Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 19


__ADS_3

Dua minggu setelah kejadian panji menyuruh jovan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, dari hari itu pula jovan tidak lagi banyak bertegur sapa pada alina, alinapun sudah tidak lagi mengajak jovan berbicara. Keduanya tidak ada yang saling bertegur sapa satu sama lain, tanpa mereka sadari dari situlah hubungan mereka semakin renggang.


Begitupun juga alina yang sudah tidak lagi memiliki keberanian untuk mengajak jovan berbicara atau sekedar bertanya, meski alina masih setia untuk menyiapkan segala keperluan suaminya, alina sama sekali tidak mempermasalahkan itu selama alina berstatus sebagai istri jovan alina tetap akan melakukan tugasnya, karena mengingat pesan bundanya selalu berbakti kepada suami karena ridhonya sekarang terletak pada suaminya.


"Bi, apa kak jovan udah berangkat?" Tanya alina pada bia mariam yang sudah tidak mendapati suaminya di meja makan.


"Sudah non, tuan jo tidak sarapan katanya sedang buru-buru." Sahut bi mariam.


Lagi lagi ada rasa kecewa yang alina rasakan pasalahnya jovan sering pergi pagi dan pulang larut malam dan juga sudah tidak lagi ingin sarapan dirumah ataupun makan malam. Sebenarnya apa yang terjadi pada jovan kenapa jadi seperti ini? Alina sudah tidak mengerti lagi apa yang harus di lakukan.


Bi mariam bisa melihat raut wajah kecewa pada majikan perempuannya itu, bi mariam pun merasa bahwa hubungan suami istri di antara mereka sedang ada masalah namun bi mariam takut bertanya pasalnya dia hanya pembantu di rumah ini, takut ikut campur dengan urusan majikannya.


Alina pun memutuskan untuk sarapan sendiri dengan penuh rasa kekecewaan. Dan setelah menyantap sarapannya seorang diri alina pamit pada bi mariam untuk pergi berkuliah.


"Bi, kayaknya alin hari ini bakalan lama pulang karena alin mau ke rumah bunda dulu." Pamit alina sekalian memberitahu bi mariam jika dirinya akan pulang terlambat hari ini.


"Baik non." Sahut bi mariam.


Setelah berpamitan alina pun berangkat ke kampusnya, disana alina bertemu sahabatnya indah, alin curhat mengenai rumah tangganya pada sahabatnya, dan membuat indah merasa prihatin.


"Ndah, aku nggak ngerti harus bagaimana lagi menghadapi sikapnya kak jovan, aku takut jika aku menegurnya aku akan salah ngomong." Kata alin setelah menceritakan semua masalahnya pada indah.


"Kamu yang sabar ya lin, insyaallah akan ketemu jalan keluarnya nanti, pasti suami kamu ada alasan dia bersikap kayak gitu ke kamu." Kata indah mencoba menenangkan rasa galau sahabtnya.


"Tapi nggak mesti gini kan caranya, sampe diamin aku berminggu minggu, aku jadi nggak ngerti salah aku dimana." Keluh alina matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Indah yang melihat sahabatnya putus asa seperti itu langsung memberikan pelukan berusaha menyalurkan ketenangan.


"Lin udah, gimana kalu kita jalan-jalan hari ini. Kita makan di cafe langganan kita." Usul indah mencoba menenangkan alin dengan mengajaknya jalan-jalan.


Seperti biasa alin akan sangat senang jika pergi berjalan-jalan bersama sahabatnya itu. Dengan senang hati alin mengiyakan ajakan indah.


Sepulang kuliah alin bersama indah pergi ke cafe tempat yang biasa mereka tongkrongi jika sehabis jalan-jalan ataupun shoping.


"Aku kangen banget lo lin suasana kayak gini bisa duduk santai bareng gini." Kata indah yang memang sangat merindukan moment kebersamaan mereka.


"Iya aku juga loh ndah." Sahut alin.


Keduanya menikmati minuman serta makanan yang baru saja mereka pesan pada salah satu pelayan cafe.


"Habis ini anterin aku ke rumah bunda aku ya ndah, aku kangen banget sama bunda ku." Pinta alin pada sahabatnya itu.


"Oke deh, eh.. Tapi kamu udah ijin belum sih sama suami kamu." Kata indah memperingati sahabatnya.


"Sudah kok, aku tadi udah titip salam sama bi mariam di rumah." Sahut alin santai.


Indah hanya mengangguk mendengar sahutan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Baiklah setelah ini kita pulang ya." Kata indah.


Ketika mereka akan pulang tidak sengaja seorang laki-laki melihat mereka nongkrong di cafe tersebut lalu menghampir alin dan indah


"Alina." Panggil laki-laki tersebut.


Alin menoleh ke ke arah suara yang memanggilnya.


"Eeh kak reza." Ucap alin dan inda bersamaan.


"Boleh gabung nggak nih." Ucap reza yang berniat ingin bergabung bersama mereka sekaligus ingin mendekati alin.


"Boleh dong kak, ayok duduk." Kata indah cepat menjawab ucapan reza.


"Kak reza kakak tingkat kita kan anak fakultas tehnik?" Tanya indah basa basi meski sudah mengetahuinya.


Reza hanya mengangguk tersenyum.


"Sudah lama disini?" Tanya reza pada alin.


"Iya kak lumayan." Sahut alin singkat, sebenarnya ingin mengatakan jika mereka sudah ingin pulang namun diurungkan karena tidak ingin terlihat tidak menghargai kakak tingkatnya itu.


Merekapun berlanjut mengobrol tidak terasa mereka telah menghabiskan waktu selama dua jam hanya untuk bercanda satu sama lain.


"Lin aku ke toilet bentar ya." Pamit indah yang ingin pergi ke toilet.


Setelah kepergian indah, tersisahlah alin dan reza, mereka mengobrol ringan.


"Oh iya lin, rencana liburan semester ini mau kemana?" Tanya reza sedikit ingin tahu kegiatan alin ketika liburan. Yang memang sebentar lagi sudah akan memasuki waktu liburan setelah UAS.


"Nggak kemana mana kak, biasanya alin hanya di rumah saja." Sahut alina jujur.


Reza hanya manggut manggut.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang baru saja memasuki cafe.


"Yan gue duluan ya, nggak jadi nongkrong tiba-tiba baru keingat ada janji sama bokap gue tadi." Ucap jovan buru-buru keluar dari cafe itu setelah melihat keberadaan alina.


Jovan terkejut melihat alina duduk berdua bersama seorang laki-laki di cafe tempatnya biasa nongkrong bersama temannya. Ada rasa tidak suka dan kesal ketika melihat alina bersama laki-laki asing. Jovan mengepalkan tangannya dengan penuh emosi, tentu saja jovan cemburu, dia berjalan cepat menuju mobilnya dan melajukan dengan kencang ke arah rumahnya berniat menunggu alina pulang.


Apa yang di lakukan oleh alina di belakang gue selama ini? ternyata ada sifat buruk di balik wajah lugunya.


Jovan terus bergumam dalam hatinya penuh emosi sesekali memukul stir mobilnya.


Sesampainya di rumah jovan langsung menuju kamarnya untuk segera mengganti baju kerjanya karena sudah merasa gerah dan akan langsung mandi.


Sementara alina yang baru pulang dari cafe, dia meminta indah untuk mengantarnya ke rumah bundanya, karena menurutnya waktu masih sore maka dia berniat akan mengunjungi rumah bundanya sesuai perkataannya tadi pada bi mariam pembantu rumah tangga di rumah jovan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucap salam alina ketika sampai di rumah bundanya.


"Walaikumsalam, eh non alin." Sahut bi muna pembantu rumah tangga di rumah orang tua alina.


"Bunda sama ayah mana bi?" Tanya alina ketika masuk kerumah tidak melihat keberadaan orang tuanya.


"Ibu ada di kamarnya non, kalau pak hendra sedang di luar kota ada urusan pekerjaan." Kata bi muna.


"Eh anak bunda, loh. Suamimu mana lin?" Bunda rumi sedikit terkejut melihat keberadaan alina yang tiba-tiba pulang, Namun tidak melihat keberadaan menantunya.


"Kak jo masih bekerja bun, biasanya pulangnya malam. Jadi alina ke sini, tapi alin udah minta ijin kok." Ucap alin.


Bunda rumi hanya mengangguk merespon perkataan putrinya.


"Katanya ayah pergi ke luar kota ya bunda."


"Iya baru tadi pagi berangkat." Sahut bunda rumi.


"Berati bunda hanya berdua sama bi muna dong di rumah." Kata alina.


"Bertiga sama abangmu." Seru bunda rumi.


Mendengar bundanya menyebut abangnya, alina langsung menaiki tangga menuju kamar abangnya karena sudah sangat merindukan aby abang kesayangannya.


Bunda rumi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya yang memang masih merasa kekanak kanakan.


"Bang abyyy..." Panggil alin ketika sudah sampai dipintu kamar abangnya yang memang tidak di tutup.


"Aliin." Gumam aby, terkejut mihat adik kesayangannya yang tiba-tiba muncul.


Alina langsung masuk ke kamar aby sepontan alina memeluk abangnya itu.


"Alin kangen banget sama bang aby." Lirih alin seraya memeluk aby yang sudah sangat ia rindukan.


Aby membalas pelukan adiknya, karena dia juga memang merindukan alin yang sudah hampir tiga bulan ini tidak bertemu selama pernikahan alina.


"Kamu ke sini sama suami?" Tanya aby.


Alina menggeleng wajahnya berubah sendu ketika abangnya menyebut suaminya, membuat aby sedikit curiga.


"Alin datang sendiri."


"Tapi kamu sudah meminta ijinkan sama suami kamu?" Tanya aby penuh selidik, menangkup kedua pipi alina.


Alina mengangguk cepat, tidak ingin membuat abangnya curiga dengan keadaan rumah tangganya yang sedang tidak baik.


Aby bernafas sedikit lega melihat alin mengangguk, itu artinya alin dan suaminya baik baik saja.

__ADS_1


__ADS_2