Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 22


__ADS_3

Dua minggu lagi keberangkatan jovan ke luar negeri namun belum juga memberitahu alina perihal jadwal keberangktannya, jovan seperti biasanya menjalani kehidupan rumah tangganya bersama sang istri. Semakin hari semakin terus di penuhi rasa cinta antara keduanya.


Terutama dengan alina yang setiap hari selalu memperlihatkan sikap manjanya pada sang suami, bagaimana tidak jovan memperlakukan alina dengan begitu romantis serta memberikannya banyak cinta dengan memanjakan sang istri ke tempat-tempat yang alina sukai.


"Kak jo, sini deh rancangan gaun aku yang ini cantik nggak kak?" Panggil alina, ingin meminta pendapat pada jovan.


Jovan yang tengah asik di atas tempat tidur melihat ke arah leptopnya, iya jovan sekarang semakin sibuk dengan bisnis barunya yang kemarin di rintis dan sekarang telah berjalan dengan baik, dengan bantuan sahabatnya indra.


Tidak ada sahutan dari jovan karena kesibukannya, membuat alina sedikit kesal.


"Kak jooo." Teriak alin.


Jovan menoleh setelah mendengar teriakan alina.


"Kenapa sayang?" Tanya jovan lembut.


"Nggak jadiiii." Sarkas alina dengan raut wajah kesalnya.


Jovan paham, pasti alina kesal karena tidak meresponnya sejak tadi. Dia terkekeh melihat tingkah kesal istrinya itu, lalu jovan menghampiri alina dan memeluk tubuh mungil istrinya yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Kenapa jadi marah gini." Kata jovan dia mulai memberi kecupan di pipi alin.


"Kak, gambar gaun yang alin buat ini cantik kan kak?" Suara alina yang akhirnya luluh dengan tingkah suaminya itu.


"Iya cantik banget seperti orang yang menggambar." Sahut jovan basa basi. Senyum tetap tersemat di bibir tipisnya.


Alin yang mendapatkan pujian seperti itu dari suaminya semakin membuatnya berbunga bunga. Dia pun melihat ke arah suaminya dengan memperlihatkan senyum cantiknya, lalu memberi kecupan pada pipi jovan.


"Apa kak jo udah bilang sama papah kalau kak jo menolak untuk pergi berkuliah di luar negeri?" Tanya alina yang sangat berharap jovan tidak akan menerima permintaan sang papah.


Jovan terkejut dengan pertanyaan alin, karena dia sama sekali tidak bisa menolak dengan permintaan ayahnya, Jovan tidak tau lagi harus meluluhkan hati papahnya dengan seperti apa lagi, hingga dia akhirnya pasrah dan menerima jika dirinya mau tidak mau harus pergi dua minggu lagi.


Tidak ingin membuat malu sang papah, dan jovan dengan keputusan terakhirnya harus memenuhi keinginan panji.


"Aku belum bertemu papah." Sahut jovan namun terlihat sedikit gugup.


"Aku harap kak jo nggak jadi pergi." Suara alina lirih sangat berharap jovan tidak meninggalkannya.


Jovan tidak ingin lagi bersuara karena tidak ingin membahas hal ini. Dia memutuskan untuk mengajak alina berbaring beristirahat karena merasa sangat lelah.


Tak membutuhkan waktu lama alina sudah terlihat tertidur pulas. Sementara jovan masih dengan perasaan resah karena memikirkan bagaimana dia bisa menjelaskan pada alina jika dirinya akan pergi dalam waktu dekat ini.


Jovan masih terjaga pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar, pikirannya sekarang sedang merasa sangat kacau, sesekali dia melirik ke arah samping untuk melihat alina yang mungkin saja telah berada di dunia mimpi. Sementara dirinya masih dengan pikirannya yang kalut.

__ADS_1


*****


Di tempat lain, dua minggu sudah setelah hendra mengutarakan niat perjodohan aby dan putri pak darman rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu.


Hari ini aby akan bertemu dengan gadis yang di maksud oleh ayahnya itu, hendra dan bunda rumi serta aby akan mengunjungi rumah darman untuk bersilaturrahmi sekalian untuk membahas mengenai perjodohan anak mereka.


Aby sudah pasrah dengan keputusan ayahnya dia akan menerima perjodohan ini.


"Aby jangan sampai terlambat, jangan smpai mereka menunggu kita lama." Teriak bunda rumi pada putra sulungnya.


Memang kebiasaan aby, ketika tengah bersiap sering kali menghabiskan waktu cukup lama, dia harus mondar mandir dulu ke kamar alina hanya sekedar bercermin. Sudah kebiasaan aby sedari remaja memasuki kamar si bungsu alina.


Tak lama setelah panggilan ibunya, aby pun menampakan dirinya, aby memang putranya yang tampan perpaduan antar wajah cantik bundanya dan wajah tampan ayahnya, sementara alina lebih mewarisi wajah cantik sang bunda.


Usai bersiap aby pun menuruni tangga, terlihat ayah dan bundanya sudah menunggunya di ruang tamu, sejak tadi. Ah aby masa bodoh siapa suruh mereka terlalu sibuk memikirkan jodoh aby, padahal aby sama sekali tidak ingin menerima perjodohan ini.


Kini ketiganya sudah berada dalam mobil, aby yang mengemudikan mobilnya sendiri membelah jalanan malam hari yang terlihat cukup ramai.


Tak lama setelah mengenderai mobil selama 20 menit kini keluarga hendra telah sampai di kediaman darman. Terlihat keluarga darman sangat menyambutnya dengan antusias.


"Assalamu'alaikum." Ucap hendra serta aby dan bunda rumi, mereka masuk ke dalam rumah yang terlihat cukup mewah itu.


"Walaikumsalam, ayok silahkan masuk mbak rumi." Ucap jesi wanita berhijab tengah baya yang berperawakan bule itu.


Namun seorang gadis yang akan mereka perkenalkan pada aby belum juga menampakkan dirinya.


"Sebentar buk rumi, saya akan memanggil shanum dulu ke atas, dia masih di kamarnya." Ucap jesi sopan.


Bunda rumi mengangguk dan tersenyum.


Jesi pun pergi ke kamar putrinya untuk memanggil sang putri yang tengah berada di dalam kamar.


"Shanum." Panggil jesi yang sudah berada di depan pintu kamar shanum.


"Masuk mam, shanum lagi pakai hijab dulu." Sahut shanum.


Jesi pun masuk ke kamar putrinya, jesi sangat bahagia melihat sang putrinya yang begitu sangat cantik, putrinya yang berwajah bule sama seperti dirinya, namun ada sedikit perpaduan sang papi.


"Mam, sebenarnya ada apa sih, kenapa shanum harus ikut makan malam bersama tamunya papi, shanumkan malu mami." Ucap shanum yang sedikit ingin menolak jika dirinya tidak ingin ikut makan malam bersama.


Shanum memang belum di beritahu perihal perjodohannya dengan putra hendra yang di sepakati oleh ayahnya beberapa minggu yang lalu tanpa sepengetahuan dirinya.


Karena shanum baru saja kembali dari paris menyelesaikan kuliahnya.

__ADS_1


Tak menunggu lama mami jesi kembali ke meja makan dengan shanum yang berjalan di belakang maminya.


"Shanum.. Perkenalkan ini om hendra sahabat ayah sekaligus rekan bisnis ayah, dan ini rumi istrinya, Dan juga ini aby putra pertama om hendra." Ucap darman pada sahnum putrinya yang sudah berada di ruang makan.


Shanum pun tersenyum memperkenalkan dirinya pada keluarga hendra satu persatu.


Aby sedikit melongoh melihat penampilan gadis yang akan dijodohkan dengannya, wanita berhijab dengan perawakan bule, mirip seperti ibunya. Gumam aby dalam hati. Terbesit rasa kagum di benaknya.


Tapi tetap saja aby sangat keberatan dengan perjodohan ini, karena sama sekali dia tidak suka jika harus menikah dengan wanita yang tidak di cintainya sama sekali.


"Shanum." Ucap shanum memperkenalkan dirinya pada aby dengan menangkupkan keduan tangannya.


"Aby." Sahut aby seadanya dengan wajah datar.


Dua keluarga itu pun menikmati makan malam bersama dengan suasana tenang.


Usai menikmati makan malamnya, hendra dan aby melanjutkan untuk membahas soal perjodohan aby dan shanum.


"Shanum, kemari nak. Ada yang ingin papi bahas." Darman memanggil shanum yang baru saja selseai membereskan piring kotor bekas makan mereka.


"Sini duduklah di sebelah mami mu." Ucap darman lagi.


Tanpa keberatan shanum dengan patuh menuruti sang papi.


Setelah shanum bergabung bersama mereka hendra pun mulai membuka suara untuk mengutarakan niatnya.


"Begini nak shanum, niat om ingin menjodohkan kamu dengan aby." Ucap hendra penuh hati-hati. Berharap gadis cantik berparas bule itu menerimanya.


Seketika shanum terkjut mendengar ucapan hendra sahabat ayahnya itu. Membuatnya terdiam mematung begitu sangat terkejut mendengar ucapan sahabat ayahnya barusan.


Lama shanum terdiam di tempatnya.


"Shanum?" Panggil papinya.


Shanum mengangkat wajahnya melihat ke arah papinya, wajahnya seketika terlihat sendu seakan ingin menolak.


Darman mengerti dengan raut wajah putrinya itu.


"Papi harap kamu tidak keberatan." Ucap darman cepat, dan sedikit tegas.


Dan shanum tau maksud dari perkataan papinya saat ini, itu artinya darman tidak ingin di bantah apapun alasannya.


Sementara aby hanya diam tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


__ADS_2