Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 21


__ADS_3

Perlahan suasana hati alina sudah merasa tenang meskin air matanya masih saja keluar walau sudah berusaha ia tahan.


Jovan masih terus menenangkan sang istri, mengucapkan kata maaf karena memang dirinya sudah tersulut emosi tadi hinggah memeperlakukan alina dengan begitu kasar.


"Tidurlah, aku nggak mau lihat kamu nangis kayak gini lagi." Ucap jovan seraya mengusap lembut pipi alina yang basah karena air mata.


Lagi lagi alina sangat heran dengan perlakuan jovan, tadi ia melihat sisi buruk jovan, namun sesaat kemudian kembali berubah bersikap sangat lembut padanya. Alina sangat tidak mengerti dan tidak memahami suaminya yang kadang berubah sikap.


Perlahan alina menarik diri dari jovan yang sejak tadi mendekapnya, dan kali ini alina memberanikan diri untuk menatap suaminya itu. Sekarang alina ingin menjelaskan semua kejadian yang dia alami.


Alina pun mulai menceritakan semua yang ia alami hari ini, menceritakan ketika ia ke kampus sendiri menggunakan taksi, serta berkunjung ke cafe tempat biasa ia nongkrong bersama sahabatnya indah.


"Lalu siapa laki-laki yang bersamamu duduk di cafe?" Lagi lagi jovan menanyakan hal yang sama sejak tadi masih mengganggu fikirannya.


"Dia kak reza, kakak tingkat alin di kampus. Kebetulan dia lihat alin bersama indah duduk di cafe dia pun berniat untuk gabung bersama kami, lalu indah langsung mengiyakannya, niat kami yang akan pulang kami urung kembali karena merasa tidak enak jika langsung meninggalkannya." Jelas alina dengan suaranya yang sedikit terdengar serak karena habis menangis.


Jovan semakin merasa bersalah usai mendengar cerita alina barusan.


"Maafkan aku yang sudah berbuat kasar tadi." Kata jovan merasa sangat bersalah pada alin.


Jovan kembali meraih alina untuk di peluknya dan memberikan kecupan pada kening alina.


Lagi-lagi alina kembali luluh dengan perlakuan suaminya, tidak bisa di pungkiri jovan tidak pernah memarahinya dalam waktu yang begitu lama. Hanya saja ketika dia mengingat jovan yang telah mendiaminya dalam beberapa minggu terakhir sedikit merasa kesal.


"Kenapa kak jo selalu mendiamiku belakangan ini?" Kali ini alina memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf." Hanya itu yang bisa jovan ucapkan.


Jovan sama sekali belum mampu untuk menjelaskan jika ia akan meninggalkan alina dalam waktu yang cukup lama.


"Apa salah alin? apa kak jo punya wanita lain sebelum menikah dengan alin sampai alin di abaikan?" Fikiran buruk alin yang selama ini terus mengganjal fikirannya kini di ungkapkan pada jovan.

__ADS_1


Jovan yang mendapat pertanyaan seperti itu seketika terkejut, dia bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain selain dirinya. Karena semasa kuliah jovan sangat fokus dengan jurusan yang ia ambil meskin dirinya di paksakan mengambil jurusan kedokteran namun dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.


Kalau saja jovan tidak bertemu alina dan terjebak pernikahan seperti ini mungkin saja jovan tidak menjalin hubungan dengan siapa pun sampai pada waktunya tiba.


Jovan ingin sekali memberitahu alina perihal alasannya selama ini mengabaikan alina namun mulutnya serasa tercekat tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk meyakinkan alina jika di fikiran alina sama sekali tidak benar.


"Benar kak jo?" Lagi, alina bertanya untuk mendapatkan jawaban dari jovan yang tak kunjung mengeluarkan suara.


Jovan masih saja terus diam dengan fikirannya, Hingga alina memutuskan untuk membenarkan bahwa jovan telah memiliki kekasih.


"Kak jo. Cerain alin." Tiba-tiba saja alina melontarkan kata-kata menyakitkan itu dari mulutnya sendiri. Keputusan yang sangat di benci oleh allah.


Menurut fikiran alin, sudah tidak mau lagi terikat dengan pernikahan seperti ini. Yang terkadang jovan mengabaikan dirinya, alina merasa tidak di anggap.


Seketika jovan merasa dunianya runtuh mendengar kata yang baru saja di ucapkan oleh alina. Seketika itu pulan jovan tersadar dari lamunannya, dia memandangi wajah cantik wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Yang benar saja alina meminta hal konyol seperti ini, membayangkannya saja membuat jovan tersiksa ada rasa sakit yang ia rasakan.


"Apa yang kamu fikirkan alina, jangan meminta hal konyol yang tidak bisa ku penuhi sampai kapanpun itu. Aku sama sekali tidak mempunyai wanita lain di luaran sana." Sarkas jovan kali ini dia merasa sangat kesal pada alina.


Jovan menggeleng cepat, mau tidak mau dia harus menjelaskan perihal dirinya yang akan melanjutkan kuliah di luar negeri bulan depan.


"Aku akan ke luar negeri untuk mengambil spesialis bedah atas permintaan papah. Dan itu artinya kita akan hidup terpisah selama beberapa tahun kedepan." Ucap jovan terpaksa, rasanya sangat berat untuk memberitahu alina.


Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan kini bershasil luruh membasahi kedua pipi mulus alina, Mata sendunya terlihat sangat sembab terus saja memandangi sang suami, seolah meminta pada jovan untuk tidak memenuhi permintaan papahnya.


Jovan mengerti apa yang ada difikiran alina langsung kembali memeluk tubuh mungil istrinya itu. Dia pun tidak sanggup memandangi wajah alina yang begitu menyedihkan.


"Aku sudah berusah menolaknya, tapi ayah terus saja memintaku untuk melanjutukannya di luar negeri seperti dirinya dulu." Kata jovan seraya mendekap tubuh alina.


Alina menggeleng, tidak terima dengan keputusan jovan.


"Alina nggak mau kalau pisah sama kak jo." Lirih alin.

__ADS_1


Ada rasa bahagia ketika mendengar ucapan alina barusan, itu artinya alina sudah memiliki perasaan terhadapnya.


Perlahan jovan melonggarkan pelukannya kedua tangannya menangkup wajah alina, memandangi lekat-lekat wajah cantik yang ada di hadapannya itu. Tersemat sebuah senyum di bibir tipis jovan.


"Alina..." Jovan menjeda kata yang ingin di ucapkan, kedua netranya terus memandangi wajah cantik istrinya.


"Aku mencintaimu... Apa kamu juga memeliki rasa seperti yang ku rasakan selama ini?" Jovan mengungkapkan perasaannya pada alin, dan juga menanyakan perihal perasaan alin terhadapnya.


Alina langsung memeluk jovan, alina sangat bahagia mendengar ungakapan cinta suaminya itu. Alina membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Malam ini adalah malam yang penuh rasa bahagia menurutnya, meski beberapa saat yang lalu ia merasakan kesedihan.


"Alin juga." Sahut alin, kali ini mendongakkan wajahnya tanpa melepas pelukannya untuk melihat reaksi sang suami.


"Juga apa?" Ucap jovan membalas tatapan alin, Sepintas fikiran jovan ingin menjahili alina.


"Mencintai kak jovan." Alina kembali membenamkan wajahnya yang begitu sangat malu, telah mengungkapkan perasaannya.


"Kenapa menyembunyikan wajahmu?" Tanya jovan dengan jahil seraya berusaha melepaskan pelukan alina, ingin kembali menangkup wajah cantik alina namun alina tetap kekeh dengan posisinya sekarang.


"Nggak mauuu, alin malu." Ucap alin yang tidak mau memeperlihatkan wajah yang sudah sangat memerah seperti tomat dan terus saja bersembunyi di dada jovan.


Jovan semakin gemas dengan tingkah malu malu istrinya itu. Kembali dia memeluk tubuh mungil alina, kali ini dia memeluk penuh cinta sesekali dia memberi kecupan di puncak kepala alin.


Ada rasa lega sekaligus bahagia dia mengungkapkan perasaannya, serta mendengar ungkapan perasaan alina yang ternyata memiliki perasaan yang sama. Kini jovan semakin memantapkan hatinya untuk bisa menjalani pernikahan ini hinggah akhir hayatnya, meskin nanti akan banyak ujian yang akan mereka hadapi kedepannya, termasuk dirinya yang akan hidup terpisa dengan alina.


Memikirkan hal itu jovan kembali merasa sedih.


"Sekarang tidur ya, udah larut malam." Ucap jovan kemudian, seraya melepas pelukannya, kini tangannya menyeka rambut alin yang sedikit berantakan.


Alin mengangguk mengiyakan ucapan jovan.

__ADS_1


Kemudian keduanyapun membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur menutup diri di balik selimut. Jovan dengan posisi memeluk alina, seolah tidak ingin berjauhan dengan sang istri. Tak membutuhkan waktu lama keduanya pun kini berada di alam mimpi. Berharap hari esok akan di lewati dengan penuh rasa kebahagiaan.


__ADS_2