinya yang terdalam berusaha meyakinkan alin bahwa dirinya benar-benar sudah mencintai istrinya itu.
"Alin juga mencintai kak jo, sangat mencintaimu kak." Lirih alina masih dengan posisi mendekapkan tubuh mungilnya yang sudah berisi itu di dada bidang suaminya.
"Sayang, rasanya berat untuk meninggalkanmu besok, aku sangat ingin menjagamu di sini dan tidak ingin meninggalkanmu lagi." Lirih jovan yang memang ia merasa berat hati tidak ingin meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil sperti saat ini.
Jovan menarik diri dari pelukan alina dan beralih duduk berjongkok untuk menggapai perut istrinya itu, lalu jovan memberikan elusan pada perut alina seraya memberikan kecupan.
"Adek jaga bunda ya selama ayah tidak berada di samping bunda. Jangan rewel dan jangan membuat bundamu kesusahan." Jovan mencoba mengajak calon bayinya berbicara seolah bisa mendengar setiap ucapannya.
Alina tersenyum bahagia melihat jovan yang mengajak calon bayi mereka berbicara.
Namun tiba-tiba saja alina merasakan ada gerakan halus di dalam perutnya, dan membaut dirinya terkejut bukan main karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan ada gerakan sperti itu.
"Kak jo. Perut alina tiba-tiba sperti ada susuatu yang bergerak di dalam." Alina menyebut nama suaminya karena merasa terkejut dengan apa yang di rasakan pertama kalinya.
__ADS_1
"Iya sayang aku bisa merasakannya, apa ini adalah pertama kali kamu merasakan gerakannya?" Tanya jovan. Jovan masih dengan posisi mengelus perut istrinya.
"Iya kak ini pertama kalinya dia bergerak." Ucap alina.
"Itu artinya ini adalah gerakan pertamanya. Aku bisa menyaksikan gerakan bayi kita untuk pertama kalinya sayang." Ucap jovan dengan raut wajah bahagiahnya.
Alina mengangguk tersenyum, ia pun sangat bahagiah karena bisa merasakan ada gerakan bayi dalam dirinya dan ini pengalaman pertama yang dirasakan selama hidupnya.
Hinggah menjelang siang hari mereka berdua benar-benar tidak beranjak untuk keluar meninggalkan rumah bahkan alina hari ini tidak memasak karena jovan meminta alina untuk diam saja di dalam kamar menikmati waktu berdua dan menghabiskan waktu hanya dengan mengobrol serta bercanda sesekali alina kembali merasakan gerakan bayi di dalam perutnya.
Jovan hanya memesan makanan delivery saja menggunakan aplikasi yang ada pada ponselnya untuk mengisi perut kosong mereka, usai makan mereka kembali ke dalam kamar dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dan tentu saja jovan kembali memimpin sholat alina.
Usai melaksanakan sholat dzuhur, jovan mengajak alina untuk tidur siang sebentar.
"Sayang kamu nggak ingin tidur siang?" Tanya jovan.
Alina menggeleng karena memang tidak mengantuk dan tidak ingin tidur siang.
"Alin nggak ngantuk, alina mau seprti ini saja sambil mengobrol sama kak jo ya." Sahut alina sudah kembali dengan posisi memeluk tubuh suaminya.
Jovan dengan senang hati membalas dan mendekap tubuh alina.
Jovan tersenyum dengan tingkah alina hari ini yang seolah tidak ingin suaminya pergi di hari esok.
Entah kenapa alina bersikap aneh hari ini. Padahal jovan tidak akan pergi lama dan sudah berjanji untuk pulang jika menjelang persalinannya nanti.
"Baiklah dengan senang hati, aku akan menuruti istriku ini." Ucap jovan tersenyum mencium pucuk kepala alina dengan lembut.
*
*
__ADS_1
*
TBC...