Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 18


__ADS_3

Jovan baru saja sampai rumah ketika jarum jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam, rasa lelah serta kakalutan di hatinya terpampang jelas di raut wajah laki-laki yang berusia baru menginjak 24 tahun itu, Benaknya masih saja memikirkan perkataan sang ayah siang tadi.


"Ka jo baru pulang? apa kak jo sangat sibuk di kantor? apa kak jo menangani begitu banyak pasien?" Alina langsung saja mencecar suaminya dengan pertanyaannya yang sejak tadi ingin di lontarkan ketika menunggu kepulangan sang suami.


"Kamu bisa nggak sih jangan banyak bertanya. Aku capek." Tukas jovan dengan perasaan yang tidak karuan, lalu pergi meninggalkan keberadaan alin yang masih berdiri di ruang tamu tempatnya tadi menunggu suaminya pulang.


Alina yang terkejut mendapatkan amarah sang suami ketika ia sambut pulang, masih terpaku di tempatnya tidak mengerti dengan sikap jovan yang lagi-lagi bersikap dingin padanya.


"Non alin? non alin belum tidur ya." Tanya bi mariam yang baru saja keluar dari dapur setelah menyelsaikan pekerjaannya.


Seketika alina tersadar dari lamunannya, dia langsung mengusap kasar buliran bening yang hampir saja luruh di kedua netranya.


"Iya bi aku nunggu kak jo pulang." Sahut alin, lalu pergi meninggalkan bi mariam menuju kamarnya.


Alina yang baru saja masuk ke kamarnya mendapati suaminya baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan diri.


Jovan terlihat tidak menghiraukan keberadaan alina gerakannya fokus membuka lemari dan mengambil baju yang akan ia pakai, tak lama setelah itu jovan kembali masuk ke kamar mandi untuk memakai bajunya.


"Apa kak jovan sudah makan? alin sudah siapin makan malam." Lagi lagi alina memberanikan diri untuk bertanya pada jovan, meski dirinya di rundung rasa takut. Dia hanya ingin memperbaiki suasana hati suaminya.


Jovan jengah dengan setiap pertanyaan alin, dia merasa seperti di introgasi saja.


"Aku sudah makan di luar." Jawab jovan enteng, dia tidak menyadari jawaban yang di berikan kepada alina membuat hati alina begitu terisris dan kecewa.


Alina sudah sejak tadi menunggu kepulangan suaminya, menunggunya untuk makan malam hingga hampir larut, namun jawaban jovan sama sekali tidak menghargai dirinya yang telah bersusah payah memasak serta menyiapkan makan malam untuk suaminya. Ada rasa kecewa ketika mendengar jawaban jovan.


Tak mau bertanya lagi, alina memutuskan untuk keluar meninggalkan kamar menuju ruang makan, melihat semua hidangan makan malam alina sontak mengeluarkan air mata, lagi lagi semua hidangan makan malam tidak di makan hanya mubazir saja. Alina memutuskan untuk makan malam sendiri.


Sementara jovan yang sedang kalut dengan fikirannya sendiri tidak tau harus berbuat apa, apa dia harus menerima keputusan ayahnya untuk pergi melanjutkan kuliahnya di luar negeri? Apa dia akan meninggalkan alina untuk beberapa tahun kedepan? memikirkannya saja sudah membuatnya pusing.


Sesaat jovan memikirkan sikapkan yang baru saja di lakukan terhadap istrinya, lagi lagi dia mengabaikan alina. Jovan mengusap kasar wajahnya segera keluar dari kamar menyusul alina.

__ADS_1


Jovan terlihat menuruni anak tangga, langkahnya terhenti ketika melihat alina sedang makan malam sendiri dengan derai air mata, melihat sesekali alina yang sedang menghapus air matanya.


Langkahnya terasa berat untuk menghampiri alina, ada rasa bersalah yang dirasakan. Harusnya dia tidak bersikap dingin terhadap alina, harusnya dia tidak melampiaskan masalahnya terhadap alina.


Maafkan aku lin. Gumam jovan dalam hati merasa bersalah.


Jovan kembali ke kamarnya tidak jadi menghampiri sang istri, Jovan keluar ke balkon kamar menghirup udara segar malam hari pikirannya yang kalut tidak bisa di hilangkan. Apa yang harus di lakukan, bagaimana cara menjelaskan kepada alina jika dia harus pergi untuk melanjutkan kuliahnya.


Alina yang baru saja menyelesaikan makan malamnya dan sudah membereskan bekas makannya dia pun kembali masuk ke kamar, sesampainya di kamar alin tidak menemukan keberadaan suaminya, pandangan mengabsen seluruh sisi kamar namun tidak ada jovan. Di lihatnya pintu ke arah balkon terbuka, alina berfikir jika jovan ada di balkon.


Namun alina masih takut untuk menghampiri serta menyapa jovan, takut jovan akan bersikap dingin lagi terhadapnya. Alina memutuskan untuk tidur saja, diapun membaringkan dirinya di tempat tidur tanpa menunggu sang suami meski fikirannya sangat di penuhi banyak pertanyaan terhadap sikap suaminya.


Lama jovan berdiam di balkon menenangkan fikirannya, akhirnya dia beranjak masuk untuk mengistirahatkan dirinya di tempat tidur. Pandangannya tertuju pada alin yang sudah berbaring di atas tempat tidur, lagi lagi rasa bersalah menguasai dirinya.


Perlahan jovan menaikan dirinya di tempat tidur dan ikut berbaring di samping alin. Dia melihat ke arah samping ternyata alina sudah tertidur pulas dengan posisi menghadap dirinya terlihat dari nafasnya yang sudah tetatur, jovan mendekat dan memprhatikan pahatan sempurna ciptaan tuhan yang sedang berada di hadapannya sekarang bahkan sudah menjadi bagian dalam hidupnya serta sudah menjadi haknya.


Mengingat tentang haknya yang sudah boleh menyentuh alina dan menjadikan alina istri sepenuhnya, jovan tersenyum getir pada dirinya. Sangat tidak menyangka umur pernikahan yang sudah dua bulan lebih dia sama sekali tidak tega untuk memaksa alina, jangankan memaksa memintanya secara lembut saja dia masih tidak tega karena harus memikirkan masa depan wanita itu.


*********


Sementara di tempat lain di kediaman hendra malam ini hendra menyuruh aby pulang ke rumahnya karena ada hal penting yang akan di beritahukan pada putranya itu. Dengan berat hati dan terpaksa abyaz memenuhi permintaan sang ayah untuk datang di kediaman utama mereka.


"Ada hal penting apa ayah?" Tanya aby yang baru saja sampai rumah dan langsung saja menemui ayahnya di ruang kerjanya.


"Duduk dulu aby, kenapa kamu jadi tidak sopan begini." Tukas hendra sedikit kesal dengan sikap putranya.


Aby pun mendudukkan dirinya di sofa ruang kerja ayahnya.


"Aby masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan yah, jadi tidak perlu berlama lama." Kata aby.


Hendra menarik nafasnya perlahan, ingin memberitahukan putranya mengenai perjodohan yang telah di rencanakan oleh dirinya bersama sahabatnya sekaligus rekan bisnisnya, berharap aby akan menerima keputusannya kali ini.

__ADS_1


"Aby. Ayah ingin memberitahumu jika ayah sudah merencanakan perjodohanmu dengan putri darman rekan bisnis ayah sekaligus sahabat ayah, ayah harap kamu menerimanya." Ucap ayah hendra.


Seketika aby menegang di tempatnya sangat terkejut mendengar penuturan ayahnya barusan, bagaimana bisa ayahnya melakukan hal konyol seperti ini main menjodoh jodohkan anaknya, seperti aby sudah tidak laku saja.


"Apa maksud ayah, aby belum ingin menikah. Dan kalaupun aby akan menikah tentu itu adalah pilihanku sendiri tidak perlu menjodohkanku dengan siapapun." Sarkas aby yang tidak terima dengan permintaan ayahnya kali ini.


Aby tidak mau di jodohkan, dia akan menikah dengan pilihannya sendiri jika sudah waktunya.


"Tapi ayah sudah memintanya pada darman, kamu jangan mempermalukan ayah abyaz, penuhi permintaan ayah kali ini." Ucap hendra, yang tetap kekeh meminta aby menerima perjodohan ini.


"Jangan memaksaku ayah, aku tidak bisa memenuhi permintaan ayah yang ini.. Maaf aby mau pulang." Tegas aby lalu pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya dan berniat untuk kembali ke apartemennya.


"Sekali saja kamu melangkahkan kaki meninggalkan rumah ini, jangan harap kamu menganggap ayah dan bundamu sebagai orang tua mu lagi." Ucap hendra tidak kalah tegas.


Kemudian aby begitu saja menghentikan langkahnya, mengusap kasar wajahnya, pergi menuju kamarnya. Tetap saja aby kalah jika sudah berdebat dengan ayahnya, jika aby sudah mendengar ancaman yang hendra lontarkan aby tidak bisa berbuat apapun lagi.


Sementara bunda rumi yang mendengar perdebatan ayah dan anak itu hanya bisa diam, berharap semuanya akan baik-baik saja, karena bunda rumi juga dengan senang hati menerima perjodohan aby dan putri darman sahabat dari suaminya itu.


"Aby." Panggil bunda rumi ketika memasuki kamar putranya.


Bunda rumi melihat raut wajah aby yang sedang kalut, bunda rumi sangat paham dengan perasaan putranya saat ini, yang masih terkejut dengan kabar perjodohannya.


"Bunda, apa aby salah menolak perjodohan konyol ini, aby tidak mau di jodohkan, aku ingin menikah jika sudah waktunya dan sudah menemukan yang tepat dan itu pilihan aby sendiri." Kata aby menegaskan kembali pada bundanya, berharap bunda rumi akan mendukungnya.


"Nak, jangan seperti ini. Ayah melakukannya demi kebaikanmu, Yakinlah nak pilihan orang tua itu baik." Nasehat bunda rumi.


"Tapii bun...."


"Tidurlah, tenangkan fikiranmu dan juga jangan lupa sholat meminta petunjuk serta memantapkan hatimu." Kata bunda cepat memotong perkataan aby yang lagi-lagi akan mengeluh.


Aby tidak lagi mengeluarkan kata-katanya, sementara bundanya saja seperti berpihak pada ayahnya. Tidak ada yang mendukungnya untuk saat ini. Aby memutuskan untuk menenangkan fikirannya dengan mencoba berbaring di tempat tidurnya yang sudah lama ia tinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2